Palembang, katakabar.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat atau Aspek-Pir taja Bisnis Forum Kemitraan Sawit atau BFKS 2025, di Hotel Santika Pelambang, Provinsi Sumatera Selatan atau Sumsel, Selasa (23/9).
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemitraan inti plasma dalam upaya menuju Indonesia emas 2025.
Palembang jadi kota ketiga dilaksanakannya kegiatan ini. Di mana sebelumnya gelaran serupa dilaksanakan di Medan, dan Pekanbaru. Pergelaran ini didukung IAS Analysis, BSI, dan Bionusa.
Sejumlah tokoh hadir pada gelaran, yakni Ketua Umum Aspek-Pir, Setiyono, Wakil ketua Umum Gapki, Susanto, Rusman Heriawan Ketua Dewan Pengawas Aspek-Pir, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dan PTPN IV Regional VII.
Ketua Umum Aspek-pir, Setiyono menjelaskan, kegiatan ini gudang informasi dan ilmu terutama yang selaras dengan mendukung program Indonesia Emas 2045 lewat kelapa sawit berkelanjutan.
"Ini kegiatan kita yang ketiga. Sebelumnya telah kita gelar di Medan dan Pekanbaru. Setelah Pelambang rencana kita abakal gelar di Pontianak," ujar, dilansir dari laman EMG, Selasa (23/9) sore.
Kegiatan ini, ulas Setiyono, sebagai upaya untuk meningkatkan wawasan para petani yang notabenenya adalah para anggota Aspek-Pir. Di mana salah satunya dengan berkolaborasi dengan IAS Analysis, BSI dan Bionusa.
"Harapan kita tentu memberikan manfaat bagi petani. Sehingga selain target sawit berkelanjutan nasional tercapai, kesejahteraan petani terwujud," jelasnya.
Ketua Aspek-Pir Sumatera Selatan, Bambang Gianto menimpali, pihaknya berharap dengan forum bisnis ini mampu meningkatkan produktivitas kebun petani. Kemudian juga membuka wawasan baru terkait penggunaan teknologi.
"Antusias petani cukup tinggi ikuti kegiatan ini. Ada petani perwakilan dari 30 koperasi plasma yang hadir. Kemudian ada pula beberapa perusahaan anggota Gapki ikut bergabung. Kita berharap ini akan hadirkan manfaat," ucapnya.
Menurut Bambang, saat ini produktivitas kebun kelapa sawit plasma di Sumatera Selatan mulai membaik. Produksi sudah mencapai 20 hingga 31 ton per hektar per tahun. Tanaman rata-rata telah memasuki umur produktif, yakni umur 4 hingga8 tahun.
"Petani perlu wawasan tambahan untuk memaksimalkan kebun kelapa sawitnya. Diskusi interaktif dengan bebagai narasumber ini pasti akan lebih membuka ilmu pengetahuan dan pengalaman," tuturnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pengawas Aspek-Pir, Rusman Heriawan menyatakan, gelaran Business Forum Kemitraan Sawit ini tidak hanya membahas aspek bisnis saja, tetapi juga mencakup inovasi dalam budidaya serta pasca panen kelapa sawit.
"Kegiatan ini menampilkan berbagai teknologi baru yang lebih ramah lingkungan. Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk memastikan pengembangan kelapa sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan," kupasnya.
Cerita Rusman kemitraan antara Aspek-Pir dan perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong kemajuan sektor sawit nasional. Saat ini, Aspek-Pir menaungi sekitar 800 ribu hektare lahan sawit, dari total 16 juta hektare perkebunan sawit di Indonesia.
"Kelapa sawit terbukti menjadi komoditas yang paling cepat mengentaskan kemiskinan. Di berbagai daerah, peningkatan kesejahteraan petani sawit berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan, bahkan secara nasional," imbuhnya.
Menatap tahun 2045, ucapnya, Indonesia menargetkan produksi kelapa sawit mencapai 100 juta ton. Saat ini, produksi kita masih berada di angka 50 juta ton. Artinya, dibutuhkan peningkatan produksi dua kali lipat, sementara ketersediaan lahan semakin terbatas.
"Peluang besar yang bisa kita ambil adalah melalui peningkatan produktivitas. Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi para petani swadaya, yang masih menghadapi keterbatasan dalam hal akses teknologi, pembiayaan, dan kapasitas sumber daya manusia," bebernya.
Wakil Ketua Umum Gapki Susanto mengutarakan, Forum Bisnis Kemitraan Aspek-Pir dipandang sangat penting dan strategis. Sebab Aspek-Pir adalah wadah bagi Petani Plasma, yang didirikan sejak terbangunnya
kebun Plasma PIR.
"Melalui Aspek-Pir inilah, kemitraan yang sudah terbangun antara perusahaan inti dengan petani plasma dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang optimal bagi kedua belah pihak. Forum ini juga menjadi ruang untuk memperkenalkan inovasi-inovasi terbaru, seperti penyerbuk, rodentisida alami, dan produk hayati," sebutnya.
Masih Susanto, inovasi-inovasi di perkebunan sawit sangat dibutuhkan. Ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit Indonesia.
Kegiatan ini didukung IAS Analysis Ltd. Ini perusahaan penyedia teknologi pengukur rendemen kelapa sawit termutakhir saat ini dan memberikan hasil analisa yang presisi produk kelapa sawit hanya dalam waktu dua menit.
Kemudian PT Bio Sarana Indonesia atau BSI merupakan perusahaan yang fokus pada pengembangan dan produksi pestisida nabati, pupuk organik, feromon dan produk-produk alami inovatif berkualitas tinggi, salah satunya adalah atraktan kumbang penyerbuk elaeidobius utama Indonesia.
Lalu, PT Bio Industri Nusantara atau Bionusa, yang merupakan Anak Perusahaan PTPN III Holding Perkebunan Kategori Non-PTPN yang mengoperasikan pabrik untuk pengolahan Biofungisida Marfu-P, Pupuk Hayati EMAS, Pupuk Organik Kompota, Biobus, Bioriz, Bioagrodeco, dan Pupuk Cair Biocomp, Kapasitas terpasang Pabrik mencapai 50 ton per hari.
Taja BFKS 2025 di Sumsel, Ini Misi Aspek-Pir
Diskusi pembaca untuk berita ini