Tana Paser, elaeis.co - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kerja sama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) taja workshop sekitar empat hari lamanya mulai 24 hingga 27 Juli di di Kabupaten Paser Provinsi Kalimantan Timur

Workshop ini sekaligus sosialisasi aplikasi pengolahan Buah Kelapa sawit jadi Pra-CPO, guna peningkatan daya tawar petani sawit mandiri di sentra perkebunan kelapa sawit rakyat.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser, Kalimantan Timur beri pujian kepada BRIN dan BPDPKS digelarnya workshop.

"Bagi sebagian besar masyarakat tanaman kelapa sawit komoditas primadona. Di mana saat ini jadi penyumbang devisa negara terbesar non migas," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Paser, Adi Maulana dilansir dari laman elaeis.co pada Rabu (26/7).

Dijelaskan Adi, total 218.023 pekerja di perkebunan kelapa sawit di Paser. Dari total tenaga kerja itu, berjumlah 86.208 orang pekerja pola perkebunan rakyat.

"Kelapa sawit sangat menjanjikan lantaran penanaman dan perawatan mudah, dan hasilnya bisa dinikmati waktu cukup lama. Tanaman ini alami tanpa limbah produksi, sebab setiap bagian dari tanaman bermanfaat, seperti berbagai produk olahan rumah tangga, yakni minyak goreng, sabun dan lainnya. Bahkan bisa jadi pupuk kompos, batang yang ditebang menjadi bahan dasar furnitur," ulasnya. 

Menurutnya, kelapa sawit bernas di Indonesia menjadikan nusantara raja biodiesel dengan produksi 7,9 miliar liter, mengalahkan Amerika dan Jerman. 

"Kelapa sawit dinilai lumbung energi terbarukan. Di mana kelapa sawit saat ini tengah diupayakan untuk mengalihkan jenis energi utama dunia dari fossil based energy menjadi renewable green energy," bebenya. 

Data Kementerian Pertanian RI yang diolah Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit seluas 14,9 juta hektar di tahun 2022 lalu.

Di Provinsi Kalimantan Timur posisinya diurutan kelima se Indonesia dengan luas areal sekitar 1,4 juta hektar dengan hasil produksi CPO sebanyak 3.982.723 ton. 

"Perkebunan rakyat luasnya capai 268.963 hektar memproduksi 576.781 ton CPO," ujarnya. 

Memang sangat menjanjikan, tapi tak luput dari berbagai persoalan dihadapi para petani sawit swadaya.

Persoalan itu, meliputi jarak tempuh yang jauh ke pabrik, harga jual terganrung Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS), dan TBS kelapa sawit mudah rusak bila disimpan 24 jam lamanya.

Selain itu, alur rantai pasok CPO terbilang panjang, dan TBS yang dijual masih muda atau terlalu matang membusuk begitu tiba di PMKS. sampai di PKS. Celakanya, berdampak kepada pendapatan yang diterima tidak sesuai harapan para petani.

Kondisi itu lanjut Adi, dibutuhkan pemahaman agar hasil yang didapat petani jauh lebih meningkat.

"Salah satunya melalui kegiatan pelatihan pengolahan TBS menjadi pra-CPO ini," terangnya.

Pelatihan ini harap Adi, mudah-mudahan bisa jadi wadah bagi para petani kelapa sawit memperluas wawasan, dan saling tukar pendapat pengalaman secara langsung, baik dengan para narasumber maupun dengan rekan se profesi para petani sawit.

BPDPKS hendaknya bisa membantu fasilitasi pengadaan alat pengolahan atau PMKS mini dengan kapasitas 500 hingga 700 kilogram TBS kelapa sawit per jam bagi petani sawit swadaya.

"PMKS mini solusi hasil panen tidak busuk berdampak kepada meningkatnya pendapatan para petani di Paser," katanya.

"Semua stakeholder ke depan, mudah-mudahan lebih memperhatikan para petani agar hasil panen lebih meningkat dari segi kuantitas, mulai dari penanaman hingga replanting tanaman sawit tidak produktif," timpalnya.