Jakarta, katakabar.com - Pengamat ekonomi dan akademisi Universitas Gajah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai, dengan adanya PalmCo bakal mampu meningkatkan efisiensi lantaran sebelumnya bisnis kelapa sawit PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dikelola terpisah-pisah selama ini

“Adanya sub holding PalmCo, pendalaman usaha terbentuk. Jadi, perusahaan lebih fleksibel atasi sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi perusahaan dan pemerintah dalam industri kelapa sawit nasional,” ujarnya lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Ahad (24/12).

PalmCo, kata Fahmy, bisa lebih leluasa mengembangkan bisnis di industri kelapa sawit, apakah untuk pangan atau untuk bahan baku energi. Selain itu, PalmCo diyakini dapat berperan mengurangi sejumlah tantangan dalam industri sawit nasional masih sangat kompleks selama ini.

"Kebijakan nasional belum tegas selama ini, apakah kelapa sawit ini untuk pangan atau energi. Jadi, PalmCo kalau konsisten dengan visi awalnya dapat mengurangi dampak masalah sawit,” ulasnya.

Dijabarkan Fahmy, ada tiga tantangan industri kelapa sawit saat ini. Pertama, simalakama mengenai kelapa sawit, apakah untuk pangan atau untuk energi.

“Kalau digunakan banyak untuk energi, ada potensi kekurangan bahan baku kelapa sawit untuk pangan, misalnya minyak goreng. Bisa jadi harga minyak goreng naik di dalam negeri. Ini bisa jadi masalah,” jelasnya.

Sisi lain, ucap Fahmy, Indonesia belum punya teknologi di dalam negeri yang dapat mengolah sawit 100 persen menjadi bahan bakar nabati. Koordinasi dengan lembaga atau perusahaan pemerintah lain sangat dibutuhkan. Misalnya dengan Pertamina terkait bahan baku apa yang digunakan untuk biofuel, berapa jumlahnya, dan tahun berapa secara bertahap dilakukan.

Tantangan kedua, masih sering terjadi harga sawit yang masih berfluktuasi, terutama saat harga minyak sawit di pasar dunia naik. Keinginan perusahaan untuk mengekspor Crude Palm Oil (CPO) sangat besar kalau harga di pasar global naik sehingga terjadi kalangkaan di dalam negeri yang disusul dengan terjadinya lonjakan harga di pasar domestik.

“Tantangan ini mestidiantisipasi. Bagaimana rencana bisnis yang harus dilakukan di saat akhirnya harga naik atau sebaliknya sewaktu harga turun,” tuturnya.

Tantangan ketiga,  penolakan dari berbagai negara, terutama Eropa Barat, terhadap ekspor produk sawit karena isu lingkungan.

"PalmCo harusnya terlibat dalam melakukan lobi-lobi, agar peluang ekspor Indonesia tidak terhambat," sarannya.

Diketahui, pendirian Sub Holding PalmCo yang khusus mengelola bisnis kelapa sawit terealisasi awal Desember 2023 lalu.

PalmCo adalah penggabungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V, VI dan XIII ke dalam PTPN IV sebagai surviving entity dan pemisahan tidak murni PTPN III (Persero) ke dalam PTPN IV.