Adaptif

Sorotan terbaru dari Tag # Adaptif

Investor Indonesia Adaptif di Tengah Krisis, CEO Bittime Soroti Tren USDT Hingga Bitcoin Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 26 April 2026 | 19:17 WIB

Investor Indonesia Adaptif di Tengah Krisis, CEO Bittime Soroti Tren USDT Hingga Bitcoin

Jakarta, katakabar.com - Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan meningkatnya ketidakpastian global, perilaku investor Indonesia menunjukkan pergeseran semakin strategis. CEO Bittime, Ryan Lymn, mengungkapkan mayoritas investor kini memilih berinvestasi pada aset-aset kripto yang cenderung lebih stabil seperti Tether ($USDT), Bitcoin ($BTC), dan Emas Tether ($XAUT) berdasarkan hasil voting Bittime di platform Instagram. Menurut Ryan, aset kripto $USDT yang memberikan eksposur 1:1 terhadap dolar AS, menjadikannya instrumen yang relevan di tengah gejolak ketegangan geopolitik Amerika-Iran. Apalagi, $USDT bersifat fraksional sehingga dapat diakses atau dibeli dengan harga fleksibel di tengah kondisi depresiasi pada nilai tukar Rupiah.  "Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap pasangan USDT/IDR di platform Bittime. Di mana, berdasarkan hasil voting yang digelar Bittime di akun Instagram miliknya, 57 persen dari masyarakat memilih berinvestasi pada aset $USDT saat gajian," ucapnya Dijelaskan CEO Bittime, pergerakan tren strategi investasi yang terjadi saat ini, menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai investasi dan pentingnya mengamankan nilai aset di tengah volatilitas pasar ekonomi yang terjadi. “Kami melihat pergeseran pada pola investasi masyarakat yang sebelumnya cenderung berinvestasi terhadap aset-aset kripto berbasis aset alternatif, kini bergeser pada aset-aset dengan pergerakan yang cenderung stabil seperti $USDT,$ XAUT, dan $BTC. Hal ini didukung dengan hasil voting yang kami lakukan melalui platform Instagram di mana masyarakat memilih untuk menginvestasikan gaji nya pada $USDT," beber Ryan. Di sisi lain, kata Ryan lagi, minat terhadap aset kripto berpotensi tinggi juga terus meningkat. Tercatat, volume trading BTC/IDR pada platform Bittime melonjak hingga 27 persen per-WoW mencerminkan meningkatnya optimisme investor terhadap aset $BTC. "Hal ini dipicu kondisi psikologis pasar yang memandang depresiasi nilai aset $BTC saat ini sebagai momentum untuk menambah jumlah aset nya. Di mana, 6 bulan lalu nilai aset $BTC berada di kisaran $115.000-$120.000, dan dipercaya berpotensi untuk kembali bergerak ke level tersebut," imbuhnya. Selain kedua aset tersebut, sebut Ryan, aset kripto berbasis aset tradisional (TradFi) seperti Emas Tether ($XAUT) dan Silver ($SLVON) juga merupakan aset-aset yang paling banyak diperdagangkan dalam 24 jam terakhir pada platform Bittime. "Sebagai aset-aset yang bergerak lebih stabil dibanding aset kripto lainnya, Emas dan Silver dinilai dapat menjadi “safe haven”, apalagi Bittime menghadirkan staking $XAUT dan $SLVON dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 10% bagi pengguna baru," ulasnya Bertepatan dengan pergeseran pola investasi masyarakat saat ini, sebagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bittime menggelar program Bittime Mining Points. Di mana, program tersebut memberikan insentif berupa poin bagi para investor berdasarkan pada aktivitas trading dan referral pada platform Bittime. Ini ditujukan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi bagi para investor yang memanfaatkan aset kripto sebagai pilihan aset diversifikasi di tengah volatilitas pasar dampak ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini. Untuk itu, perlu dipahami investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya. Lantaran itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini. Tentu, perlu dipahami bahwa aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Makanya sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya.

Tentang Implementasi Biodiesel, Ini Kata Tim Pranata Universitas Indonesia Sawit
Sawit
Jumat, 17 Oktober 2025 | 18:25 WIB

Tentang Implementasi Biodiesel, Ini Kata Tim Pranata Universitas Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Tim Peneliti Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI) menegaskan penerapan kebijakan biodiesel nasional penting tetapi dilakukan terukur, adaptif, dan berbasis data ilmiah guna memperkuat agenda transisi energi hijau pemerintah. "Penerapan kebijakan biodiesel nasional penting tetapi dilakukan terukur, adaptif, dan berbasis data ilmiah guna memperkuat agenda transisi energi hijau pemerintah," kata Tim Peneliti Pusat Penelitian Pranata Pembangunan Universitas Indonesia (Pranata UI) saat merilis kajian berjudul “Produksi Sawit, Dinamika Pasar, serta Keseimbangan Biodiesel di Indonesia". “Kebijakan mesti mempertimbangkan seluruh faktor serta parameter pada industri kelapa sawit Indonesia secara ilmiah bakal mendukung efektivitas upaya membangun kemandirian energi lewat peningkatan mandatori pencampuran biodiesel dari B40 ke B50," ujar Dr Surjadi dari Pranata UI, dilansir dari laman EMG (Elaeis Media Group), Jumat (17/10). Menurutnya, pihaknya merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan dalam industri ini mempertimbangkan seksama kapasitas produksi sawit nasional, daya saing ekspor, dan kesejahteraan petani agar manfaat program ini terasakan secara menyeluruh. Apalagi, terangnya, Indonesia saat ini merupakan produsen dan konsumen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 48,2 juta ton atau 54 persen dari pasokan global, serta luas areal perkebunan sekitar 16,8 juta hektar. "Di mana, produksi 2025 diproyeksikan hanya mencapai 49,5 juta ton, sementara implementasi mandatori B50 menuntut peningkatan kapasitas produksi minyak sawit nasional sekitar 59 juta ton per tahun guna memenuhi kebutuhan dalam negeri," ulasnya. "Stagnasi pasokan menjadi risiko utama dalam mendukung mandatori biodiesel dan daya saing ekspor," timpal Dr Surjadi Simulasi menunjukkan penerapan mandatori biodiesel B50 dapat menghasilkan penghematan devisa impor solar sebesar Rp172,35 triliun, namun berpotensi menekan ekspor CPO hingga Rp190,5 triliun angka yang justru lebih besar dari penghematan impor. Kondisi ini, ucap Surjadi, berisiko mengurangi surplus neraca perdagangan, menekan cadangan devisa, dan memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. "Penurunan ekspor mendorong harga CPO naik, bahkan kerap lebih mahal dari minyak nabati lain seperti kedelai, dengan selisih harga mencapai lebih dari US$100 per ton," bebernya. Sementara, sambung Surjadi, negara importir utama seperti India mulai mengalihkan permintaan ke minyak kedelai dan bunga matahari, sehingga impor CPO Indonesia diperkirakan turun ke titik terendah sejak 2019/2020. Kenaikan mandatori biodiesel dari B40 ke B50, tuturnya, berpotensi untuk meningkatkan harga minyak goreng domestik hingga 9 persen, dan mendorong harga Tandan Buah Segar (TBS) naik sekitar Rp618 per kilogram, seiring meningkatnya permintaan minyak sawit untuk bahan baku biodiesel. Tetapi, jelasnya lagi, di balik potensi keuntungan tersebut, penelitian menemukan kebijakan B50 juga menimbulkan beban fiskal baru karena kebutuhan subsidi yang semakin besar untuk menjaga keekonomian program biodiesel. Kenaikan tarif pungutan ekspor Crude Palm Oil (CPO) justru menekan harga TBS di tingkat petani. Peningkatan tarif sebesar 1% diperkirakan menurunkan harga TBS sekitar Rp333 per kilogram. Bahkan, tambahnya, untuk mendanai pelaksanaan B50, jika tarif ekspor dinaikkan lebih jauh hingga 15,17 persen dari sebelumnya 10 persen, tekanan terhadap harga TBS bisa mencapai Rp1.725 per kilogram. "Dampak ini paling berat dirasakan oleh petani swadaya yang memiliki posisi tawar lemah dalam rantai pasok sawit," terangnya. Fleksibilitas dan Keseimbangan Menurut Dr. Surjadi, tingkat campuran biodiesel yang optimal berada pada kisaran B35–B40, di mana manfaat energi, ekspor, dan stabilitas harga masih seimbang sehingga tidak perlu menaikan pungutan ekspor. "Tim peneliti merekomendasikan kebijakan blending rate dinamis, yakni menyesuaikan kadar pencampuran sesuai fluktuasi harga solar, CPO, dan TBS. Kebijakan serupa telah diterapkan di beberapa negara seperti Brasil, Malaysia, dan Thailand, yang menerapkan model fleksibilitas mandatori untuk menjaga keseimbangan antar sektor," sarannya. Kajian menyoroti pentingnya peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam menjaga keseimbangan alokasi dana antara subsidi biodiesel, program peremajaan sawit rakyat (replanting), dan stabilisasi harga minyak goreng. "Proporsi pendanaan yang terlalu besar untuk subsidi energi dapat mengurangi dukungan bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani," sebutnya seraya menyatakan

Binus University @Semarang: Strategis Persiapkan Generasi Adaptif dan Siap Berkarier ke Revolusi Industri 4.0 Pendidikan
Pendidikan
Jumat, 01 Agustus 2025 | 19:18 WIB

Binus University @Semarang: Strategis Persiapkan Generasi Adaptif dan Siap Berkarier ke Revolusi Industri 4.0

Semarang, katakabar.com - Binus Uuniversity @Semarang gelar acara "Techtopia" pada 23 hingga 26 Juli 2025 lalu, di Binus University @Semarang Campus. Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan para pelajar SMA/SMK agar siap menempuh pendidikan, berkarya dan berkarir secara profesional di industri sebagai talent yang berkualitas, sekaligus menjunjung semangat Industri Revolusi 4.0. Techtopia jadi penting dan relevan karena kegiatan ini dirancang khusus untuk membantu siswa SMA/SMK, terutama di wilayah Jawa Tengah dan DIY, dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia perkuliahan dan kerja di era digital. Selama empat hari, Techtopia tawarkan berbagai aktivitas menarik dan bermanfaat yang memberikan gambaran nyata mengenai kehidupan di kampus. Acara ini memberikan bekal bagi siswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang relevan dengan tuntutan dunia kerja. Lebih dari sekadar acara edukatif, Techtopia jadi bagian dari pendekatan transformasional Binus merespons tantangan Revolusi Industri 4.0 dan era society 5.0. Dengan menghadirkan pengalaman berbasis praktik, sesi bersama alumni yang telah sukses di dunia profesional, hingga dialog dengan pelaku industri, acara ini memberikan gambaran nyata tentang relevansi kurikulum Binus dengan kebutuhan pasar kerja. Sebagai institusi pendidikan tinggi yang mengusung konsep Campus of Industry Revolution 4.0, Binus University @Semarang dibangun dengan visi menghadirkan pendidikan yang relevan, adaptif, dan terintegrasi dengan kebutuhan industri masa kini. Kawasan Jawa Tengah yang tengah berkembang sebagai pusat industri manufaktur dan digital menjadi peluang strategis untuk memperkuat koneksi antara dunia akademik dan dunia usaha. Techtopia hadir sebagai perwujudan dari visi tersebut. Acara ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang istimewa dan beragam, termasuk Unlocking Your Passion (Career Workshop): Menghadirkan Imam Sumantri selaku Chief Marketing Officer Speedwork Indonesia yang juga merupakan Binusian. Sesi ini memberikan gambaran nyata bagi peserta mengenai bagaimana keterampilan dasar seperti membangun relasi, berpikir strategis, dan adaptasi terhadap teknologi menjadi kunci dalam membentuk karier yang relevan di era digital. Antusiasme peserta terlihat dari interaksi yang hangat dan diskusi yang menginspirasi.

KAI Paparkan Strategi Adaptif dan Kepemimpinan Transportasi Masa Depan di Kuliah Tamu FTMD ITB Nasional
Nasional
Selasa, 27 Mei 2025 | 23:00 WIB

KAI Paparkan Strategi Adaptif dan Kepemimpinan Transportasi Masa Depan di Kuliah Tamu FTMD ITB

Bandung, katakabar.com - Didiek Hartantyo: Mahasiswa Harus Siap Memimpin Perubahan dan Menjadi Solusi Nyata Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Didiek Hartantyo hadir sebagai pembicara utama pada Kuliah Tamu bertajuk “Navigating Changes & Driving Growth: Peluang dan Tantangan Industri Perkeretaapian di Indonesia” yang digelar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara atau FTMD Institut Teknologi Bandung, di pekan keempat Mei 2025. Didiek menyampaikan, sektor perkeretaapian tengah menghadapi tantangan serius, mulai dari keterbatasan pendanaan, kenaikan biaya energi, perlambatan permintaan, hingga dinamika kebijakan. Dalam menghadapi tekanan tersebut, KAI menyiapkan strategi terintegrasi berbasis tiga pilar: efisiensi operasional, penguatan logistik, dan pemanfaatan aset non-angkutan. “Transportasi berbasis rel tidak bisa hanya dikelola dengan pendekatan teknis semata, namun harus adaptif terhadap regulasi, sosial-politik, dan tekanan ekonomi. Visi kami adalah menjadi penggerak transportasi berkelanjutan yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Didiek. Menurut Didiek, KAI memproyeksikan pertumbuhan jangka panjang melalui penguatan layanan, di mana volume penumpang jarak jauh ditargetkan naik 10,6 persen, angkutan batubara meningkat 15 persen, dan pendapatan non-angkutan bertumbuh 16 persen menjadi Rp2,95 triliun. "Strategi ini selaras dengan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) KAI 2025–2029 yang didukung oleh modernisasi sistem, sinergi antar-BUMN, serta ekspansi angkutan dan pemanfaatan stasiun sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru," jelasnya.

Binus University Pendidikan Tinggi yang Adaptif, Kolaboratif, dan Berdampak Pendidikan
Pendidikan
Minggu, 18 Mei 2025 | 10:00 WIB

Binus University Pendidikan Tinggi yang Adaptif, Kolaboratif, dan Berdampak

Jakarta, katakabar.com - Melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional ke angka 4,87 persen di kuartal I 2025, dan dominasi pekerja di sektor informal menjadi sinyal penting Indonesia memerlukan SDM yang tidak hanya terampil, tapi mampu beradaptasi dan berkontribusi nyata. Binus University merespon kondisi ini melalui penyelenggaraan Media Gathering di Kampus Anggrek Binus @Kemanggisan sebagai wujud nyata komitmen pendidikan tinggi menjawab tantangan sosial dan ekonomi melalui inovasi, kolaborasi, dan penciptaan dampak. Acara ini sejalan dengan inisiatif Kampus Berdampak dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebagai bentuk keberlanjutan dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kampus kini dituntut tidak hanya berperan dalam pengajaran, tetapi juga menjadi katalisator transformasi sosial dan ekonomi, baik secara lokal maupun global. Di kegiatan ini, Rektor Binus University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., menyampaikan, Binus secara konsisten menjalankan transformasi pendidikan yang menyatu dengan kebutuhan industri dan masyarakat. “Kami membekali mahasiswa dengan pengalaman praktikal sejak kuliah. Dengan pendekatan fleksibel dan multidisipliner, mahasiswa Binus mampu beradaptasi lebih cepat dan unggul saat memasuki dunia profesional. Kami percaya keberhasilan pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi juga dampak nyata yang dapat diberikan oleh lulusannya kepada bangsa,” tegasnya. Binus University saat ini menempati peringkat #2 versi Times Higher Education (THE) 2025 sebagai Perguruan Tinggi Indonesia Berkelas Dunia, sebuah pengakuan internasional atas kualitas akademik, inovasi, serta keterlibatan global yang dibangun selama bertahun-tahun melampaui beberapa perguruan tinggi negeri ternama. Melalui program 2,5 Tahun Kuliah, Siap Berkarier melalui Enrichment Program Track, Binus cetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap berkontribusi. Keunggulan ini didukung oleh relasi kuat dengan lebih dari 2.200 perusahaan mitra di seluruh dunia, serta jaringan 200.000+ komunitas Binusian yang tersebar di berbagai industri, kota, dan negara.