Karbon
Sorotan terbaru dari Tag # Karbon
LindungiHutan Luncurkan eBook 'Carbon Policy' Dorong Transisi Karbon di Indonesia
Semarang, katakabar.com - Menyadari peran besar Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim global, LindungiHutan meluncurkan eBook terbaru bertajuk “Carbon Policy: Pemanfaatan dan Status Hutan di Indonesia.” Publikasi ini dirancang sebagai bacaan ringkas dan berbobot untuk membantu para pengambil keputusan, praktisi CSR, serta pemimpin bisnis memahami arah kebijakan karbon nasional sekaligus potensi besar hutan Indonesia dalam mendukung ekonomi hijau. Saat ini, Indonesia menempati posisi sebagai salah satu dari empat negara penyumbang emisi karbon terbesar di dunia. Perubahan tata guna lahan, terutama deforestasi, menjadi faktor utama yang memperburuk kondisi tersebut. Data menunjukkan, dalam dua tahun terakhir (2020–2022), luas hutan di Indonesia menyusut dari 125,8 juta hektare menjadi 125,7 juta hektare. Penurunan ini turut berkontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) dan menurunkan kemampuan alam dalam menyerap karbon. Melalui eBook ini, LindungiHutan menguraikan secara komprehensif bagaimana kebijakan karbon dapat menjadi solusi mitigasi perubahan iklim. Indonesia telah memperkuat komitmennya terhadap pengurangan emisi melalui Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) dengan target penurunan hingga 43,20 persen pada tahun 2030 serta visi Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Kebijakan ini meliputi berbagai mekanisme seperti carbon pricing (nilai ekonomi karbon), carbon tax (pajak karbon), carbon trading (bursa karbon), dan carbon offset. Keempat instrumen tersebut diuraikan secara aplikatif, membantu pembaca memahami bagaimana kebijakan tersebut dapat diintegrasikan dalam strategi bisnis berkelanjutan. Sejak peluncuran IDXCarbon oleh Bursa Efek Indonesia pada September 2023, perdagangan karbon di Indonesia semakin terbuka bagi dunia usaha. Tetapi, eBook ini juga menyoroti sejumlah tantangan seperti peta jalan yang belum terstandar, keterbatasan sumber daya manusia profesional, serta kebutuhan regulasi yang lebih jelas terkait izin emisi lintas batas. Di sisi lain, Indonesia justru memiliki modal besar: kekayaan sumber daya alam yang menjadikannya pusat ekonomi hijau potensial di Asia Tenggara. Laporan ini menegaskan pentingnya peran hutan sebagai penyerap karbon alami. Hutan mangrove, gambut, dan hutan kota menjadi fokus utama karena kemampuannya menahan emisi dan menjaga keseimbangan iklim. Indonesia yang menyandang predikat “paru-paru dunia” memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan hutan-hutannya tetap lestari dan produktif secara ekologis maupun ekonomi. Setiap jenis hutan dijelaskan berdasarkan fungsinya: mangrove menyimpan hingga 90 persen karbon di dalam tanah, gambut menyerap hingga 60 persen beratnya dalam karbon organik, sementara hutan kota berperan penting dalam mengurangi polusi di kawasan padat penduduk dan industri. Selain memberikan pemahaman ilmiah dan regulatif, eBook ini juga membahas aspek sosial dari kebijakan karbon, termasuk hak masyarakat lokal, partisipasi publik, serta sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK) sebagai bagian dari tata kelola kehutanan yang adil dan transparan. Prinsip Free, Prior, and Informed Consent (PADIATAPA) dijelaskan sebagai pondasi partisipasi komunitas dalam setiap proyek karbon. LindungiHutan, sebagai platform kolaborasi lingkungan berbasis teknologi, menerbitkan dokumen ini sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat literasi dan transparansi dalam implementasi kebijakan karbon nasional. Melalui pendekatan ilmiah namun praktis, eBook ini diharapkan menjadi referensi bagi kalangan profesional yang ingin memahami dan terlibat dalam ekonomi hijau Indonesia.
Webinar, Kredit Karbon Buka Peluang Bisnis dan Dukung Keberlanjutan Lingkungan
Semarang, katakabar.com - LindungiHutan hadirkan lagi webinar Green Skilling bersama para expert dengan bahasan mengenai karbon kredit di Indonesia, di penghujung Juli 2024 lalu. Setiap kegiatan operasional perusahaan menghasilkan emisi gas rumah kaca penyebab adanya perubahan iklim. Persoalan ini menjadi alasan bagi pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan untuk menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus mencapai target pengurangan emisi karbon secara global.
Siap-siap Masuki Perdagangan Karbon, SSMS Petakan Sumber dan Serapan Emisi
Jakarta, katakabar.com - Nationally Determined Contribution (NDC) 2016 atau Enhanced NDC 2022 dan pengendalian emisi Gas Rumah Kaca (GRK), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) komitmen melakukan percepatan implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) untuk mendukung upaya pemerintah agar capai target. Chief Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio W. menjelaskan, perkebunan kelapa sawit potensial berpartisipasi dalam perdagangan karbon melalui tiga skema, meliputi konservasi stok karbon, peningkatan karbon stok, dan penurunan emisi dalam produksi. "Perkebunan kelapa sawit yang dikelola secara berkelanjutan dan ramah lingkungan memiliki potensi menyimpan karbon dalam jumlah yang cukup besar yang dapat menyumbang pada penurunan emisi," ujarnya lewat pernyataan resmi SSMS, dilansir dari laman elaeis.co, pada Senin (11/12). Guna mewujudkan komitmen itu, SSMS mulai memetakan sumber emisi GRK dan menghitung potensi serapan karbon yang terjadi di lingkup operasional. SSMS kerja sama dengan konsultan eksternal PT Cedar Karyatama Lestarindo (CKL) melakukan perhitungan karbon di salah satu perkebunan kelapa Sawit SSMS Group, PT Mitra Mendawai Sejati. Metodologi penghitungan yang digunakan sesuai dengan ketentuan dari KLHK, yakni melalui pembuatan Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) dan mendaftarkan dalam paltform Sistem Registrasi Nasional (SRN) sebelum masuk dalam tahapan Validasi dan Verifikasi. Dijabarkan Henky, SSMS telah melakukan beberapa upaya meminimalkan emisi karbon diantaranya dari sektor energi dan limbah pabrik kelapa sawit. "Yakni pengoperasian Methane Capture dan Bio-CNG Plant dengan cara memanfaatkan limbah cair pabrik sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) menjadi tenaga listrik dan bahan bakar operasional," ulasnya. Dari sektor pertanian, sebutnya, pengurangan emisi melalui substitusi penggunaan pupuk anorganik menjadi pupuk organik. Semua limbah hasil pengolahan kelapa sawit 100 persen digunakan kembali seperti pemanfaatan limbah cair (POME) dan jangkos untuk meminimalisir penggunaan pupuk kimia (anorganik). Di sektor kehutanan dan tata guna lahan, kegiatan penghitungan karbon sebagai bagian dari Program Blue Carbon Initiative, solusi berbasis alam yang mengacu pada pengelolaan dan penggunaan alam yang berkelanjutan diantaranya perlindungan areal Nilai Konservasi Tinggi (HCV) dan pengelolaan areal konservasi orangutan di Pulau Salat. Di momen sama, Henky menerangkan hasil perhitungan serapan karbon dari lima sektor, PT Mitra Mendawai Sejati diperkiraan dapat menurunkan emisi sebesar 345 ribu ton CO2e per tahun. Saat ini, proses implementasi NEK sudah pada tahap validasi Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi (DRAM). SSMS menargetkan pertengahan tahun depan dapat mengantongi Sertifikat Pengurangan Emisi GRK (SPE-GRK) untuk masuk dalam perdagangan karbon di Indonesia. “SSMS melihat peluang untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui perdagangan kabon," bebernya. Untuk itu, sambunya, SSMS siap dukung pemerintah mewujudkan perdagangan karbon di Indonesia. Apalagi ini sejalan dengan komitmen pengendalian emisi GRK menuju net zero emmision (NZE) serta ikut berkontribusi pada komitmen nasional terhadap NDC,” tandasnya.
Wow! 50 Persen Tankos Sawit Indonesia Hasilkan 7,5 Juta Ton Karbon
Palangkaraya, katakabar.com - Kepala Divisi Teknologi Proses, Program Studi Teknik Industri Pertanian, IPB University, Prof Dr Erliza Hambali menuturkan, 50 persen Tandan Kosong (Tankos) kelapa sawit sudah mampu menghasilkan 7,5 juta ton biochar atau karbon di seluruh Indonesia. "Sebesar 50 persen Tandan Kosong (Tankos) kelapa sawit sudah mampu menghasilkan 7,5 juta ton biochar atau karbon di seluruh Indonesia," ujar Prof Erliza, kemarin, dilansir dari laman borneonews, pada Rabu (29/11). Kalau hanya 50 persen saja tandan kosong kelapa sawit di Indonesia yang diolah jadi karbon, sebut Prof Erliza, lewat proses karbonisasi dengan teknologi yang tepat, maka dihasilkan sekitar 7,5 juta ton biochar tandan kosong kelapa sawit. Prof Erliza menjabarkan hal itu, saat Workshop Karbonasi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik untuk Substitusi Pupuk Kimia pada Perkebunan Kelapa Sawit kerja sama IPB University dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS di Palangka Raya, Selasa kemarin. "Artinya dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia di perkebunan kelapa sawit secara signifikan. Sedang, tar yang dihasilkan dapat digunakan untuk bahan bakar ramah lingkungan," tambah saat jumpa perse dengan wartawan dengan narasumber mulai dari Prof Erliza, Kepala Divisi Program Pelayanan BPDPKS Arfie Thahar, Head of Research & Development- PT Bumitama Gunajaya Agro Adhy Ardiyanto. Perwakilan Gapki Kalteng Sukarman, Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University Prof Dr Herdhata Agusta, serta perwakilan Beston - China Tom Zhang, selesai pembukaan workshop.
Penggunaan SAF Hemat Emisi Karbon 80 Persen Kurun Siklus Hidup Bahan Bakar
Palangkaraya, katakabar.com - Penggunaan SAF atau sustainable aviation fuel dalam bahasa Indonesia bahan bakar berkelanjutan diklaim bisa hemat jumlah karbon sangat besar. Menurut Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman lewat keterangan resmi, dilansir dari laman borneonews, pada Sabtu (25/11), pemanfaatan SAF mampu pengurangan emisi karbon hingga 80 persen selama siklus hidup bahan bakar. "Pengurangan emisi karbon ini dibandingkan dengan bahan bakar jet tradisional yang digantikan. Tapi, bergantung pada bahan baku berkelanjutan yang digunakan, metode produksi, dan rantai pasokan ke bandara," ujarnya. Diketahui, saat tur dunia grup band yang digawangi Chris Martin sebagai vokalis dan pianis mengusung tema ramah lingkungan dengan menerapkan konsep inklusivitas dan keberlanjutan. Coldplay mengaku mendapatkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan 100 persen dihasilkan dari limbah dan residu, seperti minyak goreng bekas dari restoran. Bila digunakan tanpa dicampur dengan bahan bakar jet fosil, SAF diklaim dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dari perjalanan udara hingga 80 persen dibanding dengan bahan bakar jet konvensional. Kalau memungkinkan, Coldplay menggunakan kendaraan listrik atau biofuel untuk pengangkutan dan transportasi darat selama tur. Saat konser di Indonesia, Coldplay mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur sehari sebelum manggung. Itu konser kali pertama di Indonesia.