Medan, katakabar.com - Civitas akademi dari kampus Institut Teknologi Sawit Indonesia (ITSI) dan Universitas Prima (UNPRI) bergandeng tangan dan bahu-membahu sosialisasikan konsep dan praktek  Bank Pupuk Organik (BPO) bagi petani, termasuk pekebun kelapa sawit.

Kegiatan itu ditaja dua hari lamanya di Desa Kandangan, Kecamatan Laut Tador, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) beberapa hari yang lalu, begitu dilansir dari laman elaeis.co, pada Senin (27/5).

Para dosen yang memimpin kegiatan tersebut, meliputi akademisi ITSI masing-masing Sakiah SP MP dan Tuty Ningsih SP MP, serta Dr Bayu Pratomo SST MP dari UNPRI.

Kepada pihak kampus, Kepala Desa (Kades) Kandangan, Suratmin mengutarakan, masyarakat biasanya persilahkan siapa saja yang datang mengambil tumpukan kohe.

"Kalau ada yang datang, dikasih gitu saja kohe itu," ujar Kades saat didampingi sejumlah perangkat Desa Kandangan, seperti Kaur, Kepala Dusun (Kadus), Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), didampingi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), dan masyarakat sekitar.

"Saya heran saat mengetahui par pekebun kelapa sawit di Desa Kandangan mengeluhkan harga pupuk yang mahal," ujar Sakiah SP MP di ujung telepon genggamnya.

Tepi, kata Sakiah, di saat yang sama mereka belum tahu cara mengelola kohe menjadi pupuk organik di dalam BPO makanya mempersilahkan orang lain saat meminta kohe mereka.

Ini semua, tutur Sakiah, lantaran keterbatasan pengetahuan, dan lemahnya penyerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di tengah masyarakat Desa Kandangan.

"Khususnya terkait pengelolaan limbah ternak, sesungguhnya dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi dan menguntungkan bagi lahan pertanian," terangnya.

Situasi ini, sambung Sakiah, melatarbelakangi ITSI dan UNPRI taja sosialisasi, dan pelatihan bertajuk pengelolaan limbah tenak, dapur dan pertanian sebagai implementasi ekonomi sirkular Bank Pupuk Organik.

Dijabarkan Sakiah, di sosialisasi itu pekebun kelapa sawit setempat dibekali pengetahuan tentang manfaat pupuk organik bagi kesehatan, dan kesuburan tanah, serta dampak limbah terhadap pemanasan global. 

Di acara itu pihaknya menyerahkan bantuan, berupa satu unit mesin pencacah bahan organik, satu unit ayakan kompos serta alat-alat penting lainnya.

Besok harinya, ucap Sakiah, semua peralatan itu dipakai untuk praktek langsung pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Organik Padat (POP) dari kohe lembu dan kambing.

"Seluruh bahan dipadukan dengan limbah pertanian atau ecoenzyme dari buah dan sayur. Apalagi, ecoenzyme dapat digunakan sebagai dekomposer dalam pembuatan POC dan POP," imbuhnya.