Jakarta, katakabar.com - Republik Indonesia bisa tetapkan harga minyak kelapa sawit dunia syaratnya mesti kuasai pasar hingga 50 persen.

Saat ini RI belum mampu menetapkan harga minyak kelapa sawit di pasar internasional meski menjadi produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai untuk menetapkan harga minyak sawit setidaknya indonesia harus kuasai pasar hingga 50 persen.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono menjelaskan, pangsa pasar minyak sawit dunia saat ini 33 persen, di mana 67 persen bersumber dari minyak nabati lainya termasuk minyak biji bunga matahari.

"Kita produsen minyak sawit nomor satu di dunia, ke dua baru Malaysia. Untuk pangsa pasar sawit nabati di dunia, kita terbesar, yakni 33 persen. Lainnya Malaysia, Amerika Latin dan Afrika, semua di bawah kita. Khusus minyak sawit kita lebih dari 50 persen, barangkali kita bisa mempengaruhi harga pasar Internasional, sebab apapun yang kita lakukan pasti berpengaruh,” kata Eddy, dilansir dari laman elaeis.co, Kamis (29/8).

Menurut Eddy, harga minyak nabati dari bunga matahari jauh lebih rendah ketimbang minyak nabati kelapa sawit. Sedang, produksi minyak nabati bunga matahari  jauh lebih kecil, yakni 1 juta ton per hektar. Di mana kelapa sawit bisa mencapai 4 juta ton per tahun.

"Harga minyak sawit memang sempat tinggi pada tahun 2022 lalu, di mana dipengaruhi perang Rusia dengan Ukraina," jelasnya.

Dari catatannya, ekspor sawit pada tahun 2021 mencapai 34,9 miliar dolar AS, tahun 2022 mencapai 37,7 miliar dolar AS. Namun pada tahun 2023 turun menjadi 29,54 miliar dolar AS, ini lantaran harga minyak sawit dunia yang menurun. Sementara, hingga Mei 2024 sudah mencapai 9,78 miliar dolar AS.

"Kurun waktu 5 tahun produksi stagnan, ini disebabkan adanya larangan impor. Terus, tidak ada peremajaan atau replanting sehingga memperlambat produktivitas dan membuat produksi jadi stagnan," sebutnya.

Pada 2020 lalu, ulas Eddy, produksi sekitar 51,5 juta ton, tahun 2021 51,3 juta ton tahun 2022 sebesar 51,2 juta ton, tahun 2023 sebesar 54,8 juta ton dan hingga Mei 2024 22,1 juta ton.

Untuk konsumsi dalam negeri, tutur Eddy, mencapai 17,3 juta ton tahun 2020, 18,4 juta ton tahun 2021, tahun 2022 sebanyak 21,1 juta ton, tahun 2023 sebanyak 23,2 juta ton, dan pada tahun 2024 hingga Mei mencapai 9,5 juta ton.