Duri Institute

Sorotan terbaru dari Tag # Duri Institute

Logika Pilkada Opini
Opini
Selasa, 26 November 2024 | 21:07 WIB

Logika Pilkada

Oleh: Agung Marsudi, Duri Institute "Perubahan butuh keberanian. Berubah berarti berbeda. Berbeda berarti berganti. Buktikan di TPS, 19 jam lagi. Bupati anda berganti" katakabar.com - Pilkada itu ada penyelenggaranya dibiayai uang negara. Mereka yang terlibat mulai penyelenggara, pengawas, pemantau, pengamanan, perangkat pemerintah, pro siapa? Peraturan perundangan menyebut "mereka" harus netral. Frasa netral, yang kemudian dikampanyekan sebagai "netralitas" benarkah faktanya demikian.

WAG Politik Opini
Opini
Sabtu, 23 November 2024 | 19:37 WIB

WAG Politik

Oleh: Agung Marsudi Politik, WAG, Asik! katakabar.com - Tentu ini WAG bukan akronim dari "wives and girlfriends", tapi salah satu aplikasi dimana seseorang atau sekelompok orang dapat berkomunikasi dan berinteraksi melalui tulisan, telepon, atau panggilan. Kini WhatsApp Group (WAG), telah menjadi alat ampuh untuk berinteraksi sosial (bahkan politik). Apalagi di musim Pilkada yang sebentar lagi memasuki hari pencoblosan

Pilkada Mufakat Kera Opini
Opini
Jumat, 22 November 2024 | 12:56 WIB

Pilkada Mufakat Kera

Oleh: Agung Marsudi Karena uang, rakyat selalu 'Takicuah di Nan Tarang' katakabar.com - Hari ini setelah saya menulis catatan politik berjudul, "Rakyat Tidak Bodoh" banyak sahabat yang mengirim komentar, dari yang nada tinggi, suka, gembira, memuji, mendukung hingga yang gaya "miring". Itulah esensi demokrasi, berbeda itu biasa.

Just Call My Name. And I'll Be There! Opini
Opini
Jumat, 26 Januari 2024 | 16:36 WIB

Just Call My Name. And I'll Be There!

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Tak bisa dibayangkan, karena memang ini tidak untuk dibayangkan, tapi untuk dinikmati. Habis nonton langsung gebrag reog Ponorogo, lengkap dengan jatilan, bujang ganong, kelana sewandana, warok dan dua Dadak Merak, lalu mata saya dipaksa, sambil menunggu pagi, untuk melihat dan mendengarkan kepiawaian Mariah Carey, dengan tembang, "I'll be there". Berkali-kali tembang ini saya nikmati. Hingga terbayang pada isu terhangat saat ini, yaitu Pilpres 2024. Bukan soal siapa yang menang, tapi siapa yang mampu menjadi pahlawan, bagi rakyat. Seperti potongan lirik lagu Mariah Carey, "Just call my name. And I'll be there". Pemimpin itu dimajukan selangkah, ditinggikan seranting. Artinya, tidak terlalu jauh antara jarak pemimpin dengan yang dipimpinnya. Sehingga ia selalu siap, sedia, siaga untuk rakyatnya. Ia selalu on call. Ia bergegas, ketika rakyat kehabisan beras. Ia makan di piring terakhir, karena memastikan seluruh rakyatnya sudah makan duluan. Dialah pahlawan keadilan. Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Masih ingat, ketika presiden Jokowi mengundang tiga calon presiden Anies, Prabowo, Ganjar untuk makan siang bersama di istana, penuh tawa dan dibiayai uang negara. Adakah yang tersirat? Mereka telah makan di piring pertama, sebelum rakyatnya. Yakinlah, mereka tak akan berani mengatakan, "Just call my name. And I'll be there". Kecuali yang ngomong itu dari ujung telepon, dengan nada sahdu, merayu. Suara seorang wanita yang biasa berkelindan dengan relasi kuasa, harta, dan tahta. 14 Februari: Dicari pemimpi (n).

Duri Institute: Prediksi Bakal Peraih Kursi Pileg 2024 Dapil Bengkalis 4 Mandau Politik
Politik
Kamis, 25 Januari 2024 | 15:02 WIB

Duri Institute: Prediksi Bakal Peraih Kursi Pileg 2024 Dapil Bengkalis 4 Mandau

Duri, katakabar.com - Daerah Pemilihan (Dapil Bengkalis 4 Kecamatan Mandau, dengan alokasi 12 kursi merupakan Dapil neraka bagi para caleg pendatang baru. Total 12 orang petahana (incumbent) turun gunung lagi mengikuti kontestasi Pileg 2024, kecuali Khairul Umam, Ketua DPRD Bengkalis yang dicalonkan partainya menjadi caleg DPRD Provinsi Riau. Fenomena politik era post-truth, pindahnya Septian Nugraha dan Syafroni Untung yang semula Golkar ke PDIP. Giyatno, yang semula dari PKS pindah ke Partai Nasdem, merombak konfigurasi politik di Dapil 4 kecamatan Mandau. Demikian disampaikan Agung Marsudi, Pendiri Duri Institute, mengawali paparan prediksi 20 caleg nominasi dapil Bengkalis 4 kecamatan Mandau, 20 hari jelang Pileg 2024, pada Kamis (25/1). "Dari Ikhtisar Analisis Strategis (IAS) Duri Institute, dengan mempertimbangkan profil petahana, infrastruktur pemenangan, logistik, personal branding, dampak elektoral Pilpres, dan tren perolehan suara Pileg 2019, maka nominasi nama-nama caleg yang diprediksi bakal lolos pada Pileg 2024 dari Dapil Bengkalis 4 Mandau, berbasis kekuatan petahana adalah Septian Nugraha, Syafroni Untung, Horas Sitorus (PDIP), Andi Pahlevi (Gerindra), Rosmawati Sinambela, Giyatno (Nasdem), Adri (PKS), Syaiful Ardi (PAN), Nanang Haryanto (Demokrat)," jelasnya. Disusul caleg PKS yang diprediksi masuk nominasi utama karena infrastruktur pemenangan adalah Misno, Nurhasanah, dan Nelfarita. "Sementara nominator ke 2 adalah Zainal (PAN), Ibra Teguh (Golkar), Tajudin Noor (PKB), Mila Fitria (PDIP), Darmizal (Nasdem), Tantowi Saputra Pangaribuan (Gerindra), Frediyan (Demokrat), Andri Ruskin Sihombing (Perindo)," kata penulis buku Chevronomics ini. Menurut Agung Marsudi, peluang perolehan kursi berdasarkan dampak elektoral Pilpres, tidak signifikan, sebab diprediksi partai pendukung Paslon 1 akan mendapat akumulasi 5 kursi, Paslon 2 mendapat 4 kursi, Paslon 3 memperoleh 3 kursi. Total 12 kursi, sesuai alokasi kursi di Dapil 4. Ketatnya persaingan dan polarisasi kekuatan sosial, menyebabkan beberapa nama caleg pendatang baru terhalang memperoleh dukungan, sehingga berdampak pada rendahnya agregat suara. Dari 20 orang yang masuk nominasi, tercatat 8 orang (Minang), 4 orang (Melayu), 4 orang (Batak), 2 orang (Jawa), dan 2 orang (Lain-lain). Di tengah regresi demokrasi di tingkat nasional, tidak mempengaruhi semangat para caleg di Dapil 4 untuk bersosialisasi. Terbukti di 9 titik strategis di kota Duri dipenuhi alat peraga kampanye yang menggoda mata warga. "Praktek klasik para pemain proyek, yang tunduk pada kredo "belah semangka", juga terjadi di dunia politik Bengkalis, dengan anatomi "belah semangka, dibelah lagi". Pendekatan sosio-kultural dikalahkan oleh efek domino dominasi finansial," pungkas pemerhati geospatial ini.

Maruarar Sirait Pamit, Keluar dari Kandang Banteng Opini
Opini
Selasa, 16 Januari 2024 | 15:35 WIB

Maruarar Sirait Pamit, Keluar dari Kandang Banteng

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Per 15 Januari 2024, Maruarar Sirait menyerahkan KTA, nuraninya tidak bisa berbohong. Putra dari Sabam Sirait, politikus senior yang ikut bersama Megawati membesarkan PDIP ini, memilih keluar dari PDIP untuk mengikuti langkah Jokowi. Ara panggilan akrabnya, menyatakan keluar dari kandang Banteng, dan memilih bersama dengan Pak Jokowi dalam pilihan politik berikutnya. Menurutnya, Presiden Jokowi merupakan pemimpin yang didukung oleh rakyat dan telah memperjuangkan banyak hal bagi Indonesia. Hal itu ditunjukkan dengan kepuasan publik yang tinggi kepada kinerja Presiden Jokowi. Ara yang pernah menjadi anggota DPR RI dari PDIP tiga periode berturut-turut (2004-2019) ini, melihat Presiden Jokowi tegas menghadapi radikalisme, membuat mayoritas saham Indonesia di Freeport, dan bagaimana juga membantu rakyat kecil hingga memindahkan Ibu Kota untuk menghadirkan pemerataan. Kenangan manis pahit bersama PDIP telah ia tinggalkan. Ia tak lagi tegak lurus dengan Megawati. Kini ia memulai langkah baru bersama Jokowi. Ia percaya diri. Ia percaya Jokowi. Maruarar Sirait pamit. Lapak di PDIP sudah sempit. Ia bakal punya panggung baru yang membuat bintangnya tetap bersinar di dunia politik Indonesia. Marholong dohot taringot. Meski hanya berdiri, di belakang Jokowi.

Knalpot  Brong VS Tentara Saatnya Connie Ngebrong! Opini
Opini
Minggu, 14 Januari 2024 | 09:55 WIB

Knalpot Brong VS Tentara Saatnya Connie Ngebrong!

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - YANG KIRI gambar Connie, yang kanan Megawati. Ada kemiripan. Connie penggemar PDIP, Megawati Ketum PDIP. Merah! Brong! Si Connie kerap tampil di layar kaca sebagai nara sumber isu militer dan pertahanan. Mulai dikenal publik setelah membuat pernyataan adanya mafia alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Kementerian Pertahanan. Mulai terkenal lagi setelah di medsos memberi komentar terkait "Knalpot Brong vs Tentara". Betapa tidak saking marahnya, dia mengatakan, "Begini aja lah, kalau memang knalpot brong mengganggu kedaulatan, masukkan saja ke UU TNI, ditambahkan menjadi operasi militer bukan perang. Komentarnya berlebihan. Mungkin karena kurang adem di Nasdem, wanita Indonesia pertama yang kecantikannya dipuji Presiden Rusia, Vladimir Putin ini resmi mengundurkan diri sebagai anggota Dewan Pakar Partai Nasdem. Kini dekat dengan Si Merah. Ia diundang menghadiri HUT ke 51 PDIP, yang konon katanya daripada presiden gak hadir, biar dia yang menggantikan pak Jokowi. Maklum yang diundang hanya 51 orang sesuai angka tahun ultahnya. Pemilik nama lengkap Connie Rahakundini Bakrie ini menyelesaikan Studi S3 di Universitas Indonesia dan juga menempuh pendidikan di APCSS Asia Pasific Centre for Security Studies, Hawaii-Fu Xi Kang War Academy, ROC-Chevening Executive Programme for Democracy and Security di Birmingham University, UK. Prestasinya kini makin 'ngebrong' setelah menjadi komentator "Knalpot Brong" apalagi mengaitkan dengan tupoksi TNI. Bu Connie mungkin belum pernah mengalami sakitnya terjebak diiring-iringan knalpot brong. Belum lama di ruas jalan Solo-Sragen saya terjebak berjam-jam di antara ribuan anak muda, dengan knalpot brong. Tahun politik, selalu saja menjadi panggung politik menarik. Saatnya Connie Ngebrong! Isn't that right, Madam?

Dipetugaspartaikan Opini
Opini
Sabtu, 13 Januari 2024 | 10:18 WIB

Dipetugaspartaikan

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Yang menyakitkan itu dianaktirikan. Anak-anak bumiputera, pribumi, tak boleh bermimpi di negeri sendiri. Tak boleh menjadi tuan di negeri sendiri. Sampai syarat menjadi presiden orang "Indonesia asli" harus diganti. Padahal "Indonesia asli" adalah istilah yang digunakan dalam UUD 1945 asli, sebelum diamandemen. Dan istilah itu masih digunakan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 terkait kewarganegaraan, yang membedakan WNI menjadi dua, yakni orang bangsa Indonesia asli dan orang bangsa lain. Apa Jokowi anak tiri di kandang banteng? Saya yang bukan politisi bisa bayangkan, apakah dulu waktu pak Jokowi mau menjadi walikota, gubernur, lalu presiden sama sekali gak pakai uang, gratis, dan gak 'setoran' ke partai pengusung. Ayo pak presiden, buka-bukaan. Bayar gak dulu waktu mau maju, daripada 'dipetugaspartaikan'. Daripada dituduh berkhianat, dan tak berterima kasih. Kawan-kawan politisi bilang, "kencing aja bayar". Benar, untuk selembar surat rekomendasi bagi calon bupati, walikota, gubernur, presiden tak berharga. Tak ada nominalnya. Sementara partai politik seperti badan usaha. Hitam putih perusahaan tergantung pada ketua partainya. Ironi politik negeri ini, semua serba berbayar. Sudah dibayar, ngaku tak bermahar. Bahkan satu-satunya partai politik di negeri ini yang pakai kata 'demokrasi' hanya PDIP. Ngaku demokrasi, tapi ketuanya gak ganti-ganti. 24 tahun Megawati tak terganti. Politik dimonetisasi. Demokrasi pun "Prabayar". Ambyar!

Nikmatnya, Gali Lubang Tutup Lubang Berpolitik dengan Uang, Bernegara dengan Utang Opini
Opini
Rabu, 03 Januari 2024 | 10:37 WIB

Nikmatnya, Gali Lubang Tutup Lubang Berpolitik dengan Uang, Bernegara dengan Utang

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Ajakan teman dan handai taulan untuk family gathering, merayakan Tahun Baru 2024 di Sukabumi saya tolak. Meski sudah disiapkan sederet pesta mewah (mepet sawah). Saya memutuskan untuk menuntaskan dua buku penting karya Salamudin Daeng, berjudul Uang Kotor & Politik serta Transisi Energi Berdaulat atau Sekarat Pada 26 Desember, empat hari yang lalu, saya menulis catatan kecil berjudul Negara Gali Lubang Tutup Lubang. 8.000 Triliun utang menunggu, presiden baru. Pada akhir November 2023, nilai total utang pemerintah Indonesia sudah mencapai Rp8.041,01 triliun (Laporan Kementerian Keuangan bertajuk APBN Kita edisi Desember 2023) Berapa utang BUMN sekarang? Tak cukup, masih ada lagi utang lain, yang tentu tidak dibuka ke publik yaitu beban utang BUMN. Utang BUMN mencapai 6.640 Triliun. Sebesar 3.600 Triliun adalah dana pihak ketiga di bank, senilai 3.100 Triliun adalah utang langsung BUMN kepada bank, lembaga keuangan, obligasi pasar keuangan (Salamudin Daeng, hal. 82-85, Karut Marut Utang BUMN, Uang Kotor & Politik). Jika utang BUMN adalah 6.640 Triliun adalah utang pemerintah, maka jika ditambah dengan utang pemerintah murni sebesar 6.900 triliun, maka secara keseluruhan beban utang di bawah tanggungan pemerintah mencapai 14.540 Triliun. Pertanyaan orang awam seperti saya, utang BUMN yang begitu besar itu BUMN yang mana saja, untuk apa, kemana saja? Berapa sesungguhnya pendapatan BUMN milik kita? Lebih besar mana, antara pendapatan dan 'tambahan utang'? Aromanya, begitu BUMN disuntik, justru oligarki yang metik. Seperti doping, politik, suntik, asik! Nikmatnya gali lubang tutup lubang. Kepada rakyat, janji kesejahteraan dibayar dengan utang. Berpolitik dengan uang, bernegara dengan utang. Tanyakan kepada Anies, Prabowo, Ganjar, mereka bisa apa, apa bisa? Masih bisa tidur nyenyak kah Menteri BUMN, Menteri Keuangan, Presiden ketika penderitaan, berubah menjadi jeritan. Rakyat butuh sesuap nasi, tapi dipaksa membaca, Neraca Rugi Laba. Sebab soal utang, tak mungkin jawabnya ditanyakan kepada 'rumput yang bergoyang'!

Dicari Pemimpi (N) Mikul Dhuwur, Mendhem Jero Opini
Opini
Selasa, 02 Januari 2024 | 13:33 WIB

Dicari Pemimpi (N) Mikul Dhuwur, Mendhem Jero

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Di Mata Najwa bolehlah bergaya, karena disorot kamera. Tapi di mata rakyat, tak ada yang terlupa. Ungkapan, timbul tenggelam bersama rakyat itu sumpah setia. Bukan retorika. Pada setiap upaya rekayasa, ada karma. Jalan kebangsaan, tak bisa diselesaikan hanya dengan patriotisme di jalan politik. Gelombang aspirasi yang tersakiti, memang bisa ditenggelamkan sedalam-dalamnya di laut, tapi bukan 'mendhem jero". Dan yang timbul di darat tak bisa disamakan dengan 'mikul dhuwur'. Kehormatan rakyat di atas segalanya. Permainan kata-kata saja berbahaya, apalagi mempermainkan rakyat. Pilpres tidak hanya pertandingan tapi juga permainan, tapi rakyat tidak untuk dipermainkan. Timbul tenggelam bersama rakyat, itu bermakna 'mikul dhuwur, mendhem jero'. Bayangkan jika jutaan 'rakyat ketaton' lalu membangun kanal sosial dan mengikuti jalan pikirannya sendiri. Merasa baik, belum tentu bersentuhan dengan kebaikan. Tapi kebaikan bersama orang-orang yang baik. Indonesia masa depan membutuhkan pemimpin, bukan pemimpi. Apalagi pemimpi di siang bolong. Elitnya makan spaghetti, rakyatnya mangan 'godhong'. Presiden, telah mengundang 3 calon presiden makan siang di istana. Tentu dibiayai negara. Sementara dalam politik terkenal adagium, 'tidak ada makan siang yang gratis'. Pesan orang-oran tua, Pemimpin yang baik itu, makan belakangan, setelah rakyatnya makan.