Jakarta, katakabar.com - Lelaki 46 tahun itu mematut-matut studio mini yang baru hitungan bulan dibikin di sebuah bangunan sederhana di kawasan Cawang Bawah Jakarta Timur itu.

Sejak 14 tahun silam, orang-orang sudah mengenal bangunan itu bernama New Hunter Pub (NHP), tempat nongkrong orang-orang yang kangen dengan Bona Pasogit alias kampung halaman.

Sebab di dalam gedung yang didisain bikin nyaman itu, ragam suguhan musik dan lagu yang didendangkan, termasuk uning-uningan, embas-embas.

Baca juga: Jelang 'Satu Jiwa Indonesia' di Cawang Bawah

"Kalau cuma untuk mengcover lagu-lagu orang, kayaknya studio ini mubazir lah. Belum lagi harus berurusan dengan izin ini itu lantaran menyanyikan kembali lagu ciptaan orang," sambil menyulut rokoknya, ayah dua anak ini semakin memelototi studio rekaman itu.

"Orang bisa menciptakan lagu, kenapa kami enggak bisa? Fasilitas sudah tergolong lengkap, home band, ada. Soal kualitas, kayaknya tergantung momen dan orang yang mendengarnya lah," Rudolf Naibaho mulai menyemangati diri.

Pertengahan April lalu, pemilik NHP ini ketemu dengan Muhammad Ansor, seorang lelaki yang sudah cukup lama ogah berurusan dengan musik.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul, ketahuan lah bahwa dulu, Ansor suka mengarang lagu. Bahkan dua hasil karyanya pernah didendangkan oleh Lady Rocker legenderis, Nicky Astria.

"Beuhhh...kalau ciptaanmu sudah dinyanyikan penyanyi papan atas, berarti kita bisalah membikin lagu. Ngapain kita sibuk mengcover lagu-lagu orang? Aku minta, kaulah yang memotivasi kawan-kawan kita nanti. Aku yakin kau bisa dan mereka pasti bisa!" lelaki yang jamak disapa Bang Toton ini menatap Ansor. Wajahnya kelihatan optimis.

Dipandangi seperti itu, Ansor langsung mengiakan. Padahal sebelumnya lelaki ini sudah tak mau lagi mengurusi musik. Dan dia malah sempat meminta lagu ciptaannya enggak usah dirilis di Kalkun Community Family (KCF).

Inilah yang membikin istri Ansor heran bercampur senang. "Terimakasih banyak buat KCF yang sudah membikin semangat kreatif bang Ansor, bangkit lagi," begitu istri Ansor berujar.

Dapat motor penggerak yang moncer, Rudolf makin semangat. Dia kumpulkan semua musisi-musisi yang selama ini dia bina, bahkan yang baru dia bina, juga dia panggil.

"Bang Ansor ini, mulai sekarang jadi motivator kalian. Kalian harus bisa menciptakan lagu. Buat apa kita punya studio, home band, kalau kita cuma bisa cover lagu. Malu kita!" omongan Rudolf rada tegas.

Tak berlebihan Rudolf bersikap begitu. Sebab sederet musisi yang dia bina tadi, kebanyakan adalah orang-orang yang sempat putus asa dan ogah main musik.

Sementara Rudolf tahu, mereka sebenarnya punya kualitas yang mumpuni. "Saat ini kami memang bukan siapa-siapa, tapi dengan pecutan yang terus menerus, saya yakin suatu saat kami akan luar biasa. Kami yakin itu, sebab kami petarung sejati, bukan kaleng-kaleng," tegas Rudolf.

Apa yang dibilang Rudolf enggak isapan jempol. Deli Tua Ginting yang sempat 'tiarap', setelah digembleng tiga hari tiga malam, sudah sukses membikin lagu berjudul; 'Sabar Do Ho'.

"Deli ini jiwa seninya tinggi, awalnya dia pemain terompet, sekarang jadi drummer. Lalu si pemain bass, Manuntun Hutajulu sudah pula berhasil bikin lagu dengan judul; Sabar Maho Inang. Ada lagi
Lanser Sihombing, Judika nya KCF. Karakter suaranya kayak Bon Jovi, di berhasil pula menciptakan lagu berjudul; Masihol Tu Huta," urai Rudolf.

Yang membikin Rudolf makin semangat, gitaris home band NHP, Iskandar yang dipercaya sebagai tukang aransemen music, adalah jebolan institut seni. Lelaki berdarah Minang pun sudah membikin sederet lagu. Satu yang paling fenomenal di kalangan orang-orang KCF adalah Bangkin dan Berlari (BdB).

"Alhamdulillah, berkat pecutan itu, 30 lagu sudah tercipta oleh 18 orang. Studio yang tadinya cuma untuk nyontek lagu-lagu orang, sudah berubah menjadi ruang kreatif olah fikir murni," mimik Rudolf berubah haru.

Lantaran Rudolf paham kalau menciptakan lagu dan mengaransemen musik itu enggak gampang, Rudolf ingin 30 lagu hasil gemblengan tadi diabadikan lewat cakram-cakram yang bisa disebarluaskan.

"Ini sebuah karya besar yang lahir dari pecutan semangat untuk Bangkit dan Berlari. Makanya kalau hanya untuk sekadar livestreaming, enggak sebanding rasanya dengan perjuangan mereka," ujar Rudolf.

Satu hal yang kemudian dipesankan oleh Rudolf kepada semua warga KCF; Di dunia ini, enggak ada yang mustahil. Menyatukan Indonesia lewat musik, bukan sesuatu yang imposible. Jadi, menyatulah, enggak bisa kita satukan Indonesia ini jika di KCF saja orang-orangnya enggak bisa menyatu.

"Kita gebrak dunia hiburan ini dari kita yang enggak siapa-siapa, menjadi sesuatu yang diperhitungkan. Saya yakin kami bisa dan musti bisa. Sebab di KCF itu kental dengan persaudaraan. Saling menopang, mengikat dan mengangkat adalah prinsip kami. Semoga 30 karya cipta ini, menjadi warna dan semangat baru bagi KCF dan bagi siapa saja," Rudolf berharap.