Jakarta, katakabar.com - Peluncuran Bursa Crude Palm Oil (CPO) tergantung kemauan dan niat pemerintah. Masyarakat, terutama petani kelapa sawit di republik ini tunggu saja, kapan pemerintah luncurkan Bursa CPO.

"Jika program itu niatnya baik untuk petani pasti diluncurkan. Kalau pemerintah berkomitmen dan langkah ini baik untuk petani pasti diluncurkan. Kita tunggu saja," ujar Ketua Umum Aspek-PIR, Setiyono, dilansir dari laman elaeis.co, pada Kamis (14/9).

Menurutnya, tak dipungkiri pelaksanaan bursa CPO ini cukup rumit kalau diluncurkan. Lantaran pasar CPO ini belum jelas.

"Kalau Malaysia sudah jelas pasar dan hitungannya. Tapi, kalau ini gagasan untuk meningkatkan harga CPO dalam negeri ya kita dukung. Apalagi imbasnya menaikan harga TBS kelapa sawit petani," jelasnya.

Untuk meningkatkan produksi CPO dalam negeri, Setiyono menilai pembangunan Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) sangat diperlukan. Terlebih di wilayah yang memiliki kebun kelapa sawit yang luas atau menjadi sentra kelapa sawit. Apalagi PMKS di wilayah tersebut jumlahnya sedikit.

"Pembangunan PMKS suatu langkah yang sangat tepat dan sangat baik sekali membantu pekebun," bebernya.

Pembangunan PKS sambungnya, dapat meningkatkan harga TBS di wilayah itu.

"Dampak panjangnya menjamin kesejahteraan petani kelapa sawit. Malah bakal berdampak memajukan wilayah itu," terang Setiyono.

Diketahui, Bursa CPO atau Bursa Komoditi yang sebelumnya dijanjikan diluncurkan Juni 2023 lalu. Tapi, hingga kini belum terealisasi.

Program yang digaungkan Menteri Perdagangan dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mendapat sejumlah sorotan dari para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit.