Tunggu

Sorotan terbaru dari Tag # Tunggu

Harga Emas Stabil di $4.993, Pasar Tunggu Sinyal The Fed Memasuki Pekan Kedua Februari 2026 Internasional
Internasional
Selasa, 17 Februari 2026 | 16:10 WIB

Harga Emas Stabil di $4.993, Pasar Tunggu Sinyal The Fed Memasuki Pekan Kedua Februari 2026

Jakarta, katakabar.com - Harga emas menunjukkan fase konsolidasi menjelang rilis data penting dan perkembangan geopolitik. Trader disarankan tetap memperhatikan dinamika dolar AS, kebijakan moneter, serta sentimen global sebelum mengambil keputusan transaksi. Harga emas dunia (XAU/USD) pada perdagangan Senin (16/2) tercatat bergerak stabil di kisaran $4.993 per ons pada sesi Asia. Pergerakan ini terjadi setelah emas sempat melonjak lebih dari $150 pada akhir pekan lalu, sebelum kembali terkoreksi dan bertahan di bawah level psikologis $5.000. Analis Market HSB Investasi menyampaikan pergerakan emas saat ini dipengaruhi oleh kombinasi penguatan dolar AS serta meningkatnya minat risiko (risk appetite) pelaku pasar. Tetapi, tekanan terhadap logam mulia dinilai masih terbatas. “Penguatan dolar memang membatasi ruang kenaikan emas dalam jangka pendek. Namun, faktor ketidakpastian global dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter membuat potensi penurunan emas relatif terbatas,” ujar Analis Market HSB Investasi. Penguatan Dolar AS Tekan Emas Kenaikan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga emas. Secara historis, emas dan dolar memiliki korelasi terbalik. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung tertekan karena menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Tetapi, penguatan dolar diperkirakan tidak berlangsung lama. Data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mulai memangkas suku bunga pada pertemuan bulan Juni mendatang. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter umumnya menjadi sentimen positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost memegang aset non-yielding seperti logam mulia. Ketegangan Geopolitik Batasi Penurunan Selain faktor moneter, sentimen geopolitik turut membatasi tekanan terhadap emas. Pasar saat ini mencermati kelanjutan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran, di tengah laporan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan yang memicu respons keras dari Iran. Dalam kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, emas tetap dipandang sebagai aset safe haven. Permintaan terhadap aset lindung nilai cenderung meningkat ketika risiko geopolitik membesar. Pasar Menanti Notulensi FOMC Pergerakan emas juga berlangsung dalam volume transaksi yang relatif tipis seiring libur Presidents Day di Amerika Serikat. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sembari menunggu katalis berikutnya. Fokus utama investor saat ini tertuju pada rilis notulensi rapat FOMC (FOMC Minutes) yang dijadwalkan pada Rabu (18/2/2026). Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Secara teknikal, emas masih menghadapi tekanan jangka pendek setelah gagal mempertahankan posisi di atas level resistensi $5.028. Selama belum mampu kembali menembus area tersebut, potensi koreksi tetap perlu diwaspadai. Namun dalam jangka menengah, prospek emas dinilai tetap positif sebagai instrumen lindung nilai di tengah dinamika global yang berkembang.

Emas Melemah Jelang Keputusan The Fed, Tren Bullish Tetap Kokoh Internasional
Internasional
Jumat, 05 Desember 2025 | 18:00 WIB

Emas Melemah Jelang Keputusan The Fed, Tren Bullish Tetap Kokoh

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) melemah Selasa (2/12) setelah sempat menyentuh titik tertinggi harian di $4.240. Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, penurunan ini terjadi karena para investor memilih melakukan aksi ambil untung menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) yang akan diumumkan minggu depan. "Penguatan dolar AS turut menekan harga emas, dengan indeks DXY bertahan di 99,44 atau naik tipis 0,04%, sehingga mengurangi minat terhadap instrumen safe haven tersebut," ujar Andy. Pada Rabu (3/12), harga emas kembali turun mendekati $4.210 akibat lanjutan aksi profit taking. Penurunan ini berlangsung di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang menantikan rilis data ekonomi penting AS seperti ADP Employment Change dan ISM Services PMI. Koreksi sekitar 0,65% secara harian juga menggambarkan meningkatnya selera risiko global, dengan sebagian investor beralih ke aset berisiko seiring meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi. Walaupun tekanan jangka pendek masih terasa, Andy Nugraha menilai ruang penurunan emas relatif terbatas. Pasar tetap yakin akan adanya peluang besar pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada pertemuan 9 hingga 10 Desember 2025 nanti. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemotongan suku bunga kini berada di level 89%, naik signifikan dari sekitar 71% pekan sebelumnya. Penurunan suku bunga biasanya menjadi katalis positif bagi emas karena mengurangi biaya peluang dalam menyimpan aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Dari perspektif teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish XAU/USD masih dominan. Andy menegaskan bahwa meskipun terjadi koreksi, struktur harga tetap menggambarkan pola penguatan yang sehat. Momentum ini turut diperkuat oleh stabilnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun di kisaran 4,086% serta imbal hasil riil yang bertahan di 1,856%, yang keduanya tidak menunjukkan kenaikan tajam yang biasanya memberi tekanan tambahan pada emas. Untuk prospek pergerakan hari ini, Andy memberikan dua kemungkinan skenario. Pertama, bila dorongan bullish berlanjut dan pelaku pasar merespons positif ekspektasi pemangkasan suku bunga, emas berpeluang menguji area resistance di 4.267. Jika level ini berhasil ditembus, ruang kenaikan berikutnya terbuka lebih lebar. Kedua, jika sentimen risk-on meningkat atau data ekonomi AS dirilis lebih kuat dari estimasi, emas dapat terkoreksi ke support terdekat di 4.184. Level ini menjadi penentu apakah tren naik jangka pendek tetap bertahan atau mulai berbalik melemah. Dari sisi geopolitik, kabar pertemuan utusan AS Steve Witkoff dengan Presiden Rusia Vladimir Putin serta keterlibatan Jared Kushner dalam pembahasan rencana perdamaian Rusia–Ukraina juga dapat memengaruhi arah harga emas. Biasanya, ketegangan geopolitik mendukung kenaikan emas; sebaliknya, ekspektasi tercapainya perdamaian dapat mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai tersebut. Secara keseluruhan, meski emas sedang berada dalam fase koreksi, peluang penguatan masih cukup besar, terutama jika keyakinan pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed semakin menguat. Dengan kombinasi faktor ekonomi, geopolitik, dan analisis teknikal yang cenderung mendukung, harga emas diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun tetap mempertahankan bias bullish dalam perdagangan hari ini.

Pelaku Pasar Tunggu Keputusan Fed, Harga Emas Semakin Mantap di Tren Bullish Internasional
Internasional
Rabu, 03 Desember 2025 | 15:31 WIB

Pelaku Pasar Tunggu Keputusan Fed, Harga Emas Semakin Mantap di Tren Bullish

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali menunjukkan momentum positif memasuki perdagangan Selasa, memperpanjang reli kenaikannya untuk hari kedua berturut-turut di tengah meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Emas menilai sentimen pasar saat ini didominasi ekspektasi pelonggaran moneter yang semakin kuat, sehingga emas mendapatkan dukungan signifikan sebagai aset non-yielding. Pada sesi Senin (1/12), emas naik lebih dari 0,40 persen, dan mempertahankan stabilitas di area $4.240 setelah menyentuh level tertinggi lima minggu di $4.264. Pergerakan ini dipicu oleh pelemahan dolar AS yang terdampak ekspektasi dovish The Fed. Hingga Selasa (2/12) sesi Asia, emas terus melaju ke area $4.230 dan berada mendekati level tertinggi hampir enam minggu. Sentimen bullish emas semakin diperkuat oleh data ekonomi AS terbaru. Berdasarkan rilis Institute for Supply Management (ISM), indeks PMI Manufaktur AS kembali berada di bawah level ekspansi, turun menjadi 48,2 pada November dari 48,7 pada bulan sebelumnya, dan berada di bawah proyeksi pasar 48,6. Kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut ini semakin menguatkan pandangan bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum. Dampaknya, pelaku pasar kini meningkatkan probabilitas pemangkasan suku bunga bulan Desember hingga 87 persen, naik signifikan dari pekan sebelumnya, menurut CME FedWatch. Menurut analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, dari sisi teknikal kombinasi candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang semakin menguat pada XAU/USD. Struktur harga memperlihatkan peningkatan minat beli (buying pressure) terutama pada timeframe intraday. Andy memproyeksikan dua skenario harga emas hari ini, jika momentum bullish berlanjut, emas berpotensi menguji resistance lanjutan menuju area $4.324. Apabila terjadi koreksi profit-taking, penurunan terdekat diperkirakan menuju area support $4.208 sebelum potensi rebound kembali terjadi. Meski tren bullish masih dominan, terdapat faktor penghambat. Permintaan fisik emas dari China terpantau mulai melambat karena tingginya harga. Laporan dari Financial Times mengungkapkan bahwa sejumlah retailer menutup cabang di Tiongkok daratan akibat penurunan penjualan yang tajam, sementara pedagang kecil mengeluhkan kenaikan pajak dan beban biaya. Selain itu, data makro penting AS yang akan dirilis pekan ini menjadi penentu arah harga emas selanjutnya. Laporan ketenagakerjaan ADP dan PMI Jasa ISM yang rilis Rabu, serta data inflasi PCE-indikator inflasi favorit The Fed-akan sangat memengaruhi arah dolar dan imbal hasil obligasi. Jika data menunjukkan ketahanan ekonomi, dolar berpotensi rebound dan menekan emas. Sebaliknya, data yang lebih lemah akan memperpanjang sentimen bullish logam mulia ini. Sementara, indeks dolar (DXY) melemah 0,16% ke 99,31, tetapi yield obligasi AS 10 tahun justru meningkat tujuh basis poin ke 4,092%. Yield riil AS juga naik hingga 1,862%, menciptakan dinamika pasar campuran bagi logam mulia. Rumor politik turut menjadi variabel yang diperhatikan pasar, setelah kabar bahwa Kevin Hassett disebut sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berikutnya. Namun Presiden Donald Trump menyatakan bahwa keputusan akhir belum diumumkan. Dengan dominasi sentimen dovish dan ketidakpastian geopolitik global, emas diperkirakan tetap menarik bagi investor sebagai aset lindung nilai dalam waktu dekat.

Emas Tetap Menguat, Pasar Tunggu Langkah The Fed Internasional
Internasional
Kamis, 13 November 2025 | 10:00 WIB

Emas Tetap Menguat, Pasar Tunggu Langkah The Fed

Jakarta, katakabar.com - Harga emas terus menunjukkan performa positif setelah menembus level tertinggi tiga minggu di kisaran $4.148 pada Selasa (11/11). Sedang, pada perdagangan Rabu (12/11), logam mulia tersebut bergerak di sekitar $4.110 per troy ounce. Kenaikan ini didorong oleh sejumlah faktor global, termasuk dinamika politik di Amerika Serikat, serta meningkatnya harapan Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga sebelum akhir tahun. Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menyebutkan tren penguatan emas belakangan ini didukung oleh sinyal teknikal yang solid. “Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average masih menunjukkan tren bullish yang kuat pada XAU/USD. Jika tekanan beli berlanjut, emas berpotensi menguji area $4.158, meskipun koreksi menuju $4.098 tetap terbuka jika momentum melemah,” ujarnya. Sentimen positif terhadap emas turut diperkuat oleh data tenaga kerja AS yang menunjukkan pelemahan. Laporan dari Automatic Data Processing (ADP) mengindikasikan bahwa pertumbuhan lapangan kerja sektor swasta menurun lebih dari 11.250 per minggu dalam empat pekan hingga 25 Oktober, berlawanan dengan kenaikan pada periode sebelumnya. Kondisi ini menambah keyakinan pasar bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga demi menjaga stabilitas ekonomi. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) oleh The Fed pada Desember mencapai sekitar 68%, dan meningkat hingga 80 persen untuk Januari 2026. “Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar membuat emas semakin menarik karena menurunkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas,” timpal Andy. Dari sisi politik, pasar juga mencermati perkembangan terbaru di Washington. Senat AS meloloskan rancangan undang-undang pendanaan sementara guna mencegah penutupan pemerintahan (government shutdown). RUU tersebut kini menunggu pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat. Langkah ini membuka peluang agar sebagian besar lembaga pemerintah tetap beroperasi hingga 30 Januari 2026, menurut laporan Bloomberg. Jika kesepakatan tercapai, minat terhadap aset safe haven seperti emas bisa sedikit berkurang. Sementara, indeks dolar AS (DXY) turun sekitar 0,24 persen ke posisi 99,37, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di 4,12 persen. Gubernur The Fed, Stephen Miran, menyatakan penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Desember bisa menjadi langkah yang tepat mengingat perlambatan inflasi dan melemahnya pasar tenaga kerja.

Emas Tertekan di Bawah $4.000, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan Pertemuan AS–Tiongkok Ekonomi
Ekonomi
Rabu, 29 Oktober 2025 | 12:00 WIB

Emas Tertekan di Bawah $4.000, Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan Pertemuan AS–Tiongkok

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) kembali terseret turun pada perdagangan Selasa (28/10) kemarin, menandai pelemahan signifikan setelah sempat bertahan di atas level psikologis $4.000. Logam mulia ini anjlok hingga $3.971 terendah sejak pertengahan Oktober karena pelaku pasar mulai kembali berani mengambil risiko setelah tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menunjukkan tanda-tanda mereda. Emas kehilangan daya tariknya sebagai aset safe haven ketika hubungan dagang dua ekonomi terbesar dunia mulai mencair, kondisi tersebut membuat permintaan terhadap aset berisiko seperti saham dan obligasi meningkat, sehingga tekanan jual pada emas kian kuat. Dari sisi teknikal, menurut analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menjelaskan kombinasi pola candlestick dan pergerakan Moving Average saat ini masih mengindikasikan tren bearish yang dominan pada XAU/USD. Dengan momentum yang cenderung negatif, potensi pelemahan lanjutan terbuka menuju area $3.950, yang menjadi level support kuat untuk jangka pendek. Namun jika harga gagal menembus level tersebut, potensi rebound menuju $4.059 bisa terjadi sebagai bentuk koreksi teknikal. Selain faktor teknikal, pelaku pasar global juga menanti rapat kebijakan The Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu mendatang. Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin kini mencapai hampir 97 persen, menurut data dari CME FedWatch Tool. Keputusan ini akan menjadi katalis penting bagi arah pergerakan emas berikutnya. “Jika The Fed memutuskan memangkas suku bunga, hal itu dapat menjadi penahan sementara bagi penurunan harga emas,” ujar Andy. Di sisi lain, kabar positif datang dari Washington dan Beijing. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa kedua negara telah menyepakati kerangka kerja baru untuk meredakan ketegangan perdagangan, termasuk pembatalan rencana tarif 100 persen terhadap produk Tiongkok yang semula akan berlaku mulai 1 November. Pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di sela-sela KTT Asia di Korea Selatan pada Kamis nanti juga diharapkan memperkuat arah kesepakatan dagang yang lebih stabil. “Pasar kini mulai menilai bahwa risiko perang dagang semakin berkurang, sehingga investor cenderung meninggalkan aset pelindung seperti emas,” kata Andy. Pandangan ini sejalan dengan komentar David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, yang menilai bahwa potensi kesepakatan perdagangan antara AS dan Tiongkok menandakan menurunnya permintaan terhadap aset safe haven. Meski begitu, tidak semua indikator ekonomi memberi tekanan tambahan. Indeks Dolar AS (DXY) justru melemah tipis 0,07% ke 98,84, dan imbal hasil obligasi AS 10-tahun turun ke 3,997%. Penurunan imbal hasil riil AS yang biasanya bergerak berlawanan arah dengan emas sempat menahan penurunan harga logam mulia tersebut. Andy menyarankan agar investor tetap berhati-hati dalam mengambil posisi menjelang keputusan The Fed. Menurutnya, volatilitas harga emas cenderung meningkat pada periode menjelang rilis kebijakan moneter dan berita geopolitik penting.

Beli XRP Sekarang atau Tunggu? Begini Analisis Peluangnya Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 08 Desember 2024 | 10:06 WIB

Beli XRP Sekarang atau Tunggu? Begini Analisis Peluangnya

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto saat ini tengah menggeliat dengan tren bullish yang menarik perhatian para investor, termasuk untuk aset kripto seperti XRP. Dalam beberapa hari terakhir, XRP menunjukkan pergerakan harga yang signifikan, memicu diskusi di kalangan investor tentang apakah ini waktu terbaik untuk membeli XRP. Tapi, di balik peluang besar ini, ada juga risiko yang perlu dipertimbangkan. Mari kita telaah lebih dalam mengenai kelebihan dan kekurangan membeli XRP saat ini agar kamu dapat membuat keputusan investasi yang cerdas.

'Negara Gali Lubang Tutup Lubang', Rp8.000 Triliun Utang Tunggu Presiden Baru Opini
Opini
Rabu, 27 Desember 2023 | 10:03 WIB

'Negara Gali Lubang Tutup Lubang', Rp8.000 Triliun Utang Tunggu Presiden Baru

Oleh: Agung Marsudi Duri Institute katakabar.com - Malam tadi hujan, sebelum fajar setelah reda, saya bisa melihat langit Jakarta dari kampung Melayu kecil begitu tenang dan indah. Di bawah lampu malam, duduk sendiri di teras belakang Pendopo Subversif, mengingatkan saya pada jejak sejarah PDRI, dan tulisan bernas Ratna Sarumpaet di sebuah media tentang Dekrit Rakyat Indonesia. Menulis catatan politik akhir tahun 2023 meski pendek, rupanya tak mudah. Banyak hal, mengganggu banyak hal. Karena hawanya rakyat makin susah cari makan, cari uang, cari kerjaan. Negara besar pasak dari tiang. Janji kesejahteraan hanya dibayar dengan utang. Ekonomi sulit. Rakyat makin kesulitan. Hidup gali lubang, tutup lubang. Satu lubang utang ditutup, menyusul lubang kemiskinan bergantian. Angka kemiskinan turun (temurun). Periode kedua pemerintahan Jokowi tak sanggup mengakhiri era reformasi. Legacy zero korupsi hanya menjadi khayalan para pemimpi, sebab siapapun presiden pengganti, kerja pertama menanggung utang, lalu menambah utang. Lagu raja dangdut Rhoma Irama, 'Gali lubang, tutup lubang' berlaku juga bagi negara. Pada akhir November 2023, nilai total utang pemerintah Indonesia sudah mencapai Rp8.041,01 triliun atau 38,11% terhadap produk domestik bruto (PDB). (Laporan Kementerian Keuangan bertajuk APBN Kita edisi Desember 2023) Siapapun presiden baru, 8.000 triliun utang menunggu. Tak boleh jumawa, utang sejatinya bukan hanya soal deretan angka, tapi harga diri dan kehormatan bangsa.

RKP Sudah Dilaporkan, DBH Sawit Riau Kini Tunggu Pencairan Riau
Riau
Jumat, 17 November 2023 | 22:06 WIB

RKP Sudah Dilaporkan, DBH Sawit Riau Kini Tunggu Pencairan

Pekanbaru, katakabar.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau sudah melaporkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Dana Bagi Hasil (DBH) kelapa sawit kini tinggal tunggu pencairan. Dana Bagi Hasil (DBH) sawit mulai dicairkan setelah sekian lam diperjuangkan daerah-daerah penghasill komoditas 'emas hijau' nama lain dari kelapa sawit. Total 350 daerah di Indonesia yang menerima DBH kelapa sawit sebesar Rp3,4 triliun. Provinsi Riau dapat jatah DBH kelapa sawit paling besar, yakni nominalnya Rp308 miliar lebih atau hampir 10 persen dari total alokasi DBH kelapa sawit. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Riau, Emri Juli Harnis menjelaskan, syarat pencairan DBH kelapa sawit ini mesti melaporkan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 91 tahun 2023, RKP berisi mengenai dua bidang, yakni bidang infrastruktur dan kegiatan pendukung lainnya, seperti pendataan perkebunan, BPJS ketenagakerjaan bagi pekerja perkebunan, dan kegiatan lainnya mendukung perkebunan. "Setahu saya belum (cair). Tapi usulan Riau untuk 2023 dan 2024 sudah diusulkan dan sudah dibahas bersama kementerian atau lembaga terkait, dan berproses dibahas lebih lanjut," ujar Emri, kemarin, dilansir dari laman elaeis.co, pada Jumat (17/11). Setelah RKP nanti disetujui, kata Emri, Kementerian Keuangan baru mencairkan DBH kelapa sawit kepada daerah. "Menurut PMK, setelah disetujui bisa dilaksanakan, dan pencairan sesuai dengan pelaksanaan," sebutnya.

Petani Sungai Bahar 4 Bulan Tunggu Rekomtek PSR, DPW Apkasindo Nilai Terlalu Nasional
Nasional
Selasa, 10 Oktober 2023 | 17:31 WIB

Petani Sungai Bahar 4 Bulan Tunggu Rekomtek PSR, DPW Apkasindo Nilai Terlalu

Jambi, katakabar.com - Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas 120 hektar kebun kelapa sawit di daerah Sungai Bahar, Provinsi Jambi sudah diajukan dari Februari 2023 lalu. Tapi, hingga saat ini belum dapat persetujuan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPK) untui direplanting (PSR). "Kita sudah ajukan lewat jalur kemandirian dari awal tahun lalu. Tapi, hingga kini belum terealisasi," kata Ketua Bidang Hukum dan Advokasi DPW Apkasindo Provinsi Jambi, Dermawan Harry Oetomo, dilansir dari laman elaeis.co, pada Selasa (10/10). Dijelaskannya, respon pengajuan itu sangat lambat. Di mana setelah pengajuan, lepas lima bulan pengajuan baru dapat respon dari pihak BPDPKS. "Pengajuan PSR ini lima tahap. Saat ini kita sudah berada di poin ketiga. Sedang, poin keempat adalah rekomtek dan poin kelima baru penyaluran biaya kepada petani," ulasnya. Dinilai Dermawan, sangat keterlaluan. Tinggal Rekomendasi Teknik (Rekomtek) dan penyaluran dana, petani terpaksa lebih bersabar lagi, dan hingga saat ini sudah 4 bulan belum dapat kepastian. "Saya siap di garda terdepan demi suksesnya program PSR ini, sebab potensinya sangat bermanfaat bagi petani kelapa sawit," tegasnya.