Bandung, katakabar.com -- Kecerdasan buatan (AI), media sosial, big data, hingga transformasi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Di balik kemajuan teknologi yang begitu pesat, muncul pertanyaan yang semakin penting: apakah masyarakat siap menghadapi perubahan tersebut?

Pertanyaan itulah, antara lain, yang melatarbelakangi lahirnya keilmuan multidisiplin Teknokultur Institut Teknologi Bandung (ITB). Ilmu multidisiplin ini berupaya menjembatani dunia teknologi dengan dunia kemanusiaan, dengan mempelajari hubungan timbal balik antara teknologi, masyarakat, dan nilai-nilai yang hidup di dalamnya.

Baca juga: https://www.katakabar.com/berita/baca/keilmuan-teknokultur-menjembatani-teknologi-dan-kemanusiaan-di-era-ai

Untuk menggali informasi lebih dalam seputar Ilmu Teknokultur, wartawan katakabar.com Taufik Alwie mewawancari Prof. Yedi Purwanto, Dr. Nia Kurniasih, Dr. Prima Roza, dan Dr. Qoriah di Kampus ITB, Bandung, beberapa hari lalu.

 

Dr. Nia Kurniasih, Dr. Qoriah, Dr. Prima Roza, dan Prof. Yedi Purwanto

Keempat dosen senior Ilmu Teknokultur ini masing-masing dari lingkup studi Tekno-Reliji, Tekno-Linguistik, Teknologi dan Realita Sosial serta Politik Strategi & Diplomasi. Mereka menjelaskan bagaimana Teknokultur lahir dari kesadaran bahwa berbagai persoalan masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknologi semata. Mereka juga mengulas tantangan AI, kewargaan digital, bias teknologi, kewarganegaraan, hingga pentingnya menyiapkan sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia yang lebih baik.

Berikut ini petikan dari rangkuman wawancara yang berlangsung hangat dan akrab tersebut:

Istilah Teknokultur masih terdengar asing bagi banyak orang. Bisa dijelaskan secara sederhana kepada khalayak apa yang dimaksud Teknokultur?

Secara sederhana, Teknokultur adalah studi tentang hubungan timbal balik antara teknologi dan human centric. Selama ini banyak orang memandang teknologi hanya sebagai alat atau produk teknis. 

Padahal setiap teknologi selalu hadir dalam konteks peradaban tertentu. Teknologi memengaruhi cara manusia hidup, bekerja, berkomunikasi, dan berpikir. Namun pada saat yang sama, budaya dan nilai-nilai masyarakat juga memengaruhi bagaimana teknologi dirancang, digunakan, dan dimaknai.

Apa yang melatarbelakangi lahirnya keilmuan Teknokultur di ITB?

Kami melihat bahwa persoalan masyarakat saat ini semakin kompleks dan tidak bisa diselesaikan hanya dari satu disiplin ilmu. Banyak masalah yang tampak teknis, tetapi sesungguhnya memiliki dimensi sosial, ekonomi, dan etika yang kuat. Karena itu diperlukan pendekatan multidisiplin yang mampu menjembatani teknologi dan kemanusiaan.

ITB selama ini dikenal sebagai kampus teknologi. Mengapa justru membuka program yang banyak menyentuh aspek sosial dan humaniora?

Pengalaman menunjukkan bahwa teknologi tidak pernah bekerja sendirian. Ketika sebuah teknologi diterapkan di masyarakat, selalu ada dampak kemanusiaan yang menyertainya. Pembangunan jalan tol misalnya, bukan hanya soal konstruksi dan teknik sipil. Ia juga mengubah pola mobilitas, ekonomi, tata ruang, dan perilaku masyarakat. Karena itu aspek teknologi dan aspek kemanusiaan harus dipelajari secara bersamaan.

Apa yang membedakan keilmuan Teknokultur dengan keilmuan lain?

Ilmu ini bersifat multidisiplin. Dosen-dosennya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari teknik, linguistik, pendidikan, agama, psikologi, bisnis, kewarganegaraan, hingga ilmu kebumian. Selain itu kami menggunakan pendekatan demand-based, yaitu berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, bukan sekadar dari bidang keahlian yang tersedia

Saat ini perhatian publik banyak tertuju pada AI. Bagaimana Teknokultur memandang perkembangan AI?

Meski AI hanya salah satu bagian dari lanskap besar teknologi, perkembangannya  menjadi salah satu isu yang banyak yang banyak mendapat perhatian. Ya, AI merupakan salah satu perkembangan teknologi paling penting saat ini. Namun kami tidak melihatnya hanya sebagai persoalan teknis. Yang lebih penting adalah bagaimana AI memengaruhi manusia dan bagaimana manusia merespons AI. 

Teknologi dan masyarakat selalu berada dalam hubungan timbal balik. Karena itu perkembangan AI harus dipahami tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi peradaban, etika, dan kebijakan.

Bisakah AI bersifat obyektif dan netral?

Tidak ada teknologi yang benar-benar obyektif dan netral. AI dibangun dari data yang digunakan untuk melatih sistem tersebut. Jika data yang digunakan mengandung bias, maka bias itu juga dapat muncul dalam hasil yang diberikan AI. Kita mengenal bias gender, bias sosial, bahkan bias nilai. Karena itu masyarakat perlu memahami keterbatasan AI dan tidak menerima begitu saja seluruh hasil yang diberikan sistem tersebut.

Apa tantangan terbesar penggunaan AI di masa depan?

Menurut kami tantangan terbesarnya bukan sekadar kecanggihan teknologi, tetapi bagaimana manusia menggunakannya secara bertanggung jawab. AI dapat membantu manusia dalam banyak hal, tetapi keputusan moral tetap harus berada di tangan manusia. Teknologi dapat memberi rekomendasi, tetapi manusia tetap harus berpikir kritis dan mempertimbangkan aspek etika.

Masyarakat juga dituntut mampu menjadi warga digital (digital citizenship) yang baik dan bertanggung jawab. Tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital, harus memahami etika digital, hak dan kewajiban digital, keamanan digital, serta kemampuan memilah informasi yang benar. Di era sekarang kita tidak cukup hanya menjadi warga negara yang baik, tetapi juga harus menjadi warga digital yang cerdas.

Kembali ke Teknokultur. Bisa diberikan contoh konkret cara berpikir seorang “Teknokulturis”? 

Salah satu contoh yang menarik adalah persoalan sampah. Banyak orang berpikir solusi terbaik adalah membangun fasilitas pengolahan sampah yang mahal. Namun ada sekelompok mahasiswa magister Teknokultur yang meneliti pentingnya pendidikan pengelolaan sampah sejak usia dini. Jika anak-anak dibiasakan membuang sampah dengan benar, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dalam kasus ini, perubahan perilaku menjadi sama pentingnya dengan teknologi itu sendiri.

Seperti apa profil lulusan yang ingin dihasilkan keilmuan Teknokultur?

Kami ingin menghasilkan lulusan yang mampu menjembatani berbagai disiplin ilmu. Mereka tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga memahami manusia, human centric, kebijakan, dan dampak sosial dari teknologi. Kemampuan berpikir kritis, berpikir sistemik, dan melihat persoalan secara multidisiplin menjadi kompetensi yang sangat penting.

Apa kontribusi Teknokultur bagi Indonesia menuju arah yang lebih baik?

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu memahami dampaknya terhadap masyarakat. Tantangan masa depan tidak hanya soal menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, keberlanjutan, dan kesejahteraan bersama.

Apa pesan utama Teknokultur?

Teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Masa depan ditentukan bukan hanya oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh bagaimana manusia memahami, mengelola, dan memberi makna terhadap teknologi tersebut. Teknologi tak boleh lepas dari nilai-nilai kemanusiaan.-