Untuk itu, Afni menekankan pentingnya siklus kebijakan yang berkelanjutan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga perbaikan. 

Menurutnya, sistem tersebut harus dijalankan secara konsisten baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Afni juga mengingatkan agar implementasi SMAP dan WBS tidak berhenti pada seremoni semata. 

“Semangatnya harus dijaga. Mulai dari lingkup kecil, lalu berkembang ke skala lebih besar. Ini bagian dari kontrol bersama,” tegasnya.

Selain itu, Afni juga menegaskan bahwa setiap insan yang bekerja di ruang publik harus siap diawasi sebagai bentuk akuntabilitas.

Terkait kinerja BUMD, Afni meminta direksi menetapkan target yang realistis dan terukur. 

“Kalau berani menargetkan deviden Rp300 miliar, harus siap dengan konsekuensinya. Jika tidak tercapai, mundur. Tapi kalau belum mampu, sampaikan target realistisnya secara jujur,” ujarnya.

Di tengah tantangan global dan persoalan energi di daerah, Ia menilai BUMD seperti BSP memiliki peluang strategis untuk berkembang dan berkontribusi lebih besar.

“Saya mengajak seluruh jajaran BUMD, khususnya BSP Zapin, untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Jangan berhenti di seremoni, buktikan dengan kinerja nyata,” kata Afni. 

Ia menekankan bahwa tujuan utama dari pengelolaan BUMD adalah memberikan kontribusi nyata berupa dividen yang dapat digunakan untuk pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
 
“Output terpenting adalah dividen untuk membangun masyarakat dan daerah,” tugasnya.