Jakarta, katakabar.com - Film dokumenter berjudul 'Desa Transmigrasi Sawit' gagasan Aspek-PIR Indonesia bersama BPDPKS resmi tayang. Film ini bakal diputar selama tiga hari berturut-turut di TVRI mulai pukul 10.30 WIB.

"Film dokumenter dibuat dengan semangat agar sejarah perjuangan lahirnya Aspek-PIR Indonesia tidak hilang termakan zaman. Tidak hanya itu, sebagai wujud perlawanan kampanye negatif kelapa sawit," ujar Ketua Umum Aspek-PIR Indonesia, Setiyono di pekan pertama Juni 2023 lalu.

Kita Aspek-PIR kata Setiyono, lahir dari transmigrasi. Untuk itu, kita mau ceritakan semuanya lewat film dokumenter ini.

Kita mau buktikan lewat film ini, kelapa sawit membuat sejahtera masyarakat, khususnya warga transmigrasi. Alur ceritanya dari awal hingga terbentuknya petani plasma, dan berhasil budidaya kelapa sawit.

Film ini dibuat di tiga desa,  yakni Desa Teluk Merbau, Kabupaten Siak, Desa Bono Tapung Rokan Hulu, dan Desa Bumi Kencana di Musi Banyuasin, dengan melibatkan tiga koperasi, salah satunya Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Sejahtera binaan PTPN V yang beroperasi di Desa Bono Tapung. Di mana koperasi ini sudah adopsi sistem digital bernama aplikasi Smartcoop.

"Selain menceritakan sejarah Aspek-PIR, film dokumenter  disajikan bagaimana PSR berjalan dan lainnya," ulasnya.

Lanjut Setiyono, film ini bisa memberikan pengalaman yang bagus bagi penonton. Pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) adalah pola yang sangat layak untuk dipertahankan. Bahkan diadopsi di perkebunan kelapa sawit swadaya, bagaimana cara menjangkau kemitraan  perusahaan.

"Saat ini sudah tidak ada lagi pola PIR. Tapi sangat layak untuk diadopsi petani swadaya menjadi model kemitraan," bebernya.

Tidak cuma tayang di televisi, film dokumenter ini rencananya bakal hadir di berbagai media sosial hingga dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Sehingga kampanye negatif kelapa sawit tidak lagi ada. 

"Saat ini Eropa kembali membuat regulasi baru yang lebih mengarah pada kampanye negatif kelapa sawit. Kita buktikan lewat film dokumenter ini," tegasnya.

Sebelumnya Setiyono sempat bertemu dengan Gubernur Riau, Syamsuar. Kata Orang Nomor Satu di Riau bakal menjadi salah satu narasumber dalam film dokumenter.

"Gubernur sangat antusias dan mendukung film dokumenter ini. Ia bakal jadi salah satu narasumber, sebab tahu betul bagaimana desa dan warga transmigrasi di wilayah Siak," tuturnya.

Setelah film ini sukses siar, rencananya dilanjutkan kembali dengan mengangkat desa transmigrasi di provinsi lain yang menjadi sentra kelapa sawit, seperti di Kalimantan, Sulawesi dan daerah lainnya.

Dilansir dari elaeis.co, pada Jumat (28/7), Peluncuran film dokumenter ditandai dengan temu pers bersama Plh. Kepala Divisi Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Anwar Sadat.

Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Setiyono, Pemain film Alma Maulvi dan Film Director Christ Oscario, dan perwakilan dari koperasi yang menjadi lokasi pembuatan film turut pula hadir di sana.