GAPKI
Sorotan terbaru dari Tag # GAPKI
Nilai Ekspor CPO RI Naik 42,88 Persen hingga Agustus 2025, Ini Kata GAPKI
Jakarta, katakabar.com - Data resmi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menunjukkan, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada Agustus mencapai 5.062 ribu ton, turun 1,00 persen dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 5.113 ribu ton. Produksi PKO mengalami penurunan menjadi 481 ribu ton dari 493 ribu ton bulan sebelumnya. Menurut Sekjen GAPKI, Hadi Soegeng, mengatakan secara tahunan hingga Agustus 2025, total produksi CPO dan PKO Indonesia telah mencapai 39,04 juta ton atau meningkat sekitar 13,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. “Hal ini disebabkan oleh cuaca tahun 2024 dan 2025 yag mendukung produksi, sehingga outlook produksi 2025 diperkirakan tumbuh minimal 10 persen,” ujarnya Selasa (28/10) kemarin, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Rabu sore. Selain itu, kata Hadi, konsumsi dalam negeri memperlihatkan tren positif dengan peningkatan dari 2.034 ribu ton pada Juli menjadi 2.100 ribu ton pada Agustus. Kenaikan terbesar terjadi pada penggunaan biodiesel yang meningkat menjadi 1.111 ribu ton atau 5,71 persen dari bulan sebelumnya sebesar 1.051 ribu ton. Konsumsi untuk kebutuhan pangan naik menjadi 806 ribu ton dari 798 ribu ton atau naik 1,00 persen. Sementara, konsumsi oleokimia sedikit turun menjadi 183 ribu ton dari 185 ribu ton atau terkoreksi setara 1,08 persen. Peningkatan konsumsi domestik ini mencerminkan semakin kuatnya peran industri hilir dalam menyerap produksi sawit nasional, terutama melalui kebijakan pemanfaatan biodiesel. Di sisi lain, ekspor minyak sawit pada Agustus tercatat menurun menjadi 3.473 ribu ton setara 1,81 persen dibandingkan Juli yang mencapai 3.537 ribu ton. Penurunan terbesar terjadi pada ekspor CPO yang berkurang signifikan dari 626 ribu ton menjadi 494 ribu ton setara 21,09 persen, serta ekspor oleokimia yang turun menjadi 436 ribu ton dari 438 ribu ton setara 0,46 persen. “Ekspor tahunan Agustus 2025 tumbuh 15,3 persen daripada tahun 2024. Hal ini disebabkan selain karena produksi 2025 yang lebih tinggi juga karena harga CPO pada tahun 2024 lebih tinggi dari minyak nabati lain, sehingga konsumen beralih ke minyak nabati lain,” terangnya. Masih Hadi, pada tahun 2025 harga premium CPO terhadap minyak nabati lain menurun sehak bulan Januari dan bahkan negatif bulan April hingga Juni. Peningkatan ekspor pada minyak sawit olahan bulan Agustus juga naik menjadi 2.343 ribu ton dari 2.307 ribu ton setara 1,56 persen. Produk olahan minyak inti sawit juga menunjukan kenaikan dari 164 ribu ton menjadi 199 ribu ton setara 21,34 persen. Jika dilihat dari negara tujuan, penurunan ekspor terutama terjadi ke India sebesar 160 ribu ton, Bangladesh 76 ribu ton, dan Pakistan 48 ribu ton. Sedang, beberapa pasar menunjukkan peningkatan serapan, seperti Malaysia yang naik 103 ribu ton, China naik 101 ribu ton, Afrika naik 40 ribu ton, Uni Eropa (EU-27) naik 32 ribu ton, Rusia naik 6 ribu ton, dan Amerika Serikat naik 4 ribu ton. Hal ini menegaskan dinamika permintaan global yang masih cukup variatif antar kawasan. Walaupun volume ekspor menurun, nilai ekspor minyak sawit Indonesia bulan Agustus justru meningkat dari US$ 3,690 miliar menjadi US$ 3,819 miliar atau naik 3,50 persen. Secara tahunan hingga Agustus 2025, nilai ekspor mencapai US$ 24,785 miliar atau naik signifikan sebesar 42,88 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 17,347 miliar. Kenaikan nilai ekspor ini didorong oleh harga rata-rata Januari–Agustus 2025 yang mencapai US$ 1.204 per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dari rata-rata Januari hingga Agustus 2024 sebesar US$ 1.009 per ton CIF Rotterdam. Dengan stok awal bulan Agustus sebesar 2.568 ribu ton dan penurunan produksi serta ekspor yang disertai peningkatan konsumsi dalam negeri, stok akhir bulan Agustus tercatat sedikit turun menjadi 2.543 ribu ton. Kinerja industri minyak sawit Indonesia sepanjang Agustus 2025 ini mencerminkan peningkatan kekuatan pasar domestik namun juga tantangan pada pasar ekspor, meskipun nilai perdagangan tetap menunjukkan hasil positif. Untuk mengatasi penurunan produksi, GAPKI melakukan serangkaian upaya untuk meningkatkan produktivitas diantaranya, menjaga biaya, melakukan introduksi serangga penyerbuk dari Tanzania, menerapkan Best Agricultural Practices sampai pada mekanisasi.
IPOC 2025, GAPKI Bakal Bahas Roadmap, Kebijakan Tarif Trump dan Penerapan EUDR
Jakarta, katakabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bakal hadirkan The 21th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025 and 2026 Price Outlook, forum strategis tahunan bakal dorong kebijakan dan prospek industri kelapa sawit ke arah yang berkelanjutan. IPOC 2025 and 2026 Price Outlook bakal digelar pada 12 hingga 14 November 2025 di Bali International Convention Center, The Westin Resort Nusa Dua Bali usung tema “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy, and Global Trade”. Sawit dinilai menjadi pilar penting topang ekspor non migas sehingga membuka peluang pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat di wilayah perkebunan. Apalagi, Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sehingga harus terus beradaptasi terhadap perubahan kebijakan, lingkungan, serta energi hijau untuk menjaga keseimbangan pasokan minyak nabati global. Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan pergelaran IPOC 2025 diharapkan dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor menghadapi tantangan sampai pada menghasilkan gagasan strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global. “IPOC forum strategis untuk membahas arah industri kelapa sawit ke depan, khususnya upaya-upaya yang dapat dilakukan para pelaku industri sawit mendorong produktivitas di tengah beragam peluang dan tantangan domestik maupun global,” ujar Eddy, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Rabu (29/10). Ketua Panitia IPOC 2025, Mona Surya, menimpali, forum ini bakal menyajikan peta jalan industri sawit menuju Indonesia Emas 2045, dan apa dampak kebijakan tarif Trump, serta implementasi EUDR terhadap pasar . Hadir di conference pembicara-pembicara ahli di bidang minyak nabati seperti Executve Director Oil World, Thomas Mielke bakal menyampaikan analisis mengenai proyeksi harga dan tren pasar minyak nabati dunia. Kamudian pendiri Glenauk Economics, Julia McGill juga akan memberikan pandangan tentang dinamika makroekonomi yang mempengaruhi sektor komoditas. Hadir pula di forum, Ryan Chen dari Cargill dan Satia Varga dari FastMarkets bakal memaparkan outlook, prospek, sampai pada cara menghadapi tantangan pasar global. Analis dunia, Dorab Mistry dari Godrej International Ltd pun hadir memberikan Keynote Speakers dari kalangan pengambil kebijakan mulai dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, Rachmad Pambudy, Wakil menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas Oegroseno, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartato. Selain conference, IPOC bakal hadirkan pameran teknologi, produk, dan inovasi terbaru industri sawit dari sektor hulu sampai hilir.
PoweRRR Project, kolaborasi Baru GAPKI-Solidaridad Berdayakan 3.500 Perempuan Sawit di Desa
Samarinda, katakabar.com - PoweRRR Project, kolaborasi baru GAPKI-Solidaridad, resmi dimulai lewat acara Kick-off Meeting di Samarinda, Kamis (23/10) kemarin. Proyek ini meliputi pelatihan budi daya kebun Good Agriculture Practices (GAP), literasi keuangan, kesadaran K3, dan pengasuhan anak, bakal jangkau sebanyak 3.500 perempuan hingga penghujung 2026 mendatang. Perempuan petani pemilik dan perempuan buruh tani sebagai pilot project dimulai di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Paser di Provinsi Kalimantan Timur. Proyek ini mendapat dukungan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan saat audiensi di awal Oktober 2025 lalu di Jakarta. Lebih strategis lagi melibatkan serikat buruh yang tergabung dalam Jejaring Serikat Buruh JAPBUSI dan JAGA SAWITAN. Pengusaha, Buruh dan NGO bekerja sama. Ini bukti GAPKI sebagai organisasi yang terbuka melakukan aksi, dan inisiatif progresif, serta konsisten. Perempuan adalah pilar penting industri sawit. Mereka bagian dari 16 juta total pekerja sawit nasional menopang ragam aktivitas. Dari peran eksekutif, pekerja perusahaan hingga petani dan buruh tani. Industri sawit pun terus berupaya mewujudkan terwujudnya keadilan dan kesetaraan jender. “Ini bukan saja soal bagian dari pemenuhan standar sawit berkelanjutan dan kepatuhan hukum. Lebih dari itu, bukti nyata industri sawit penting dan penopang mimpi Indonesia Emas 2045,” uja Ketua Bidang Pengembangan SDM Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Sumarjono Saragih, dilansir dari laman agorfarm.co.id, Jumat (24/10). Menurut Sumarjono, perempuan berdaya, haknya dihormati, dipenuhi dan dilindungi. Ini jadi fondasi penting dan kontribusi nyata dari industri sawit yang ada di perdesaan. Sejalan dengan agenda Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, membangun dari desa.
GAPKI dan APHI Teken MoU Cegah dan Kendalikan Karhutla
Jakarta, katakabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, tandatangani nota kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Soewarso, Kamis (16/10) lalu, tentang upaya pencegahan dan pengendalian Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia. "UPaya pencegahan dan pengendalian Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, perlu kerja sama multipihak untuk mewujudkan cita cita bersama agar tidak ada kebakaran lahan. “Dunia usaha dapat mengambil peran positif dalam membantu pengendalian Karhutla,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Selasa (21/10). Dijelaskan Eddy, kerja sama ini tindak lanjut dari roadshow kunjungan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq beberapa waktu lalu di berbagai wilayah di Indonesia yang meninjau kesiapan perkebunan kelapa sawit mengenai pencegahan kebakaran lahan. Kedua organisasi akan saling bantu, dan secara bersama melakukan pembinaan masyarakat upaya pengendalian Karhutla. Melalui program-program bersama yang akan dilakukan kedua organisasi itu, ulas Eddy, kapasitas, dan peran, serta masyarakat pencegahan dan pengendalian Karhutla diharapkan semakin kuat. Di mana partisipasi masyarakat pengelolaan sumber daya alam tanpa pembakaran kian meningkat. Selain meningkatkan kapasitas dan kepedulian masyarakat, sambu Eddy, melalui nota kesepekatan tersebut, baik GAPKI maupun APHI bakal bentuk model pembinaan Desa Peduli Api atau Kelompok Tani Peduli Api sebagai percontohan lintas sektor. “Melalui MoU ini kami bersama-sama akan membangun mekanisme koordinasi, patroli, serta respon cepat terhadap bahaya Karhutla,” timpal Ketua Umum APHI, Soewarso.
GAPKI Bilang Sawit Kekinian Ramah Anak dan Pro Perempuan
Kubu Raya, katakabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bilang sawit kekinian ramah anak, dan pro perempuan. Itu terkait sorotan mengenai isu-isu hak asasi manusia, pekerja anak, dan perlindungan perempuan di industri kelapa sawit Indonesia yang luas baik dari sisi kontribusi ekonomi maupun tantangan sosialnya. Lantaran itu tak bisa dihindari, GAPKI terus mendorong kolaborasi multipihak antara petani, dan pengusaha untuk memastikan sawit berkelanjutan dan ramah manusia. “Petani dan pengusaha punya kepentingan dan tanggung jawab yang sama dalam aspek manusia, memastikan nasib dan harkat jutaan orang yang hidup dari sawit,” ujar Ketua Bidang Sumber Daya Manusia GAPKI, Sumarjono Saragih saat acara 5th Indonesia Palm Oil Smallholders Conference & Expo (IPOSC), dilansir dari laman EMG, Ahad (12/10. Petani sawit mengelola sekitar 42 persen kebun nasional, melibatkan lebih dari 2 juta keluarga. Sedang jumlah pekerja perkebunan sawit diperkirakan mencapai 16 juta orang, termasuk perempuan yang menjadi kelompok rentan. Kurun beberapa tahun terakhir, isu pekerja anak dan hak perempuan mendapat perhatian serius dari pemerintah, NGO, serta pasar global. Sebagai langkah konkret, GAPKI meluncurkan kampanye Sawit Indonesia Ramah Anak (SIRA) dan Sawit Indonesia Ramah Pekerja Perempuan (Sarampuan). Program ini bertujuan memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak bermain dan pendidikan, sementara perempuan mendapat perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi serta didorong untuk berpartisipasi secara setara di sektor sawit. Kolaborasi GAPKI kini diperluas dengan melibatkan organisasi petani. Tujuh organisasi yang tergabung dalam Perkumpulan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) menandatangani komitmen aksi bersama di IPOSC, Pontianak, pada 24 September 2025. Petani diharapkan memahami dan menerapkan prinsip SIRA dan SARAMPUAN, mengadopsi praktik baik yang sudah dijalankan di perusahaan sawit besar. Pendekatan ini menegaskan kehadiran anak di kebun bukan berarti mereka bekerja, melainkan bagian dari edukasi dan regenerasi petani. Hak-hak anak tetap dihormati, begitu pula perlindungan perempuan dijamin, termasuk akses yang adil dalam aktivitas produksi. Dengan semua inisiatif ini, industri sawit Indonesia bukan sekadar berkelanjutan secara lingkungan, tetapi juga ramah anak dan perempuan. GAPKI menegaskan sawit bisa menjadi lokomotif pembangunan perdesaan, menciptakan peluang ekonomi sambil mendorong kesejahteraan manusia.
Gabungan Pengusaha Sawit Minta Pemerintah Pastikan Status Lahan Sitaan Satgas PKH
Palembang, katakabar.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki soroti status lahan sitaan Satga PKH. Para pengusaha 'Emas Hijau' ini minta pemerintah segera pastikan lahan sitaan itu. Menurut Gapki, status lahan sitaan tersebut sangat penting untuk mendukung keberlanjutan industri kelapa sawit. "Keberlanjutan dan kepastian usaha sangat penting. Soalnya bakal berpengaruh terhadap tenaga kerja, serta terjaminnya kualitas dan kuantitas produksi kelapa sawit," ujar Wakil Ketua Umum Gapki, Susanti di pergelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Palembang, Selasa (23/9) lalu. Kata Susanto, dilansir dari laman EMG, Kamis (25/9), kepastian status tersebut memberikan kepastian informasi bagi masyarakat. Apakah lahan dikembalikan menjadi kawasan huta atau tetap dapat diusahakan. Termasuk apakah dikelola sendiri PT Agrinas atau dikelola secara KSO perusahaan sebelumnya dan atau dengan kelembagaan petani. Pihaknya berharap masalah PKH tersebut dapat segera diselesaikan. Pihaknya juga saat ini tengah berupaya untuk lahan yang sudah mempunyai alas hak, baik itu sertifikat HGU maupun SHM yang pada dasarnya diterbitkan oleh negara, tidak menjadi objek penertiban. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dan pembentukan Satgas PKH, telah menindak sebanyak 3,3 juta hektar lahan yang masuk dalam kawasan hutan. 1,5 juta hektar diantaranya sudah diserahkan ke PT Agrinas Palma Nusantara untuk pengelolaan lebih lanjut.
Ketua PWI Riau Apresiasi GAPKI Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Ketua PWI Riau Apresiasi GAPKI Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Wacana Kepala Negara Perluas Lahan Sawit, Ini Kata GAPKI
Jakarta, katakabar.com - Terkait wacana Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto agar perbanyak tanam kelapa sawit tanpa harus risau dituduh deforestasi mendapat reaksi dan komentar beragam. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI, Eddy Martono menilai, yang dimaksud Pak Presiden RI lebih mengarah pada peningkatan produksi kelapa sawit khusus untuk mendukung salah satu program andalannya, yakni swasembada energi. "Bis jadi maksud pernyataan kepala negara adalah menanam sawit khusus untuk swasembada energi. Saat ini kan produksi sawit stagnan lantaran program peremajaan sawit rakyat atau PSR berjalan lambat," kata Eddy Martono, dilansir dari laman EMG, Rabu (1/1). Menurutnya, rencana pemerintah terus meningkatkan mandatory biodiesel dari B35 menjadi B40 hingga B100 butuh pasokan minyak sawit yang lebih besar. "Dengan tingkat produksi yang sekarang, maka otomatis ekspor bakal menurun di kemudian hari," jelasnya. Maka, ujar Eddy, untuk mempercepat capaian swasembada energi tadi, langkah yang paling potensial membuka areal sawit baru khusus untuk energi.
Petani Swadaya Belajar Pengelolaan Sarpras di Kebun Sawit Anggota GAPKI Kalbar
Pontianak, katakabar.com - Sebanyak 30 orang petani swadaya dari Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat mengikuti pelatihan pengelolaan sarana dan prasarana atau Sarpras perkebunan, dan melakukan field trip atau kunjungan lapangan ke kebun anggota GAPKI Cabang Kalimantan Barat, PT Hartono Plantation Indonesia atau HPI Agro Palm Oil Unit. BPDPKS atau Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkebunan dengan penunjukan LPP Agro Nusantara sebagai provider pelaksana yang melaksanakan program pelatihan. Kegiatan ini upaya BPDPKS untuk mempersiapkan SDM sistem industri kelapa sawit, terutama untuk sektor hulu dan pabrik kelapa sawit dengan prioritas perkebunan rakyat. “Sebelum melakukan kunjungan lapangan ke kebun, para peserta lebih duu diberikan materi pelatihan kelas selama 2 hari di Pontianak,” kata Fadhli Fauzi, Pimpinan Khusus dari LPP Agro Nusantara, lewatbketerangan resmi GAPKI Kalimantan Barat, dilansir dari laman EMG, Minggu (8/12). Menurut Fadhli, dengan adanya pelatihan pengelolaan sarpras perkebunan ini, diharapkan petani swadaya dapat meningkatkan produktivitas kebunnya. Para peserta pelatihan disambut Regional Controller HPI Palm Oil Unit, Kiajar Rajagukguk. Mewakili manajemen, Kiajar menyampaikan sedikit profil kebun dan mengapresiasi program yang bagus ini. "Harapannya program ini dapat meningkatkan kualitas perkebunan kelapa sawit yang sustainable dan menghilangkan persepsi negatif terhadap perkebunan kelapa sawit di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat," jelasnya.
GAPKI Kalbar Dipuji Bantu Renovasi Gedung Pusat pelatihan
Pontianak, katakabar. com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI Cabang Kalimantan Barat terima penghargaan dari Pemprov Kalbar atas kontribusi nyata yang diberikan dalam merenovasi gedung Pusat Pelatihan Kerja Provinsi Kalbar. Penghargaan ini diberikan Pj Gubernur Kalbar, Harisson, kepada Ketua GAPKI Kalbar, Purwati Munir.