Kepulauan Meranti katakabar.com - Bendera Merah Putih untuk kali pertama dikibarkan di Selatpanjang, Ibukota Kabupaten Kepulauan Meranti, persis pada 17 Oktober 1945 lampau.

Kini sudah 80 tahun peristiwa bersejarah ini jadi simbol kabar Kemerdekaan Indonesia telah sampai ke pelosok negeri tak lama setelah diproklamasikan di Jakarta.

Pengibaran perdana itu dilakukan oleh Mohammad Taib Ibrahim dikenal sebagai Taib Hitam, di tanah kosong sekitar Makam Datuk Bandar Konel, tepian Telaga Bening. Tetapi, tempat bersejarah ini kini justru terbengkalai dan nyaris terlupakan.

“Peristiwa besar itu dulu menjadi penanda kebangkitan semangat rakyat Selatpanjang untuk menyambut kemerdekaan. Tapi sekarang jejaknya nyaris tak terurus,” kata Ketua Umum DPH Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, pada catatan refleksinya, Jumat (17/10).

Berita kemerdekaan menyebar ke Selatpanjang, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, kabar kemerdekaan menyebar dari satu kota ke kota lainnya melalui surat kabar, stensilan, hingga dari mulut ke mulut. Berita itu akhirnya tiba di Selatpanjang melalui Wan Ali Husin, seorang telegrafis di Kantor Pos, Telegraf dan Telepon (PTT).

Wan Ali Husin menyampaikan kabar kemerdekaan kepada para tokoh pergerakan lokal, di antaranya Mas Selamat, Wan Sulung, dan Mas Diran. Tak lama kemudian, terbentuklah Badan Aksi Kemerdekaan Selatpanjang dengan Mas Selamat sebagai ketuanya.

Di masa itu, Tentara Pendudukan Jepang masih berkuasa sehingga penyebaran kabar kemerdekaan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tetapu, semangat rakyat Selatpanjang tak terbendung. Dengan keberanian, mereka melawan tekanan Jepang hingga akhirnya Gunco Selatpanjang, Mohammad Sirin, memberi izin penyebaran berita secara terbuka.

Pemuda Bangkit, Bendera Dikibarkan
Semangat kemerdekaan semakin menggelora ketika para pemuda Selatpanjang membentuk Barisan Pemuda Republik Indonesia (BPRI) yang dipimpin Paku Siahaan. BPRI menjadi motor penggerak pengibaran Bendera Merah Putih pertama di kota ini.

Meski mendapat perlawanan dari pihak pro-Belanda yang ingin kembali berkuasa, rencana tersebut tetap terlaksana. Pada 17 Oktober 1945, masyarakat menggelar upacara sederhana namun bersejarah: pengibaran Sang Saka Merah Putih pertama di Selatpanjang.

Jejak Sejarah yang Terabaikan
Ironisnya, lokasi tempat bendera pertama dikibarkan kini berubah menjadi kawasan kumuh dan tak terawat. Tiang pancang pengingat sejarah pun telah dibuang, dan area itu kini digunakan untuk aktivitas jual beli.
“Tapak sejarah itu kini nyaris tak dilirik. Padahal, di atas tanah itu marwah bangsa pernah ditegakkan,” cerita Datuk Seri Afrizal Cik.

LAMR Kepulauan Meranti pun mengajak pemerintah daerah, khususnya Camat Tebing Tinggi dan Lurah Selatpanjang Kota, untuk meninjau lokasi tersebut. Lembaga adat ini juga mendorong Pemkab Meranti membangun Monumen Sejarah Pengibaran Bendera Pertama di sana sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu.

“Sekurang-kurangnya, pagari dan tandai tempat ini sebagai saksi sejarah perjuangan anak negeri,” tegas Afrizal.

Warisan harus dijaga Delapan dekade telah berlalu, tetapi semangat juang para pejuang Selatpanjang tak boleh hilang ditelan waktu. Momentum 80 tahun pengibaran Merah Putih ini menjadi pengingat bagi generasi muda untuk menjaga, menghormati, dan melestarikan warisan sejarah bangsa.