Kepulauan Meranti, katakabar.com - Bupati Kepulauan Meranti, H Asmar, menyampaikan pidato yang sarat perenungan dan rasa syukur.
Di hadapan forum paripurna, ia menegaskan perjalanan Kabupaten Kepulauan Meranti hingga memasuki usia 17 tahun bukanlah semata hasil dari kuatnya narasi politik atau canggihnya strategi pembangunan.
Menurut Asmar, Kepulauan Meranti ada, bertahan, dan terus berkembang karena kehendak dan kasih sayang Sang Pencipta.
“Hari ini, di detik yang bersejarah, kita menyadari sepenuhnya keberadaan Kabupaten Kepulauan Meranti di usia 17 tahun bukanlah semata-mata karena kuatnya narasi politik atau hebatnya strategi pembangunan. Kepulauan Meranti ada, bertahan, dan berkembang karena hembusan napas kasih sayang Allah yang dicurahkan di atas Tanah Jantan,” ucapnya dengan nada penuh makna.
Ia mengajak seluruh hadirin untuk menundukkan hati, mensyukuri anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada negeri kepulauan ini. Dari tanah sagu yang menghidupi masyarakat, selat dan laut yang melimpahkan rezeki, hingga kerukunan yang tetap terjaga di tengah keberagaman.
“Bersyukur atas tanah sagu yang menghidupi, atas selat dan laut yang melimpahkan rezeki, serta atas kerukunan yang tetap terjaga di antara keberagaman,” sambungnya.
Asmar menggambarkan 17 tahun perjalanan Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai sebuah bentangan sejarah yang sarat dengan kegigihan dan martabat. Jika menengok ke belakang, jejak langkah kolektif itu terlihat jelas perjalanan panjang sebuah daerah yang dahulu mungkin luput dari pandangan, kini bertransformasi menjadi wilayah yang diperhitungkan.
“Dari sebuah wilayah yang dulu mungkin luput dari pandangan, kini Meranti telah bertransformasi menjadi daerah yang diperhitungkan, sebuah beranda depan negara yang terus bersolek dengan kemandirian,” ucapnya.
Ia menegaskan tanah tempat seluruh elemen daerah berpijak hari ini adalah tanah yang lahir dari keringat keberanian dan air mata ketulusan para pejuang pemekaran. Kehadiran para pemimpin dan wakil rakyat dalam ruang sidang paripurna itu, menurutnya, merupakan simbol penghormatan terhadap kesinambungan perjuangan.
“Kami sadar, tanah tempat kita berdiri ini adalah tanah yang lahir dari keringat keberanian dan air mata ketulusan para pejuang pemekaran. Duduknya kita di ruangan yang mulia ini adalah bentuk penghormatan terhadap keberlanjutan,” jelasnya.
Ia menegaskan estafet perjuangan para tokoh pendiri Kabupaten Kepulauan Meranti kini berada di tangan generasi penerus yang memikul amanah besar. Pemerintahan hari ini, kata Asmar, tidak sekadar menjalankan roda birokrasi, melainkan merawat harapan yang telah dititipkan oleh ribuan masyarakat di seluruh penjuru daerah.
“Kita tidak sedang sekadar melanjutkan sebuah birokrasi, melainkan sedang merawat sebuah harapan besar yang dititipkan oleh ribuan masyarakat, dari Tanjung Harapan hingga pelosok Pulau Merbau, dari Tanjung Kedabu hingga ke pedalaman Teluk Buntal,” tegasnya.
Pidato itu menjadi penanda peringatan Hari Jadi ke 17 bukan hanya soal usia, tetapi tentang kesadaran kolektif akan amanah sejarah Kepulauan Meranti adalah hasil dari doa, perjuangan, dan harapan, yang harus terus dijaga agar tetap tumbuh sebagai negeri yang bermartabat dan berdaya.
Sepanjang satu tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Meranti terus berupaya menjaga ritme pembangunan agar tetap berjalan di atas rel yang benar. Di tengah dinamika fiskal nasional yang penuh tantangan, kegigihan seluruh jajaran Pemerintah Daerah dengan dukungan penuh legislatif perlahan membuahkan hasil yang nyata di berbagai sektor strategis.
Salah satu capaian paling fundamental adalah keberhasilan Kabupaten Kepulauan Meranti meraih Universal Health Coverage (UHC) Award 2025. Penghargaan ini bukan sekadar simbol prestasi, melainkan bukti konkret bahwa lebih dari 98 persen masyarakat Meranti kini telah terlindungi oleh jaminan kesehatan.
Sebuah ikhtiar besar untuk memastikan tidak ada lagi warga yang diliputi kecemasan saat sakit hanya karena keterbatasan biaya.
Bagi Pemerintah Daerah (Pemda), kesehatan masyarakat bukan sekadar program, melainkan modal utama untuk membangun daerah yang unggul. Tubuh yang sehat menjadi fondasi bagi produktivitas, pendidikan, dan daya saing masyarakat kepulauan.
Di sektor infrastruktur, pemerintah terus memacu pembangunan jalan lingkar serta peningkatan fasilitas pelabuhan. Langkah ini ditempuh sebagai upaya nyata memutus isolasi wilayah yang selama ini menjadi tantangan klasik daerah kepulauan.
Jalan, disadari sepenuhnya, adalah urat nadi ekonomi. Ketika akses terbuka, distribusi barang menjadi lebih lancar, harga kebutuhan pokok dapat ditekan, dan layanan kesehatan terutama bagi ibu hamil dan warga yang sakit dapat dijangkau dengan lebih cepat dan aman.
Memasuki usia ke 17, Kepulauan Meranti ingin membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari beton dan aspal. Lebih dari itu, pemerintah bertekad membangun sistem pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan taat asas sebuah fondasi yang menentukan keberlanjutan pembangunan di masa depan.
Tetapi di balik capaian yang patut disyukuri, kejujuran menuntut pemerintah untuk tetap menapak bumi. Pemerintahan hari ini tidak hanya berdiri untuk memaparkan keberhasilan, tetapi juga untuk menyampaikan tantangan yang masih membebani.
Salah satu pekerjaan rumah terbesar yang belum sepenuhnya terselesaikan adalah persoalan kemiskinan. Di balik deretan angka statistik, masih ada warga yang berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar. Masih ada saudara-saudara di pelosok desa yang hari-harinya diwarnai kekhawatiran tentang apa yang bisa dimakan esok hari.
Kesadaran inilah yang terus dipegang teguh pembangunan sejatinya bukan tentang seberapa banyak capaian yang diumumkan, melainkan seberapa jauh kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan oleh mereka yang paling membutuhkan. Dan pekerjaan rumah itu, bagi Kepulauan Meranti, adalah amanah yang tak boleh dilupakan sedetik pun.
Sebagai daerah kepulauan, Kepulauan Meranti tumbuh di atas tantangan alam yang tidak ringan. Biaya logistik yang tinggi serta kerentanan terhadap abrasi pantai menjadi persoalan nyata yang menuntut solusi berbasis teknologi dan dukungan anggaran yang besar. Tantangan geografis ini bukan sekadar catatan teknis pembangunan, melainkan kenyataan sehari-hari yang harus dijawab dengan kebijakan yang berpihak dan berkelanjutan.
Letak Kepulauan Meranti yang berada di pintu masuk internasional juga membawa konsekuensi tersendiri. Posisi strategis ini menjadikannya wilayah yang rawan terhadap berbagai ancaman lintas batas.
Karena itu, menjaga generasi muda dari bahaya narkotika dan perilaku menyimpang yang dapat merusak masa depan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Di saat yang sama, penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda Meranti ditetapkan sebagai prioritas utama. Pemerintah ingin anak-anak Meranti tumbuh sebagai pelaku pembangunan di tanah kelahirannya sendiri, bukan sekadar menjadi penonton di rumah sendiri.
Upaya itu perlahan menunjukkan hasil. Persentase cakupan pelayanan infrastruktur dasar meningkat signifikan, dari 66,87 persen pada tahun 2024 menjadi 79,17 persen di tahun 2025. Konektivitas antar pulau pun kian terbuka, memperpendek jarak, mempercepat akses, dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat kepulauan.
Tetapi, pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa dinamika zaman menuntut langkah yang lebih cepat dan lebih adaptif. Peringatan Hari Jadi ke 17 Kabupaten Kepulauan Meranti dijadikan momentum untuk mempererat barisan, menyatukan frekuensi, dan melipatgandakan energi kolektif.
Pemerintah menegaskan hadir bukan untuk merasa puas dengan capaian yang ada, melainkan memastikan setiap derap langkah pembangunan ke depan benar-benar menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat secara adil.
Komitmen itu dirangkum dalam tema besar: Kolaborasi Menuju Meranti Unggul, Agamis, dan Sejahtera. Sebuah tekad untuk melangkah dalam satu irama, dengan keyakinan sebesar apa pun cita-cita yang dicanangkan, ia hanya akan menjadi nyata ketika kepentingan rakyat diletakkan di atas segalanya.
Pada tahun ini, komitmen tersebut turut diperkuat dengan capaian membanggakan, yakni diraihnya predikat Istimewa pada Indeks Reformasi Hukum dengan nilai 96,38 persen. Capaian ini menjadi penegasan bahwa di usia ke 17, Meranti tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun sistem pemerintahan yang bersih, berwibawa, dan taat asas.
Meski demikian, kejujuran menuntut pemerintah untuk tetap menapak bumi. Di balik capaian yang belum sepenuhnya sempurna, masih ada tantangan besar yang membebani terutama dalam menekan angka kemiskinan. Di balik statistik, masih ada warga yang berjuang memenuhi kebutuhan pokok, masih ada saudara-saudara di pelosok desa yang hari-harinya ditentukan oleh pertanyaan sederhana: apa yang bisa dimakan esok hari. Inilah pekerjaan rumah yang tidak boleh dilupakan sedetik pun.
Pemerintah pun menegaskan kolaborasi bukan sekadar berkumpul dalam satu ruangan, melainkan bersepakat dalam satu tujuan. Meranti terlalu besar untuk dipikul oleh satu pundak, namun akan terasa ringan jika diangkat bersama antara pemerintah dan DPRD, antara ulama dan umaro, antara pengusaha dan pekerja.
Semua adalah satu ekosistem yang tidak boleh saling melemahkan.
Peringatan hari jadi ini pun dijadikan ajang memperkuat tekad bersama: bahwa Meranti adalah rumah besar yang harus dibangun dengan cinta, dijaga dengan nilai-nilai agama, dan dihantarkan menuju gerbang kesejahteraan yang hakiki.
Menatap masa depan, pemerintah mengajak seluruh masyarakat untuk tidak memandangnya dengan kecemasan, melainkan dengan keyakinan. Negeri ini tidak dilahirkan untuk menjadi saksi bisu kemajuan daerah lain, tetapi untuk menjadi pelopor di beranda terdepan.
Tujuh belas tahun telah dilalui dengan pasang dan surut. Namun seperti batang sagu yang tak pernah goyah meski akarnya terendam asin air laut, begitulah hendaknya Meranti lentur menghadapi perubahan, namun tetap kokoh menjaga prinsip dan marwah.
Harapan pun dititipkan kepada setiap tangan yang bekerja di tanah ini: jangan pernah lelah mencintai Meranti. Sebab sehebat apa pun rencana dan sekuat apa pun anggaran, semuanya hanya akan menjadi tumpukan kertas tanpa doa dan kerja keras masyarakatnya.
Dan kelak, ketika anak cucu bertanya tentang hari ini, semoga jawaban yang lahir adalah kebanggaan tujuh belas tahun lalu, pemimpin dan rakyat Meranti bersatu dan dari sanalah kejayaan itu bermula.
Kepulauan Meranti ada, Bertahan dan Berkembang Kehendak dan Kasih Sayang Sang Pencipta
Diskusi pembaca untuk berita ini