Mahasiswi
Sorotan terbaru dari Tag # Mahasiswi
Mimpi Kuliah di Luar Negeri, Mahasiswi Binus Buktikan Jalannya Lewat Study Abroad ke Taiwan
Jakarta, katakabar.com - Sejak kecil, Jeselyn Tania, mahasiswa Computer Science Binus@Kemanggisan (Binusian 2026) punya mimpi besar untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Melalui Binus, mimpi masa kecil itu menjadi kenyataan. Jeselyn saat ini tengah menempuh program study abroad di National Chi Nan University (NCNU), Taiwan, salah satu mitra universitas mitra Binus yang berlokasi di kota Nantou, daerah yang tenang, hijau, dan dikenal dengan suasana akademiknya yang internasional. Sejak awal kuliah, Jeselyn sudah tahu bahwa Binus memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman global. Saat memasuki masa Enrichment Semester, ia menemukan jalur yang paling sesuai dengan mimpinya: Study Abroad Track. “Waktu tim International Office (IO) Binus memperkenalkan program ini, aku langsung tahu kalau ini saatnya aku wujudkan mimpi masa kecilku,” ceritanya. Jeselyn apresiasi peran Binus International Office (IO) yang telah mendampinginya sejak awal proses keberangkatan. “Tim IO benar-benar membantu dari awal mulai dari pengurusan dokumen, visa, sampai Learning Agreement. Bahkan ada parents meeting juga, jadi orang tuaku bisa ikut memahami bagaimana prosesnya berjalan,” ujarnya. Bagi Jeselyn, memilih untuk belajar di NCNU bukan tanpa alasan. Universitas ini memiliki reputasi yang kuat di bidang teknologi dan sains, serta lingkungan kampus yang multikultural dan kondusif untuk mahasiswa internasional. Selama menjalani studi di Taiwan, Jeselyn menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait bahasa pengantar yang sebagian besar menggunakan Mandarin. Meski demikian, ia berhasil beradaptasi dengan cepat. “Awalnya sulit karena mata kuliah berbahasa Inggris tidak banyak, tapi lama-lama terbiasa. Apalagi budaya dan kebiasaan di Taiwan mirip dengan Indonesia, jadi aku bisa menyesuaikan diri,” tuturnya. Di luar kelas, banyak pula pengalaman berkesan yang ia dapatkan. Jeselyn bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara, seperti Italia, Peru, Jepang, Vietnam, Malaysia, Perancis, India, dan tentu saja Taiwan, yang semuanya memperkaya pengalaman lintas budayanya. Pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari belajar di luar negeri bukan hanya soal akademik, tetapi tentang memahami dunia dan menemukan versi terbaik dari diri sendiri. Program Study Abroad Enrichment salah satu bentuk nyata komitmen Binus University menyiapkan mahasiswa menjadi global citizen yang kompeten dan berdaya saing internasional. Melalui kemitraan strategis dengan berbagai universitas ternama di dunia, mahasiswa BINUS mendapatkan kesempatan untuk belajar lintas budaya, memperluas jaringan global, serta mengasah perspektif internasional. Sebagai kampus Digital Technology, Binus @Kemanggisan menjadi tempat berkembang yang tepat bagi mahasiswa seperti Jeselyn untuk menyiapkan diri menghadapi era global.
Mahasiswa Digital Communication Binus @Malang Terpilih di Program Peacebuilder ASEAN
Malang, katakabar.com - Di tengah dunia terus berubah dan sering dilanda konflik sosial maupun budaya, peran generasi muda sebagai pembawa pesan perdamaian menjadi semakin penting. Tetapi, menjadi seorang peacebuilder tidak hanya membutuhkan niat baik mesti bermodal pengetahuan, empati, dan kemampuan untuk memahami keberagaman di tingkat global. Semangat itu yang dibawa Jessy Evelyn Goman, mahasiswi Program Studi Digital Communication Binus @Malang, yang berhasil meraih beasiswa prestisius ASEAN Youth Peacebuilder Training Program, sebuah inisiatif dari Rotary Foundation yang berfokus pada pengembangan pemimpin muda di bidang perdamaian dunia. Program ini bakal berlangsung pada 17 hingga 29 Januari 2026 mendatang di Sunway University, Malaysia, dan menghadirkan pelatihan akademis jangka pendek serta pengalaman lapangan terapan yang menyiapkan peserta untuk menjadi agen perubahan di komunitas mereka. Bagi Jessy, kesempatan ini tidak datang begitu saja. Ia mengaku perjalanan menuju program internasional ini bermula secara tidak terduga. Awalnya, ia bergabung dalam sebuah organisasi kampus atas ajakan teman sesama mahasiswa. Dari pengalaman itu, ia belajar tentang kepemimpinan dan kerja tim dua hal yang menjadi fondasi penting bagi setiap pembangun perdamaian. Dua tahun kemudian, ketika menerima flyer pendaftaran ASEAN Youth Peacebuilder, ia memutuskan untuk mencoba meski sempat ragu. “Awalnya aku pikir ini di luar jangkauanku, tapi dengan dorongan keluarga dan teman-teman, akhirnya aku berani daftar. Prosesnya panjang, mulai dari wawancara tentang Rotary dan isu perdamaian, hingga mengikuti sesi pelatihan via Zoom setiap Senin dari 8 September sampai 21 Oktober. Di sana, kami bertemu dengan berbagai expert dunia yang melatih kami menjadi seorang peacebuilder. Dan pada 21 Oktober, diumumkan aku lolos menjadi salah satu peserta dari Indonesia,” cerita Jessy. Dari seluruh pendaftar di Indonesia, ulas Jessy, hanya tiga peserta yang berhasil lolos seleksi akhir dan Jessy menjadi salah satunya. Ia menyebut bahwa pengalaman belajar di Binus @Malang berperan besar dalam membentuk kepercayaan diri dan cara berpikirnya sebagai k muda yang peka terhadap isu global. “If you don't take a step forward, kamu akan stuck di tempat yang sama. Binusmembawaku satu langkah depan lebih besar,” terang Jessy dengan penuh semangat. Kisah Jessy menjadi bukti keberanian untuk mencoba bisa membuka peluang yang tidak terduga. Melalui lingkungan belajar yang mendorong eksplorasi dan keterlibatan global, Binus @Malang terus mendukung mahasiswanya untuk menemukan arah dan makna dalam setiap langkah yang mereka ambil. Tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten di bidangnya, tetapi juga pribadi yang mampu membawa nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian ke ranah yang lebih luas.
Mahasiswi di Langkat Jadi Korban Rudapaksa Hingga Pemerasan, Ancam Video 'Syur' Disebar
Langkat, Katakabar.com - Nasib miris dialami mahasiswi berusia 21 tahun asal Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bunga (nama samaran) menjadi korban rudapaksa...
Dari Binus International ke Brisbane: Perjalanan Fannisa Widya Puteri Kuliah Double Degree
Australia, katakabar.com - Bayangkan harus meninggalkan kenyamanan rumah, jauh dari keluarga dan teman-teman, lalu memulai hidup baru di negara lain. Pengalaman itu yang dirasakan Fannisa Widya Puteri, mahasiswa Binus International yang berkesempatan menjalani kuliah double degree di Queensland University of Technology atau QUT, Australia. Selama 18 bulan masa studi di QUT, Fannisa fokus mendalami industri media dan komunikasi. Tapi, bukan hanya sekadar belajar, ia dituntut untuk beradaptasi dengan sistem akademik yang berbeda, gaya hidup baru, dan tantangan hidup mandiri di negeri orang. Bagaimana Binusian satu ini melalui kesulitan tersebut? Ikuti ceritanya berikut ini! Fannisa tidak benar-benar sendiri dalam mengarungi perjalanan besar ini. Sejak awal, Binus University International berkomitmen memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh global experience. Salah satu bentuk nyatanya diwujudkan melalui program Double Degree, yang memungkinkan mahasiswa untuk menempuh pendidikan tinggi di dua universitas. Mahasiswa menjalani sebagian masa studi di Binus University International, lalu melanjutkannya di universitas mitra yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Demi kelancaran kuliah double degree tersebut, Binus University International memberikan dukungan menyeluruh kepada mahasiswa yang akan berangkat, mulai dari persiapan berkas dan administrasi, pelatihan pra-keberangkatan, hingga pendampingan personal. Dengan persiapan matang, setiap mahasiswa double degree bisa berkembang maksimal. Sempat Kesulitan Temukan Ritme Belajar Kuliah di luar negeri merupakan hal yang benar-benar baru bagi Fannisa. Ini adalah pengalaman pertamanya hidup mandiri di negara baru. Di sisi lain, ia harus beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda di Queensland University of Technology. Fannisa mengaku sempat merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri. “Awalnya, saya merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan sistem akademis yang berbeda (di QUT) dan menemukan ritme yang pas saat diskusi di kelas,” ujar Fannisa. “Salah satu perbedaan terbesar adalah tuntutan membaca materi yang jauh lebih banyak, dan saya belum terbiasa dengan hal tersebut," tuturnya. Karena adanya kesulitan tersebut, semester pertama kuliah double degree di QUT pun jadi terasa menantang secara akademis. Dalam situasi seperti itu, Fannisa didorong untuk keluar dari zona nyaman demi mengejar perbedaan ritme dan metode pembelajaran. Seiring berjalannya waktu, ia pun berhasil menyesuaikan diri dan bahkan menjadi lebih percaya diri, baik secara akademis maupun kehidupan sosial.
Tersungkur dan Tewas Mendadak, Kematian Mahasiswi di Taman Lima Puluh Masih Misterius
Mahasiswa ditemukan meninggal di Taman Lima Puluh Kabupaten Batu Bara
Mahasiswi Japanese Popular Culture Binus University Siap Hadapi Dunia Industri
Jakarta, katakabar.com - Jenjang perkuliahan fase penentu masa depan, di mana mahasiswa tidak hanya dituntut untuk belajar secara akademis, tapi mengasah keterampilan praktis dan membangun pengalaman nyata. Binus University menjawab kebutuhan ini melalui Program Enrichment, sebuah program yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terjun ke dunia profesional di mana salah satunya dengan melalui program internship. Mahasiswi Program Japanese Popular Culture (JPC) Binus University, Irene Dharmawan saat ini tengah menjalani program internship di sebuah perusahaan yaitu J Trust Bank. Irene aktif mengaplikasikan kemampuan bahasa Jepang yang ia pelajari di bangku kuliah ke dalam dunia kerja nyata. Sejak duduk di bangku SMA, Irene telah memiliki ketertarikan terhadap budaya Jepang. Ketertarikan itu membawanya mengikuti berbagai ekstrakurikuler bahasa Jepang, hingga akhirnya meyakinkannya untuk memilih Japanese Popular Culture, Binus University sebagai pilihan untuk mengembangkan potensinya.
Dorr ! Usai Begal Mahasiswi, Kawanan Begal Ditembak, 3 Buron 1 Ketangkap !!
Personel Unit Reskrim Polsek Medan Baru menembak kawanan begal yang meresahkan masyarakat di wilayah hukum Polrestabes Medan
Tragedi Mahasiswi UMSU dalam Kecelakaan Truk Muatan Beton
Mahasiswi UMSU meninggal dalam kecelakaan lalulintas di Helvet saat pulang kuliah