Duri, katakabar.com - Rekanan Local Business Development atau LBD PT Pertamina Hulu Rokan atau PHR di bawah WK Rokan bak 'ayam di lumbung padi mati kelaparan'.
Para pengusaha lokal gundah gulana lantaran sengaja dipinggirkan, dan bahkan keberadaan mereka seolah-olah tidak dibutuhkan, serta tidak lagi dianggap bagian penting oleh PHR selama ini membantu, dan ikut andil dalam operasional perusahaan, khususnya pekerjaan-pekerjaan yang berisiko rendah. Padahal dulu management CPI menganggap penting melakukan kemitraan atau kerja sama dengan pengusaha tempatan.
Menurut Tokoh Masyarakat Duri, Agus Salim kepada katakabar.com, di Kecamatan Mandau, Duri, Kabupaten Bengkalis, Minggu (10/8) sore, memang para pengusaha lokal atau tempatan merasa terpinggirkan empat tahun belakangan ini, sejak Blok Rokan dikelola oleh PT PHR. Itu faktanya, banyak faktor harusnya jadi perhatian pihak terkait.
"Di samping masalah sosial, ada yang paling penting untuk dipikirkan, dan menjadi pemikiran bersama. Di daerahnini, ada ratusan mungkin ribuan nyawa yang menggantungkan hidup dari mengais rezeki lewat program LBD," ujarnya.
Dengan kondisi sekarang ini, ucap Agus, sungguh ironi bak kata pepatah 'Ayam di Lumbung Padi Tapi Mati Kelaparan'. Dulu, nungkin ekpektasi masyarakat khususnya rekanan binaan LBD atau pengusaha tempatan terlalu berlebihan berharap setelah Blok Rokan dikelola oleh perusahan nasional, yakni perusahaan pelat merah bernama PT Pertamina Hulu Rokan atau PHR, yang sebelumnya dikelola perusahaan asing PT CPI akan ikut mengangkat derajat, dan kemampuan pengusaha lokal, tapi yang terjadi sekarang adalah kekhawatiran, dan rasa was-was keberadaan mereka sengaja' untuk dihabiskan.
"Indikasinya adalah dulu di zaman CPI ada pekerjaan yang mencapai tiga ratusan paket setahun, dan sekarang hanya tinggal puluhan. Hal ini sangat disayangkan, dan ini berpotensi mengangkangi Peraturan Pemerintah atau PP Nomor 7 Tahun 2021 yang mengatur tentang kemudahan, perlindungan, dan pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM," jelasnya.
Untuk itu, tambahnya, sudah selayaknya, dan sepatutnya ada campur tangan pemerintah khususnya Pemerintah Provinsi atau Pemprov Riau dan DPRD Riau., sebagai wujud Keberpihakan kepada Pengusaha Kecil, Menengah Mikro, dan Koperasi.
Pengusaha lokal lainnya, tak mau ditulis namanya bergerak di proyek LBD selama masa CPI aminkan Agus Salim. Menurutnya, banyak pengusaha tempatan gigit jari, sebab jumlah proyek LBD hanya puluahan paket di masa PHR. Beda di masa CPI jumlah proyek LBD mencalai ratusan paket, sehingga pengusaha tempatan tidak memiliki peluang dan kesempatan berkarya di Blok Rokan.
"Sekarang ini pengusaha tempatan banyak gigit jari tidak memiliki peluang untuk mendapatkak paket-paket proyek LBD. Itu tadi, paket LBD jumlahnya hanya puluhan paket tidak seperti dulu jumlah mencapai ratusan paket," tutur pengusaha tempatan disapa akrab Pak Haji.
PT PHR sudah hampir empat tahun mengelola atau operator Blok Rokan mengembalikan ke sistim seperti dulu, agar pengusaha-pengusaha tempatan memiliki peluang dan kesempatan. Dengan diberdayakan pengusaha-pengusaha tempatan dampak ekonomi, dan sosial sangat positif kepada masyarakat Duri, Kabupaten Bengkalis khususnya, dan Provinsi Riau umumnya.
Nelangsa Rekanan LBD PHR Bak Ayam di Lumbung Padi Mati Kelaparan di Blok Rokan
Diskusi pembaca untuk berita ini