Jakarta, katakabar.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bantu Berau kembangkan potensi unggulan, dan kendala daerah termasuk limbah sawit butuh solusi.

Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur sedang berbenah salah satunya perbaikan infastruktur guna mendukung IKN.

Sebagai mitra IKN, Kabupaten Berau mempunyai beberapa potensi unggulan, seperti sektor pariwisata mengingat daerah ini masuk 50 desa wisata terbaik. Dengan harapan kearifan lokal di Berau tetap terjaga untuk mengangkat perekonomian daerah.

Pada 2024 ini, Kabupaten Berau mendapat Apresiasi Daerah Peduli Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Potensi Sumber Daya Lokal dari Kemendagri bekerja sama dengan Media Kompas.

Selain itu, Kabupaten Berau memiliki kakao terbaik di Indonesia dan sudah diekspor ke beberapa negara, di antaranya Italia dan Singapura. Potensi ini jadi peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan ekonomin bila dikelola dengan optimal.

Bupati Berau, Sri Juniarsih yang menjabarkan hal tersebut, saat menerima Oetami Dewi, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Riset dan Inovasi Daerah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Oetami sendiri hadir dalam rangka pendirian Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) di Berau.

‘’Kami mendukung berdirinya Bapperida, diharapkan dapat menampung semua hasil riset dan inovasi masyarakat Berau. Terutama menjadi penggerak riset dan inovasi untuk peningkatan perekonomian daerah,’’ ujar Sri lewat keterangan resmi Humas BRIN, dilansir dari laman EMG, Rabu (2/10).

Kabupaten Berau, sahut Oetami, sudah memenuhi persyaratan lantaran pengajuan SP BRIN sudah keluar dari 16 April 2024 lalu.

"Tapi perlu upaya dari daerah untuk menidaklanjutinya. Hal ini yang perlu didorong agar kolaborasi dengan BRIN selaku pembina teknis semakin erat," ucapnya.

Menurut Oetami, terdapat 12 Organisasi Riset dan 85 Pusat Riset di BRIN yang siap membantu dan mendampingi daerah, baik dalam upaya menyelesaikan permasalahan daerah, maupun optimalisasi potensi daerah.

Tidak hanya itu, kata Oetami lagi, pemerintah daerah dapat memanfaatkan Data Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) yang dikeluarkan BRIN tahun 2023.

"Misalnya, dapat mendorong penguatan pilar 12, kapabilitas inovasi melalui penguatan enam elemen ekosistem riset dan inovasi,’’ terangnya.

Saat berdiskusi, pihak Pemkab Berau mengutarakan, saat ini masih terdapat permasalahan di sektor perkebunan sawit yang menjadi permasalahan utama di Berau, yakni banyaknya limbah sawit yang cukup banyak dan diperlukan solusi.

Soal pengembangan kakao, ada berbagai tantangan seperti kurangnya minat petani. Saat ini petani lebih tertarik menanam kelapa sawit yang memiliki luas arel tanam mencapai 30.000 hektar, serta nilai jualnya lebih menarik. Kemudian IG (Indikasi Geografis) kakao sudah ditetapkan, namun hanya sebagai pengungkit yang mendorong kakao menjadi branding di luar.

Tantangan untuk pariwisata, yakni belum didukung oleh infrastruktur dan akomodasi yang bagus. Dinas Pariwisata sendiri sudah mempunyai aplikasi SIDEWI (Sistem Informasi Desa Wisata), tapi belum dipromosikan dan belum tersosialisasikan dengan baik.

Di penghujung diskusi, Mutiara selaku Koordinator BRIN Regional 8 Wilayah Kaltara, Kaltim, dan Kalsel menyampaikan, BRIN melalui Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah memberikan pendampingan teknis dalam penentuan Produk Unggulan Daerah (PUD).

‘’Ada berbagai metode penetapan ini, tapi yang diutamakan berbasis bukti atau berbasis data. Dalam mengoptimalkan pengembangan potensi daerah, perlu penyelerasan visi dan misi daerah yang dituangkan dalam RPJPD ataupun RPJMD, meliputi peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, dan peningkatan tenaga kerja. Jadi, kolaborasi dan cross cutting program yang didukung oleh seluruh perangkat daerah menjadi penting dan utama,’’ tandasnya.