Kubu Raya, katakabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bilang sawit kekinian ramah anak, dan pro perempuan.
Itu terkait sorotan mengenai isu-isu hak asasi manusia, pekerja anak, dan perlindungan perempuan di industri kelapa sawit Indonesia yang luas baik dari sisi kontribusi ekonomi maupun tantangan sosialnya.
Lantaran itu tak bisa dihindari, GAPKI terus mendorong kolaborasi multipihak antara petani, dan pengusaha untuk memastikan sawit berkelanjutan dan ramah manusia.
“Petani dan pengusaha punya kepentingan dan tanggung jawab yang sama dalam aspek manusia, memastikan nasib dan harkat jutaan orang yang hidup dari sawit,” ujar Ketua Bidang Sumber Daya Manusia GAPKI, Sumarjono Saragih saat acara 5th Indonesia Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC), dilansir dari laman EMG, Ahad (12/10.
Petani sawit mengelola sekitar 42 persen kebun nasional, melibatkan lebih dari 2 juta keluarga. Sedang jumlah pekerja perkebunan sawit diperkirakan mencapai 16 juta orang, termasuk perempuan yang menjadi kelompok rentan. Kurun beberapa tahun terakhir, isu pekerja anak dan hak perempuan mendapat perhatian serius dari pemerintah, NGO, serta pasar global.
Sebagai langkah konkret, GAPKI meluncurkan kampanye Sawit Indonesia Ramah Anak (SIRA) dan Sawit Indonesia Ramah Pekerja Perempuan (Sarampuan).
Program ini bertujuan memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak bermain dan pendidikan, sementara perempuan mendapat perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi serta didorong untuk berpartisipasi secara setara di sektor sawit.
Kolaborasi GAPKI kini diperluas dengan melibatkan organisasi petani. Tujuh organisasi yang tergabung dalam Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) menandatangani komitmen aksi bersama di IPOSC, Pontianak, pada 24 September 2025.
Petani diharapkan memahami dan menerapkan prinsip SIRA dan SARAMPUAN, mengadopsi praktik baik yang sudah dijalankan di perusahaan sawit besar.
Pendekatan ini menegaskan kehadiran anak di kebun bukan berarti mereka bekerja, melainkan bagian dari edukasi dan regenerasi petani. Hak-hak anak tetap dihormati, begitu pula perlindungan perempuan dijamin, termasuk akses yang adil dalam aktivitas produksi.
Dengan semua inisiatif ini, industri sawit Indonesia bukan sekadar berkelanjutan secara lingkungan, tetapi juga ramah anak dan perempuan. GAPKI menegaskan sawit bisa menjadi lokomotif pembangunan perdesaan, menciptakan peluang ekonomi sambil mendorong kesejahteraan manusia.
Langkah-langkah ini menjadi bagian dari upaya menuju visi Indonesia Emas, di mana pertumbuhan ekonomi selaras dengan penghormatan hak asasi manusia.
GAPKI Bilang Sawit Kekinian Ramah Anak dan Pro Perempuan
Diskusi pembaca untuk berita ini