Jakarta, katakabar.com - Council of Palm Oil Producing Countries atau CPOPC gelar Ministerial Meeting ke12 di Jakarta.

Pertemuan ini penting bagi negara-negara penghasil kelapa sawit untuk memperkuat kerja sama, dan menyusun strategi menghadapi tantangan global, mulai dari proteksionisme perdagangan hingga isu keberlanjutan lingkungan.

Para menteri dari anggota CPOPC hadir, meliputi, Indonesia, Malaysia, dan Honduras, serta perwakilan negara pengamat, termasuk Republik Demokratik Kongo atau DRC dan Nigeria.

Selain itu, pertemuan melibatkan negara-negara sedang proses keanggotaan penuh, seperti Kolombia, Ghana, dan Papua Nugini.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, yang pimpin pertemuan ini. Ia menggarisbawahi perlunya kolaborasi strategis untuk memperluas pasar sawit dan mendukung keberlanjutan industri.

Menurut Airlangga, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden RI, Prabowo Subianto berkomitmen memperkuat peran CPOPC mendukung prioritas nasional.

“Kolaborasi antara negara-negara anggota CPOPC langkah strategis untuk perluas pasar sawit global, mendukung keberlanjutan, dan menciptakan dampak positif pada pengurangan emisi karbon dunia,” ujar Airlangga, dilansir dari laman resmi BPDPKS, Senin (2/12).

Tidak hanya itu, Airlangga soroti Ia pentingnya diversifikasi energi berbasis sawit, termasuk pengembangan biodiesel B40 yang menjadi prioritas Indonesia di tahun 2025.

Menteri Perladangan dan Komoditi Malaysia, YB Datuk Seri Johari Abdul Ghani soroti isu proteksionisme perdagangan yang semakin meningkat.

Ia menyerukan perlunya strategi bersama untuk memastikan akses pasar yang inklusif dan mendukung petani kecil. Abdul Ghani memberikan apresiasi terhadap program biodiesel B40 Indonesia, yang terbukti berhasil mengurangi emisi karbon hingga 32 juta ton CO2.

Forum ini menyambut Nigeria dan DRC sebagai pengamat baru, sekaligus mempersiapkan negara-negara, seperti Kolombia, Ghana, dan Papua Nugini untuk bergabung sebagai anggota penuh.

Langkah ini mencerminkan komitmen CPOPC untuk perluas basis keanggotaan, dan perkuat pengaruhnya di tingkat global.

CPOPC sepakat untuk memprioritaskan pengembangan energi hijau berbasis kelapa sawit, termasuk Sustainable Aviation Fuel atau SAF, yang dinilai strategis untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan. Indonesia dan Malaysia memiliki posisi penting dalam memimpin inisiatif ini berkat kapasitas produksi sawit yang berkelanjutan.

Delegasi Indonesia, meliputi berbagai kementerian dan lembaga, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta BPDPKS angkat isu lain, seperti upaya penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK sebesar 41 persen melalui pemanfaatan biomassa sawit. Dukungan ini sejalan dengan target pemanasan global yang diusung oleh berbagai forum internasional.

Pelatihan bagi petani kecil menjadi salah satu agenda utama untuk memastikan mereka dapat memenuhi regulasi internasional, seperti European Union Deforestation Regulation atau EUDR, yang mulai berlaku di akhir 2026.

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam memproduksi minyak sawit yang memenuhi prinsip keberlanjutan.

CPOPC terus perluas diplomasi ekonomi dengan negara-negara konsumen utama minyak sawit seperti India, China, dan Uni Eropa.

Kerja sama dengan organisasi internasional, termasuk UN ECOSOC dan UNESCAP, semakin memperkuat posisi sawit sebagai salah satu komoditas strategis dunia. Di forum ini, delegasi Indonesia dan Malaysia menekankan pentingnya kampanye positif untuk mengatasi citra negatif minyak sawit, khususnya di pasar global.

Di sisi lain, langkah konkret dilakukan melalui promosi penggunaan limbah sawit, seperti minyak jelantah atau used cooking oil dan Palm Oil Mill Effluent atau POME,  untuk mendukung transisi energi hijau.

Program ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk sawit sekaligus memperluas pasar biodiesel berbasis sawit di dunia.

Pertemuan ini diakhiri dengan serah terima kepemimpinan CPOPC dari Indonesia kepada Malaysia untuk periode 2024–2025.

Langkah ini diharapkan semakin mempererat kerja sama antarnegara anggota dalam memajukan industri sawit global.

Dengan strategi yang komprehensif, fokus pada keberlanjutan, dan pendekatan diplomasi yang kuat, CPOPC optimis mampu menjawab tantangan global sekaligus memperluas pengaruh minyak sawit di pasar internasional.

Kolaborasi ini menjadi langkah signifikan untuk menciptakan industri sawit yang inklusif, berkelanjutan, dan berkontribusi pada masa depan energi hijau dunia.