Kampar, katakabar.com – Ribuan penonton memadati gelaran Opera Batak Dalihan Natolu yang digelar Sanggar Seni Budaya Sianjur Mulamula di Desa Indrasakti, Tapung, Kabupaten Kampar, Sabtu (19/7).
Pertunjukan budaya khas Samosir, Sumatera Utara ini menjadi pelepas rindu warga Batak yang telah lama merindukan seni pertunjukan asli tanah leluhurnya.
Antusiasme tak hanya datang dari generasi tua, tetapi juga dari kalangan muda. Desi Siringoringo (24), misalnya, mengaku baru kali ini menyaksikan langsung Opera Batak.
"Awalnya saya bertanya ke ibu, apa itu Opera Batak, perlu nggak saya hadir. Ibu bilang, hadir saja, itu penting untuk mengenal budaya kita. Setelah menonton, saya benar-benar terharu dan bangga," katanya.
Pertunjukan sarat makna ini menggambarkan realitas kehidupan rumah tangga, perjuangan, dan nilai-nilai kekeluargaan dalam budaya Batak. Sebuah adegan menyentuh bahkan membuat Op. Jones Simbolon boru Harianja naik ke panggung memeluk pemeran wanita sambil menangis.
Maestro Aliman Tua Limbong menjelaskan bahwa Dalihan Natolu bukan sekadar slogan, tetapi memiliki akar sejarah mendalam yang berasal dari Kenegerian Limbong. Nilai-nilai “Somba Marhula-hula, Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru” dihidupkan kembali lewat pertunjukan ini.
Ketua Panitia, Wanto Sinaga, menyebut acara ini menjadi jawaban atas kerinduan warga Batak di Kampar, terutama generasi tua yang tumbuh bersama pertunjukan Opera Batak.
"Mereka dulu sering menonton pertunjukan seperti ini. Tapi belasan tahun terakhir nyaris tak ada lagi. Maka acara ini kami dedikasikan untuk mereka," ujarnya.
Bahkan Oppung Mangatur Sinaga boru Naibaho (75) yang hadir dengan penuh semangat mengaku bahagia:
“Opera Batak ini seperti obat rindu bagi kami orangtua. Dulu ini tontonan kami saat muda.”
Ketua Pemuda Batak Bersatu Kampar, Marihot Siburian, menegaskan pentingnya menjaga budaya.
"Kemajuan zaman boleh diikuti, tapi budaya jangan sampai hilang. Acara seperti ini perlu diteruskan dan dikembangkan."
Pementasan juga dimeriahkan oleh Reny Simanjuntak, artis opera Batak, yang berhasil menghidupkan suasana dengan suara khas dan interaksi emosional bersama penonton.
Beberapa tokoh masyarakat lainnya seperti Op. Benget Sagala boru Naibaho, Op. Rendi Sitohang boru Sitinjak, Bangun Sihotang hingga A. Renta Samosir menyampaikan rasa bangga dan harapan agar pertunjukan seperti ini bisa digelar lebih sering, bahkan melibatkan anak-anak muda agar budaya Batak terus hidup lintas generasi.
Januari Simbolon, penanggung jawab kegiatan, menyampaikan permohonan maaf jika ada ketidaknyamanan selama acara, terutama terkait konsumsi dan terbatasnya undangan.
“Kami tidak menyangka antusiasme sebesar ini. Bahkan anak-anak muda pun terlihat antusias menonton. Semoga ini jadi awal kebangkitan kembali Opera Batak di Kampar.”
Acara ini terselenggara berkat dukungan berbagai pihak, termasuk TJ Group, RAM ASS, Amora Logistik, Silau Raja Musik, Pesona Studio, dan lainnya. Digelar dari pukul 16.00 hingga 23.00 WIB, pertunjukan ini tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi momen memperkuat identitas dan kebanggaan budaya Batak di tanah rantau.
Muda-Mudi Padati Opera Batak Dalihan Natolu di Kampar
Diskusi pembaca untuk berita ini