"Menegur bukan berarti membenci. Mengkritik bukan tanda menyerang. Justru di situlah letak cinta yang sejati terhadap Jambi".

Oleh: Nazli (Budak Dusun)

Beberapa hari ini publik Jambi dikejutkan oleh pernyataan Dr Dedek Kusnadi MSi seorang pengamat yang menilai Gubernur Al Haris tengah "dikepung isu tendensius dan teror opini negatif".

Pengamat ini bahkan menuding ada "aktor intelektual" di balik derasnya kritik terhadap proyek-proyek pemerintah provinsi, mulai dari Islamic Center, Stadion Swarnabhumi, hingga proyek multi years lainnya.

Pernyataan itu terdengar heroik, tapi justru melemahkan logika publik. Sebab, apa salahnya rakyat bersuara lantang jika yang dibangun dengan uang mereka mulai retak bahkan sebelum diresmikan?

Menyebut kritik sebagai "teror opini" sama saja menampar wajah demokrasi yang selama ini dibangun dengan susah payah.

Kritik yang muncul dari masyarakat, aktivis, hingga jurnalis sejatinya bukan serangan terhadap pribadi Al Haris. Mereka tidak sedang memusuhi gubernur, melainkan menagih tanggung jawab.

Ketika atap Islamic Center bocor, publik tidak sedang menghujat, tapi bertanya: "Uang ratusan miliar itu larinya ke mana?" Kritik adalah cermin, bukan peluru. Dan pemimpin yang matang tidak akan takut bercermin, meski pantulan itu memperlihatkan kekurangan.

Dalih yang sering diulang adalah bahwa proyek-proyek besar itu masih dalam masa pemeliharaan. Secara teknis mungkin benar. Tapi publik Jambi tidak bicara soal teknis, mereka bicara soal etika dan tanggung jawab moral.

Masa pemeliharaan bukan alasan untuk membungkam kritik. Justru di masa itulah pemerintah seharusnya transparan: buka datanya, tunjukkan siapa kontraktornya, berapa nilai kontraknya, apa yang sudah diperbaiki.

Jangan berlindung di balik istilah teknis untuk menutupi mutu yang buruk. Kalau retak saja sudah tampak sebelum usia seumur jagung, maka itu bukan soal pemeliharaan, tapi soal pengawasan yang lemah.

Tudingan bahwa ada "aktor intelektual" di balik kritik publik terhadap Al Haris justru memperlihatkan paranoia yang berlebihan dan terkesan lebay. Padahal, di era digital seperti sekarang, rakyat sudah punya kesadaran politik yang tinggi. 

Mereka tidak butuh dikomando untuk merasa kecewa melihat proyek besar yang gagal menjaga marwah pembangunan Jambi. Menuduh ada aktor di balik suara rakyat hanya menunjukkan satu hal: ketidakmampuan memahami bahwa masyarakat kini jauh lebih melek informasi dan berani bersuara tanpa takut.

Tidak ada yang menolak pembangunan. Semua orang ingin Jambi maju. Tapi pembangunan yang terburu-buru dan asal jadi hanya akan menyisakan bangunan tanpa jiwa. Pembangunan fisik tidak boleh mengorbankan akuntabilitas moral. Karena kemajuan yang sejati tidak diukur dari tinggi menara atau lebar stadion, tetapi dari seberapa jujur pemerintah mengelola uang rakyatnya.

Tulisan sang pengamat tampak terlalu sibuk membela, tapi lupa menjawab pertanyaan mendasar: mengapa proyek besar yang baru selesai sudah rusak? Apakah rakyat salah jika curiga? Apakah media bersalah jika menyoroti?

Pemerintah tidak perlu dibela dengan emosi. Ia hanya perlu dijaga dengan akuntabilitas. Karena pemerintahan yang benar-benar bekerja untuk rakyat tidak akan takut pada transparansi, apalagi pada kritik.

Jambi tidak butuh pengamat yang sibuk memoles citra. Jambi butuh suara jernih yang berani mengatakan kebenaran, meski pahit. Mereka yang mengkritik hari ini bukan sedang menjatuhkan, tapi sedang menyelamatkan.

Sebab ketika rakyat diam, di situlah kebusukan mulai tumbuh. Kritik bukan teror. Kritik adalah tanda bahwa nurani publik masih hidup. Dan selama nurani itu berdenyut di dada rakyat Jambi, jangan pernah ada yang mencoba membungkamnya dengan retorika pembelaan yang dangkal.

Jambi, 08 November 2025

Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi katakabar.com