Pekanbaru, katakabar.com - Gerakan Pramuka, organisasi kepanduan yang selama ini dikenal sebagai wadah pembinaan karakter, disiplin, dan kepemimpinan generasi muda Indonesia, kini tengah menjadi sorotan publik.

Pertanyaan mengemuka! Apakah Pramuka kini mulai anti kritik?
Beberapa waktu terakhir, muncul sejumlah keluhan dari anggota muda dan pegiat kepanduan di berbagai daerah. Mereka menilai ruang dialog dan evaluasi dalam tubuh organisasi mulai menyempit. Kritik sejatinya bentuk kepedulian, sering kali justru dipandang sebagai tindakan pembangkangan.

Padahal, nilai-nilai dasar Gerakan Pramuka, khususnya Dasa Dharma, jelas menegaskan pentingnya sikap “patuh dan suka bermusyawarah.” Nilai tersebut semestinya dimaknai sebagai ajakan untuk membuka ruang dialog, menerima masukan, dan memperbaiki diri demi kemajuan bersama.

“Pramuka harusnya jadi contoh organisasi yang demokratis, berjiwa kepemimpinan, dan adaptif terhadap perubahan. Kritik yang konstruktif justru harus dijadikan bahan evaluasi,”
ujar salah satu aktivis muda kepanduan di Riau kepada wartawan, Selasa (21/10).

Sejumlah pengamat kepemudaan menilai, jika Pramuka menutup diri terhadap kritik, maka organisasi ini berisiko kehilangan daya tarik di mata generasi muda.

Di tengah era keterbukaan informasi dan demokrasi digital, organisasi yang enggan berbenah dan mendengar aspirasi anggota akan tertinggal oleh zaman.

Kini, sudah saatnya seluruh unsur Gerakan Pramuka dari kwartir nasional hingga gugus depan melakukan refleksi mendalam. Apakah semangat berani, jujur, dan bertanggung jawab yang selama ini digaungkan masih benar-benar hidup di setiap kebijakan dan kegiatan organisasi?

Kritik, sejatinya, bukanlah tanda kebencian. Ia justru merupakan bentuk kecintaan agar Pramuka tetap relevan, modern, dan berpihak kepada generasi penerus bangsa.