UGM

Sorotan terbaru dari Tag # UGM

Lagi, Positive Technologies Sambangi UGM Bahas Tindak Lanjut MoU dan Kolaborasi Cybersecurity Internasional Pendidikan
Pendidikan
Sabtu, 18 Oktober 2025 | 10:10 WIB

Lagi, Positive Technologies Sambangi UGM Bahas Tindak Lanjut MoU dan Kolaborasi Cybersecurity Internasional

Yogyakarta, katakabar.com - Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani pada kunjungan 11 Juni 2025 lalu, JSC Positive Technologies kembali melakukan kunjungan resmi ke Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin, 13 Oktober 2025. Pertemuan di Yogjakarta tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) keamanan siber serta pengembangan program edukasi internasional. Di kunjungan itu, perwakilan Positive Technologies berdiskusi dengan para pimpinan UGM mengenai implementasi nyata dari MoU yang sebelumnya telah disepakati, khususnya pengembangan kurikulum keamanan siber, program magang internasional, dan kolaborasi riset di bidang keamanan digital. Kedua belah pihak membahas potensi pembentukan cybersecurity center of excellence yang dapat menjadi penghubung antara dunia akademik Indonesia dan industri keamanan siber global. UGM sendiri sebagai salah satu perwakilan dari Indonesia, menjadi universitas dengan kontribusi paling besar dalam ajang Positive Hack Camp 2025. Di ajang yang dihelat di Moscow 26 Juli hingga 8 Agustus 2025 tersebut, UGM mengirimkan mahasiswa terbanyak dari 25 negara yang hadir, sekaligus menunjukkan antusiasme tinggi mahasiswa Indonesia terhadap kompetisi dan edukasi di bidang keamanan siber. Setelah acara Positive Hack Camp tersebut, mahasiswa UGM kembali berpartisipasi dalam ajang International Online Cyber Battle yang sedang diselenggarakan oleh Positive Technologies. Kompetisi ini menjadi wadah pembelajaran sekaligus ajang unjuk kemampuan para talenta muda Indonesia di kancah global. Keterlibatan aktif ini menegaskan komitmen UGM untuk menyiapkan talenta digital yang siap bersaing di tingkat internasional.

Tolak Deforestasi untuk Perluasan Perkebunan Sawit, Ini Kata Guru Besar UGM Sawit
Sawit
Jumat, 10 Januari 2025 | 10:58 WIB

Tolak Deforestasi untuk Perluasan Perkebunan Sawit, Ini Kata Guru Besar UGM

Yogyakarta, katakabar.com - Rencana Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto ingin melakukan perluasan perkebunan kelapa sawit untuk meningkat produksi minyak kelapa sawit dalam dan luar negeri ditentang banyak kalangan, termasuk akademisi. Banyak yang khawatir jika perluasan perkebunan kelapa sawit dilakukan bakal memicu maraknya deforestasi. Bahkan pernyataan Kepala Negara menyamakan tanaman kelapa sawit sebagai tanaman hutan alam dianggap menyesatkan. Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono PhD, menolak keras upaya perluasan perkebunan kelapa sawit lantaran bakal mengancam kembalinya kerusakan hutan dan biodiversitas. “Kami menolak keras rencana presiden tersebut. Banyak riset menyatakan di kawasan perkebunan sawit tidak mampu menjadi habitat satwa liar dan hampir 0 persen keragaman hayati berkembang di perkebunan sawit,” ujar Budi melalui keterangan pers, dilansir dari laman EMG, Jumat (10/1). Menurut Budi, selama ini dampak dari perkebunan kelapa sawit yang sangat luas dengan model monokultur, ternyata rentan meningkatkan konflik satwa liar dengan manusia. Ini berujung berkurangnya populasi satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang, seperti orang utan, gajah, badak dan harimau Sumatera. “Flora dan fauna yang dilindungi semakin berkurang karena deforestasi akibat pembukaan perkebunan sawit,” jelasnya. Selain itu, dia menyarankan Prabowo menjalankan Instruksi Presiden (inpres) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan tata Kelola Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. “Dengan inpres tersebut, seluas 66,2 juta hektar hutan alam dan lahan gambut atau seluas negara Perancis dapat diselamatkan dari kerusakan,” imbuhnya. Disamping itu, Budi menginginkan agar pemerintah konsisten dalam menjalankan aturan yang sudah dibuat yakni Inpres Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan. Terkait pernyataan yang menyamakan tanaman kelapa sawit dengan tanaman hutan, “Itu pernyataan yang menyesatkan publik,” ucapnya. Apalagi, sebutnya, secara tegas sudah ada peraturan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sebelumnya menyebutkan sawit bukan tanaman hutan.

Sub Holding PalmCo Berdiri, Ini Kata Pengamat Ekonomi dan Akademisi UGM Nasional
Nasional
Minggu, 24 Desember 2023 | 21:00 WIB

Sub Holding PalmCo Berdiri, Ini Kata Pengamat Ekonomi dan Akademisi UGM

Jakarta, katakabar.com - Pengamat ekonomi dan akademisi Universitas Gajah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai, dengan adanya PalmCo bakal mampu meningkatkan efisiensi lantaran sebelumnya bisnis kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dikelola terpisah-pisah selama ini “Adanya sub holding PalmCo, pendalaman usaha terbentuk. Jadi, perusahaan lebih fleksibel atasi sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi perusahaan dan pemerintah dalam industri kelapa sawit nasional,” ujarnya lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Ahad (24/12). PalmCo, kata Fahmy, bisa lebih leluasa mengembangkan bisnis di industri kelapa sawit, apakah untuk pangan atau untuk bahan baku energi. Selain itu, PalmCo diyakini dapat berperan mengurangi sejumlah tantangan dalam industri sawit nasional masih sangat kompleks selama ini. "Kebijakan nasional belum tegas selama ini, apakah kelapa sawit ini untuk pangan atau energi. Jadi, PalmCo kalau konsisten dengan visi awalnya dapat mengurangi dampak masalah sawit,” ulasnya. Dijabarkan Fahmy, ada tiga tantangan industri kelapa sawit saat ini. Pertama, simalakama mengenai kelapa sawit, apakah untuk pangan atau untuk energi. “Kalau digunakan banyak untuk energi, ada potensi kekurangan bahan baku kelapa sawit untuk pangan, misalnya minyak goreng. Bisa jadi harga minyak goreng naik di dalam negeri. Ini bisa jadi masalah,” jelasnya. Sisi lain, ucap Fahmy, Indonesia belum punya teknologi di dalam negeri yang dapat mengolah sawit 100 persen menjadi bahan bakar nabati. Koordinasi dengan lembaga atau perusahaan pemerintah lain sangat dibutuhkan. Misalnya dengan Pertamina terkait bahan baku apa yang digunakan untuk biofuel, berapa jumlahnya, dan tahun berapa secara bertahap dilakukan. Tantangan kedua, masih sering terjadi harga sawit yang masih berfluktuasi, terutama saat harga minyak sawit di pasar dunia naik. Keinginan perusahaan untuk mengekspor Crude Palm Oil (CPO) sangat besar kalau harga di pasar global naik sehingga terjadi kalangkaan di dalam negeri yang disusul dengan terjadinya lonjakan harga di pasar domestik. “Tantangan ini mestidiantisipasi. Bagaimana rencana bisnis yang harus dilakukan di saat akhirnya harga naik atau sebaliknya sewaktu harga turun,” tuturnya. Tantangan ketiga, penolakan dari berbagai negara, terutama Eropa Barat, terhadap ekspor produk sawit karena isu lingkungan. "PalmCo harusnya terlibat dalam melakukan lobi-lobi, agar peluang ekspor Indonesia tidak terhambat," sarannya. Diketahui, pendirian Sub Holding PalmCo yang khusus mengelola bisnis kelapa sawit terealisasi awal Desember 2023 lalu. PalmCo adalah penggabungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII ke dalam PTPN IV sebagai surviving entity dan pemisahan tidak murni PTPN III (Persero) ke dalam PTPN IV.

BRIN dan UGM Teliti Aerosol Karbon Limbah Sawit Untuk Diagnosa Penyakit Paru Tekno
Tekno
Selasa, 14 November 2023 | 21:32 WIB

BRIN dan UGM Teliti Aerosol Karbon Limbah Sawit Untuk Diagnosa Penyakit Paru

Jakarta, katakabar.com - Aerosol bertanda Technetium-99m (99mTc) radioperunut belum banyak digunakan dalam medis di Indonesia. Padahal, radioperunut dapat dimanfaatkan untuk pencitraan ventilasi paru guna diagnosa berbagai penyakit paru, termasuk emboli paru. Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosometri (PRTRRB) dari Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tita Puspitasari mengatakan, ke depan radioperunut bakal banyak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan produk radiofarmaka dari luar negeri. "PRTRRB BRIN sudah mulai mengembangkan aerosol bertanda 99mTc dengan memanfaatkan fasilitas laboratorium radioisotop-radiofarmaka dan ketersediaan 99mTc yang diproduksi secara rutin. Tapi, pembuatan aerosol ini memerlukan karbon aktif memiliki kriteria khusus sehingga dapat ditandai dengan 99mTc secara optimal," ujarnya lewat keterangan resmi Humas BRIN, dilansir dari laman elaeis.co, pada Selasa (14/11). Soal pemenuhan karbon aktif ini, kata Tita, PRTRRB BRIN lantas gandeng Fakultas Teknik (FT) UGM. "FT UGM berpengalaman dalam penelitian dan pengembangan karbon nanopori dari cangkang kelapa sawit. Karbon nanopori yang dihasilkan FT UGM diperkirakan memiliki kapasitas penandaan yang besar terhadap 99mTc, sehingga kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penelitian dan pengembangan aerosol bertanda 99mTc untuk diagnosa paru-paru,” tegasnya. Itikad baik tersebut mendapat tanggapan positif dari Selo, Dekan FT UGM. “Kolaborasi ini wujud sinergi kita untuk menghilangkan duplikasi hasil riset sehingga hasilnya maksimal,” harapnya. Kolaborasi antara dua institusi besar BRIN dan UGM yang saling support dalam hal riset bertujuan untuk kebaikan bersama, tambahnya. Periset PRTRRB BRIN, Indra Saptiama memaparkan latar risetnya terkait pengembangan nanopartikel karbon dari limbah kelapa sawit. “Riset ini berangkat dari minimnya teknologi terkait diagnosis gangguan emboli paru yang mudah dan murah. Sebagai informasi ada 75-269 kasus gangguan emboli paru pada 100.000 orang di Eropa, Amerika, dan Australia, sedangkan di Indonesia masih belum diketahui secara pasti prevalensinya dikarenakan diagnosanya yang sulit dan mahal,” tuturnya. Untuk itu, lanjut Indra, diperlukan diagnosa dan pengobatan yang tepat pada pasien, salah satunya melalui pencitraan ventilasi menggunakan nano aerosol karbon bertanda 99mTc yang dihasilkan oleh generator komersial. Ia dan timnya merekomendasikan pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan aerosol karbon. “Indonesia adalah negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dan limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan aerosol karbon, akan memberi nilai tambah secara komersial,” bebernya. Menurutnya, untuk metode penelitian dilakukan dengan pembuatan treated-oil palm shell charcoal (t-OPSC) menggunakan proses hidrotermal pada suhu 200°C selama dua jam. Lalu, dengan preparasi t-OPSC nanoparticles, dikarakterisasi, dan kemudian dilakukan penandaan t-OPSC dengan 99mTc. “Tapi masih diperlukan adanya optimasi penandaan dan produksi aerosol,” imbuhnya. Diketahui, saat ini penggunaan partikel karbon bertanda 99mTc hanya dipraktikkan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Guru Besar UGM Dorong Integrasi Peternakan Sapi Perkebunan Sawit Nasional
Nasional
Rabu, 20 September 2023 | 23:32 WIB

Guru Besar UGM Dorong Integrasi Peternakan Sapi Perkebunan Sawit

Yogyakarta, katakabar.com - Luasan lahan vegetasi di bawah tegakan perkebunan kelapa sawit berpotensi menyediakan pakan ternak ruminansia dengan cara digembalakan dengan ketersediaan rumput, forb dan legum, pakis dan tanaman lain. Itu sejalan dengan luas perkebunan sawit di Indonesia pada tahun 2016 mencapai 11,2 juta hektar. Terus meningkat menjadi 14,66 juta hektar pada tahun 2021 dan pada tahun 2022 meningkat menjadi 14,99 juta hektar dengan produksi total 45,58 juta ton atau rata-rata 3,04 ton per hektar. Menurut Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto, integrasi sapi dalam perkebunan sawit bentuk pertanian terpadu dimana ternak sapi memanfaatkan hijauan antar pohon dan hasil samping industri perkebunan kelapa sawit. Di pengukuhan Guru Besar dirinya di bidang Nutrisi dan Makanan Ternak, di ruang Balai Senat Gedung Pusat UGM, pada Selasa (19/9) kemarin, Bambang pidato berjudul Sistem Integrasi Tanaman Pakan dan Kelapa Sawit untuk Mendukung Produksi Ternak Ruminansia di Indonesia. "Sistem integrasi sapi dan kelapa sawit merupakan bentuk sistem pertanian terpadu yang ideal bila disediakan lahan untuk tanaman pakan ternak ketika umur tanaman sawit sudah melebihi 5 tahun," ujarnya. Penggembalaan ternak sapi dengan metode rotasional grazing di bawah tegakan tanaman perkebunan sawit, bisa menekan biaya pakan dan pemeliharaan. “Total 4 juta sapi bisa dipelihara dengan biaya murah,” jelasnya. Sisi lain kata Bambang, potensi vegetasi di bawah tegakan tanaman hasil samping tanaman sawit yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia adalah pelepah dan daun sawit serta hasil samping pengolahan sawit berupa lumpur sawit. "Bungkil inti sawit bisa digunakan sebagai sumber pakan ternak. Sebaliknya bagi perkebunan kelapa sawit, kotoran ternak sapi bisa sebagai penyedia unsur hara untuk meningkatkan kesuburan lahan kebun kelapa sawit dan pengendalian gulma,” terangnya. Saya menilai ternak ruminansia paling baik sambungnya, jika dipelihara dengan cara digembalakan di padang rumput sehingga ternak secara langsung dapat mengambil pakan yang diinginkan dan dibutuhkan. Tapi, tidak semua ternak dapat dipelihara di padang penggembalaan akibat terbatasnya ladang padang rumput sehingga penggembalaan ternak di area perkebunan sawit menjadi salah satu pilihan dalam mewujudkan kemandirian pangan dari produk peternakan, sebutnya.