Di tengah keputusasaan, wajah anak dan istrinya menjadi alasan utama untuk terus bertahan. Ia menolak tenggelam dalam kesedihan dan memilih berjuang memulihkan kehidupannya, meski harus memulai dari nol.
Setiap hari Rozzaq mendatangi lahannya yang masih tertutup lumpur. Ia mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan sambil mencari cara terbaik untuk menghidupkan kembali tanah yang rusak akibat banjir.
"Saya belajar lagi. Saya baca jurnal pertanian, menonton video di YouTube, mencari informasi bagaimana mengelola lahan pascabanjir agar bisa ditanami kembali," katanya.
Perjuangan itu tidak mudah. Lumpur sisa banjir mencapai ketebalan sekitar 30 sentimeter. Panas terik, rasa lapar, haus, dan kelelahan menjadi teman sehari-hari. Namun, ia memilih terus bekerja dibanding berdiam diri. "Saya tidak mau berleha-leha. Kehidupan harus terus berjalan," ucapnya.
Tangis di Tengah Ladang yang Hancur
Diskusi pembaca untuk berita ini