Jakarta, katakabar.com - Indonesia negara agraris di mana sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian pada sektor pertanian, seperti hortikultura, pangan, serta perkebunan. Tapi, pada praktiknya tidak jarang para petani dihadapkan dengan berbagai kendala, salah satunya berupa kesuburan lahan.

Sebagian besar lahan di Indonesia yang berpotensi untuk pengembangan pertanian, didominasi jenis tanah yang bereaksi masam, dan miskin hara jadi faktor produktivitas sangat rendah.

Nah, untuk meningkatkan produktivitas lahan tersebut dibutuhkan berbagai upaya, seperti penambahan kapur pertanian dan pupuk, baik itu yang anorganik maupun organik. Tapi, upaya tersebut dirasakan berat oleh petani atau pelaku agribisnis, sebab harga pupuk yang terus meningkat.

Selain itu, penggunaan pupuk buatan secara terus menerus dengan dosis yang tinggi dapat berdampak negatif terhadap kerusakan ekosistem dari area pertanian yang dikelola oleh petani. 

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Irwan Muas, membahasnya pada Webinar Hortiactive#12 bertema “Inovasi Teknologi Produksi Benih untuk Mendukung Ketersediaan Benih Hortikultura Berkualitas”

Menurut Irwan, salah satu upaya untuk mengatasinya dengan pemanfaatan pupuk hayati berbahan aktif fungi mikoriza arbuskula (FMA) yang memiliki beragam manfaat, baik bagi tanaman serta lingkungan.

"FMA dapat meningkatkan serapan hara dan pertumbuhan tanaman, menghemat penggunaan pupuk buatan sebanyak 50 persen P, 40 persen N dan 25 persen K pada berbagai jenis tanaman komersial.

Tidak hanya itu, FMA dapat meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, menekan serangan patogen tular tanah, dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap logam berat terutama pada lahan bekas tambang,” terang Irwan melalui keterangan resmi Humas BRIN, dilansir dari laman EMG, Ahad (24/11).

Fungsi lainnya dari FMA cukup banyak, ulas Irwan, di antaranya dapat berfungsi untuk mempercepat kesiapan benih untuk dipindah ke lapang, memperkecil tingkat kematian, dan meningkatkan daya adaptasi benih setelah dipindah ke lapang. 

“Pemberian FMA pada tanaman cukup dilakukan satu kali untuk seumur hidup tanaman, sehingga hal ini lebih efisien dan berwawasan lingkungan. Selama tanaman tersebut masih hidup, maka mikoriza akan tetap hidup pada akar tanaman,” ujar Irwan. 

Cwrita Irwan, aplikasi FMA pada berbagai macam tanaman telah banyak dilaporkan dengan hasil yang sangat baik, termasuk pada tanaman buah seperti pisang, pepaya, manggis dan lain lain.

"Aplikasi FMA untuk tanaman pepaya dapat meningkatkan pertumbuhan benih, serta meningkatkan produksi sekitar 24 persen. Pemanfaatan FMA pada manggis mampu mempercepat pertumbuhan tanaman, sedangkan untuk aplikasi FMA pada benih pisang mampu meningkatkan pertumbuhan serta menekan serangan penyakit layu," kata Irwan

Terkait kemampuan FMA menekan serangan penyakit layu (Fusarium) pada pisang, sambungnya, telah dibuktikan pada lahan endemis Fusarium di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sebelumnya, lahan tersebut diklaim petani setempat tidak bisa ditanami pisang karena terjadi kerusakan parah yang disebabkan oleh serangan Fusarium.

"Melalui penerapan teknologi budidaya yang baik serta aplikasi FMA pada benih, ternyata lahan tersebut dapat menjadikan pertumbuhan pisang lebih subur dan menghasilkan buah yang normal," imbuhnya.

Masih Irwan, mikoriza struktur yang terbentuk karena adanya asosiasi berupa simbiosis mutualistik (asosiasi nonpatogenik) antara fungi dengan akar tanaman. Dalam simbiosis ini, tanaman inang memperoleh hara dengan bantuan fungi, sedangkan fungi mendapatkan fotosintat dari inang.

“Mikoriza terbagi menjadi 2 kelompok besar, yakni ektomikoriza dan endomikoriza. Ektomikoriza memiliki kemampuan adaptasi dengan tanaman cukup terbatas, terutama hanya pada tanaman hutan.  Sedang, endomikoriza cukup banyak mendapat perhatian karena penyebarannya lebih luas serta dapat berasosiasi dengan hampir 90 persen spesies tanaman tingkat tinggi,” urainya.

Endomikoriza terbagi enam subtipe, yakni Ektendomikoriza, Arbutoid, Monotropoid, Ericoid, Orchid  dan Vesikula–arbuskula mikoriza atau disebut juga dengan fungi mikoriza arbuskula (FMA). Dari keenam subtipe tersebut, FMA merupakan kelompok yang paling luas penyebarannya dan mempunyai kemampuan berasosiasi paling tinggi dengan berbagai jenis tanaman.

Struktur utama dari FMA meliputi spora, hifa, arbuskula dan vesikula. Spora yang terbentuk pada ujung hifa, adalah salah satu struktur FMA yang cukup penting dalam proses reproduksi, juga  merupakan bagian utama yang diamati dalam proses identifikasi. Selain itu hifa atau miselia berbentuk benang halus, berperan dalam proses penyerapan hara, hidup di luar maupun di dalam jaringan akar tanaman.

Arbuskula adalah struktur hifa yang bercabang-cabang seperti pohon kecil di dalam sel korteks akar inang yang berfungsi sebagai tempat pertukaran zat-zat metabolit primer antara fungi mikoriza dan akar tanaman. Vesikula adalah struktur pembengkakan hifa berdinding tebal, mengandung lipid, terbentuk di dalam sel korteks akar.

Terkait asosiasi FMA dengan tanaman, secara umum hifa fungi ini melakukan penetrasi ke dalam akar   melalui sel epidermis. Apresorium adalah titik tempat masuknya hifa ke dalam akar melalui celah antar sel epidermis, kemudian membentuk hifa intraseluler dan interseluler di dalam jaringan akar.

Tidak sampai di situ, Irwan menjabarkan cara untuk mendapatkan FMA dari alam (FMA indigenous) adalah dengan metoda “trapping”. Tanah  diambil dari daerah perakaran tanaman atau dapat juga disertakan akarnya kemudian dimasukkan ke dalam pot. Dapat juga dicampur dengan pasir atau zeolite yang telah disterilisasi. Selanjutnya dilakukan penanaman tanaman inang seperti jagung, sorgum atau Pueraria sp.

Setelah masa tanam sekitar 3 bulan akan terbentuk spora (sporulasi). Untuk mendapatkan spora tersebut dilakukan dengan cara penyaringan basah (wet sieving). Setelah spora diperoleh, dilakukan pengamatan secara mikroskopis, biasanya spora yang didapatkan terdiri dari berbagai jenis. Untuk tahap pemurnian, dapat dilakukan dengan cara  perbanyakan melalui single spora.

“Formulasi pupuk hayati berbahan aktif FMA dapat dibuat dalam bentuk granular serta tablet. Tapi, terkait dalam hal pemasaran, kedua bentuk produk pupuk hayati tersebut belum banyak beredar di pasaran Indonesia. Penggunaan pupuk hayati bermikoriza ini akan sangat menguntungkan bagi petani, produsen benih hortikultura, perusahaan HPH dan HTI, perkebunan kelapa sawit, kopi, karet, kakao dan lain-lain,” tutur Irwan.

Ditambahkannya, unit-unit usaha ataupun pelaku agribisnis merupakan peluang yang besar bagi pemasaran produk pupuk hayati fungi mikoriza. Dengan begitu unit produksi pupuk hayati bermikoriza mempunyai potensi komersial untuk dikembangkan guna menunjang pertumbuhan tanaman yang sehat, kemudian secara ekonomis lebih hemat dan berwawasan lingkungan.

"Ditambah lagi dengan ketersediaan bahan baku utama dalam proses pembuatan inokulum FMA berupa pasir zeolite dan pasir sungai, tersedia cukup banyak dan murah," tandasnya.