Pekanbaru, katakabar.com - Menggenang kelopak mata para tetua di bawah tenda, di halaman Gedung Pasca Sarjana FISIP-UNRI itu. Terduduk menatap orang-orang berpakaian serba hitam di depan sana.
Di antara peran pongah dua orang anak yang mengasung amarah bunda yang nampak lelah membujurkan adab, hingga alam pun ikut marah.
Peran kepongahan itu semakin memancing emosi disaat bait demi bait suara hati seorang perempuan, berusaha mengelus kesabaran ibu pertiwi yang lelah menahan perih atas nama peradaban.
Sosah --- mencuci dalam bahasa Melayu Kampar --- menjadi tajuk peran itu.
Teramat banyak pesan yang berpendar di sana kemarin sore, di jejak baru yang dibangun oleh Yusmar Yusuf dan Meyzi Heriyanto di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau (FISIP-UNRI) itu.
Yusmar sendiri adalah seorang guru besar dan Ketua Senat FISIP itu, sementara Meyzi baru lima bulan menjadi Dekan di sana.
Dan laku yang dimainkan oleh para pemeran Teater Selembayung arahan Fedli Azis itu, memang bukan dalam rangka sebuah festival.
Namun sebuah peran baru untuk penyambutan seorang guru besar di sana. Adalah Prof. Ali Yusri yang disambut itu. Dia adalah guru besar Politik Pemerintahan.
Bagi Yusmar, Profesor menjadi ranah yang berpembawaan imperatif dan DNA nya sebuah Universitas.
Profesor dalam bahasa-bahasa dunia bisa bermakna "guru secara umum". Misal dalam tradisi Prancis, semua guru disapa sebagai "de la professeur".
Tapi ada hakekat lain dari dimensi Profesor itu sendiri: inayah "orang-orang arif dan bijak". Dia mustika kebijaksanaan.
Mereka yang bersetia dengan "jalan sufi". Sehingga dalam idiom Prancis dikenal ungkapan seperti ini: "Je suis la professeur de l'academie de la vie" [Aku adalah profesor dalam akademik kehidupan].
Para Profesor yang meniti dan menetak sepanjang lorong "akademi kehidupan" itu boleh dialamatkan kepada Socrates, Plato, Aristoteles dan para bijak bestari, termasuk para sufi.
Mereka tak terjebak dalam riuh rendah tikungan serba Scopus yang seakan-akan hari ini menjadi "Ayatullah" kebenaran sains lewat penerbitan yang seakan diperlombakan secara massif. Padahal sejatinya membajak "kebijaksanaan" sufi itu sendiri.
Dan tentang jejak baru penyambutan itu, Ini adalah seni. Dengan seni, kita menyapa dan mengusik akal budi akademik yang cenderung pongah dan merasa benar sepihak.
Lewat seni kata dia, kita menyandingkan "akal kemalaikatan" [angelic reason] sekaligus "cahaya kemalaikatan" [angelic light].
Maka kita undang kali pertama, teater pimpinan Fedli Azis dengan tajuk persembahan Sosah. Diambil dari kaidah tradisi Kampar.
Kaidah-kaidah luhung dan pesan moral dari "Sosah" itu, adalah cara seniman teater menghadirkan "kekuatan" orality [kelisanan] yang berpaksi [akar tunggang] dalam kehidupan kampung-kampung Melayu di hulu-hulu Sungai besar di Riau. Termasuk Hulu dan sepanjang sungai Kampar.
Hulu-hulu sungai besar di Riau itu adalah "Kingdom of Orality" yang teramat kemilau dan menawan. Termasuk fenomena keperkasaan "kawah candradimuka" era Buddhism Muara Takus.
Setiap inisiasi penyambutan ala party garden ini, akan tetap dihiasi dengan sejumlah cultural perfomance berkaidah dan berpaksi budaya Melayu sampai seni luhung dan progresif, termasuk Jazz.
Meyzi kemudian berujar, bahwa sampai hari ini, sudah ada 6 guru besar di FISIP-UNRI itu. Tiga guru besar sosiologi, guru besar Ilmu Pemerintahan, guru besar Administrasi Publik dan guru besar Administrasi Bisnis masing-masing satu.
Saat ini, ada tujuh dosen FISIP yang sedang proses guru besar, termasuk Meyzi. Sebagai Dekan, dia menargetkan minimal ada 30% guru besar dari total dosen yang ada.
"Upaya yang kita lakukan untuk mencapai target itu antara lain; pemetaan dosen, mengaktifkan kelompok jabatan fungsional dosen, hibah penelitian dan pengabdian, bantuan publikasi dosen serta penyediaan ruang kerja bagi dosen," lelaki 47 tahun ini menjelaskan.
Penandatangan kerjasa FISIP-UNRI dengan Rumah Sakit Tengku Rafi'an Siak menjadi penutup penyambutan itu.
Meyzi yang meneken kesepahaman bidang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) itu dengan Direktur RS Tengku Rafi'an, Dr. Toni Chairuddin, Sp. An. M. Kes.
Sosah Jejak Baru di Universitas Riau
Diskusi pembaca untuk berita ini