Lingkungan
Sorotan terbaru dari Kategori Lingkungan
Mangrove Sedunia 2026, BEM Unilak Dorong Inovasi Penanaman dan Sinergi Pentahelix Selamatkan Pesisir Riau
Siak, katakabar.com - Momentum Hari Mangrove Sedunia 2026 dimanfaatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lancang Kuning (Unilak) untuk memperkuat komitmen pelestarian ekosistem pesisir melalui aksi penanaman mangrove di Desa Bunsur, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Minggu (26/7). Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta berbagai unsur pemerintah, akademisi, masyarakat, dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap upaya pelestarian kawasan pesisir. Di momen itu, Presiden Mahasiswa BEM Unilak, Desman Anugrah Natal Hulu, menekankan keberhasilan konservasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tingkat keberhasilan bibit tersebut tumbuh dan bertahan hingga menjadi pelindung alami kawasan pesisir. "Keberhasilan konservasi bukan hanya tentang berapa banyak bibit yang ditanam, tetapi juga berapa banyak yang mampu tumbuh dan bertahan hingga menjadi benteng alami bagi pesisir," ujarnya. Desman juga mengusulkan penerapan metode penanaman dengan sistem rumpun berjarak. Dalam konsep tersebut, bibit mangrove ditanam menggunakan media pelindung seperti kotak atau bambu sehingga lebih tahan terhadap arus dan gelombang pasang, sekaligus meningkatkan tingkat keberhasilan pertumbuhan tanaman. Selain itu, ia menyoroti ancaman abrasi yang terus menggerus sejumlah wilayah pesisir di Provinsi Riau, termasuk kawasan Pantai Prapat Tunggal di Pulau Bengkalis. Menurutnya, abrasi tidak hanya menyebabkan hilangnya daratan, tetapi juga mengancam potensi wisata, mata pencaharian masyarakat, serta keseimbangan ekosistem pesisir. Sejalan dengan itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan BEM Unilak, Salman Syahputra, menegaskan generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial penanaman pohon, tetapi juga harus diwujudkan melalui edukasi kepada masyarakat, pengawasan kawasan konservasi, hingga mendorong keberlanjutan program rehabilitasi mangrove. Komitmen tersebut turut diperkuat oleh Sekretaris Jenderal BEM Unilak, M. Hikmal Akbar. Ia menilai penyelamatan ekosistem mangrove membutuhkan sinergi lintas sektor melalui pendekatan edukasi, rehabilitasi, pengawasan, serta penegakan hukum terhadap berbagai bentuk kerusakan lingkungan. Kepala Staf Presiden Mahasiswa BEM Unilak, Riskard Al Abrori, mengingatkan pentingnya langkah pencegahan kerusakan pesisir sejak dini. Hal senada disampaikan Bayu Saputra yang menekankan bahwa bibit mangrove yang telah ditanam harus dirawat dan dipantau secara berkelanjutan agar mampu tumbuh menjadi ekosistem yang kuat dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026, BEM Unilak berharap terbangunnya kolaborasi Pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan media dalam memperkuat upaya pelestarian kawasan pesisir di Provinsi Riau. BEM Unilak menilai mangrove memiliki peran yang sangat vital, tidak hanya sebagai benteng alami dalam menahan abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga sebagai habitat berbagai biota laut, penyerap emisi karbon, serta penyangga kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir. Dengan mengusung semangat "berat sama dipikul, ringan sama dijinjing", BEM Unilak mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan memulihkan ekosistem mangrove sebagai investasi lingkungan bagi generasi masa depan.
PT HK Mulai Pindahkan Akses Keluar Pintu Tol Pekanbaru, Pengguna Jalan Diminta Ikuti Rambu dan Arahan Petugas
Pekanbaru, katakabar.com - PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) menginformasikan kepada seluruh pengguna Jalan Tol Pekanbaru-Dumai bakal berlakukan pemindahan jalur keluar Akses Pintu Tol Pekanbaru STA 00+200, Kamis (30/7). Rekayasa lalu lintas dilakukan sebagai bagian dari pekerjaan penyambungan Jalan Tol Pekanbaru–Dumai dengan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru melalui pembangunan jembatan overpass di STA 00+200 Jalan Tol Pekanbaru-Dumai atau STA 206+950 Jalan Tol Lingkar Pekanbaru. Selama pekerjaan berlangsung, akses keluar menuju Kota Pekanbaru dialihkan dari jalur eksisting melalui Akses Muara Fajar menuju Pintu Tol Bypass Pekanbaru. Pengalihan ini dilakukan guna mendukung kelancaran pekerjaan konstruksi sekaligus memastikan keamanan dan keselamatan pengguna jalan yang melintasi area proyek. Hutama Karya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul akibat rekayasa lalu lintas ini. Perusahaan mengimbau seluruh pengguna jalan untuk mengantisipasi waktu perjalanan, mematuhi rambu-rambu lalu lintas sementara, serta mengikuti arahan petugas di lapangan demi kelancaran dan keselamatan bersama. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menjelaskan rekayasa lalu lintas tersebut merupakan tahapan penting dalam pembangunan konektivitas jalan tol di Provinsi Riau dan telah direncanakan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan, kelancaran lalu lintas, serta kenyamanan pengguna jalan. "Pemindahan jalur ini merupakan bagian dari tahapan pembangunan konektivitas antara Jalan Tol Pekanbaru–Dumai dengan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru. Pekerjaan ini diperlukan agar proses penyambungan kedua ruas tol dapat berjalan sesuai target tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Kami mengimbau seluruh pengguna jalan agar memperhatikan rambu-rambu lalu lintas sementara, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta mengurangi kecepatan saat melintasi area pekerjaan demi keselamatan bersama," terang Hamdani. Sebelum pengalihan diberlakukan, pengguna jalan yang keluar melalui Pintu Tol Pekanbaru menggunakan akses eksisting menuju Akses Muara Fajar. Jadi, mulai Kamis, 30 Juli 2026, arus kendaraan akan diarahkan melalui jalur baru menuju Pintu Tol Bypass Pekanbaru sesuai dengan rekayasa lalu lintas yang telah disiapkan. Pengguna jalan diimbau untuk menyesuaikan perjalanan sejak mendekati lokasi pengalihan guna menghindari perlambatan lalu lintas. Untuk mendukung kelancaran implementasi pengalihan, Hutama Karya bersama Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Riau, Dinas Perhubungan, dan stakeholder terkait lainnya telah siapkan rambu-rambu lalu lintas sementara, traffic cone, water barrier, papan informasi, lampu peringatan, serta menempatkan petugas di sejumlah titik strategis guna membantu mengarahkan pengguna jalan selama masa transisi. Pengaturan lalu lintas juga akan terus dimonitor dan dievaluasi secara berkala guna memastikan keselamatan, keamanan, dan kelancaran perjalanan pengguna jalan selama pekerjaan berlangsung. Hutama Karya juga mengimbau pengguna jalan untuk memastikan kecukupan saldo kartu uang elektronik sebelum memasuki jalan tol, mematuhi batas kecepatan yang berlaku, menjaga jarak aman antar kendaraan, serta mengikuti informasi lalu lintas terkini melalui akun media sosial resmi Hutama Karya maupun aplikasi Mozy. Hutama Karya berkomitmen menyelesaikan pekerjaan sesuai target dengan tetap mengedepankan kualitas konstruksi, keselamatan kerja, dan pelayanan terbaik kepada pengguna jalan sehingga penyambungan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai dengan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru dapat segera memberikan manfaat dalam meningkatkan konektivitas, memperlancar mobilitas masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau.
Peringati Hari Mangrove Sedunia, Pertamina EP Pangkalan Susu Tanam 2.500 Bibit Bakau untuk Lindungi Pesisir Langkat
PT Pertamina EP (PEP) Pangkalan Susu Field kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan dengan menanam 2.500 bibit mangrove jenis Rhizophora di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Minggu (26/7/2026).
BEM KSI Riau Apresiasi Polda Riau Ungkap Perusakan 118 Hektar Hutan Mangrove
Pekanbaru, katakabar.com - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kristiani Seluruh Indonesia (KSI) Wilayah Riau memberikan apresiasi kepada Kapolda Riau beserta jajaran atas keberhasilan mengungkap dugaan perusakan kawasan hutan mangrove seluas sekitar 118 hektare di Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau. Keberhasilan aparat kepolisian tersebut dinilai sebagai wujud nyata komitmen Polda Riau dalam menegakkan hukum terhadap kejahatan lingkungan sekaligus mengimplementasikan program Green Policing yang menitikberatkan pada perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Ketua BEM KSI Wilayah Riau, Gabriel Marchelino, mengatakan langkah tegas yang dilakukan Polda Riau merupakan bukti bahwa negara hadir dalam melindungi ekosistem yang memiliki nilai strategis bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. "Keberhasilan Polda Riau mengungkap dugaan perusakan hutan mangrove seluas 118 hektare langkah yang patut diapresiasi. Penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan menunjukkan bahwa negara hadir dalam melindungi ekosistem yang memiliki fungsi vital bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat," ujar Gabriel dalam keterangannya. Menurutnya, kawasan mangrove memiliki peranan penting sebagai benteng alami wilayah pesisir, habitat berbagai jenis biota laut, penyerap emisi karbon, serta pelindung masyarakat dari ancaman abrasi dan bencana pesisir. Karena itu, segala bentuk perusakan terhadap ekosistem mangrove harus ditindak secara tegas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BEM KSI Wilayah Riau juga berharap proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dapat berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel hingga memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap. Selain penegakan hukum, Gabriel menilai upaya pemulihan kawasan mangrove yang mengalami kerusakan juga perlu menjadi perhatian bersama melalui kolaborasi antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, instansi terkait, akademisi, serta masyarakat. "Kami berharap keberhasilan ini menjadi efek jera bagi siapa pun yang mencoba melakukan kejahatan terhadap lingkungan hidup. Kelestarian hutan mangrove bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kepentingan seluruh masyarakat demi keberlanjutan generasi mendatang," ujarnya. Lebih lanjut, BEM KSI Wilayah Riau menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah Polda Riau dalam memberantas kejahatan lingkungan dan mendorong pengawasan terhadap kawasan hutan, khususnya ekosistem mangrove di wilayah pesisir, agar semakin diperkuat guna mencegah terulangnya praktik-praktik perusakan lingkungan. Kata Gabriel, sinergi antara aparat penegak hukum, pemerintah, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup sekaligus mendukung terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan di Provinsi Riau maupun Indonesia. BEM KSI Wilayah Riau berharap keberhasilan pengungkapan kasus dugaan perusakan mangrove tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran seluruh pihak bahwa perlindungan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara berkelanjutan.
Tanpa Payung Hukum, PT SSL Babat dan Kuasai Hutan Leluhur Rokan Hulu Seluas 42.530 Hektar
Rokan Hulu, katakabar.com – Surat keputusan menteri sudah terbit, tetapi gergaji mesin masih menderu di tengah hamparan hutan seluas 42.530 hektar. Benar saja, keanehan yang tak masuk akal kini mencuat di perbatasan Riau dan Sumatera Utara. PT Sumatera Sylva Lestari (SSL) mestinya berhenti beroperasi karena izinnya sudah dicabut, justru terlihat sibuk mengangkut hasil hutan seolah tak ada aturan yang dilanggar. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 85 Tahun 2026 sudah hitam di atas putih, mencabut secara resmi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) atas nama perusahaan ini. Secara hukum, sejak saat itu pula hak untuk menebang, mengangkut, hingga memproses kayu di areal seluas puluhan ribu hektar tersebut seharusnya gugur seketika. Namun kenyataan di lapangan bicara lain: aktivitas penebangan pohon akasia, truk-truk bermuatan besar, dan asap pabrik masih terlihat jelas beroperasi di wilayah kerja yang membentang luas mulai dari Kabupaten Rokan Hulu hingga menyentuh batas provinsi tetangga. Pemandangan ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Fendi Hasibuan, tokoh Aktivis Peduli Lingkungan Hutan Riau, angkat bicara dengan nada tak habis pikir. Ia menyoroti bagaimana sebuah perusahaan bisa terus berjalan tanpa payung hukum yang sah di atas lahan seluas itu. "Kami mempertanyakan dasar hukum apa yang masih dipegang PT Sumatera Sylva Lestari di atas lahan seluas 42.530 hektar ini? Jika SK pencabutan izin sudah resmi ditandatangani, mengapa aktivitasnya justru semakin gencar? Apakah aturan negara hanya tulisan di atas kertas yang bisa diinjak seenaknya?" tegas Fendi, Sabtu (25/7). Ia tak sekadar memprotes, melainkan mendesak langkah nyata. Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan, Dinas Kehutanan Provinsi Riau, hingga kepolisian dan kejaksaan diminta segera turun ke lokasi. Jangan biarkan ketidakpastian hukum ini berlarut-larut sementara kekayaan alam seluas itu terus dibawa pergi. "Kami minta Gakkum Kehutanan segera buka mata dan teliti setiap sudut lokasi kerja. Jika terbukti beroperasi tanpa izin, ini bukan lagi sekadar pelanggaran administrasi, melainkan tindak pidana yang harus diproses seadil-adilnya," tandasnya. Diketahui, PT Sumatera Sylva Lestari selama ini dikenal sebagai pengelola Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 42.530 hektar yang menanam akasia untuk bahan baku kayu dan kertas. Wilayah kerjanya yang sangat luas menjangkau Rokan Hulu hingga menyentuh batas Sumatera Utara, membuat aktivitasnya berdampak besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Kini, di tengah kabar pencabutan izin, justru muncul pertanyaan besar: siapa yang memberi lampu hijau agar mereka tetap bekerja di atas lahan seluas itu? Dan kemana perginya pengawasan yang seharusnya berjalan ketat? Fendi juga menuntut Kementerian Kehutanan untuk tidak diam di balik meja. Masyarakat berhak tahu status pasti lahan seluas 42.530 hektar tersebut dan siapa yang berwenang mengelolanya mulai hari ini. Jangan sampai keputusan negara menjadi bumerang yang menimbulkan keruwetan baru di tengah masyarakat. "Kami akan terus mengawal ini sampai tuntas. Hasil pemeriksaan harus dibuka lebar-lebar. Negara harus menunjukkan bahwa hukum berlaku sama untuk semua, termasuk perusahaan besar yang menguasai lahan seluas puluhan ribu hektar. Jangan biarkan hutan dan rakyat menjadi korban ketidaktegasan ini," timpal Fendi Hasibuan. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak manajemen PT Sumatera Sylva Lestari maupun instansi terkait atas kelanjutan aktivitas di lokasi tersebut.
Pemko Binjai Gelar Gotong Royong Serentak di Lima Kecamatan Dukung Gerakan Indonesia ASRI
Pemerintah Kota Binjai menggelar gotong royong dan kurvei massal secara serentak di lima kecamatan sebagai bentuk dukungan terhadap Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah)
Menko Pangan Resmikan PSEL, Sucofindo Dukung Kesiapan Teknis Pengolahan Sampah Jadi Energi
Denpasar, katakabar.com - Pemerintah resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Raya, Bali, yang ditandai dengan groundbreaking atau peletakan batu pertama oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan. Kegiatan tersebut menjadi salah satu implementasi awal percepatan pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) yang diharapkan mampu menjawab tantangan pengelolaan sampah sekaligus mendukung ketahanan lingkungan dan energi nasional. Zulkifli Hasan mengatakan pembangunan PSEL merupakan implementasi Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sekaligus tindak lanjut arahan Presiden RI, H. Prabowo Subianto untuk mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi melalui penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, serta sinergi lintas sektor. Menurutnya, secara nasional PSEL diproyeksikan mampu menangani sekitar 22 persen persoalan sampah di Indonesia. “Selama ini sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemprosesan akhir (TPA). Melalui pembangunan PSEL, kita tidak hanya mengurangi beban sampah yang menumpuk, tetapi juga mengubahnya menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi. Ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih modern, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Kata Zulkifli Hasan, PSEL Denpasar Raya dirancang memiliki kapasitas pengolahan 1.400 ton sampah per hari. Masa konstruksi diperkirakan berlangsung sekitar 18 bulan dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027. Selain menjadi solusi jangka panjang bagi pengelolaan sampah di Denpasar Raya, proyek ini juga diharapkan menjadi model pengembangan fasilitas waste to energy di berbagai daerah di Indonesia. Dalam mendukung percepatan pembangunan proyek tersebut, PT Sucofindo (Persero) mengambil peran strategis melalui pelaksanaan Waste Analysis & Characterization (WAC) dan Land Investigation sebagai bagian dari tahapan persiapan proyek. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan kesiapan teknis proyek, khususnya terkait kuantitas, kualitas, dan karakteristik sampah yang akan digunakan sebagai bahan baku (feedstock) fasilitas PSEL. Direktur Utama PT Sucofindo, Sandry Pasambuna, menjelaskan pada Program PSEL Batch 1, PT Danantara Investment Management (DIM) berkolaborasi dengan Sucofindo untuk melaksanakan WAC di sejumlah wilayah aglomerasi prioritas, termasuk Bali. “Di Bali, kajian dilakukan di TPA Suwung yang melayani Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sebagai sumber utama timbulan sampah yang menjadi basis perencanaan proyek PSEL. Melalui kegiatan WAC, Sucofindo melakukan pengukuran timbulan sampah harian, analisis komposisi sampah, serta pengujian karakteristik sampah yang meliputi nilai kalor, kadar air, dan kadar abu. Seluruh pengujian dilakukan menggunakan metodologi dan standar yang diakui secara nasional maupun internasional untuk menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya. Ia menyampaikan bahwa Sucofindo kembali dipercaya untuk melaksanakan Waste Analysis & Characterization pada Program PSEL Batch 2. Kepercayaan tersebut menunjukkan pentingnya data dan kajian teknis yang akurat dalam mendukung pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi. “Melalui kompetensi yang kami miliki, SUCOFINDO terus menghadirkan layanan berbasis sains, teknologi, dan data guna memastikan kesiapan proyek-proyek strategis nasional. Kami meyakini bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berbasis data akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular serta mendukung target pembangunan berkelanjutan Indonesia,” ucapnya. Partisipasi Sucofindo dalam proyek PSEL Denpasar Raya merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung agenda pemerintah di bidang pengelolaan lingkungan, transisi energi, dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Melalui layanan testing, inspection, certification, consultancy, dan pelatihan yang dimiliki, Sucofindo terus berkontribusi dalam memastikan kesiapan dan keberhasilan berbagai proyek strategis nasional. Acara groundbreaking PSEL Denpasar Raya dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, CEO Danantara Indonesia, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Bali I Wayan Koster, Direktur Utama PT Sucofindo (Persero), Sandry Pasambuna, para kepala daerah di wilayah Denpasar Raya, serta para pemangku kepentingan dari kementerian/lembaga, BUMN, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut mencerminkan sinergi dan komitmen bersama dalam mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi sebagai solusi berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan sampah sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Perkuat Komitmen Keberlanjutan, PTPN IV Regional III Tuntaskan Penanaman 9.000 Pohon di Riau
Pekanbaru, katakabar.com - Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) lewat Subholding PTPN IV PalmCo terus perkuat komitmen dukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Di antara implementasinya diwujudkan melalui PTPN IV Regional III yang telah menuntaskan penanaman sedikitnya 9.000 bibit pohon di berbagai wilayah operasional di Provinsi Riau. Program penanaman pohon yang merupakan bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut melibatkan seluruh insan PTPN IV Regional III yang tersebar di unit kebun dan pabrik kelapa sawit di Bumi Lancang Kuning. Penanaman perdana dilaksanakan Region Head PTPN IV Regional III, Bambang, Budi Santoso, didampingi Operation Head, Sori Ritonga, serta Business Support Head, Achmedy Akbar, di penghujung Mei 2026 lalu. Kegiatan serupa dilaksanakan secara bertahap oleh jajaran manajemen kebun dan pabrik kelapa sawit dengan melibatkan seluruh karyawan di berbagai wilayah operasional. Corporate Secretary and Legal PTPN IV Regional III, Hotmatua, di Pekanbaru, Selasa, mengatakan program bertajuk one man one tree tersebut merupakan agenda rutin perusahaan yang setiap tahun dilaksanakan dengan melibatkan karyawan maupun masyarakat di sekitar wilayah operasional. “Dan alhamdulillah, untuk tahun ini, bersamaan dengan Hari Bumi serta memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, kami telah merampungkan penanaman 9.000 bibit pohon melalui program one man one tree," jelasnya. Menurut Hotmatua, inisiatif tersebut juga menjadi upaya membangun kesadaran kolektif seluruh insan planters mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi generasi mendatang. Ia menjelaskan, ribuan bibit pohon tersebut ditanam di sejumlah area strategis, mulai dari kawasan operasional perusahaan, kawasan bernilai konservasi tinggi, hingga lingkungan masyarakat yang membutuhkan penghijauan. Ia menyebutkan, keterlibatan seluruh karyawan dalam program tersebut menjadi simbol bahwa upaya pelestarian lingkungan membutuhkan partisipasi bersama dan harus dilakukan secara berkelanjutan. "Selain mendukung penghijauan, program tersebut juga diharapkan memberikan manfaat jangka panjang terhadap kualitas lingkungan, termasuk menjaga ketersediaan sumber air, memperbaiki kualitas udara, serta mengurangi risiko degradasi lahan," imbuhnya. Hotmatua menambahkan, kegiatan serupa tidak hanya dilaksanakan di PTPN IV Regional III, tetapi juga berlangsung secara serentak di seluruh entitas usaha PTPN IV PalmCo yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Melalui gerakan penanaman pohon tersebut, Holding Perkebunan Nusantara melalui Sub Holding PTPN IV PalmCo terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung program pembangunan rendah karbon serta pencapaian target pembangunan berkelanjutan nasional. “Ke depan, program penghijauan seperti ini akan terus diperluas dan menjadi bagian dari budaya perusahaan dalam mendukung prinsip bisnis yang berkelanjutan,” sebutnya. Sebagai bagian dari transformasi Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo terus mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek operasional perusahaan. Program penghijauan ini menjadi salah satu implementasi komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus mendukung pencapaian aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) secara berkelanjutan.
Terjun Padamkan Karhutla di Jalan Tegar Pematang Pudu, Ini Petuah Camat Mandau
Mandau, katakabar.com - Camat Mandau, Riki Rihardi, diwakili Kasi Trantib Kecamatan Mandau, Albert Wannery, S.Tr.IP., bersama Lurah Pematang Pudu ,Muhammad Vicky,S.STP.,M.Si., lihat sekaligus terjun padamkan Karhutla yang terjadi di kawasan Jalan Tegar Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Bengkalis, Riau, Senin (16/7) kemarin. Kasi Trantib Kecamatan Mandau, Albert Wannery, S.Tr.IP., berpesan kepada seluruh petugas, meliputi Kapolsek dan jajaran, Danramil dan jajaran, Satpol PP, BPBD, serta bantuan tiga unit helikopter water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Provinsi Riau dan masyarakat setempat untuk guna memastikan api tersebut benar-benar padam, mengingat kawasan yang terbakar adalah lahan gambut. Seraya menggunakan perlengkapan khusus Kasi Trantib Kecamatan Mandau bersama Lurah Pematang Pudu, turun tangan ikut membantu petugas memadamkan lokasi yang diduga masih berapi, dengan menyemprotkan air dari selang besar.
Apa Membikin Bangunan Bertahan Puluhan Tahun? Waringin Megah Percaya Jawabannya Kualitas
Jakarta, katakabar.com - Di tengah pertumbuhan pembangunan di Indonesia, tantangan industri konstruksi tidak lagi hanya menyelesaikan proyek tepat waktu atau menekan biaya. Tetapi, semakin dibutuhkan adalah bangunan yang mampu memberikan nilai dalam jangka panjang melalui kualitas konstruksi yang konsisten, efisiensi operasional, dan ketahanan terhadap perubahan. Selama hampir empat dekade, inilah prinsip yang menjadi fondasi perjalanan Waringin Megah melalui Waringin Megah General Contractor, bersama Waringin Megah Makmur dan Golden Megah Sarana. Kualitas bukan hasil akhir tetapi keputusan sejak awal Didirikan pada 1987 lampau, Waringin Megah General Contractor memulai perjalanan dari berbagai proyek di Surabaya sebelum memperluas operasional ke Jakarta pada awal 1990-an silam. Seiring meningkatnya kepercayaan klien, perusahaan berkembang menjadi salah satu kontraktor swasta nasional yang mengerjakan proyek di berbagai wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Perjalanan tersebut dibangun di atas satu keyakinan sederhana: kualitas harus direncanakan sejak awal proyek, bukan diperiksa setelah bangunan selesai. Filosofi perusahaan yang semula "The Most Competitive Price with High Quality" kemudian berkembang menjadi "Built to Perfection" pada 2020 lalu sebagai refleksi setiap keputusan, mulai dari desain, pemilihan material, proses konstruksi, hingga penyelesaian proyek, harus mengutamakan standar kualitas terbaik. Pengalaman membentuk kemampuan terus beradaptasi Kurun hampir empat dekade perjalanan, industri konstruksi Indonesia mengalami berbagai dinamika, termasuk krisis ekonomi 1998 yang memberikan tekanan besar terhadap sektor properti dan pembangunan. Bagi Waringin Megah, periode tersebut menjadi momentum untuk memperkuat daya tahan bisnis melalui pengalaman, disiplin operasional, dan kemampuan beradaptasi. Ketika perekonomian mulai pulih pada awal 2000-an, perusahaan kembali memperluas portofolionya melalui berbagai proyek komersial, termasuk keterlibatan dalam pembangunan Cilandak Town Square, yang menjadi salah satu tonggak penting pertumbuhan perusahaan setelah melewati masa krisis. Kapabilitas dibangun melalui pengalaman dan investasi jangka panjang Selain memperluas portofolio, Waringin Megah juga memperkuat kemampuan internal melalui pembangunan workshop fabrikasi baja di Pelem Watu. Langkah ini meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat kompetensi perusahaan dalam konstruksi baja sehingga kualitas dapat dijaga secara lebih konsisten. Hingga saat ini, perusahaan telah mengerjakan berbagai proyek di beragam sektor, di antaranya Foresque Residences Jakarta, Pelataran Ramayana Grand Indonesia, Avian Office Surabaya, Cambridge School Surabaya, dan Kelapa Gading Square Jakarta. Pengalaman tersebut membentuk kapabilitas perusahaan dalam menangani proyek dengan karakteristik yang beragam, mulai dari bangunan komersial, pendidikan, hingga fasilitas publik. Tiga entitas, satu standar kualitas Seiring berkembangnya kebutuhan industri, Waringin Megah melakukan diversifikasi bisnis pada 2022 dengan membentuk dua entitas baru, yakni Waringin Megah Makmur dan Golden Megah Sarana. Alih alih memisahkan kapabilitas, pembentukan ketiga entitas ini dilakukan agar setiap perusahaan dapat memberikan layanan yang lebih fokus sesuai kebutuhan proyek. Waringin Megah General Contractor menangani berbagai proyek konstruksi skala besar di berbagai sektor. Waringin Megah Makmur berfokus pada proyek pergudangan, kawasan industri, pabrik, dan konstruksi baja, sekaligus dipercaya mengerjakan pusat perbelanjaan, kantor, hotel, vila, resort, rumah sakit, kawasan perumahan, tempat ibadah, hingga bangunan multifungsi di berbagai daerah Indonesia. Golden Megah Sarana menghadirkan solusi renovasi dan pembangunan skala kecil, dengan pengalaman mengerjakan berbagai proyek di Rembang, Bali, maupun kawasan residensial di Surabaya. Meski memiliki fokus yang berbeda, seluruh entitas berada dalam satu ekosistem yang mengusung standar kerja dan filosofi yang sama, yaitu Built to Perfection. Membangun kepercayaan melalui kualitas konsisten Kontribusi sektor konstruksi terhadap pembangunan nasional terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan infrastruktur, kawasan industri, fasilitas publik, dan properti. Dalam kondisi tersebut, kualitas konstruksi menjadi investasi yang menentukan umur bangunan, efisiensi biaya pemeliharaan, serta keamanan bagi penggunanya. Bagi Waringin Megah, keberhasilan sebuah proyek tidak diukur ketika bangunan selesai dibangun, melainkan ketika bangunan tersebut terus memberikan manfaat dalam jangka panjang. Melalui pengalaman hampir empat dekade, Waringin Megah General Contractor bersama Waringin Megah Makmur dan Golden Megah Sarana terus berkomitmen menghadirkan solusi konstruksi yang mengedepankan kualitas, ketelitian, dan keberlanjutan. Sebab pada akhirnya, membangun bukan hanya tentang menciptakan bangunan, tetapi juga membangun kepercayaan yang mampu bertahan lintas generasi.