Coinfest Asia 2026

Sorotan terbaru dari Tag # Coinfest Asia 2026

Bittime Merawat Komunitas Lewat Kampanye #FindBeagle di Coinfest Asia 2026 Ekonomi
Ekonomi
7 jam yang lalu

Bittime Merawat Komunitas Lewat Kampanye #FindBeagle di Coinfest Asia 2026

Bali, katakabar.com - Bittime, platform aset digital dan keuangan terdepan di Indonesia yang beroperasi sejak 2022, merayakan kedekatannya dengan komunitas kripto lokal maupun internasional lewat kampanye interaktif #FindBeagle yang digelar sepanjang Coinfest Asia 2026 di Pantai Melasti, Bali pada 20 hingga 21 Agustus 2026 lalu. Ini menjadi salah satu aktivasi treasure hunt komunitas kripto pertama yang dihadirkan sebuah platform aset digital lokal di ajang tersebut. Mengusung maskot Beagle sebagai ikon aktivasi, kampanye ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari pengunjung, dengan lebih dari 100 peserta termasuk 20 KOL, berpartisipasi selama dua hari acara berlangsung. Untuk ikut serta, pengunjung cukup mengikuti tiga langkah mudah: - Find: Menemukan dan mendatangi maskot Beagle di area booth Bittime. - Snap: Mengambil foto atau video kreatif bersama maskot Beagle. - Post: Mengunggah hasil foto/video ke media sosial, menandai akun resmi @bittimexchange, dan menggunakan tagar resmi #FindBeagle. Para pemenang berkesempatan membawa pulang merchandise eksklusif Bittime, serta berbagi total hadiah senilai Rp500.000 dalam bentuk USDT. "Kami ingin kehadiran Bittime di Coinfest Asia tidak hanya soal produk dan regulasi, tapi juga soal membangun kedekatan yang menyenangkan dengan komunitas. #FindBeagle adalah cara kami merayakan itu — sederhana, interaktif, dan penuh keceriaan." Ryan Lymn, Chief Operating Officer (COO) Bittime. Momentum di Tengah Ekspansi Produk dan Regulasi Kampanye #FindBeagle hadir bersamaan dengan sejumlah pengumuman strategis Bittime di Coinfest Asia 2026, yang menegaskan posisinya sebagai salah satu Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) lokal pertama yang meraih lisensi resmi CFX untuk mengoperasikan perpetual futures. Bittime juga memperkenalkan akses tokenisasi saham AS 24/7 melalui kerja sama dengan Ondo, serta mulai membuka peluang tokenisasi Real World Assets (RWA) bagi proyek-proyek fisik premium di Indonesia. Di sisi keamanan, Bittime menerapkan Three-Shield Solution, perlindungan berlapis yang memadukan mitigasi risiko berbasis sistem otomatis dan pengawasan manual untuk menjaga transaksi serta penarikan dana nasabah dari ancaman siber. "Pasar Indonesia sedang bergerak cepat menuju fase kedewasaan. Bittime berkomitmen 100% untuk patuh pada regulasi, menyediakan teknologi terdepan, serta menjadi jembatan utama yang menghubungkan investor lokal dengan instrumen keuangan global secara aman." Ryan Lymn, COO Bittime Visi Menuju 2027: Akselerasi Real World Assets (RWA) Menatap target tahun 2027, Bittime memposisikan diri untuk memimpin ekosistem aset digital teregulasi di Indonesia. Salah satu fokus utama Bittime adalah mendukung proyek-proyek aset fisik lokal premium untuk melakukan tokenisasi melalui skema Real World Assets (RWA). Skema ini memungkinkan proyek lokal mendapatkan akses permodalan dari investor global sekaligus membagikan hasil secara transparan. "RWA adalah arah masa depan yang sangat menjanjikan. Kami sudah mulai memberikan konsultasi awal bagi beberapa pemilik proyek lokal potensial. Begitu rincian aturan teknis dari OJK rampung, Bittime siap menjadi pelopor dalam mengeksekusi proyek-proyek RWA di Tanah Air." Ryan Lymn, COO Bittime.

Berawal dari Jadi Ojol, Rayyan Kenal Kripto hingga Tembus Coinfest Asia 2026 Lifestyle
Lifestyle
15 jam yang lalu

Berawal dari Jadi Ojol, Rayyan Kenal Kripto hingga Tembus Coinfest Asia 2026

Bali, katakabar.com - Siang-siang Rayyan biasanya dihabiskan di atas sepeda motor. Pemuda berusia 23 tahun yang lahir di Bali itu berpindah dari satu titik ke titik lain, mengikuti pesanan yang muncul di layar ponselnya sebagai pengemudi ojek daring.  Tetapi, satu perjalanan membawanya lebih jauh dari sekadar alamat tujuan.  Semua bermula ketika salah seorang karyawan FLOQ menggunakan jasa Rayyan. Seperti banyak percakapan singkat antara pengemudi dan penumpang, obrolan awalnya berlangsung sederhana. Hingga pembicaraan mengarah pada pekerjaan, investasi, dan aset kripto.  Dari percakapan itu, karyawan FLOQ mengetahui Rayyan ternyata sedang memulai perjalanan investasinya. Kripto bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya. Ia sudah lebih dulu mengenalnya melalui berbagai konten edukasi di internet, salah satunya dari Akademi Crypto, platform pembelajaran yang membahas aset kripto dan ekosistemnya.  Rasa ingin tahu itu kemudian mendorongRayyan membuka akun di FLOQ.  Ia tidak langsung menjadi trader yang setiap hari memandangi pergerakan grafik harga. Justru sebaliknya. Rayyan mengaku masih belum berani melakukan trading aktif.  Ia memilih berjalan perlahan. Alih-alih mengejar pergerakan harga jangka pendek, Rayyan menggunakan pendekatan dollarcost averaging (DCA), yakni membeli aset kripto tertentu secara bertahap dalam periode tertentu. Di sela aktivitasnya sebagai pengemudi ojol, ia juga terus mengikuti konten edukasi untuk memahami dunia yang baru dimasukinya itu.  Bagi Rayyan, langkah pertamanya di kripto bukan dimulai dari keberanian mengambil risiko besar, melainkan dari belajar.  Undangan Membuka Pintu Lebih Lebar  Pertemuan sederhana antara pengemudidan penumpang tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman yang tidakdiduga Rayyan.  Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat belajarnya, FLOQ mengundang Rayyan menghadiri Coinfest Asia 2026. Festival kripto tersebut berlangsung pada 20 hingga 21 Agustus 2026 lalu di Melasti Beach, Bali, dan mempertemukan pelaku industri, komunitas, pengembang, hingga trader dariberbagai negara.  Bagi seseorang yang sebelumnya mengenal kripto terutama melalui layar ponsel, kesempatan itu menawarkan pengalaman berbeda.  Di Coinfest Asia, Rayyan dapat melihat dunia kripto bukanhanya tentang harga Bitcoin yang naik dan turun. Di baliknya terdapat komunitas, perusahaan teknologi, pengembang blockchain, pelaku industrikeuangan, regulator, hingga orang-orang yang sedang membangun berbagai layanan berbasis aset digital.  Perjalanan itu seakan mempertemukan dua dunia.  Di satu sisi adalah keseharian Rayyan di jalanan Bali, menerima pesanan demi pesanan melalui aplikasi. Di sisi lain adalah sebuah industri digital yang berkembang cepat dan semakin banyak diakses masyarakat melaluiperangkat yang sama: ponsel di genggaman.  Cerita Rayyan menjadi potret kecil dari perubahan yang sedang berlangsung di Indonesia.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital telah mencapai 22,69 juta pada Juni 2026. Pada bulan yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat Rp28,58 triliun, meningkat 24,20 persen dibanding bulan sebelumnya.  Angka tersebut menunjukkan bahwa aset kripto semakin dekat dengan masyarakat. tetapi, semakin mudahnya akses juga membawa pekerjaan rumah lain: literasi.  Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik mencatat indeks inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51 persen. Sementara indeks literasi keuanganberada pada 66,46 persen.  Jarak antara akses dan pemahaman itu menjadi penting. Memiliki aplikasi keuangan di ponsel belum tentu berarti seseorang telah memahami produk yang digunakan, termasuk risiko di dalamnya.  Di sinilah perjalanan Rayyan menjadi relevan.  Ia tidak memulai dengan transaksi besar atau keputusan yang rumit. Ia memulai dengan menonton, membaca, bertanya, kemudian mencoba memahami sebelum mengambil langkah berikutnya.  Kripto Tidak Mengenal Profesi  CEO dan Founder FLOQ Yudhono Rawis, melihat cerita semacam Rayyan sebagai gambaran bagaimana teknologi finansial dapat menjangkau masyarakat dengan latar belakang yang semakin beragam.  “Bagi kami, cerita Rayyan menunjukkan akses terhadap aset digital tidak seharusnya dibatasi oleh profesi atau latar belakang. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang memulainya dengan pengetahuan, memahami risikonya, lalu mengambil keputusan sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujar Yudho.  Menurut Yudho, perkembangan industri aset digital juga perlu dibarengi dengan semakin luasnya akses terhadap pendidikan finansial.  “Teknologi bisa membuka akses, tetapi edukasi yang membuat akses tersebut menjadi lebih bermakna. Kami ingin semakin banyak orang merasa bahwa mereka boleh belajar, boleh bertanya, dan tidak perlu menjadi ahli keuangan terlebih dahulu untuk mulai memahami aset digital,” ucapnya.  Pandangan tersebut sejalan dengan misi FLOQ yang menyebut ingin membuat perjalanan menuju investasi aset digital menjadi lebih sederhana dan inklusif. Perusahaan itu sendiri telah mencatat sekitar 1,8 juta pengguna setelah satu tahun beroperasi.  Di tengah pertumbuhan tersebut, cerita Rayyan menunjukkan wajah lain dari adopsi kripto Indonesia.  Bukan tentang layar perdagangan dengan deretan angka. Bukan pula tentang siapa yang memiliki modal paling besar.  Melainkan tentang bagaimana pengetahuan yang sebelumnya terasa jauh kini dapat ditemukan lewat sebuah video, aplikasi, percakapan dengan orang asing, bahkan perjalanan singkat mengantar seorang penumpang.  Bagi Rayyan, perjalanan itu masih berada di awal.  Ia masih bekerja sebagai pengemudi ojol. Masih menjalani rutinitasnya di jalanan Bali. Masih mempelajari kripto sedikit demi sedikit dan memilih pendekatan investasi yang menurutnya lebih nyaman dibanding trading aktif.  Tetapi, kini ada satu hal yang berbeda.  Ponsel yang sehari-hari membantunya menemukan penumpang dan mencari penghasilan juga telah menjadi pintu masuk menuju pengetahuan finansial yang lebih luas.   Sebuah perjalanan yang bermula dari jalanan Bali, lalu membawanya ke tengah pertemuan industri kripto dunia di pulau tempat ia dilahirkan.