Kuala Simpang, katakabar.com - Ratusan pekebun kelapa sawit, peserta program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, tersenyum merekah, senang dan bahagia.
Soalnya, kerja keras dan kesabaran bertahun lamanya saat ini berbuah manis. Di mana kelapa sawit hasil direplanting tahun 2018 lalu sudah berbuah.
Apalagi, selama ini banyak petani tidak mampu untuk meremajakan tanaman kelapa sawit miliknya disebabkan tidak ada modal. Tapi, dengan program PSR sangat membantu dan menguntungkan masyarakat bisa memiliki kebun kelapa sawit yang produktif.
Produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit diperkirakan bakal meningkat dengan menggunakan bibit unggul (bersertifikat).
Hadirnya PSR seluruh proses replanting mulai pembersihan lahan, pengadaan bibit, tanam hingga beberapa kali pemupukan gratis biaya ditanggung pemerintah lewat Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
“Saya sudah delapan kali panen hingga bulan ini. Ceritanya sudah menikmati jual buah sawit hasil PSR ini,” ujar petani sawit di Desa Seunebok Baru, Kecamatan Manyak Payed, Suprapto 52 tahun, dilansir dari laman website resmi, pada Senin (16/10).
Luas kebun kelapa sawit, kata Suprapto, direplanting melalui program PSR seluas 1,5 hektar. Bibit ditanam sekitar awal 2020 lalu. Artinya, umur 4 tahun kelapa sawit program PSR sudah berbuah.
"Pertumbuhan batang dan daun kelapa sawit cukup bagus, seperti standar perusahaan. Bobot TBS masih buah pasir tapi sudah laku dijual ke agen. Di mana awal panen rata-rata janjangan dijadikan berondolan dulu harga lebih tinggi,” jelasnya.
Ayah empat orang anak ini sangat bersyukur bisa ikut program PSR melalui lembaga koperasi. Saya sadari kalau melakukan replanting secara mandiri tidak mungkin mampu lantaran membutuhkan biaya besar.
Selama empat tahun penantian, kini sudah bisa rutin menjual hasil panen TBS kelapa sawit ke agen pengumpul di tingkat kampung. Dia merasa puas melihat pertumbuhan pohon kelapa sawit PSR beda dengan kebun sawit kampung (pribadi) umumnya.
“Saya panen satu bulan dua kali, hasilnya lumayan bisa untuk tambahan beli pupuk supaya bobot buahnya makin berat,” jelasnya.
Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (Ditanakbun) Kabupaten Aceh Tamiang mencatat luasan peremajaan kelapa sawit rakyat dari 2018 hingga 2023 sudah terealisasi masuk Rekomendasi Teknis (Rekomtek) Ditjenbun RI sekitar 10.300 hektar. Di mana luasan ini menembus target yang ditetapkan Distanakbun.
“Target Aceh Tamiang hingga 2022 seluas 10 ribu hektar. Alhamdulillah, sekarang target sudah terlampaui,” cerita Kabid Perkebunan Distanakbun, Edwar Fadli Yukti.
Sementara itu pihaknya memastikan tanaman tahun perdana PSR (2018-2019) yang tersebar di 11 kecamatan kecuali Kota Kuala Simpang sudah berproduksi.
Dari 3.947 hektar realisasi luasan tanam, 1.092 hektar diantaranya luas panen yang sudah dihimpun dari hasil laporan di lapangan.
"Areal ini milik petani swadaya yang tergabung dalam tujuh koperasi sebagai pelaksana PSR," ucapnya.
Alhamdulillah, terangnya Edwar, program penanaman tahun 2019 sudah berproduksi dengan BJR (berat janjang rata-rata) 2 hingga 5 kilogram per janjang.
"Untuk data produksinya belum lengkap, tapi data dan dokumentasi hasil penanaman 2019 ada di kantor bisa jadi referensinsi,” sebutnya.
Berkah Program PSR, Petani Aceh Tamiang Sawit Kami Bak Punya Perusahaan
Diskusi pembaca untuk berita ini