Oleh: Duri Institute,Agung Marsudi
katakabar.com - Jakarta tak tidur. Makan tidak lapar. Minum tidak haus. Demokrasi berbayar. Semua serba bergaya. Tanpa rasa.
Di gelap malam, ada secangkir nescafe alegria, 'Got your lipstick mark still on your coffee cup', kata Gary Barlow (Back for Good).
Di cafe sudut kota, segelas es teh harga 2 kilo beras. Urban akrab dengan warteg, dan tikus yang berlarian, unjuk diri di keramaian. Transportasi umum mengaum. Kemacetan adalah mata pelajaran kesabaran yang tak pernah diujiankan.
Di jembatan penyeberangan, para peminta-minta, melihat ganasnya kota dengan senyum kecut, kosong perut. Sementara, di kantor-kantor partai politik bertumpuk proposal minta-minta, ambil uang negara.
Jakarta tak bisa meneteskan air mata. Matanya berdebu. Airnya kering. Nyinyir hujan yang membuatnya sering kebanjiran. Bukan soal siapa gubernur. Air tak pernah tebang pilih. Ia mengalir, meluap suka-suka. Siapapun presidennya.
Jakarta bergulat, bergelut dengan politik kemelut. Dua arus besar massa, dulu puja puji Jokowi kini pembenci Jokowi. Dulu puja puji Prabowo, kini pembenci Prabowo. Dua arus itu nyata, atau boleh jadi hanya pura-pura. Untuk bertemu di putaran kedua.
Anies, Prabowo, Ganjar, hanya pelari yang peras keringat, mau adu cepat pindah ibukota. Meninggalkan Jakarta, tanpa rasa.
Jakarta Tanpa Rasa
Diskusi pembaca untuk berita ini