Bengkalis, katakabar.com - Lewat model kelembagaan Adaptif , dua orang guru besar dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau FISIP Universitas Riau atau UNRI, Prof. Dr. Zaili Rusli dan Prof. Dr. Seno Andri, pimpin riset penting di 'Negeri Junjungan' nama lain dari Kabupaten Bengkalis. 

Riset angkat tema “Model Kelembagaan Adaptif untuk Penguatan Daya Saing dan Ketahanan Petani Swadaya Kelapa Sawit”, tujuannya untuk membantu para petani sawit swadaya agar lebih kuat menghadapi tantangan pasar, dan pembangunan berkelanjutan.

Di pelaksanaan riset ini, dua orang profesor gandeng tim peneliti lainnya dari FISIP UNRI, yakni Dr. Dadang Mashur, Dr. Zulkarnaini, Mimin Sundari Nasution, dan peneliti muda, Masrul Ikhsan.

Kegiatan awal riset dilakukan dengan observasi, dan pengumpulan data primer, serta sekunder, dimulai dari Dinas Perkebunan atau Disbun Kabupaten Bengkalis.

Tidak cuma itu, tim gelar Focus Group Discussion atau FGD dengan petani, kepala desa, pengurus KUD, Kepala Bidang PHP Dinas Perkebunan, Kepala UPT Pembibitan dan Pengembangan Perkebunan Kecamatan Bantan dan penyuluh pertanian setempat.

Saat wawancara, Prof. Dr. Zaili Rusli, menegaskan pentingnya riset ini untuk menciptakan perubahan nyata bagi petani.

“Petani swadaya memiliki potensi besar menyumbang produksi kelapa sawit nasional. Tapi, mereka masih lemah dari sisi kelembagaan dan posisi tawar. Lewat riset ini, kami ingin membangun model kelembagaan yang adaptif, yang mampu memperkuat mereka dari dalam,” ujar Prof. Zaili, dilansir dari laman resmi Diskominfotik Bengkalis, Sabtu (30/8) siang.

Dijelaskan Prof. Zaili, kelembagaan yang adaptif bukan hanya soal struktur formal, tapi juga mencakup nilai-nilai gotong royong, kepercayaan sosial, dan jejaring ekonomi antar petani.

Sedang Prof. Dr. Seno Andri menimpali, tantangan petani swadaya saat ini bukan hanya pada aspek produksi, tapi juga pada rantai distribusi dan akses ke pasar.

“Banyak petani kita masih tergantung pada tengkulak. Kita ingin hadirkan solusi kelembagaan yang bisa menjadi jembatan agar petani punya akses langsung ke pasar dan pembeli besar. Itu akan berdampak langsung pada kesejahteraan mereka,” terang.Prof. Seno.

Menurutnya, riset ini diharapkan bisa menjadi masukan strategis bagi pemerintah daerah, khususnya dalam perumusan kebijakan pembangunan sektor perkebunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Setelah melakukan FGD di lapangan, para peneliti juga melanjutkan kegiatan ke Bappeda Kabupaten Bengkalis, guna menyinergikan hasil temuan awal dengan rencana pembangunan daerah. Dukungan dari Bappeda menjadi penting agar hasil riset bisa ditindaklanjuti bentuk program nyata.

Langkah Konkret dari Akademisi Buat Petani

Riset ini menunjukkan langkah konkret dunia akademik untuk hadir langsung membantu menyelesaikan persoalan nyata masyarakat, khususnya petani kelapa sawit swadaya. 

Harapannya, model kelembagaan adaptif yang dihasilkan nanti bisa direplikasi di daerah lain di Riau, bahkan di Indonesia.

Dengan kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat petani, Kabupaten Bengkalis diharapkan bisa menjadi contoh keberhasilan transformasi kelembagaan di sektor kelapa sawit rakyat.