Jambi, katakabar.com - Kontrak kerja sama sudah diteken pada November 2024 lalu, puluhan petani sawit anggota Koperasi Mitra Makmur Satu atau MMS masih harap-harap cemas atau H2C tunggu pencairan dana program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR.

"Meski kontrak sudah diteken, dana yang dijanjikan belum masuk ke rekening kami. Petani tengah menunggu dengan penuh harap untuk perbaikan kebun kelapa sawit," kata Bendahara Koperasi MMS, Sidik, dilansir dari laman EMH, Sabtu (21/12) siang.

Koperasi MMS mengelola kebun sawit di Desa Sapta Mulia, Kecamatan Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Awalnya pengurus mengajukan PSR seluas 145 hektar, tapi luasan kebun yang mendapatkan rekomendasi teknis atau Rekomtek hanya 70 hektar dan dana PSR bakal dicairkan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawi atau BPDPKS sebesar Rp60 juta per hektar.

"Mayoritas kebun yang kami ajukan berproduksi rendah meski berusia muda. Ada pula telah berusia tua, yakni umurnya sekitar 25 tahun," jelasnya.

Untuk umur 4 hingga 15 tahun dan produksinya sangat rendah ada lebih dari 70 hektar. Kebun ini hanya menghasilkan 5 hingga 7 kwintal sekali panen.

"Padahal umur segitu harusnya mengeluarkan 1,2 hingga 1,5 ton sekali panen," ujarnya.

Jika musim trek, ulasnya, produksi makin anjlok, hanya 4 hingga 5 kwintal saja. Ini disebabkan pemilihan bibit yang tidak berkualitas. Saat pembangunan kebun, pengetahuan budidaya sawit petani sangat terbatas.

Diceritakannya, Koperasi MMS mitra PTPN sejak lama. Tapi, awalnya koperasi mengelola tanaman karet. Belakangan, banyak petani beralih ke kelapa sawit.

"Dulu ada sebagian petani yang mengganti tanamannya dengan kelapa sawit, sebagian lagi masih bertahan dengan pohon karet. Ini sebabnya umur sawitnya bervariasi," bebernya.

Sayangnya, ucapnya, petani yang belakangan ikut budidaya kelapa sawit tidak membeli bibit yang berkualitas. Mereka hanya memungut buah kelapa sawit yang jatuh lalu disemai dan ditanam di kebunnya. Alhasil, produksi kebunnya rendah meski usia tanam masih muda dan perawatannya cukup bagus.

"Lantaran itu, mengapa petani sangat berharap pada program PSR dari BPDPKS yang pengajuannya dibimbing Aspek-PIR. Petani berharap sekali, PSR dapat membantu meningkatkan produksi kebun, terlebih menggunakan dana hibah," imbuhnya.

Ini tahap pertama, tambahnya,.masih ada kebun yang belum diajukan. Soalnya, total kebun koperasi kita sekitar 500 hektar," tandasnya.