Oleh: Nazli (Anak Dusun)
Sungai Batanghari yang dulu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Jambi kini perlahan sekarat. Airnya tak lagi jernih, ikan dan habitat sungai mulai lenyap, dan aroma pencemaran menguasai tepian.
Dari Sarolangun hingga Tanjabtim, yang mengalir bukan lagi sumber kehidupan, melainkan limbah tambang, sisa industri, dan bukti betapa pemerintah daerah gagal menjaga warisan alamnya sendiri.
Kerusakan Batanghari bukan bencana alam tapi ini adalah bencana kebijakan. Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), aktivitas tambang emas ilegal dibiarkan bebas.
Hutan di hulu terus digunduli, sementara di hilir, masih banyak orang yang nyaman membuang limbah ke sungai. Semua terjadi di bawah pengawasan pemerintah yang sibuk berwacana soal "pembangunan berkelanjutan", tapi tak pernah benar-benar menegakkan aturan.
Padahal, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 sudah menegaskan bahwa pemerintah wajib menjamin hak warga atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Tapi di Jambi, yang dijamin justru izin-izin untuk merusak lingkungan.
Tak heran, setiap musim hujan datang banjir makin parah, dan saat kemarau tiba, air sungai bahkan tak layak dikonsumsi. Ironinya, solusi yang ditawarkan pemerintah hanyalah acara seremonial, bersih sungai satu hari, lalu lupa esoknya.
Tak ada penegakan hukum tegas, tak ada audit lingkungan terbuka, dan tak ada keberanian mencabut izin pelaku pencemar. Batanghari mati pelan-pelan, sementara pejabatnya masih sibuk berpidato di pinggir sungai yang sekarat.
Pemerintah dan berbagai pihak secara rutin menggelar Kenduri Swarnabhumi di sepanjang Sungai Batanghari. Parade budaya, tanam pohon, doa adat, hingga tarian tradisional dikemas megah dengan tema menjaga alam dan menghormati sungai sebagai sumber peradaban.
Indah di permukaan, tapi menyakitkan jika kita melihat kenyataan di lapangan. Sungai ini bukan sekadar air yang mengalir, tapi ia adalah wajah Jambi. Dan wajah itu kini kotor, bukan karena lumpur, tapi karena abainya nurani.
Jika pemerintah tak segera bertindak tegas, maka generasi mendatang hanya akan mengenal Batanghari lewat cerita. Cerita tentang sungai megah yang mati, dan tentang pemerintah yang membiarkannya. (***)
Sungai Batanghari Mati, Pemerintah Masih Sibuk Pidato
Diskusi pembaca untuk berita ini