Oleh: Agung Marsudi, Duri Institute

katakabar.com - Pukul 07.50 WIB akhirnya saya mencoblos urutan pertama di TPS 038 Kelurahan  Pematang Pudu. Ada 10 orang yang antri di belakang saya. Tak ada lagi ketegangan, kewajiban telah ditunaikan. Dengan hati nurani, melawan politik dinasti.

Sementara Tasya Rizki Putri 21 tahun, salah satu anggota termuda Ibu-ibu Pembawa Berkah (IPB) ikut meramaikan pesta demokrasi dengan menggunakan hak pilihnya di TPS 013, Jalan Gajahmada kilometer 5, Kelurahan Talang Mandi.

Tasya yang menggunakan jilbab warna gelap segera berdiri dengan semangat untuk mengambil surat suara, setelah namanya dipanggil panitia Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

"Iya saya," sambut Tasya dengan gembira menjawab panggilan panitia KPPS pada TPS yang terletak di depan rumah Pak Mardi, Rabu (27/11).

Tasya bersemangat untuk mengikuti Pilkada, karena menurutnya dapat memilih calon pemimpin sesuai hati nuraninya.

Setelah memasukkan pilihannya ke kotak suara, Tasya segera mencelupkan jari manisnya ke dalam tinta. Tasya memasukkan jari manisnya ke dalam tinta dengan tujuan agar calon pemimpin yang dipilihnya dapat setia dengan janji-janji yang telah disampaikan.

"Jari manis itu jari pengikat, jadi ini untuk mengikat janji calon bupati dan calon wakil bupati. Seperti yang telah disebutkan dalam dua kali debat publik," ujar mahasiswi Universitas Terbuka ini.

Janji adalah tanggung jawab seorang pemimpin, yang harus ditunaikan. Karena ia menentukan ketinggian budi. Pemimpin itu dimajukan selangkah, ditinggikan seranting.

Bengkalis harus berubah. Amanah perubahan sudah dilaksanakan. Seperti Tasya, tunjukkan, "Ini tinta tanda cinta di jari manis saya?

Pesta demokrasi telah dimulai, sore hari sudah penghitungan. Adu kuat atau akal sehat bakal tertinggal di kotak suara. Yang ditulis kemudian "angka-angka" yang rekapitulasinya menentukan masa depan negeri junjungan lima tahun ke depan.