Bayangi

Sorotan terbaru dari Tag # Bayangi

Bitcoin ke US$65.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspada Risiko Inflasi dan Geopolitik Masih Bayangi Pasar Internasional
Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 14:30 WIB

Bitcoin ke US$65.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspada Risiko Inflasi dan Geopolitik Masih Bayangi Pasar

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$65.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Data Consumer Price Index (CPI) Juni tercatat turun menjadi 3,5% secara tahunan, dari 4,2% pada Mei, sementara Producer Price Index (PPI) juga melambat dari 6,0% menjadi 5,5%. Kondisi tersebut picu optimisme pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat dan mendorong reli aset berisiko, termasuk Bitcoin. Pada 15 Juli 2026 lalu, Bitcoin berhasil kembali diperdagangkan di atas level US$65.000 setelah sempat berada di bawah area tersebut selama beberapa hari. Kenaikan ini turut memicu short squeeze dengan nilai likuidasi sekitar US$60–77 juta, di mana sekitar 90% berasal dari posisi short, menandakan banyak pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh harga Bitcoin akan melemah. Meski demikian, tim trading desk FLOQ menilai bahwa reli tersebut masih perlu dicermati karena belum sepenuhnya didukung oleh perubahan fundamental yang kuat. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pelaku pasar sebaiknya tidak hanya melihat penurunan angka inflasi, tetapi juga memahami faktor yang menjadi penyebab di balik perlambatan tersebut. "Pasar merespons positif data inflasi Amerika Serikat karena dianggap membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, yang perlu dipahami adalah penurunan inflasi Juni sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya harga energi selama periode gencatan senjata di Timur Tengah. Ketika faktor tersebut mulai berbalik arah, risiko inflasi juga berpotensi kembali meningkat," ujar Yudho. Menurut FLOQ, meningkatnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa pekan ke depan. Pada 14 Juli 2026 lalu, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran serta mengenakan levy sebesar 20% terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kebijakan keamanan. Selat Hormuz sendiri di antara jalur perdagangan minyak terpenting di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap distribusi energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. Yudho menjelaskan kenaikan harga energi dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed. "Kalau harga minyak kembali naik, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga biaya logistik, transportasi, hingga harga berbagai kebutuhan pokok. Kondisi ini dapat membuat inflasi kembali meningkat sehingga ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya menjadi lebih terbatas. Investor perlu melihat hubungan antar faktor tersebut, bukan hanya bereaksi terhadap satu data ekonomi," jelasnya. FLOQ juga mencatat ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih relatif berhati-hati. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September memang turun ke kisaran 54–63%, dibandingkan 70–80% pada pekan sebelumnya. Namun di sisi lain, pasar masih memperkirakan sekitar 76% kemungkinan tidak akan terjadi pemangkasan suku bunga sepanjang 2026. Sentimen investor kripto pun belum sepenuhnya pulih. Crypto Fear & Greed Index masih berada di level 29 atau kategori Fear, meskipun Bitcoin telah rebound sekitar 29% dari titik terendahnya pada 5 Juli 2026 lalu. Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan bahwa reli Bitcoin saat ini lebih tepat dipandang sebagai pemulihan sentimen jangka pendek dibandingkan awal dari tren bullish yang telah terkonfirmasi. "Level US$65.000 menjadi area yang sangat penting untuk diperhatikan. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut dengan dukungan volume beli yang kuat, peluang melanjutkan tren kenaikan tetap terbuka. Namun apabila kembali turun di bawah US$62.000, investor perlu mengantisipasi potensi koreksi menuju kisaran US$58.000 hingga US$59.000," tambahnya. Selain faktor makroekonomi, FLOQ juga menyoroti bahwa arus dana investor institusi belum sepenuhnya mendukung reli Bitcoin. Pada 13 Juli, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat outflow sebesar US$424,7 juta, menjadi arus keluar terbesar sepanjang Juli. Sehari kemudian, arus dana kembali berbalik dengan inflow sekitar US$181 juta, dipimpin oleh iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock sebesar US$138,9 juta. Menurut FLOQ, pergerakan yang sangat fluktuatif tersebut menunjukkan bahwa investor institusi masih menunggu kepastian arah pasar. Di sisi lain, data on-chain masih menunjukkan tren akumulasi Bitcoin yang berlanjut, sementara volume perdagangan di centralized exchange (CEX) meningkat sekitar 15,3%, menjadi kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir. FLOQ juga menilai perkembangan regulasi di Jepang menjadi salah satu katalis positif jangka panjang yang patut diperhatikan. Persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen keuangan dinilai dapat membuka jalan bagi ETF Bitcoin spot domestik di Jepang dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian pasar. Meskipun peluang lolosnya regulasi tersebut menurut pasar prediksi turun menjadi sekitar 43%, kepastian regulasi tetap menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi investor institusi di industri aset digital. Menutup analisanya, Yudho mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam beberapa minggu ke depan, seiring pasar mencermati perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, konflik geopolitik, hingga dinamika regulasi aset digital. "Volatilitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pasar aset digital. Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu headline atau satu indikator ekonomi. Memahami gambaran besar dan menerapkan manajemen risiko yang baik akan jauh lebih penting dalam menghadapi kondisi pasar seperti saat ini," ujar Yudho. Implikasi Bagi Investor Pemula 1. Jangan menganggap kenaikan harga sebagai sinyal "waktu terbaik untuk membeli" Bitcoin yang kembali menembus US$65.000 memang mencerminkan sentimen pasar yang lebih positif setelah data inflasi AS melandai. Namun, kenaikan tersebut masih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek. Investor pemula perlu memahami bahwa harga aset digital dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan baru, seperti data ekonomi, kebijakan bank sentral, atau kondisi geopolitik. 2. Belajar membaca faktor fundamental, bukan hanya grafik harga Banyak investor baru hanya memperhatikan apakah harga sedang naik atau turun. Padahal, memahami penyebab di balik pergerakan harga jauh lebih penting. Dalam kondisi saat ini, misalnya, inflasi AS, kebijakan suku bunga, konflik geopolitik, hingga perkembangan regulasi aset digital menjadi faktor yang sama-sama memengaruhi sentimen pasar. Dengan memahami konteks tersebut, investor dapat memiliki ekspektasi yang lebih realistis terhadap pergerakan pasar. 3. Volatilitas adalah karakteristik pasar aset digital Pergerakan harga yang tajam, baik naik maupun turun, merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital. Oleh karena itu, investor pemula perlu membangun kesiapan menghadapi volatilitas dan menghindari keputusan yang didorong oleh rasa takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO) maupun kepanikan ketika harga mengalami koreksi. 4. Pentingnya memahami profil risiko pribadi Setiap investor memiliki tujuan keuangan dan toleransi risiko yang berbeda. Sebelum mulai berinvestasi, penting bagi investor pemula untuk memahami berapa besar risiko yang sanggup mereka hadapi, sehingga keputusan investasi lebih selaras dengan kondisi finansial dan tujuan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren pasar. 5. Edukasi menjadi langkah pertama sebelum berinvestasi Meningkatnya akses terhadap aset digital perlu diimbangi dengan peningkatan literasi. Investor pemula sebaiknya membangun pemahaman mengenai dasar-dasar aset digital, cara kerja pasar, serta risiko yang menyertainya sebelum mengambil keputusan. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, investor dapat lebih siap menghadapi dinamika pasar dan menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. "Bagi investor pemula, kenaikan harga sering kali memunculkan keinginan untuk segera ikut masuk ke pasar. Padahal, yang lebih penting adalah memahami alasan di balik pergerakan tersebut. Ketika seseorang mengerti bagaimana inflasi, kebijakan moneter, regulasi, dan kondisi global memengaruhi pasar, keputusan yang diambil akan lebih rasional dan tidak hanya didasarkan pada momentum sesaat," tutup Yudho. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 16 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu. FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Tekanan Bearish Masih Bayangi Pasar Bikin Harga Emas Menukik Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 06 November 2025 | 18:35 WIB

Tekanan Bearish Masih Bayangi Pasar Bikin Harga Emas Menukik

Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) melemah lagi ke sekitar US$3.970 per ounce, ditekan oleh penguatan Dolar AS. Tren bearish masih dominan, dengan potensi turun ke $3.818. Harga emas (XAU/USD) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (6/11), setelah sebelumnya sempat mencatat kenaikan lebih dari 1 persen di sesi Rabu. Saat ini, logam mulia tersebut diperdagangkan di sekitar $3.970 per ounce, turun dari posisi tertinggi harian di US$3.980. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan Dolar AS yang menekan harga emas, meski ketidakpastian politik di Amerika Serikat (AS) masih menjaga minat investor terhadap aset safe haven. Menurut Andy Nugraha, analis dari Dupoin Futures Indonesia, kondisi teknikal emas menunjukkan kecenderungan bearish yang semakin kuat. Dari hasil kombinasi analisis pola candlestick dan Moving Average, momentum penurunan harga masih dominan. “Jika tekanan bearish berlanjut, maka harga emas berpotensi turun hingga ke level $3.818. Namun, bila harga gagal menembus area tersebut dan terjadi koreksi teknikal, maka peluang kenaikan terdekat berada di sekitar $3.996,” jelas Andy. Dari sisi fundamental, pasar tengah merespons sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan hasil positif. Laporan ketenagakerjaan sektor swasta versi Automatic Data Processing (ADP) mencatat peningkatan sebesar 42.000 pada Oktober, berbalik dari penurunan 29.000 di bulan sebelumnya. Angka ini menandakan adanya stabilisasi di pasar tenaga kerja setelah melemah selama dua bulan berturut-turut. Kinerja tenaga kerja yang solid tersebut memperkuat posisi Dolar AS dan menjadi faktor utama pelemahan emas. Karena emas tidak memberikan imbal hasil, penguatan dolar membuat harga logam mulia ini lebih mahal bagi pembeli di luar negeri sehingga permintaannya berkurang. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar enam basis poin menjadi 4,15 persen, serta imbal hasil riil yang meningkat hingga 1,86 persen, turut memperlemah daya tarik emas. Tekanan tambahan juga datang dari sikap hawkish sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan memberikan pernyataan publik hari ini, seperti Michael Barr, John Williams, Christopher Waller, dan Alberto Musalem. Meskipun The Fed telah memangkas suku bunga dua kali berturut-turut, Ketua Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan berikutnya pada Desember belum tentu dilakukan. Sikap ini menahan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter yang lebih cepat, yang biasanya menjadi faktor pendukung harga emas. Tetapi, ketidakpastian politik akibat penutupan pemerintahan federal AS yang terus berlangsung dapat memberikan sedikit dukungan bagi emas. Penundaan pembahasan undang-undang pembukaan kembali pemerintahan menambah kekhawatiran investor, sehingga mendorong minat terhadap aset aman seperti emas. Secara umum, arah pergerakan emas hari ini akan sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap kebijakan moneter AS dan kondisi geopolitik global. Dupoin Futures Indonesia menilai bahwa volatilitas pasar emas kemungkinan masih tinggi menjelang akhir pekan. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dengan memperhatikan area support dan resistance, sebagai panduan untuk mengantisipasi pergerakan harga berikutnya.

Harga Bitcoin Anjlok ke Bawah $80.000, Tarif Trump Effect Bayangi Pasar Kripto Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 10 April 2025 | 17:51 WIB

Harga Bitcoin Anjlok ke Bawah $80.000, Tarif Trump Effect Bayangi Pasar Kripto

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali melemah tajam, turun ke bawah level $80.000 Senin (7/4) lalu, di tengah gelombang tekanan makroekonomi dan kekhawatiran investor atas kebijakan tarif impor kontroversial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Koreksi ini terjadi seiring arus keluar modal dari pasar aset berisiko, termasuk kripto, yang mencatat likuidasi lebih dari US$590 juta dalam satu hari. Kondisi pasar kripto saat ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Kebijakan Trump yang mengusulkan kenaikan tarif impor memicu reaksi negatif dari investor. Pasar menilai kebijakan tersebut berisiko memperparah tekanan harga dan menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan global. Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menjelaskan, efek dari retorika politik Trump sudah terasa di pasar keuangan global, termasuk kripto. “Kebijakan tarif Trump memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi dan potensi perlambatan ekonomi global. Hal ini diperkuat dengan peringatan dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menyebut bahwa tekanan inflasi dapat meningkat signifikan jika kebijakan tersebut diterapkan,” ujar Fyqieh.

Ketidaksinkronan Aturan Bayangi Kinerja Sawit Tulang Punggung Ekonomi RI Nusantara
Nusantara
Jumat, 20 Oktober 2023 | 13:27 WIB

Ketidaksinkronan Aturan Bayangi Kinerja Sawit Tulang Punggung Ekonomi RI

Jakarta, katakabar.com - Ketidaksinkronan aturan membayangi kinerja Industri kelapa sawit salah satu sektor usaha yang jadi tulang punggung ekonomi nasional. Lantaran itu, Pemerintah wajib menjamin kemudahan dan kepastian berusaha di sektor ini. Ketua Pusat Studi Sawit IPB Budi Mulyanto menjelaskan, industri kelapa sawit memberikan kesempatan dan lapangan kerja bagi jutaan masyarakat. Penerimaan ke negara tidak sedikit dari industri ini, makanya wajib diberikan perlindungan oleh Pemerintah. "Sawit adalah tulang punggung pengembangan ekonomi sosial di Indonesia. Tenaga kerja yang bergantung pada sawit sangat banyak," ulasnya dilansir dari laman VIVA.co.id, pada Jumat (20/10). Menurutnya, saat ini terjadi polemik dalam industri kelapa sawit nasional. Menjadi sorotan, yakni ketidaksinkronan aturan akhirnya menimbulkan ketidakpastian bisnis berpotensi merugikan negara. Persoalan itu muncul lantaran adanya perbedaan kesepahaman di pemangku kebijakan soal hak atas tanah yang dimasukkan ke dalam kawasan hutan sehingga tidak lagi menjadi areal produktif. "Padahal, dari hak atas tanah itu Pemerintah diuntungkan dengan adanya pajak yang dibayar dan penyerapan tenaga kerja," ujarnya. Ketua Umum Dewab Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung menimpali, dari sisi kebijakan pemerintah perlu melakukan penyempurnaan agar replanting bisa dilakukan. Soalnya, dengan ketentuan saat ini ada potensi hilangnya 2,4 juta hektar lahan karena tidak bisa di-replanting. "Kalau ini terjadi kita kehilangan devisa negara Rp119 triliun per tahun dan untuk pungutan ekspor serta bea keluar Rp112 per tahun," bebernya.