TKKS

Sorotan terbaru dari Tag # TKKS

Mantap! Kemenperin Bikin Bioetanol dari Bahan TKK Sawit Sawit
Sawit
Kamis, 12 September 2024 | 15:50 WIB

Mantap! Kemenperin Bikin Bioetanol dari Bahan TKK Sawit

Jakarta, katakabar.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bikin terobosan bikin Biotanol dari bahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS). TKKS dianggap limbah digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol, sehingga mendukung terwujudnya akselerasi nol emisi karbon (Net Zero Emissions/NZE) pada 2050 mendatang.

Hasil dari Kolaborasi, Pilot Plant Fraksionasi Sulap TKKS Jadi Produk Bernilai Tinggi Sawit
Sawit
Minggu, 11 Agustus 2024 | 22:43 WIB

Hasil dari Kolaborasi, Pilot Plant Fraksionasi Sulap TKKS Jadi Produk Bernilai Tinggi

Jakarta, katakabar.com - Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku bisnis, atau yang disebut triple helix, terbukti mampu menghasilkan hal sangat bermanfaat bagi pengembangan industri nasional. Itu bisa dilihat melalui upaya pembentukan Pilot Plant Fraksionasi Tandan Kosong Kelapa Sawit atau TKKS sebagai konsorsium hasil kolaborasi antara Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) Kementerian Perindustrian, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan PT Rekayasa Industri.

Wow! 50 Persen Tankos Sawit Indonesia Hasilkan 7,5 Juta Ton Karbon Tekno
Tekno
Rabu, 29 November 2023 | 11:49 WIB

Wow! 50 Persen Tankos Sawit Indonesia Hasilkan 7,5 Juta Ton Karbon

Palangkaraya, katakabar.com - Kepala Divisi Teknologi Proses, Program Studi Teknik Industri Pertanian, IPB University, Prof Dr Erliza Hambali menuturkan, 50 persen Tandan Kosong (Tankos) kelapa sawit sudah mampu menghasilkan 7,5 juta ton biochar atau karbon di seluruh Indonesia. "Sebesar 50 persen Tandan Kosong (Tankos) kelapa sawit sudah mampu menghasilkan 7,5 juta ton biochar atau karbon di seluruh Indonesia," ujar Prof Erliza, kemarin, dilansir dari laman borneonews, pada Rabu (29/11). Kalau hanya 50 persen saja tandan kosong kelapa sawit di Indonesia yang diolah jadi karbon, sebut Prof Erliza, lewat proses karbonisasi dengan teknologi yang tepat, maka dihasilkan sekitar 7,5 juta ton biochar tandan kosong kelapa sawit. Prof Erliza menjabarkan hal itu, saat Workshop Karbonasi Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik untuk Substitusi Pupuk Kimia pada Perkebunan Kelapa Sawit kerja sama IPB University dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS di Palangka Raya, Selasa kemarin. "Artinya dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia di perkebunan kelapa sawit secara signifikan. Sedang, tar yang dihasilkan dapat digunakan untuk bahan bakar ramah lingkungan," tambah saat jumpa perse dengan wartawan dengan narasumber mulai dari Prof Erliza, Kepala Divisi Program Pelayanan BPDPKS Arfie Thahar, Head of Research & Development- PT Bumitama Gunajaya Agro Adhy Ardiyanto. Perwakilan Gapki Kalteng Sukarman, Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University Prof Dr Herdhata Agusta, serta perwakilan Beston - China Tom Zhang, selesai pembukaan workshop.

Fakultas TIN FATETA IPB University Kerja Sama BPDPKS Taja Workshop Karbonisasi TKKS Tekno
Tekno
Selasa, 14 November 2023 | 16:23 WIB

Fakultas TIN FATETA IPB University Kerja Sama BPDPKS Taja Workshop Karbonisasi TKKS

Pekanbaru, katakabar.com - Fakultas Teknologi Pertanian IPB University kolaborasi dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) gelar workshop Karbonisasi Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Pemanfaatannya sebagai Pupuk Organik untuk Substitusi Pupuk Kimia pada Perkebunan Kelapa Sawit, di Hotel Novotel Pekanbaru, Jalan Riau, Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, pada Selasa (14/11) pagi. Acara yang dipandu dua moderator, yakni Dr. Ir. Mira Rivai. STP. MSi dari Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC), IPB University serta Dr Vonny Indah Sari, STP, MP deri Universitas Lancang Kuning ini, menghadirkan beberapa nara sumber yang kompeten dibidangnya, seperti Prof. Dr. Erliza Hambali, Kepala Divisi Teknologi Proses, Program Studi Teknik Industri Pertanian, IPB University. Lalu, Tom Zhang Beston China, Prof. Dr. Herdhata Agusta, Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB University, Ir. Muhammad Mubarak, Direktur PT BGA serta Prof. Dr. Erliza Hambali Ketua Pelaksana kegiatan workshop. Ketua Tim Pelaksana Kegiatan Workshop, IPB University, Prof Dr Erliza Hambali menjelaskan, pada industri perkebunan kelapa sawit, biaya terbesar yang dibutuhkan agar tanaman tumbuh dengan baik dan subur serta berbuah baik adalah pupuk. "Biaya pemupukan sekitar 80 persen dari keseluruhan biaya operasional perkebunan," ujarnya dilansir dari laman nadariau.com, Selasa sore. TKKS, kata Erliza, salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menurunkan biaya pemupukan dengan substitusi pupuk kimia dengan bahan karbon hasil dari proses karbonisasi TKKS. “Penggunaan karbon dari TKKS mampu menurunkan biaya pemupukan di perkebunan kelapa sawit sebesar 20 persen. Proses karbonisasi TKKS menghasilkan karbon atau arang sebagai produk utama 30 persen dan vinegar wood (asap cair) 6 persen dan tar 3 persen sebagai hasil samping,” terangnya. Menurutnya, kandungan hara dan mineral yang terdapat pada karbon atau arang TKKS adalah N, P, K, Mg dan mineral lainnya. Hara dan mineral ini sangat diperlukan tanaman kelapa sawit untuk dapat berkembang dengan baik dan menghasilkan buah sawit yang sehat dan relative besar. Kelebihan pemanfaatan arang TKKS sebagai substitusi pupuk kimia dibandingkan kompos adalah pada kemampuannya yang sangat cepat dalam menyerap unsur-unsur hara dan mineral tanah. Sedang, Vinegar Wood dapat dimanfaatkan untuk bahan pengawet produk-produk perikanan, bio desinfektan pada peternakan ayam. Sedangkan Tar dapat dimanfaatkan sebagai energy alternatif pada industri yang mampu menurunkan emisi CO2. “Secara nasional luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2022 sekitar 15,4 juta hektar mampu menghasilkan TKKS sebesar 47 juta ton. Pemanfaatan TKKS secara komersial saat ini masih sangat terbatas, diantaranya untuk pupuk kompos, bahan bakar padat dan lainnya,” bebernya. Rektor Universitas Lancang Kuning, Prof Dr Junaidi SS M Hum yang turut hadir pada workshop ini menyatakan dukungan dan mendorong dosen di Fakultas Pertanian untuk mendalami dan meneliti teknologi karbonisasi. “Kita berharap teknologi ini bisa diterapkan di Riau, sebab di Riau perkebunan sawitnya terluas di Indonesia. Dosen-dosen di Fakultas Pertanian ULK terlibat dalam penelitian karbonisasi ini,” jelasnya. Pembicara Workshop dari IPB University, Prof Herdata Agusta memaparkan penggunaan tandan kosong sebagai biocharge telah dilakukan penelitian secara mendalam baik di Indonesia maupun di luar negeri. “Tapi, untuk skala yang teraplikasi baru akan dilaksanakan di PT PGA,” tuturnya. Manfaat dari penggunaan TKKS ini, kata Agusta, selain mengurangi penggunaan pupuk unorganik, dapat pula memperpanjang umur unsur hara pada tanah. “Karbonisasi ini selain berguna untuk menyuburkan tanah, memperbaiki kondisi tanah juga dapat mengurangi emisi lingkungan,” timpalnya. Kompartemen Research GAPKI, Achmad Fathoni mengatakan, teknologi ini nanti akan menjadi sesuatu kebutuhan bukan lagi alternatif. Apalagi tujuan untuk menurunkan biaya produksi kelapa sawit. Biaya produksi paling tinggi dari pemupukan mencapai 70 persen. "Kalau kita bisa menurunkan penggunaan pupuk unorganik itu, bisa menghemat biaya pemupukan mencapai hampir 20 persen,” tandasnya.

TKKS Melimpah Bisa Sumber Energi Terbarukan Penggunaan Belum Optimal Nasional
Nasional
Selasa, 26 September 2023 | 19:18 WIB

TKKS Melimpah Bisa Sumber Energi Terbarukan Penggunaan Belum Optimal

Bengkulu, katakabar.com - Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) termasuk limbah sangat melimpah di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) . Limbah ini sesungguhnya bisa diolah jadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti biogas dan listrik ramah lingkungan. Tapi Sayang, di Provinsi Bengkulu, salah satu sentra kelapa sawit di Pulau Sumatera, TKKS punya potensi sebagai sumber energi belum belum digunakan secara optimal. Mantan Kadis ESDM Provinsi Bengkulu, Ahyan Endu menjelaskan, salah satu alasan mengapa TKKS belum dimanfaatkan untuk sumber energi disebabkan biaya pengolahan yang tinggi. Bayangkan, butuh investasi berkisar Rp7 juta untuk menghasilkan 4,5 liter gas. Ini tantangannya bagi banyak pihak, terutama di daerah sumber daya terbatas. "Bisa jadi banyaknya TKKS belum dimanfaatkan maksimal menjadi biogas dan listrik di Bengkulu lantaran biaya pembangunan infrastruktur yang cukup mahal," ujarnya, dilansir dari laman elaeis.co, pada Selasa (26/9). TKKS ini bisa dimaksimalkan penggunaannya, tuturnya, kerja sama dengan investor langkah cukup bijaksana. "Keterlibatan investor, tidak hanya biaya infrastruktur bisa ditangani dengan lebih baik, tapi pengelolaan sumber daya dan produksi energi yang lebih efisien," bebernya. Pemangku kepentingan belum sepenuhnya memanfaatkan potensi TKKS, salah satunya pabrik kelapa sawit itu sendiri. Meski pabrik memiliki akses ke sumber daya ini, tapi belum mengeksplorasi potensi secara optimal. "TKKS bisa menjadi kesempatan untuk mengurangi biaya operasional pabrik dan mendukung energi terbarukan, tapi itu terlewatkan," terangnya. Pemerintah Daerah (Pemda) saran Ahyan, memberikan insentif dan dukungan kebijakan untuk mendorong pemanfaatan TKKS sebagai sumber energi terbarukan. "Langkah ini bisa motivasi investor untuk berinvestasi guna melakukan pengolahan TKKS menjadi biogas dan listrik," sebutnya. Selama ini TKKS sering diabaikan lantaran dianggap limbah. Kita bisa mengubahnya jadi sumber energi terbarukan dapat bermanfaat bagi lingkungan dan peningkatan perekonomian, tambahnya.