Bandung, katakabar.com -- Di tengah permasalahan sampah yang telah berkembang menjadi krisis cukup memprihatinkan di berbagai kota di Tanah Air, sekelompok mahasiswa yang mendalami Keilmuan Teknokultur Institut Teknologi Bandung (ITB) datang dengan pendekatan yang berbeda. Mereka tidak memulai solusi dari mesin canggih nan mahal, melainkan dari ruang kelas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang sederhana, dan rancang dampaknya pada keluarga inti yang akan menjadi perilaku baru menangani sampah.
Mereka bukan membedah kompleksitas teknis pengolahan sampah menjadi energi, tapi justru mengusulkan perlunya pendidikan lingkungan sejak dini sebagai strategi jangka menengah dan jangka panjang mengatasi permasalahan sampah dari sisi hulu. Mereka menilai, anak-anak yang dibiasakan memilah dan membuang sampah dengan benar dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarganya dalam mengelola sampah rumah tangga.
Dalam logika sederhana, membentuk perilaku manusia adalah kunci utama sebelum teknologi diterapkan. Nah, pola-pola pendekatan seperti ini merupakan inti dari apa yang dikembangkan dalam Keilmuan Teknokultur -- sebuah disiplin ilmu yang memandang teknologi bukan sebagai entitas mandiri, melainkan elemen yang terkait erat dengan manusia, human centric, dan nilai sosial.
“Teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Selalu ada manusia dan budaya yang berinteraksi dengannya,” kata Prof. Yedi Purwanto, salah satu pengajar Teknokultur, dalam perbincangan dengan katakabar.com di Kampus ITB, Bandung, beberapa hari lalu.
Terkait usulan usulan sekelompok mahasiswa tadi, Dosen yang lain, Dr. Prima Roza, menilainya sebagai hal yang sangat masuk akal. “Orang tua si anak, juga anggota keluarga yang lain, pasti malu kalau tidak mencontoh dan mendukung perilaku si anak dalam mengelola sampah di rumah tangga,” ujarnya.
Bagusnya pula usulan sekelompok mahasiswa tadi—Agung Harry Supiana, Charisma Anbiya Soeliantoro, dan Muhammad Thariq Faturrahman—tidak sekadar dilontarkan atau didiskusikan di ruang kuliah, tapi diracik bersama dalam bentuk artikel menarik yang kemudian dipublikasikan secara luas melalui media massa. Dr. Prima menyebut, dengan terpublikasi secara luas, ide-ide solutif tadi akan lebih mudah menyentuh segenap lapisan masyarakat secara luas pula.
Kewajiban menulis artikel di media massa, yang menawarkan solusi terhadap persoalan nyata di masyarakat, merupakan bagian tugas dari lingkup studi Teknologi dan Realita Sosial. Ide atau gagasan yang ditawarkan pun beragam. Di antaranya, ada kelompok mahasiswa yang bicara soal trik sederhana menghemat konsumsi energi di rumah tangga, atau pun mengulas pentingnya kearifan lokal dalam menjawab tantangan ketahanan pangan.
Baca juga: https://www.katakabar.com/berita/baca/wawancara-khusus-dosen-teknokultur-itb-teknologi-tak-boleh-lepas-dari-nilai-nilai-kemanusiaan
Berangkat dari persoalan nyata
Keilmuan Teknokultur merupakan salah satu keilmuan multidisiplin relatif baru di ITB, yang diresmikan Rektor Prof. Tatacipta Dirgantara pada Agustus 2025. Namun akar pemikirannya telah berkembang sejak pertengahan 1990-an ketika sejumlah profesor ITB mulai mendiskusikan hubungan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat.
Saat itu para akademisi yang dimotori Prof. Wiranto Arismunandar (Rektor ITB kala itu) serta Prof. Sahari Besari (kala itu Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan), dibantu Dr. Indra Djati Sidi menyadari bahwa banyak persoalan yang dihadapi masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu.
Kajian semacam ini sebenarnya sudah berkembang di berbagai universitas besar dunia seperti MIT, Stanford, UCLA, dan sejumlah perguruan tinggi di Eropa. Bidang tersebut dikenal dengan nama Science, Technology and Society (STS), yaitu studi yang menelaah hubungan timbal balik antara perkembangan teknologi dan kehidupan masyarakat.
Menurut penuturan Dr. Prima Roza, diskusi-diskusi tersebut pada awalnya dilakukan secara informal di ITB. Namun dari sanalah muncul pemahaman bahwa teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Setiap teknologi akan berinteraksi dengan manusia, nilai-nilai sosial, dan lingkungan tempat teknologi tersebut digunakan.
Karena itulah kemudian berkembang gagasan untuk membangun suatu keilmuan yang secara khusus mempelajari hubungan antara teknologi dan nilai kemanusiaan. Dari proses panjang itulah lahir Keilmuan Multidisiplin Teknokultur (lihat infografis: Teknokultur ITB, Perjalanan Gagasan hingga Implementasi).

Mengingat Teknokultur merupakan keilmuan multidisiplin, para dosen yang terlibat pun berasal dari berbagai latar belakang keilmuan. Ada dari bidang teknik, pendidikan, linguistik, ilmu agama, studi kebijakan, psikologi, bisnis, kewarganegaraan, hingga ilmu kebumian.
Keberagaman ini sengaja dibangun karena persoalan-persoalan yang dikaji dalam Teknokultur memang tidak dapat dijelaskan dari satu perspektif saja. Oleh sebab itu, mahasiswa Teknokultur juga diajak melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang sekaligus. Bukan hanya melihat aspek teknologinya, tetapi juga aspek sosial, etika, dan dampaknya terhadap masyarakat.
Prima Roza menjelaskan bahwa berbagai persoalan yang tampak teknis sering kali memiliki konsekuensi sosial yang luas. Pembangunan jalan tol, misalnya, bukan hanya soal konstruksi dan rekayasa teknik. Kehadiran jalan tol tersebut juga mengubah pola mobilitas, aktivitas ekonomi, tata ruang, hingga perilaku masyarakat.
“Karena itu, teknologi tidak dapat dipahami hanya dari aspek teknisnya semata. Masalah di masyarakat tidak bisa diselesaikan secara monodisiplin," ujar dosen Teknokultur lingkup studi Teknologi dan Realita Sosial serta Politik Strategi & Diplomasi ini.


Tak boleh lepas dari nilai-nilai kemanusiaan
Prof. Yedi Purwanto menguraikan bahwa dalam konteks Indonesia, pendekatan multidisiplin ini sangat penting. Teknologi yang berkembang di masyarakat tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai kemanusiaan.
“Saya sering menggunakan pendekatan yang disebut STEM plus R. STEM adalah Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Namun menurut saya, ada satu unsur yang sangat penting untuk ditambahkan, yaitu R: Religion. Tapi “R” yang saya maksud bukan sekadar agama dalam arti formal, melainkan nilai-nilai etika, moralitas, dan spiritualitas,” Prof. Yedi memaparkan.
Menurut Yedi, teknologi yang sangat maju sekalipun tetap bergantung pada manusia yang menggunakannya. Persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada manusia yang berada di belakang teknologi tersebut.
Maka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus selalu disertai penguatan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab sosial. “Teknologi yang hebat tidak akan membawa manfaat apabila digunakan tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan,” Prof. Yedi mengingatkan.

Tantangan besar Era AI
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang menjadi salah satu isu penting yang dipelajari karena dampaknya yang sangat besar terhadap kehidupan manusia. Namun ruang lingkup Teknokultur jauh lebih luas. Kajian Teknokultur mencakup berbagai hubungan antara manusia dan teknologi, mulai dari pendidikan, lingkungan, komunikasi, bahasa, transportasi, kesehatan, kewarganegaraan, hingga transformasi digital.
"AI hanya salah satu bagian dari lanskap teknologi yang lebih besar," kata dosen Teknokultur lingkup studi Tekno-Linguistik, Dr. Nia Kurniasih. “Yang menjadi perhatian utama bukan semata-mata teknologinya, melainkan bagaimana teknologi tersebut memengaruhi manusia dan bagaimana manusia membentuk arah perkembangan teknologi,” ia menambahkan.
Dalam perspektif Teknokultur, hubungan tersebut bersifat timbal balik. Teknologi memengaruhi masyarakat, tetapi masyarakat juga memengaruhi cara teknologi digunakan, diterima, dimodifikasi, bahkan ditolak.
Meski AI hanya salah satu bagian dari lanskap besar teknologi, Nia Kurniasih mengakui, perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu isu yang banyak mendapat perhatian. Ia mengingatkan, masyarakat sering menganggap AI sebagai sistem yang objektif dan netral. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Menurut Nia Kurniasih, AI dibangun menggunakan data dalam jumlah sangat besar. Jika data yang digunakan mengandung bias, maka bias tersebut dapat ikut terbawa ke dalam hasil yang diberikan sistem AI. Bias budaya, bias gender, bias sosial, hingga bias nilai menjadi tantangan yang perlu diwaspadai.
Sebagian besar model AI global saat ini dilatih menggunakan data yang berasal dari negara-negara Barat. Akibatnya, cara pandang, norma, dan nilai yang dominan dalam data tersebut dapat memengaruhi keluaran yang dihasilkan AI.
Karena itu, kata Nia Kurniasih, masyarakat tidak boleh menerima begitu saja semua jawaban yang diberikan teknologi. "Teknologi dapat membantu manusia, tetapi kemampuan berpikir kritis tetap harus dimiliki manusia," ucapnya.
Menjadi warga digital yang cerdas
Isu lain yang mengemuka adalah pentingnya kewargaan digital atau digital citizenship. Baik Nia Kurniasih mau pun Prima Roza sama-sama menilai, masyarakat saat ini tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus memahami etika digital, hak dan kewajiban digital, keamanan digital, serta tanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.
Hal ini menjadi semakin penting karena media sosial, algoritma digital, dan platform komunikasi kini memengaruhi cara manusia memperoleh informasi, berinteraksi, bahkan membentuk pandangan hidup.
Dalam konteks ini, Prof. Yedi menyoroti bagaimana algoritma media sosial dapat memperkuat bias dan mempersempit ruang perjumpaan dengan pandangan yang berbeda. Di sisi lain, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai moderasi, toleransi, dan kemanusiaan. Karena itu, kata Prof. Yedi, menjadi warga digital yang cerdas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Menyiapkan SDM Indonesia yang lebih baik
Ke depan, para dosen Teknokultur tersebut sepakat melihat kebutuhan akan sumber daya manusia yang mampu menjembatani teknologi dan kemanusiaan akan semakin besar.
Menurut mereka, Indonesia tidak hanya membutuhkan insinyur, programer, atau ilmuwan sosial secara terpisah. Negeri ini juga memerlukan individu yang mampu memahami hubungan antara teknologi, kebijakan, lingkungan, dan perilaku masyarakat.
Kemampuan berpikir kritis, melihat persoalan secara multidisiplin, serta memahami dampak sosial dari teknologi menjadi kompetensi yang semakin penting di tengah transformasi digital dan bonus demografi menuju Indonesia yang lebih baik.
“Teknokultur mengajarkan bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang diciptakan manusia. Lebih dari itu, masa depan ditentukan oleh kemampuan manusia memahami, mengelola, dan memberi makna terhadap teknologi yang digunakannya,” pungkas Nia Kurniasih.
Dengan kata lain, sebagaimana berulang kali ditekankan para dosen Teknokultur ITB, termasuk Prof. Dicky Munaf, teknologi memang terus berkembang. Namun yang menentukan arah perkembangannya tetaplah manusia. “Manusia pelopor teknologi untuk peradaban baru, bukan manusia sekadar pengguna,” ujar Prof. Dicky Munaf yang terlibat sejak awal perumusan keilmuan Teknokultur.
Begitulah memang yang seharusnya.-
Keilmuan Teknokultur Menjembatani Teknologi dan Kemanusiaan di Era AI
Diskusi pembaca untuk berita ini