Pontianak, katakabar.com - Industri kelapa sawit nasional punya peran vital pada penerimaan devisa negara. Pada 2022 lalu, kelapa sawit sumbang Rp600 triliun untuk devisa negara. Ini rekor tertinggi di sepanjang sejarah berdirinya republik indonesia.
"Sektor kelapa sawit sumbang devisa negara capai US$ 39,07 miliar setara Rp600 triliun di tahun 2022," ulas Wakil Ketua Umum III Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Satrija B Wibawa saat rapat kerja Cabang Gapki di Kalimantan Barat, pada Selasa (25/7).
Kata Satrija dilansir dari laman elaeis.co, pada Rabu (26/7), raihan tersebut ekspor tertinggi kelapa sawit sepanjang sejarah. Penerimaan devisa ini berdampak positif kepada neraca perdagangan Republik Indonesia.
Sisi lain, industri sawit mampu serap sekitar 16,2 juta tenaga kerja, dan mendukung pengembangan dan pertumbuhan wilayah," bebernya.
Menurutnya, keberhasil yang didapat tak terlepas dari peranan kinerja industri di Kalimantan Barat sebagai daerah penghasil kelapa sawit ke empat tertinggi setelah Riau, Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah.
Kinerja luar biasa ini perlu dijaga dan dirawat, biar industri sawit benar-benar memberikan kontribusi besar bagi penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja, serta berperan vital mendukung pembangunan daerah.
“Kepada seluruh anggota GAPKI di Kalimantan Barat agar terus meningkatkan kinerja untuk dapat memberikan dukungan bagi pembangunan Kalimantan Barat,” serunya.
Diceritakannya anggota GAPKI seluruh Indonesia berjumlah 727 perusahaan saat ini. Di mana total luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 3,72 juta hektar.
Di Kalimatan Barat khususnya, anggota Gapki sebanyak 76 perusahaan. Di mana luasalahan perkebunan mencapai 281 ribu hektar.
Data statistik Ditjen Perkebunan menunjukkan, luas perkebunan di Kalimantan Barat tahun 2022 tercatat 2,48 juta hektar setara 11 persen dari perkebunan besar masuk anggota GAPKI.
"GAPKI sudah jadi mitra strategis pemerintah, terutama tata kelola perkebunan besar sawit yang baik. Itu sebabnya, semua semua perusahaan kelapa sawit mestinya jadi anggota GAPKI," harapnya.
Masih Satrija, kami sangat harapkan dukungan pemerintah daerah agar semua perusahaan perkebunan kelapa sawit bergabung jadi anggota GAPKI.
Memang, terdapat berbagai tantangan saat ini boleh jadi berpotensi menghambat kinerja dan peran penting industri kelapa sawit ke depan. Contohnya, di luar negeri tuntutan sustainability semakin meningkat. Buktinya, ditetapkannya EU Deforestation-free Regulation (EUDR).
Persoalan ini jadi pekerjaan rumah agar pelaku usaha kelapa sawit menerapkan tata kelola yang baik, dan mengikuti standar keberlanjutan. Sedang dalam negeri sama tapi tak serupa, industri sawit masih menghadapi berbagai tantangan, seperti menurunnya tingkat produktivitas.
"Persoalan ini picu perlambatan tanaman kelapa sawit melalui program PSR jalur kemitraan," tegasnya.
Berbagai tantangan itu lanjutnya, bisa pengaruhi kinerja industri sawit ke depan. Untuk itu kondisi ini hendaknya mesti benar-benar dapat menjadi pemahaman dan tantangan bersama.
"Biar gimana pun, industri sawit tetap dibutuhkan dunia, baik untuk pangan, bioenergi maupun industri oleokimia di mana permintaannya terus meningkat,” sebutnya optimis.
Kelapa Sawit Sumbang Rp600 Triliun Devisa Negara Tahun 2022
Diskusi pembaca untuk berita ini