Negatif
Sorotan terbaru dari Tag # Negatif
Dampak Negatif Program Tiga Juta Rumah Pada Industri Perumahan
Jakarta, katakabar.com - Program tiga juta rumah yang diprakarsai Presiden RI, Prabowo Subianto tampaknya memberikan dampak cukup besar pada pasar perumahan di Indonesia. Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI), Joko Suranto mengutarakan saat peluncuran program ini memengaruhi penjualan rumah di tanah air. Dilansir dari Tempo.co, banyak konsumen yang membatalkan pemesanan rumah lantaran mereka berharap bisa mendapatkan rumah gratis melalui program ini.
Peran Dunia Pendidikan Bisa Luruskan Stigma Negatif Kelapa Sawit
Bogor, katakabar.com - Ketua Umum Yayasan Pusat Pentaheliks Ilmuwan Pertanian Indonesia, Paristiyanti Nurwardani menjelaskan, peranan tenaga pendidik sangat penting menanamkan sikap positif kelapa sawit sejak dini. "Tenaga pendidik yang dimaksud dari guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan," ujarnya saat Focus Group Discussion (FGD), di Bogor Provinsi Jawa Barat, dilansir dari laman ngopibareng.id, pada Minggu (5/11). Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kata Paristiyanti, pendidik tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Indonesia negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, sehingga komoditas ini sangat penting bagi perekonomian. Kontribusi kelapa sawit, menurut data OJK, sepanjang mata rantai distribusi dari hulu hingga hilir mencapai 6 persen hingga 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sedang, total produksi minyak sawit mencapai 47,4 juta ton di tahun 2018, dengan komposisi ekspor mencapai angka 80,7 persen dari total produksi komoditas ini. Total luasan kebun sawit di Indonesia telah mencapai 14,03 juta hektar, dan telah meningkatkan penyerapan tenaga kerja menjadi lebih dari 16 juta orang. Komposisi tersebut terdiri dari 12 juta orang pekerja langsung dan 4 juta petani di perkebunan. “Dengan potensi yang besar serta keunggulan minyak sawit ini, dianggap mengganggu eksistensi dari minyak nabati lain sehingga menimbulkan persaingan, bahkan memicu aksi untuk menahan perkembangan kelapa sawit di Indonesia,” jelasnya. Salah satu tantangan, sebutnya, kampanye negatif dan kebijakan hambatan perdagangan untuk minyak kelapa sawit. Isu yang banyak diangkat dalam kampanye negatif, saat ini adalah terkait lingkungan dan sosial. Kampanye negatif itu sendiri telah berhasil membuat stigma negatif pada sebagian masyarakat Indonesia. "Itu tadi, sangat penting peranan dunia pendidikan meluruskan stigma negatif kelapa sawit," terangnya lagi.
#SawitBaik di Bogor, Menangkal Kampanye Negatif Sawit Lewat Pendidikan
Jakarta, katakabar.com - Industri kelapa sawit punya peran penting di bidang ekonomi dan transisi energi Indonesia. Lantaran itu, dari tahun 2015 lalu mandatory biodiesel berbasis kelapa sawit telah didorong penggunaannya untuk energi baru dan terbarukan. Program itu berhasil menghemat devisa negara sebesar Rp122,65 triliun dan berkontribusi mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 27,8 juta ton CO2. Pada 2023 ini, pemerintah kembali targetkan penerapan biodiesel B35 agar dapat menghemat devisa US$10,75 miliar atau setara Rp161 triliun dan menyerap 1,65 juta tenaga kerja serta mengurangi emisi GRK sebesar 35 juta ton CO2. Sisi perekonomian, kontribusi kelapa sawit menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mata rantai distribusi dari hulu hingga hilir mencapai 6 persen hingga 7 persen ke Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Di mana, total produksi minyak sawit mencapai 47,4 juta ton pada 2018 lalu, dengan komposisi ekspor mencapai angka 80,7 persen dari total produksi komoditas ini. Sedang, luas kebun sawit di Indonesia telah mencapai 14,03 juta hektar dan telah meningkatkan penyerapan tenaga kerja menjadi lebih dari 16 juta orang. Komposisi itu, melipui 12 juta orang pekerja langsung dan 4 juta petani di perkebunan. Untuk ekspor kelapa sawit Indonesia secara keseluruhan, yakni Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya, biodiesel, dan oleochemical) telah dibukukan mengalami kenaikan sekitar 8 persen atau setara dari 32,18 juta ton di 2017 lalu meningkat jadi 34,71 juta ton pada 2018. Peningkatan paling signifikan secara persentase dicatatkan biodiesel Indonesia, yakni sekitar 851 persen, atau dari 164 ribu ton (2017) menjadi 1,56 juta ton (2018). Tapi, kontribusi kelapa sawit ini dinilai sejumlah pihak mengganggu eksistensi minyak nabati lainnya. Persaingan pun picu kampanye negatif dan kebijakan menghampang perdagangan untuk menahan laju perkembangan sawit. Terkait kondisi itu, melandasi pemerintah, pengusaha, dan akademisi menggelar Focus Group Discussion (FGD) #SawitBaik di Bogor, pada Kamis (2/11) kemarin. Tujuannya, untuk menyamakan persepsi kegiatan kerja sama pembentukan sikap positif masyarakat Indonesia mengenai kelapa sawit lewat sistem pendidikan yang berkelanjutan. FGD ini dilaksanakan bekerja sama dengan PT DMB Global,.didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Ketua Umum Yayasan Pusat Pentaheliks Ilmuwan Pertanian Indonesia, Dr Paristiyanti Nurwardani selaku Ketua Pelaksana FGD menuturkan, kegiatan ini melibatkan 47 narasumber dan para ahli atau pakar di bidang industri kelapa sawit, ilmu sosial budaya, lingkungan, kesehatan, pendidikan, psikologi, dan komunikasi. “Peranan tenaga pendidik sangat penting guna menanamkan sikap positif kelapa sawit sejak dini. Lewat FGD, kita ingin mencari format terbaik untuk melaksanakan kampanye #Sawitbaik di kalangan pelajar dan mahasiswa,” kata Paristiyanti melalui keterangan resmi, kemarin, dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (3/11). Kampanye #SawitBaik, ujar Paristiyanti lagi, sangat diperlukan untuk menahan laju stigma negatif terhadap industri sawit di tanah air. Isu yang banyak diangkat dalam kampanye negatif saat ini mengenai lingkungan dan sosial. Kampanye negatif telah berhasil membuat stigma negatif di sebagian masyarakat Indonesia. Contoh kasus, soal ujian sekolah di Provinsi Riau tahun 2021 lalu yang dianggap telah mendiskreditkan kelapa sawit. “Kalau ini dibiarkan bakal merugikan industri kelapa sawit jangka pendek maupun jangka panjang,” jelas Paris, sapaan akrabnya. Peranan tenaga pendidik sangat penting, tegas Paris, untuk menanamkan sikap positif kelapa sawit sejak dini. Tenaga pendidik yang dimaksud, meliputi guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Kampanye #Sawitbaik rencananya dihelat pada 2024 mendatang, melibatkan 167 Perguruan Tinggi, satuan pendidikan anak usia dini, sekolah dasar dan menengah di seluruh Indonesia. Dr. Benny Bernardus, Direktur Utama PT DMB Global dan seorang ahli psikologi, menjelaskan, proses ini perlu dilakukan pada tiga kondisi utama, yakni; Pertama, pada kondisi di mana pembentukan sikap dimulai sejak usia dini, ketika pikiran masih terbuka dan belum terpengaruh kampanye negatif tentang kelapa sawit. Kedua, pada kondisi di mana seseorang sudah memiliki informasi negatif tentang kelapa sawit, dan perlu mengalami proses perubahan sikap. Ketiga pembentukan sikap positif harus dengan pendekatan holistic sehingga melibatkan berbagai ahli yang terkait. “Kita harus menjaga ketahanan industri sawit dengan melakukan berbagai program yang dapat memberikan sikap positip ke masyarakat melalui pendidikan. Kalau ini tidak terlaksana dan membiarkan serbuan kampanye negatif. Bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia diambang kehancuran," bebernya. Untuk itu, ajak Benny, mari segenap elemen bangsa turut serta sukseskan pembentukan sikap positif masyarakat Indonesia kepada industri kelapa sawit melalui sistem pendidikan yang berkelanjutan. Prof. Dr. Bustanul Arifin, selaku Komite Litbang BPDPKS dan dosen pascasarjana SB-IPB menimpali, strategi membangun reputasi kelapa sawit Indonesia ada enam, yakni terkait kecermatan keputusan dan kebijakan di dalam negeri. Adanya konsumsi biodiesel sawit Uni Eropa yang cenderung turun, kalau gugatan Indonesia ke Uni Eropa tidak dikabulkan dalam sidang WTO. Strategi lainnya, pencarian pasar CPO baru di Asia Timur, Asia Tengah dan lain-lain, pendampingan dan pemberdayaan petani untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit, promosi kelapa sawit sebagai investasi masa depan, benchmark untuk membangun diplomasi “sawit baik” melalui benchmark kepada Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA). “Kita mesti jaga ketahanan Industri kelapa sawit dengan melakukan berbagai program yang dapat memberikan sikap positip terhadap masayarakat melalui Pendidikan. Bila ini tidak terlaksana dan membiarkan serbuan kampanye negatif, bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia diambang kehancuran,” sebutnya pula.