Jakarta, katakabar.com - Nationally Determined Contribution (NDC) 2016 atau Enhanced NDC 2022 dan pengendalian emisi Gas Rumah Kaca (GRK), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) komitmen melakukan percepatan implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) untuk mendukung upaya pemerintah agar capai target.
Chief Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio W. menjelaskan, perkebunan kelapa sawit potensial berpartisipasi dalam perdagangan karbon melalui tiga skema, meliputi konservasi stok karbon, peningkatan karbon stok, dan penurunan emisi dalam produksi.
"Perkebunan kelapa sawit yang dikelola secara berkelanjutan dan ramah lingkungan memiliki potensi menyimpan karbon dalam jumlah yang cukup besar yang dapat menyumbang pada penurunan emisi," ujarnya lewat pernyataan resmi SSMS, dilansir dari laman elaeis.co, pada Senin (11/12).
Guna mewujudkan komitmen itu, SSMS mulai memetakan sumber emisi GRK dan menghitung potensi serapan karbon yang terjadi di lingkup operasional. SSMS kerja sama dengan konsultan eksternal PT Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) melakukan perhitungan karbon di salah satu perkebunan kelapa Sawit SSMS Group, PT Mitra Mendawai Sejati.
Metodologi penghitungan yang digunakan sesuai dengan ketentuan dari KLHK, yakni melalui pembuatan Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) dan mendaftarkan dalam paltform Sistem Registrasi Nasional (SRN) sebelum masuk dalam tahapan Validasi dan Verifikasi.
Dijabarkan Henky, SSMS telah melakukan beberapa upaya meminimalkan emisi karbon diantaranya dari sektor energi dan limbah pabrik kelapa sawit.
"Yakni pengoperasian Methane Capture dan Bio-CNG Plant dengan cara memanfaatkan limbah cair pabrik sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi tenaga listrik dan bahan bakar operasional," ulasnya.
Dari sektor pertanian, sebutnya, pengurangan emisi melalui substitusi penggunaan pupuk anorganik menjadi pupuk organik. Semua limbah hasil pengolahan kelapa sawit 100 persen digunakan kembali seperti pemanfaatan limbah cair (POME) dan jangkos untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia (anorganik).
Di sektor kehutanan dan tata guna lahan, kegiatan penghitungan karbon sebagai bagian dari Program Blue Carbon Initiative, solusi berbasis alam yang mengacu pada pengelolaan dan penggunaan alam yang berkelanjutan diantaranya perlindungan areal Nilai Konservasi Tinggi (HCV) dan pengelolaan areal konservasi orangutan di Pulau Salat.
Di momen sama, Henky menerangkan hasil perhitungan serapan karbon dari lima sektor, PT Mitra Mendawai Sejati diperkiraan dapat menurunkan emisi sebesar 345 ribu ton CO2e per tahun. Saat ini, proses implementasi NEK sudah pada tahap validasi Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi (DRAM).
SSMS menargetkan pertengahan tahun depan dapat mengantongi Sertifikat Pengurangan Emisi GRK (SPE-GRK) untuk masuk dalam perdagangan karbon di Indonesia.
“SSMS melihat peluang untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui perdagangan kabon," bebernya.
Untuk itu, sambunya, SSMS siap dukung pemerintah mewujudkan perdagangan karbon di Indonesia. Apalagi ini sejalan dengan komitmen pengendalian emisi GRK menuju net zero emmision (NZE) serta ikut berkontribusi pada komitmen nasional terhadap NDC,” tandasnya.
Siap-siap Masuki Perdagangan Karbon, SSMS Petakan Sumber dan Serapan Emisi
Diskusi pembaca untuk berita ini