Jakarta, katakabar.com - Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengutarakan pentingnya belajar dari pengalaman negara lain sebelum Indonesia terapkan program biodiesel B50 secara luas pada 2025. 

Di antara negara bisa menjadi contoh adalah Brazil, yang telah sukses menggunakan etanol nabati sebagai pengganti bensin lebih dari 20 tahun.

Cerita Sahat, strategi Brazil sangat fleksibel. Saat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil tinggi, pemerintah memprioritaskan penggunaan etanol, dan saat harga BBM turun, etanol ditinggalkan. 

Dengan cara ini, Brazil bisa memaksimalkan keuntungan finansial sekaligus menjaga stabilitas pasar energi. 

“Indonesia bisa tiru prinsip ini. Jangan memaksakan B50 tanpa memperhitungkan harga CPO dan solar global,” jelasnya, Sabtu (18/10) kemarin. 

Selain itu, kata Sahat, dilansir dari laman EMG Minggu (19/10), penting uji coba teknis sebelum implementasi B50 secara penuh. Biodiesel memiliki karakteristik khusus yang bisa mempengaruhi mesin kendaraan, termasuk kemampuannya menyerap air selama penyimpanan. 

Air yang terbawa ke mesin dapat menimbulkan kerusakan serius. Oleh karena itu, B50 perlu diuji agar aman digunakan sebagai bahan bakar “drop-in” yang kompatibel dengan mesin eksisting.

Lalu, Sahat menyoroti aspek ekonomi. Jika harga solar sekitar 86,7 dolar per barel dan CPO mencapai 950 dolar per ton, pengalihan 3,2 juta ton CPO untuk B50 berpotensi menimbulkan kerugian ratusan juta dolar. 
“Dengan kondisi itu, lebih bijak jika kita memanfaatkan CPO untuk ekspor atau kebutuhan lain yang lebih menguntungkan,” katanya.

Ia menyarankan pemerintah membentuk tim gabungan akademisi dan praktisi untuk menilai manfaat dan risiko implementasi B50. 

Uji coba terbatas dengan pengawasan teknis ketat sangat diperlukan agar swasembada energi tercapai tanpa mengorbankan keamanan mesin maupun stabilitas industri sawit.

Menurut Sahat, tujuan utama program energi nasional memang penting, tapi penerapan B50 harus terukur, hati-hati, dan berdasarkan data, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan politik. 

Dengan pendekatan yang matang, Indonesia bisa meniru Brazil yakni memanfaatkan energi nabati secara cerdas, mengoptimalkan keuntungan finansial, sekaligus menjaga keamanan teknis dan kelangsungan industri sawit.

Belajar dari Brazil, ulas Sahat, bukan berarti meniru persis, tapi mengambil strategi fleksibel dan terukur agar program B50 membawa manfaat maksimal tanpa menimbulkan mudarat bagi negara dan masyarakat.