Bogor, katakabar.com - Ketua Umum Yayasan Pusat Pentaheliks Ilmuwan Pertanian Indonesia, Paristiyanti Nurwardani menjelaskan, peranan tenaga pendidik sangat penting menanamkan sikap positif kelapa sawit sejak dini.

"Tenaga pendidik yang dimaksud dari guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan," ujarnya saat Focus Group Discussion (FGD), di Bogor Provinsi Jawa Barat, dilansir dari laman ngopibareng.id, pada Minggu (5/11).

Berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kata Paristiyanti, pendidik tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

Indonesia negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, sehingga komoditas ini sangat penting bagi perekonomian. Kontribusi kelapa sawit, menurut data OJK, sepanjang mata rantai distribusi dari hulu hingga hilir mencapai 6 persen hingga 7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Sedang, total produksi minyak sawit mencapai 47,4 juta ton di tahun 2018, dengan komposisi ekspor mencapai angka 80,7 persen dari total produksi komoditas ini.

Total luasan kebun sawit di Indonesia telah mencapai 14,03 juta hektar, dan telah meningkatkan penyerapan tenaga kerja menjadi lebih dari 16 juta orang. Komposisi tersebut terdiri dari 12 juta orang pekerja langsung dan 4 juta petani di perkebunan.

“Dengan potensi yang besar serta keunggulan minyak sawit ini, dianggap mengganggu eksistensi dari minyak nabati lain sehingga menimbulkan persaingan, bahkan memicu aksi untuk menahan perkembangan kelapa sawit di Indonesia,” jelasnya.

Salah satu tantangan, sebutnya, kampanye negatif dan kebijakan hambatan perdagangan untuk minyak kelapa sawit. Isu yang banyak diangkat dalam kampanye negatif, saat ini adalah terkait lingkungan dan sosial. Kampanye negatif itu sendiri telah berhasil membuat stigma negatif pada sebagian masyarakat Indonesia.

"Itu tadi, sangat penting peranan dunia pendidikan meluruskan stigma negatif kelapa sawit," terangnya lagi.