Bom Waktu Uang Dingin Dari Anong! Riau
Riau
Selasa, 14 Juli 2026 | 23:14 WIB

Bom Waktu Uang Dingin Dari Anong!

Karir Anong terbilang melesat dibanding seangkatannya setelah jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tahun 2000.

PTPN IV PalmCo Akselerasi Peremajaan Sawit Petani di Riau Perkuat Penerapan Program B50 Sawit
Sawit
Kamis, 16 Juli 2026 | 10:55 WIB

PTPN IV PalmCo Akselerasi Peremajaan Sawit Petani di Riau Perkuat Penerapan Program B50

Pekanbaru, katakabar.com - PTPN IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara terus mengakselerasi peremajaan sawit petani di Riau sebagai bagian mendukung implementasi program B50 atau kebijakan mandatori pemerintah Indonesia yang mewajibkan campuran bahan bakar solar dengan 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit. Hingga akhir 2025, PTPN IV PalmCo tercatat telah melangsungkan peremajaan sawit petani Riau mencapai 12.600 hektare. Peremajaan tersebut dilangsungkan PTPN IV PalmCo melalui entitasnya PTPN IV Regional III secara berkelanjutan, diawali dari program revitalisasi perkebunan pada 2012 dan dilanjutkan dengan peremajaan sawit rakyat (PSR) pada 2019 hingga saat ini. Sementara sepanjang 2026 ini, entitas kembali menargetkan program peremajaan sawit yang terus dilangsungkan secara berkelanjutan mencapai 4.500 ha di Bumi Lancang Kuning. "Insya Allah, sampai akhir tahun ini program peremajaan sawit di Riau dapat mencapai 17.100 Ha. Alhamdulillah progresnya sangat baik, dan rekan-rekan petani juga sangat antusias terhadap program PSR ini," kata Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya di Pekanbaru, Jumat (19/6) lalu. Guna mewujudkan target tersebut, lanjut Bambang, PTPN IV Regional III melalui Distrik Petani Mitra terus menggesa setiap tahapan, mulai dari pendataan luasan, verifikasi, hingga penerbitan rekomendasi teknis (Rekomtek). Program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang dilangsungkan PTPN IV sendiri merupakan salah satu inisiatif perusahaan perkebunan milik negara tersebut untuk memangkas ketimpangan produktivitas sawit petani dan sawit perusahaan yang cukup dalam. Sebagai perbandingan, berdasarkan data yang dirangkum dari berbagai sumber, rerata produktivitas sawit petani Indonesia saat ini berkisar 7-12 ton per hektare per tahun. Sementara, produktivitas sawit korporasi mampu menyentuh angka lebih dari 20 ton perhektare pertahun. Untuk itu, peremajaan sawit menjadi inisiatif penting guna memangkas ketimpangan dan mendongkrak sawit petani sehingga produktivitas yang dihasilkan kian optimal. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Riau itu menjelaskan, saat ini produktivitas sawit petani mitra PTPN IV Regional III yang telah melangsungkan peremajaan berhasil meningkat signifikan. Sebagai contoh, petani mitra yang tergabung dalam koperasi dan melangsungkan peremajaan melalui program revitalisasi mampu menghasilkan produktivitas mencapai 29,10 ton pe hektare per tahun. Senada, ribuan petani mitra yang mengikuti program PSR dengan usia sawit TM-3 mampu mencatat hasil produktivitas mencapai 23,94 ton per hektare per tahun, jauh di atas standar yang ditetapkan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebesar 19 ton per hektare per tahun. Lebih jauh, ia menuturkan program peremajaan sawit yang terus didorong Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa tersebut diharapkan menjadi langkah penting untuk mendukung kebijakan pemerintah yang segera menerapkan kebijakan B50 awal Juli 2026 mendatang. "Kami ingin turut ambil bagian dan berkontribusi meningkatkan produksi CPO nasional dengan memperkuat petani sawit sehingga produksi rekan-rekan petani meningkat dan pada akhirnya bisa mendukung kebijakan pemerintah untuk menjadikan sawit sebagai sumber energi baru terbarukan," jelas Bambang. Implementasi kebijakan biodiesel B50 sendiri direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 dan berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun sepanjang tahun ini. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya kebutuhan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar seiring peningkatan penggunaan campuran biodiesel berbasis sawit. Secara keseluruhan, PTPN IV Regional III diketahui telah melangsungkan kemitraan plasma mencapai 56.500 hektare yang melibatkan tidak kurang dari 28.000 petani sejak perusahaan berdiri. Saat ini, ribuan petani mitra tersebut telah melangsungkan peremajaan guna mengganti sawit renta mereka dengan tanaman baru yang lebih produktif. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan PSR tidak terlepas dari kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) yang selama ini menjadi mitra strategis perusahaan. “Kami juga didukung teman-teman Aspekpir dalam mengakselerasi program ini, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lebih optimal,” jelasnya. Selain program peremajaan, PTPN IV Regional III juga aktif mendukung peningkatan produktivitas petani melalui penyediaan bibit unggul bersertifikat. Sejak program tersebut diluncurkan pada 2019, entitas telah menyalurkan sedikitnya 2,56 juta bibit sawit unggul kepada 8.900 petani. Bambang menuturkan keberhasilan kemitraan PTPN IV karena pola kemitraan yang dibangun dengan mengedepankan pola single management yang transparan telah menumbuhkan kepercayaan. Melalui pola tersebut, kultur teknis petani mitra akan setara dengan standar tinggi perusahaan, mulai dari penumbangan sawit renta, pemanfaatan bibit sawit unggul bersertifikat, proses penanaman, pemupukan, hingga pemeliharaan untuk diterapkan di areal peremajaan sawit masyarakat. Selanjutnya, PTPN IV juga turut menyiapkan bibit sawit unggul bersertifikat hingga pendampingan dan penguatan kelembagaan koperasi serta pelatihan kepada para petani sehingga mampu meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani dalam mewujudkan perkebunan berkelanjutan. Dengan target perluasan PSR serta dukungan bibit unggul dan penguatan aspek keberlanjutan, PTPN IV Regional III optimistis sektor sawit rakyat di Riau dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan terhadap program keberlanjutan serta memperkuat pendapatan petani sawit.

PERISAI 2026 Siap Digelar, BPDP Tampilkan Inovasi Sawit Mulai Pangan hingga Energi Sawit
Sawit
Kamis, 16 Juli 2026 | 09:03 WIB

PERISAI 2026 Siap Digelar, BPDP Tampilkan Inovasi Sawit Mulai Pangan hingga Energi

Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bakal menggelar Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 pada 20 hingga 21 Juli 2026 sebagai ajang diseminasi hasil riset dan inovasi kelapa sawit terbesar di Indonesia. Angkat  tema "Shaping The Palm Oil Industry Ecosystem For A Sustainable Future", PERISAI 2026 menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem riset, inovasi, serta hilirisasi industri sawit nasional. Sebagai rangkaian menuju pergelaran PERISAI 2026, BPDP taja Media Briefing Road to Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Rabu (15/7). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkenalkan berbagai agenda utama PERISAI sekaligus menunjukkan beragam hasil riset yang telah didukung BPDP selama lebih dari satu dekade. Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan riset dan inovasi merupakan salah satu pilar penting dalam meningkatkan daya saing industri kelapa sawit Indonesia. Menurutnya, selama ini BPDP tidak hanya mendukung pengembangan produktivitas perkebunan, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri dan masyarakat. "Melalui PERISAI, kami ingin menunjukkan bahwa sawit bukan hanya menghasilkan minyak nabati atau biodiesel. Berbagai hasil riset yang didukung BPDP telah menghasilkan inovasi di bidang pangan, kesehatan, energi terbarukan, biomaterial, hingga rekayasa industri. Inilah bukti bahwa sawit memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung pembangunan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global," jelasnya. Ia menambahkan sejak program pendanaan riset dilaksanakan, BPDP telah mendukung ratusan penelitian yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia. Di mana hasil-hasil penelitian tersebut terus didorong agar tidak berhenti Siaran Pers sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi teknologi maupun produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha. "Kami ingin membangun ekosistem inovasi yang kuat. Karena itu, PERISAI bukan sekadar forum ilmiah, tetapi menjadi ruang bertemunya peneliti, pemerintah, industri, pelaku usaha, dan investor agar hasil riset dapat diterapkan secara luas, termasuk oleh pekebun rakyat," imbuhnya. Di kegiatan sama, Prof. Dr. Ratu Ayu Dewi Sartika, M.Sc. memaparkan hasil penelitian mengenai pengaruh suplementasi Red Palm Oil pada diet ibu hamil terhadap kualitas air susu ibu dan status gizi bayi. "Penelitian tersebut menunjukkan bahwa minyak sawit merah memiliki kandungan beta karoten, vitamin A, vitamin E, serta antioksidan yang berpotensi mendukung peningkatan status gizi ibu dan anak," ucapnya. Menurut Prof. Ratu Ayu, hasil penelitian tersebut menunjukkan pemanfaatan sawit tidak hanya terbatas sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan masyarakat melalui pengembangan pangan fungsional berbasis kelapa sawit. "Kelapa sawit memiliki kandungan nutrisi yang sangat potensial untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat. Melalui riset yang berkelanjutan, kita dapat mengembangkan berbagai produk pangan yang tidak hanya aman, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan yang lebih luas," terang Prof. Ratu Ayu. Selain sektor pangan dan kesehatan, pemanfaatan sawit di bidang energi juga terus berkembang. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. C.B. Rasrendra, S.T., M.T., yang mempresentasikan hasil penelitian mengenai Teknologi BENSA (Bensin Sawit) berbasis Mixed Industrial Vegetable Oil (MIVO). Menurut Rasrendra, inovasi tersebut menunjukkan bahwa kelapa sawit memiliki prospek besar sebagai bahan baku energi masa depan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional. "BENSA merupakan salah satu contoh bagaimana hasil riset mampu membuka peluang pemanfaatan baru bagi kelapa sawit. Ke depan, inovasi seperti ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong tumbuhnya industri berbasis sumber daya domestik," tuturnya. PERISAI 2026 akan menghadirkan berbagai seminar, diskusi, pameran hasil riset, business matching, kompetisi inovasi, serta forum kolaborasi yang melibatkan peneliti, akademisi, pelaku usaha, pemerintah, dan mahasiswa. Kegiatan ini juga akan menampilkan berbagai hasil penelitian pada enam bidang utama, yaitu bioenergi; lingkungan; biomaterial; budidaya dan pascapanen; pangan dan kesehatan; serta sosial, ekonomi, manajemen, pasar, dan teknologi informasi. Selain itu, PERISAI 2026 direncanakan akan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi dalam mendorong riset dan inovasi sebagai fondasi pengembangan industri sawit Indonesia yang berkelanjutan. Melalui pergelaran PERISAI 2026, BPDP berharap hasil-hasil penelitian yang telah dikembangkan selama ini dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh industri, pemerintah, akademisi, maupun pekebun rakyat. Jadi, riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga mampu mendorong peningkatan produktivitas, menciptakan nilai tambah, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta meningkatkan daya saing industri sawit Indonesia di pasar global. Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang digelar pada 20 hingga 21 Juli 2026 di Jakarta. BPDP mengundang para peneliti, akademisi, pelaku industri, mahasiswa, media, serta masyarakat untuk berpartisipasi dan menyaksikan berbagai inovasi yang menunjukkan kelapa sawit Indonesia tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga sumber solusi bagi pembangunan berkelanjutan.

Aspekpir Puji Holding PTPN Kemitraan PalmCo dan Petani Perkuat Masa Depan Sawit Indonesia Sawit
Sawit
Jumat, 17 Juli 2026 | 16:06 WIB

Aspekpir Puji Holding PTPN Kemitraan PalmCo dan Petani Perkuat Masa Depan Sawit Indonesia

Pekanbaru, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo terus perkuat kemitraan strategis dengan petani sebagai bagian dari upaya membangun industri kelapa sawit nasional yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut mendapat apresiasi atau pujian dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia yang menilai pola kemitraan antara PTPN IV PalmCo dan petani layak menjadi role model pengembangan perkebunan sawit nasional. Ketua DPP Aspekpir Indonesia, Setiyono, menuturkan masa depan sawit rakyat Indonesia sangat ditentukan oleh penguatan kemitraan yang sehat dan saling menguntungkan antara petani, perusahaan, dan pemerintah. Menurutnya, pola kemitraan yang dijalankan PTPN IV PalmCo menunjukkan bagaimana hubungan antara perusahaan dan petani dapat tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan. "Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan, dan bermitra dengan PTPN IV merupakan pilihan yang tepat," ujar Setiyono saat diskusi panel rangkaian peluncuran buku "Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi" di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (1/7) lalu. Kegiatan tersebut turut dihadiri mantan Wakil Menteri Pertanian yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia, Rusman Heriawan, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyuda, perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Togu Rudianto Saragih, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mukti Sardjono, serta ratusan pengurus organisasi petani sawit dari berbagai daerah. Kata Setiyono, melalui kemitraan, petani dapat menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan bibit unggul, pengelolaan lahan, pemupukan, pengendalian hama, hingga proses panen sesuai standar. Penerapan praktik budidaya yang baik tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga daya saing industri sawit Indonesia di tengah tuntutan keberlanjutan yang semakin tinggi di pasar global. Data Aspekpir Indonesia menunjukka, program kemitraan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) maupun Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) saat ini tersebar di 20 provinsi dengan luas kebun plasma mencapai lebih dari 813 ribu hektare dan melibatkan sekitar 406 ribu kepala keluarga pekebun. Menurutnya, sebagian besar kebun sawit rakyat kini telah memasuki generasi kedua sehingga membutuhkan program peremajaan untuk menjaga produktivitas. Aspekpir sendiri telah melaksanakan peremajaan sejak 2012 melalui program Revitalisasi Perkebunan dan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Ia menambahkan, salah satu keunggulan kemitraan dengan PTPN IV PalmCo adalah penerapan pola single management, yakni sistem pengelolaan terpadu mulai dari peremajaan hingga pemanenan dengan standar operasional perusahaan. Sistem tersebut mencakup penerapan operational excellence, kesetaraan produktivitas antara kebun inti dan plasma, pemberdayaan petani melalui program cash for works, korporatisasi kelembagaan petani, serta prinsip transparansi dalam pengelolaan kebun. Setiyono menilai penerapan sistem tersebut mampu mendorong produktivitas kebun plasma hingga mendekati produktivitas kebun inti perusahaan sekaligus memperkuat tata kelola kemitraan yang lebih profesional dan berkeadilan. Ia juga menilai transformasi yang dilakukan PTPN IV PalmCo dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan positif dalam hubungan kemitraan antara perusahaan dan petani, terutama melalui penguatan komunikasi, tata kelola, serta peningkatan fokus terhadap kesejahteraan petani plasma. "Kalau B50 ingin berhasil, maka produktivitas petani harus naik. Dan cara paling efektif untuk mewujudkannya adalah melalui kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan," jelasnya. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, menimpali pola kemitraan telah mengubah kehidupan masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi di berbagai sentra perkebunan sawit di Provinsi Riau. Menurutnya, hubungan antara Aspekpir dan PTPN IV tidak sekadar kerja sama, tetapi juga telah membangun ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat perkebunan. Kemitraan yang terbangun selama puluhan tahun tersebut dinilai telah berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani, pertumbuhan ekonomi pedesaan, serta mendorong lahirnya pusat-pusat ekonomi baru di wilayah perkebunan. "Kemitraan yang dilangsungkan oleh Aspekpir telah banyak mengubah kehidupan dan menggerakkan ekonomi di akar rumput. Saya sudah enam tahun di Riau, hampir seluruh acara saya ikuti. Dan kita sama-sama rasakan, setiap asosiasi atau kelompok biasanya punya nuansa berbeda. Di Aspekpir, suasananya sangat berbeda, penuh kekeluargaan, mungkin karena latar belakang berdirinya jadi berpengaruh terhadap substansi dan suasana kebatinan," terangnya. Senada, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda aminkan Supriadi. Ia menilai di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku pangan dan energi, penguatan kemitraan antara perusahaan dan petani menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan minyak sawit nasional. Peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui pola kemitraan juga semakin memperkuat ketersediaan bahan baku crude palm oil (CPO) untuk mendukung implementasi program mandatori biodiesel B50 yang tengah dipersiapkan pemerintah. "Kebijakan B50, yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis minyak sawit menjadi 50 persen, diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik secara signifikan. Karena itu, keberhasilan program tersebut tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi perkebunan perusahaan, tetapi juga pada kemampuan jutaan petani sawit rakyat dalam meningkatkan produktivitas dan mempercepat peremajaan kebun secara berkelanjutan," beber Arya. Dengan luas perkebunan rakyat yang mencapai lebih dari 40 persen dari total areal sawit nasional, petani memegang peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan bahan baku bagi industri pangan dan energi. Pada konteks tersebut, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo terus perkuat kemitraan yang saling menguntungkan dengan petani sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional, meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, serta memastikan manfaat ekonomi industri sawit dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat. Program kemitraan sekaligus menjadi wujud komitmen perusahaan dalam membangun ekosistem sawit nasional yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

BLU Kemenkeu Raih Penghargaan Medbun Awards 2026 Berkat Komitmen Pemberdayaan UMKM Sawit Sawit
Sawit
Minggu, 12 Juli 2026 | 15:05 WIB

BLU Kemenkeu Raih Penghargaan Medbun Awards 2026 Berkat Komitmen Pemberdayaan UMKM Sawit

Medan, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kemenkeu mendapatkan penghargaan “Excellence Institution in Empowering Micro, Small, and Medium Palm Oil Enterprises” di ajang Medbun Awards 2026.  Penghargaan yang diberikan kepada BPDP bentuk apresiasi atas komitmen dan perannya dalam mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah berbasis kelapa sawit di Indonesia. Penghargaan diberikan sebagai rangkaian kegiatan 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang digelar pada 9 Juli 2026 di Hotel Adi Mulia, Medan, Sumatera Utara. BPDP secara aktif dan konsisten mendukung tumbuhnya UMKM sawit yang inovatif, mandiri dan berkelanjutan, dengan selalu menyediakan berbagai program  peningkatan kapasitas, fasilitasi promosi dan penguatan daya saing agar dapat menjadi UMKM yang naik kelas. Hingga Juni 2026 kegiatan Kerjasama UMKM BPDP telah mencapai 52 program kegiatan dengan berkolaborasi dengan berbagai stakeholder mulai asosiasi Petani , Perguruan Tinggi, Kementerian, Media hingga pondok pesantren. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menyampaikan BPDP terus mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM), adopsi teknologi, serta percepatan hilirisasi industri kelapa sawit Indonesia menuju industri yang berdaya saing dan berkelanjutan agar kemudian UMKM juga memiliki produk-produk yang berkualitas.  “Teknologi dan hilirisasi industri tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor pengolahan skala besar, tetapi harus  membuka peluang bagi UMKM untuk menghasilkan produk-produk inovatif berbasis kelapa sawit yang memiliki nilai tambah dan daya saing,” ujar Helmi U8sungt tema “Updating Technology & Talent Palm Oil Mill and Downstream” dengan subtema “Hilirisasi Komoditi Perkebunan Menuju Sawit Pilar Indonesia Emas 2045”, TPOMI 2026 menjadi wadah strategis yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri dan UMKM, praktisi, serta penyedia teknologi untuk mendiskusikan berbagai inovasi dan tantangan dalam pengembangan industri pengolahan kelapa sawit nasional. Melalui booth pameran BPDP dalam TPOMI 2026, para pengunjung memperoleh informasi program pengembangan UMKM, promosi komoditas perkebunan serta informasi mengenai hilirisasi yang dapat menjadi peluang usaha. Pengunjung juga memperoleh informasi mengenai berbagai produk turunan kelapa sawit beserta potensi pengembangannya sebagai bagian dari upaya mendorong tumbuhnya wirausaha berbasis komoditas perkebunan diantaranya kepala, kelapa sawit dan kakao. TPOMI digelar selama 3 hari yang mana peserta dapat mengikuti konferensi, seminar teknis, diskusi panel, serta pameran teknologi yang menampilkan berbagai inovasi di bidang pengolahan kelapa sawit, digitalisasi industri, otomatisasi berbagai Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT), efisiensi energi, hingga solusi perangkat lunak untuk mendukung operasional pabrik kelapa sawit.

Promosi Hilirisasi Komoditas Perkebunan, BPDP Sabet Penghargaan PENAS XVII 2026 Sawit
Sawit
Minggu, 12 Juli 2026 | 14:05 WIB

Promosi Hilirisasi Komoditas Perkebunan, BPDP Sabet Penghargaan PENAS XVII 2026

Gorontalo, katakabar.com - Seorang petani sawit dan kelapa dari Kabupaten Powohatu Gorontalo, Iradat, tampak serius simak poster hilirisasi komoditas kelapa pada stand Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di gelaran Pameran Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII 2026. “Di daerah kami banyak produksi kelapa, tetapi yang dimanfaatkan baru buahnya saja. Sedang sabuk, tempurung, dan produk samping lainnya hanya menjadi limbah yang belum dimanfaatkan,” tutur Iradat. “Dengan informasi yang disampaikan pada stand BPDP ini, saya jadi tahu begitu banyak produk-produk hilir yang dapat dibuat dari produk Kelapa, turunan, dan produk sampingannya, yang dapat dibuat pada skala usaha kecil dan petani," cerita Iradat. Pameran PENAS XVII 2026 diselenggarakan pada 20  hingga 25 Juni 2026 di Komplek Kawasan Stadion GOR David Tony Desa Honggaula, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, usung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Program Swasembada Pangan". Pameran PENAS XVII 2026 bagian dari rangkaian kegiatan PENAS XVII 2026 yang acara puncaknya dihadiri langsung Presiden RI, H Prabowo Subianto pada 24 Juni 2026. Pertemuan akbar ini dihadiri sekitar 50 ribu peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari petani dan nelayan, pemerintah daerah, organisasi terkait, hingga para pelaku sektor pertanian dan pangan yang berasal dari seluruh Indonesia. Stand BPDP menyuguhkan berbagai informasi antara lain Program Layanan BPDP, Hilirisasi komoditas Sawit, Kelapa, dan Coklat, serta Manfaat Kelapa Sawit dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. BPDP juga menghadirkan perwakilan 2 (dua) koperasi petani sawit yang menampilkan produk-produk UMKM berbahan baku sawit, turunan, dan produk sampingnya. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah, mengatakan kehadiran BPDP dalam pameran ini sebagai wujud kontribusi komoditas perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan. “Indonesia telah lama mencapai swasembada minyak nabati dari minyak sawit. Sekitar 40% hasil produksi minyak sawit digunakan untuk konsumsi dalam negeri termasuk untuk pangan, sehingga kita tidak perlu lagi mengimpor minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng masyarakat dalam negeri,” kata Helmi. “Bahkan, hasil produksi minyak sawit kita diekspor ke berbagai negara di dunia untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati masyarakat dunia,” ucapnya. Selain pemanfaatan untuk pangan, Helmi Muhansah, mengatakan produk perkebunan dan turunannya dapat juga diproduksi pada skala UMKM menjadi beragam produk kebutuhan masyarakat. “BPDP menghadirkan dua koperasi petani sawit yang memproduksi produk UMKM berbahan baku sawit. Kedua koperasi ini yakni Koperasi Sawit Setara dan Koperasi Agribisnis Jaya Indonesia (KAJI), telah bermitra dengan BPDP melalui program pemberdayaan UMKM perkebunan, dan telah menghasilkan beragam produk UMKM berbahan baku sawit sebagaimana yang ditampilkan  dalam stand ini," sebut Helmi. BPDP Raih Penghargaan Stand BPDP yang dikunjungi ratusan petani, nelayan, dan masyarakat umum meraih penghargaan Pameran Penas XVII 2026 sebagai Juara II kategori Kementerian/Lembaga/BUMN/BUMD/Swasta. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Panitia Penas XVII 2026 kepada perwakilan BPDP, Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Anwar Sadat, pada kegiatan penutupan pameran PENAS XVII 2026 di Taman Budaya Limboto pada Rabu (24/6) lalu. Kegiatan penutupan dihadiri Pemerintah Provinsi Gorontalo, Bupati Kabupaten Limboto, Pimpinan Daerah Kabupaten se Gorontalo, Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Petani dan Nelayan peserta PENAS XVII 2026, Peserta Pameran, perwakilan Sponsor, serta masyarakat kabupaten Limboto. Ketua Koperasi KAJI, Sulaiman A. Loeloe, mengucapkan kegembiraannya bisa berpartisipasi dalam stand BPDP pada perhelatan Penas kali ini. Sulaiman mengatakan mereka membawa banyak produk UMKM berbahan baku sawit yang ditampilkan pada kegiatan ini. “Produk kami antara lain kopi dengan krimer sawit, minuman jahe dengan gula aren kelapa dan krimer sawit, coklat yang diproduksi dari minyak goreng sawit, dan beberapa produk makanan lainnya. Alhamdulillah dengan display ini, bisa berkontribusi terhadap capaian stand BPDP,” beber Sulaiman. Pengurus Koperasi Sawit Setara Reskita Sawitri menyampaikan hal yang sama. Rezkita mengatakan Koperasi Sawit Setara menampilkan produk kerajinan lidi sawit, parfum berbahan baku sawit, sabun, kopi krimer sawit, dan pupuk organik dari tandan kosong sawit. “Kami mengapresiasi undangan BPDP untuk berpatisipasi di pameran ini. Pada event ini bisa bertemu dengan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, dan beberapa diantara yang mengunjungi stand BPDP juga adalah petani sawit, kelapa, dan kakao,” terang Reskita. Di antara pengunjung stand BPDP juga nampak Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI Fadel Muhammad, dan beberapa Kepala Daerah (Gubernur/Bupati) peserta Penas XVII 2026. Keikusertaan BPDP pada pameran Penas XVII 2026 merupakan bentuk dukungan bagi peningkatan kesejahteraan petani, pemberdayaan Koperasi dan UMKM, serta mempromosikan manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat.