Kolaka, katakabar.com - Kebun program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR umurnya 42 bulan telah hasilkan Tandan Buah Segar atau TBS 2,8 ton per hektar per bulan di Kolaka.
Pantas Juwahir 49 tahun sumringah saat mendengar bincang-bincang dua orang anggotanya tanaman kelapa sawit hasil program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) April 2021 lalu, sudah menghasilkan 1,4 ton Tandan Buah Segar atau TBS per hektar sekali panen.
Ini artinya, hasil sehektar kebun sebulan dipanen dua kali mencapai 2,8 ton. Padahal kebun yang ditanami bibit Simalungun dan Dampi itu, baru berumur 42 bulan.
"Iya memang dapat segitu. Perawatannya bagus, di lahan datar dekat kali pula," kata Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mulya Sari Desa Kukutio, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara, dilansir dari laman EMG, Sabtu (16/11) malam.
Pendidikan Juwahir hanya kelas 2 Sekolah Dasar (SD), Ia ikut orangtua transmigrasi umum dari Jember Jawa Timur (Jatim) ke Kolaka tahun 1983 lampau.
Ayah tiga anak ini tidak menampik kalau sebagian besar anggota kelompoknya yang berjumlah 80 orang, produksinya masih di bawah 1 ton sekali panen.
"Tapi saya yakin naik terus, yang penting dirawat dengan baik," kata Juwahir.
Jumat pekan lalu, cerita Juwahir, baru ketahuan hasil produksi anggotanya, persis saat tim Tim Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Kolaka dan Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Utara (Sultra) bertandang ke sana, mengecek perkembangan tanaman.
Di pertemuan itu baru ketahuan lantaran para anggotanya menyampaikan hasil produksi masing-masing.
Sebetulnya, quota PSR yang didapat Poktan Mulya Sari mencapai 250 hektar. Tapi, program itu masih asing bagi petani di sana, hanya 125 hektar yang baru kesampaian diremajakan.
"Waktu itu kami masih kebagian hibah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa sawit (BPDPKS) biayanya Rp25 juta per hektar. Pada tahap PO plus sekali perawatan, duit itu sudah habis. Lalu, para petani berupaya sendiri membesarkan dan merawat tanaman kebunnya, sampai sekarang," ulas Juwahir.
Biar ada penopang hidup sebelum sawit menghasilkan, Poktan lantas mengajukan bantuan tanaman sela ke Dinas Pertanian Kolaka.
"Dari bantuan itu kami bisa dapat benih jagung dan tanaman sela lain. Termasuk pupuk. Hasil tanaman sela ini lumayanlah," jelasnya.
Sedari awal, warga transmigrasi di Desa Kukutio ini sebenarnya bukan petani sawit. Mereka didatangkan pemerintah ke sana untuk menjadi petani coklat. Saat itu, mereka dibina PTPN XXIII.
Selain mendapatkan rumah di lahan 0,5 hektar, para warga transmigrasi ini dapat Lahan Usaha (LU) 1 satu hektar dan LU 2 0,75 hektar.
Tapi sayang, coklat keburu dihajar oleh Penggerek Buah Kakao (PBK). Perusahaan gulung tikar, petani pun terlantar. Dari sinilah kemudian para petani mulai banting stir, bertanam sawit.
Juwahir sendiri tidak tahu pasti berapa luas total lahan usaha transmigrasi Desa Kukutio itu. Yang dia tahu, hanya sekitar 500 hektarlah yang tanam sawit secara mandiri, sisanya jadi mitra perusahaan sawit; PT Damai Jaya Lestari.
Ditanam mandiri tadi, tidak bisa berbuat banyak. Sebab, bibit yang ditanam bibit abal-abal. Produksinya kurang dari 10 ton per hektar per tahun.
Dari sini kemudian Juwahir dan kawan-kawan mengajukan kebunnya untuk diremajakan lewat dana hibah BPDPKS tadi.
Wuih Umur Sawit 42 Bulan Kebun PSR Hasilkan TBS 2,8 Ton per Hektar per Bulan di Kolaka
Diskusi pembaca untuk berita ini