Buruh Sawit
Sorotan terbaru dari Tag # Buruh Sawit
Upah Rendah dan Kesehatan Buruh Sawit Jadi Sorotan di Forum IPOWU Kalbar
Kalimantan Barat, katakabar.com - Upah rendah, dan kesehatan buruh kelapa sawit jadi sorotan di forum The 3rd IPOWU International Meeting yang ditaja Koalisi Buruh Sawit atau KBS bersama Trade Union Rights Centre atau TURC di Pontianak, Kalimantan Barat. Pertemuan Internasional ke 3 IPOWU yang digelar di dua kota besar, yakni Jakarta dan Pontianak pada 8 hingga 13 September 2025. Di mana Koalisi Buruh Sawit atau KBS Indonesia bertindak sebagai tuan rumahnya. IPOWU atau International Palm Oil Workers United, jadi ruang solidaritas antara serikat pekerja dari Kolombia atau Coordinadora, Ghana atau GAWU, Indonesia atah Koalisi Buruh Sawit, serta Belanda atau FNV dan Mondiaal FNV. Pertemuan ini menjadi forum penting bagi serikat pekerja dari Kolombia atau Coordinadora, Ghana atau GAWU, Indonesia atau Koalisi Buruh Sawit, dan Belanda atau FNV dan Mondiaal FNV untuk berbagi strategi, dan memperkuat solidaritas lintas negara. Koordinator KBS, Ismet Inoni menjelaskan, meski Kalimantan Barat salah satu wilayah dengan konsesi perkebunan sawit terbesar kedua di Indonesia, kesejahteraan buruh justru masih jauh dari kata layak. Misalnya, di Kalimantan Barat ini upah minimum sektoral di kabupaten adalah yang terendah dari beberapa provinsi di Kalimantan. Masih kita temukan upah hanya sekitar Rp2,8 juta per bulan. Paling tinggi sekitar Rp3,3 juta hingga Rp3,6 juta,” ucapnya, dilansir dari laman pontianak post, Sabtu (13/9). Tidak hanya itu persoalan upah, Ismed soroti status kerja buruh yang mayoritas berstatus Buruh Harian Lepas atau BHL, dengan kondisi paling rentan dialami pekerja perempuan. Ancaman lain yang dinilai serius adalah paparan bahan kimia beracun dari agrokimia yang digunakan dalam budidaya sawit. “Ancaman paparan racun itu juga tinggi. Dan yang perlu kita ketahui bahwa yang bekerja di bagian-bagian bersentuhan langsung dengan bahan kimia termasuk racun itu adalah buruh perempuan,” ujarnya.
RI 78 Tahun Merdeka, Nasib Buruh Sawit Masih Terpasung Kemiskinan
Bengkulu, katakabar.com - Republik Indonesia sudah 78 tahun lamanya merdeka tapi nasib buruh perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu belum merdeka lantaran masih terpasung kemiskinan. Para buruh terus berjuang untuk penuhi kebutuhan dasar sehari-hari dengan pendapatan yang minim. Di mana pendapatan mereka saat ini rata-rata masih sekitar Rp2 juta per bulan. Berarti pendapatan mereka berada di bawah rata-rata Upah Minimum Kabupaten (UMK) sebesar Rp2,7 juta per bulan. "Penghasilan yang layak masih menjadi tantangan besar bagi para buruh perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu. Walau telah berjuang keras, banyak dari mereka tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan disebabkan pendapatan yang rendah," ujar Ketua KSPSI Bengkulu, Aizan Dahlan, dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (18/8). Kata Dahlan, para buruh perkebunan sawit masih menghadapi kenyataan pahit di tengah minimnya pendapatan. Padahal industri kelapa sawit telah memberikan kontribusi besar di sektor ekonomi di Provinsi Bengkulu, tapi masih ada industri ini belum berdampak kepada semua sektor. "Melihat kondisi ini, kami berusaha untuk memperjuangkan hak-hak buruh perkebunan kelapa sawit. Mereka menekankan perlunya perbaikan dalam hal upah yang adil dan kondisi kerja yang lebih manusiawi," tegasnya. Pemerintah mesti berperan mengatasi masalah ini. Dengan memperkuat regulasi terkait upah dan kesejahteraan buruh, pemerintah dapat membantu meningkatkan kondisi hidup para buruh perkebunan kelapa sawit. "Langkah-langkah konkret perlu diambil untuk mengangkat derajat sosial dan ekonomi para pekerja ini. Itu tadi, kami pikir pemerintah harus mengatasi masalah ini agar buruh di Bengkulu sejahtera," harapnya. Menurutnya, Bengkulu terus mengalami kemajuan tapi masih ada tantangan nyata yang perlu diatasi untuk memastikan semua warganya merasakan manfaat dari kemajuan. Untuk itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk mengakhiri ketidaksetaraan mengenai pendapatan dan kesejahteraan, sehingga buruh perkebunan kelapa sawit dapat merdeka dari belenggu kemiskinan. "Perlu ada upaya bersama untuk mengatasi masalah ini, Indonesia sudah merdeka, buruh harus merdeka dari korporasi yang hanya fokus mencari laba tanpa memperdulikan kesejahteraan buruh," sebutnya.