Hilirisasi
Sorotan terbaru dari Tag # Hilirisasi
Hilirisasi Nikel di SulaweEkonsi Potensi Dorong Ekonomi Lokal Tangguh
Jakarta, katakabar.com - Hilirisasi nikel dinilai akan mampu menciptakan nilai tambah melalui peningkatan produksi hasil tambang, sekaligus berdampak langsung dalam mendorong ketangguhan ekonomi lokal yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan industri. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Morowali, Sulawesi Tengah. Proyek ini diamanatkan kepada PT Vale Indonesia Tbk (INCO), anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID. Pengamat Lingkungan, Irwan Ridwan, mengatakan proyek hilirisasi seperti HPAL pada dasarnya juga dirancang untuk meningkatkan ekonomi lokal. Menurutnya, aspek tersebut umumnya telah dibahas dalam tahap pra-studi kelayakan (pre-feasibility study/Pra-FS) hingga studi kelayakan (feasibility study/FS) menjadi bagian dari untuk mendorong ketangguhan ekonomi nasional dan ekonomi lokal. “Seharusnya akan memberi pengaruh (positif) terhadap ekonomi lokal dan (peningkatan) kualitas sosial masyarakat dan ini sdh dibahas dalam Pra-FS dan FS suatu proyek investasi,” kata Irwan. Dia berharap peningkatan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas sosial masyarakat dijalankan sesuai komitmen saat operasional berjalan, bukan hanya sekadar sebagai formalitas untuk memenuhi kewajiban. Diketahui, proyek HPAL Sambalagi merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang masuk dalam proyek strategis nasional untuk mempercepat hilirisasi mineral di Indonesia. Proyek tersebut memiliki nilai investasi mencapai US$2 miliar dan diharapkan memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional melalui pengolahan nikel bernilai tambah tinggi. Inisiatif Anggota Grup MIND ID ini akan mampu mendorong multiplier effect yang sangat besar terhadap pembangunan ekonomi nasional sekaligus sosial masyarakat sekitar daerah operasionalnya di Sulawesi. Setali tiga uang, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Arniwaty Lamadjido, mengapresiasi pengembangan kawasan industri yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan aspek sosial dan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, pendekatan inklusif ini penting untuk memastikan manfaat investasi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat setempat. “Kolaborasi yang memberi ruang bagi UMKM lokal serta keterbukaan terhadap fasilitas publik menjadi model pembangunan kawasan industri yang inklusif dan berkelanjutan bagi Sulawesi Tengah,” jelas Reny. Dampak positif program hilirisasi nikel tersebut tecermin pada kinerja perekonomian daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah pada Triwulan I-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,32 persen secara tahunan (year-on-year). Dari sisi produksi, pendorong utama pertumbuhan tersebut berasal dari lapangan usaha Industri Pengolahan yang mengalami pertumbuhan tertinggi mencapai 15,09 persen.
Tutup PERISAI 2026, Airlangga Hartarto Tegaskan Riset dan Hilirisasi Sawit Perkuat KEN
Jakarta, katakabar.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan riset, inovasi, dan hilirisasi menjadi kunci memperkuat daya saing industri kelapa sawit sekaligus mendukung ketahanan ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikan Airlangga saat menutup Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta. Ia menyampaikan industri kelapa sawit tetap menjadi salah satu sektor strategis nasional dengan kontribusi sekitar 3,5 persen terhadap PDB, nilai ekspor mencapai USD30,87 miliar, serta penerimaan negara dari pungutan ekspor dan bea keluar sebesar Rp53,13 triliun pada 2025. Menurutnya, kontribusi tersebut harus terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, dan pengembangan produk hilir bernilai tambah. "Implementasi Biodiesel B50 menunjukkan bahwa riset, kebijakan, investasi, dan kapasitas industri mampu berjalan selaras. Ke depan, keberhasilan ini harus menjadi pijakan untuk mengembangkan hilirisasi menuju produk bernilai tambah seperti Green Diesel, Sustainable Aviation Fuel (SAF), dan bensin sawit," jelas Airlangga. Airlangga menyampaikan apresiasi kepada BPDP dan seluruh pemangku kepentingan yang telah berkontribusi dalam pengembangan industri kelapa sawit nasional. Ia berharap PERISAI tidak hanya menjadi forum pertukaran gagasan, tetapi mampu melahirkan kolaborasi nyata yang mempercepat penerapan dan komersialisasi hasil riset sehingga memberikan manfaat bagi industri dan masyarakat. Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, mengatakan BPDP akan terus memperkuat dukungan terhadap riset dan inovasi sebagai bagian dari transformasi industri perkebunan Indonesia. "PERISAI menjadi wadah untuk mempertemukan peneliti, pemerintah, dunia usaha, dan investor agar hasil riset dapat diimplementasikan serta memberikan nilai tambah bagi industri dan perekonomian nasional," ucap Eddy. Hingga saat ini, BPDP telah salurkan dana riset sebesar Rp921 miliar dengan melibatkan 109 lembaga penelitian dan sekitar 1.900 peneliti. Pada 2026, BPDP juga menandatangani 56 kontrak riset baru, termasuk kajian pengembangan kelapa nasional dan kesiapan infrastruktur implementasi Biodiesel B50. PERISAI 2026 diikuti sebanyak 1.500 peserta, dan menghadirkan seminar ilmiah, pameran inovasi, business matching, Forum Lembaga Pendidikan Penerima Beasiswa SDM Perkebunan, final Lomba Riset Sawit Tingkat Mahasiswa, hingga peluncuran Pedoman Pengarusutamaan Gender di Industri Kelapa Sawit Indonesia.
Dorong Hilirisasi Sawit, PalmCo Serap 6,8 Juta Bibit Bersertifikat
Jakarta, katakabar.com - Pemerintah terus memperkuat sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mempercepat hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Sejalan dengan agenda tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus memperkuat transformasi bisnis sekaligus meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat sebagai fondasi pengembangan industri hilir nasional. Dukungan tersebut ditegaskan Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan dalam Workshop AKPSI & Sawit Expo bertajuk Sawit untuk Rakyat yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (7/7) lalu. Direktur Jenderal Perkebunan Kementan RI, Ali Jamil, melalui Direktur Tanaman Sawit dan Aneka Palma, Iim Mucharam, mengatakan pemerintah memiliki mandat untuk mengawal dan mendukung BUMN dalam mempercepat agenda hilirisasi nasional. "Kami memiliki tugas dari Bapak Presiden untuk mengawal dan mendukung perusahaan BUMN, khususnya PalmCo dan Agrinas, dalam percepatan hilirisasi," kata Iim Mucharam. Pada forum tersebut, Iim memaparkan pentingnya pengembangan industri sawit berkelanjutan sebagai fondasi hilirisasi sekaligus instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penguatan sektor hulu, peningkatan produktivitas petani, keberlanjutan, serta pengembangan industri hilir dinilai harus berjalan dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, yang diwakili Kepala Divisi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), Abdul Muthalib, mengatakan PalmCo tengah menjalankan transformasi besar untuk memperkuat peran perusahaan, mulai dari sektor hulu hingga memasuki industri hilir sebagai bagian dari agenda transformasi Holding Perkebunan Nusantara. Menurutnya, transformasi serupa juga perlu dilakukan secara lebih luas di industri sawit nasional. Terlebih, sekitar 42 persen luas perkebunan kelapa sawit nasional dikelola oleh petani rakyat sehingga peningkatan produktivitas menjadi faktor utama dalam memperkuat daya saing industri. "Dari sisi sawit rakyat, kami berharap petani dapat mengubah pola pikir. Dalam mengelola kelapa sawit, jangan hanya berpikir mengenai harga. Hal yang perlu diperhatikan adalah produktivitas karena peningkatan produktivitas akan menentukan nilai ekonomi yang diterima petani," ucap Abdul. Sebagai bagian dari komitmen mendukung produktivitas sawit rakyat, PalmCo terus memperluas pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), transfer pengetahuan, penyediaan bibit unggul bersertifikat, pendampingan teknis, hingga penguatan kelembagaan petani. Perusahaan juga menjalankan sejumlah program strategis, antara lain penerapan pola single management, avalis produksi, pemetaan geospasial, serta fasilitasi sertifikasi minyak sawit berkelanjutan melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Hingga 2025, program sertifikasi tersebut telah mencakup areal seluas 9.267 hektare dengan melibatkan 4.544 kepala keluarga. Pada aspek penyediaan bahan tanam, sebanyak 6,8 juta bibit unggul bersertifikat telah diserap untuk mendukung pengembangan sekitar 47 ribu hektare kebun yang melibatkan lebih dari 23 ribu petani. PalmCo juga memberikan bimbingan dan pelatihan teknis serta berperan sebagai offtaker bagi areal koperasi unit desa (KUD) dengan luas lebih dari 33 ribu hektare. Selain itu, perusahaan terus memperkuat kapasitas kelembagaan petani agar koperasi mampu menjadi pusat transfer pengetahuan sekaligus offtaker bagi koperasi lainnya. Hingga kini, sebanyak 90 KUD di berbagai wilayah Indonesia telah menerima pendampingan administrasi, teknis, dan budidaya dari perusahaan. Dalam paparannya, Abdul turut menekankan pentingnya percepatan peremajaan tanaman untuk meningkatkan produktivitas kebun rakyat. Ia mencontohkan produktivitas tanaman menghasilkan tahun pertama (TM I) di lingkungan PTPN mampu mencapai sekitar 18 ton per hektare. "Petani tidak perlu takut melakukan replanting. Dengan peremajaan yang tepat, penggunaan bibit unggul bersertifikat, dan penerapan praktik budidaya yang baik, produktivitas dapat meningkat secara signifikan," ujarnya. Workshop AKPSI & Sawit Expo turut dihadiri Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP Zaid Burhan Ibrahim, Bupati Luwu Utara Andi Abdullah Rahim, Anggota Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha, serta Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara Seger Budiarjo. Melalui kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pemerintah daerah, kelembagaan petani, dan pelaku industri, Holding Perkebunan Nusantara optimistis percepatan hilirisasi kelapa sawit akan semakin memperkuat nilai tambah industri nasional, sekaligus meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan jutaan petani yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok sawit Indonesia.
PERISAI 2026, BPDP: Wadah Percepat Hilirisasi Hasil Riset dan Perkuat Daya Saing Industri Sawit Berkelanjutan
Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) kembali menyelenggarakan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 sebagai wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, asosiasi, investor, pekebun, mahasiswa, dan masyarakat guna mempercepat hilirisasi hasil riset serta memperkuat daya saing industri sawit Indonesia berkelanjutan. Angkat tema "Shaping the Palm Oil Industry Ecosystems for a Sustainable Future", PERISAI 2026 menegaskan pentingnya transformasi industri sawit melalui inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, menegaskan riset harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. "Arah BPDP ke depan adalah mempertemukan kebutuhan industri (market pull), inovasi (technology push), dan kebutuhan masyarakat. Melalui PERISAI, kami ingin mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberikan dampak nyata bagi kemajuan industri dan kesejahteraan masyarakat," jelasnya. Kata Eddy, Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia harus mampu menjadi pemimpin dalam inovasi dan teknologi. Di tengah tantangan perubahan iklim, digitalisasi, bioekonomi, serta tuntutan keberlanjutan, riset merupakan investasi strategis bangsa yang akan menentukan produktivitas dan daya saing industri sawit di masa depan. PERISAI 2026 diikuti sekitar 1.300 peserta yang berasal dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku industri, asosiasi, investor, pekebun, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Selama dua hari penyelenggaraan, kegiatan ini menghadirkan seminar nasional, talkshow, business matching, Grant Riset Showcase, Kompetisi Inovasi Riset Mahasiswa, pameran hasil riset dan teknologi, demonstrasi teknologi, serta exhibition yang diikuti berbagai perusahaan, perguruan tinggi, lembaga penelitian, startup, dan mitra industri. Total 24 hasil Grant Riset Sawit BPDP dan 10 inovasi riset mahasiswa dipamerkan kepada publik. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan demonstrasi berbagai teknologi unggulan, seperti Beton Precast Foam Concrete berbasis Biomassa Sawit, Drone Penyerbuk Sawit, serta Astaxanthin dari Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai contoh inovasi yang siap dihilirisasikan. Sejak Program Grant Riset Sawit dimulai pada 2015 lalu, BPDP telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga litbang, 1.873 peneliti, dan 383 mahasiswa. Program tersebut telah menghasilkan 395 publikasi ilmiah dan 84 paten. Pada 2026, BPDP juga menandatangani 56 kontrak riset baru, termasuk kajian pengembangan kelapa nasional dan kesiapan implementasi B50, dengan ruang lingkup penelitian yang mencakup budidaya, bioenergi, oleokimia, biomaterial, lingkungan, sosial ekonomi, hingga teknologi informasi. Di bidang pengembangan sumber daya manusia, BPDP telah bekerja sama dengan 44 perguruan tinggi, memberikan beasiswa kepada 13.265 mahasiswa, serta melatih lebih dari 30 ribu petani dan pekebun guna mempercepat adopsi inovasi di lapangan. Hingga saat ini, lebih dari 100 hasil riset BPDP telah memasuki tahap komersialisasi, mulai dari penandatanganan Letter of Intent (LoI) dengan industri hingga melahirkan startup berbasis hasil riset. Ke depan, BPDP akan terus berperan sebagai katalis kolaborasi untuk mewujudkan Indonesia sebagai Global Hub for Sustainable Palm Oil Research and Innovation. Melalui PERISAI 2026, BPDP berharap semakin banyak inovasi yang dapat diterapkan di lapangan, memperkuat daya saing industri sawit nasional, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi pekebun, industri, dan masyarakat.
Promosi Hilirisasi Komoditas Perkebunan, BPDP Sabet Penghargaan PENAS XVII 2026
Gorontalo, katakabar.com - Seorang petani sawit dan kelapa dari Kabupaten Powohatu Gorontalo, Iradat, tampak serius simak poster hilirisasi komoditas kelapa pada stand Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di gelaran Pameran Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII 2026. “Di daerah kami banyak produksi kelapa, tetapi yang dimanfaatkan baru buahnya saja. Sedang sabuk, tempurung, dan produk samping lainnya hanya menjadi limbah yang belum dimanfaatkan,” tutur Iradat. “Dengan informasi yang disampaikan pada stand BPDP ini, saya jadi tahu begitu banyak produk-produk hilir yang dapat dibuat dari produk Kelapa, turunan, dan produk sampingannya, yang dapat dibuat pada skala usaha kecil dan petani," cerita Iradat. Pameran PENAS XVII 2026 diselenggarakan pada 20 hingga 25 Juni 2026 di Komplek Kawasan Stadion GOR David Tony Desa Honggaula, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, usung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Program Swasembada Pangan". Pameran PENAS XVII 2026 bagian dari rangkaian kegiatan PENAS XVII 2026 yang acara puncaknya dihadiri langsung Presiden RI, H Prabowo Subianto pada 24 Juni 2026. Pertemuan akbar ini dihadiri sekitar 50 ribu peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari petani dan nelayan, pemerintah daerah, organisasi terkait, hingga para pelaku sektor pertanian dan pangan yang berasal dari seluruh Indonesia. Stand BPDP menyuguhkan berbagai informasi antara lain Program Layanan BPDP, Hilirisasi komoditas Sawit, Kelapa, dan Coklat, serta Manfaat Kelapa Sawit dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. BPDP juga menghadirkan perwakilan 2 (dua) koperasi petani sawit yang menampilkan produk-produk UMKM berbahan baku sawit, turunan, dan produk sampingnya. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah, mengatakan kehadiran BPDP dalam pameran ini sebagai wujud kontribusi komoditas perkebunan dalam mendukung ketahanan pangan. “Indonesia telah lama mencapai swasembada minyak nabati dari minyak sawit. Sekitar 40% hasil produksi minyak sawit digunakan untuk konsumsi dalam negeri termasuk untuk pangan, sehingga kita tidak perlu lagi mengimpor minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng masyarakat dalam negeri,” kata Helmi. “Bahkan, hasil produksi minyak sawit kita diekspor ke berbagai negara di dunia untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati masyarakat dunia,” ucapnya. Selain pemanfaatan untuk pangan, Helmi Muhansah, mengatakan produk perkebunan dan turunannya dapat juga diproduksi pada skala UMKM menjadi beragam produk kebutuhan masyarakat. “BPDP menghadirkan dua koperasi petani sawit yang memproduksi produk UMKM berbahan baku sawit. Kedua koperasi ini yakni Koperasi Sawit Setara dan Koperasi Agribisnis Jaya Indonesia (KAJI), telah bermitra dengan BPDP melalui program pemberdayaan UMKM perkebunan, dan telah menghasilkan beragam produk UMKM berbahan baku sawit sebagaimana yang ditampilkan dalam stand ini," sebut Helmi. BPDP Raih Penghargaan Stand BPDP yang dikunjungi ratusan petani, nelayan, dan masyarakat umum meraih penghargaan Pameran Penas XVII 2026 sebagai Juara II kategori Kementerian/Lembaga/BUMN/BUMD/Swasta. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Panitia Penas XVII 2026 kepada perwakilan BPDP, Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Anwar Sadat, pada kegiatan penutupan pameran PENAS XVII 2026 di Taman Budaya Limboto pada Rabu (24/6) lalu. Kegiatan penutupan dihadiri Pemerintah Provinsi Gorontalo, Bupati Kabupaten Limboto, Pimpinan Daerah Kabupaten se Gorontalo, Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA), Petani dan Nelayan peserta PENAS XVII 2026, Peserta Pameran, perwakilan Sponsor, serta masyarakat kabupaten Limboto. Ketua Koperasi KAJI, Sulaiman A. Loeloe, mengucapkan kegembiraannya bisa berpartisipasi dalam stand BPDP pada perhelatan Penas kali ini. Sulaiman mengatakan mereka membawa banyak produk UMKM berbahan baku sawit yang ditampilkan pada kegiatan ini. “Produk kami antara lain kopi dengan krimer sawit, minuman jahe dengan gula aren kelapa dan krimer sawit, coklat yang diproduksi dari minyak goreng sawit, dan beberapa produk makanan lainnya. Alhamdulillah dengan display ini, bisa berkontribusi terhadap capaian stand BPDP,” beber Sulaiman. Pengurus Koperasi Sawit Setara Reskita Sawitri menyampaikan hal yang sama. Rezkita mengatakan Koperasi Sawit Setara menampilkan produk kerajinan lidi sawit, parfum berbahan baku sawit, sabun, kopi krimer sawit, dan pupuk organik dari tandan kosong sawit. “Kami mengapresiasi undangan BPDP untuk berpatisipasi di pameran ini. Pada event ini bisa bertemu dengan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, dan beberapa diantara yang mengunjungi stand BPDP juga adalah petani sawit, kelapa, dan kakao,” terang Reskita. Di antara pengunjung stand BPDP juga nampak Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, Anggota Dewan Perwakilan Daerah RI Fadel Muhammad, dan beberapa Kepala Daerah (Gubernur/Bupati) peserta Penas XVII 2026. Keikusertaan BPDP pada pameran Penas XVII 2026 merupakan bentuk dukungan bagi peningkatan kesejahteraan petani, pemberdayaan Koperasi dan UMKM, serta mempromosikan manfaat komoditas perkebunan bagi masyarakat.
Investasi Hilirisasi Mineral Tembus Rp98,3 Triliun, Komoditas Grup MIND ID Jadi Magnet Utama
Jakarta, katakabar.com - Hilirisasi mineral semakin menunjukkan perannya sebagai mesin pertumbuhan investasi nasional. Sepanjang triwulan I 2026, investasi di sektor hilirisasi mineral mencapai Rp98,3 triliun atau sekitar 67 persen dari total investasi hilirisasi nasional yang mencapai Rp147,5 triliun. Besarnya investasi tersebut ditopang sejumlah komoditas strategis yang menjadi bagian dari portofolio Grup MIND ID, mulai dari nikel, tembaga, timah, hingga bauksit. Kondisi ini menegaskan posisi holding industri pertambangan BUMN tersebut sebagai salah satu pilar utama dalam agenda hilirisasi yang terus didorong pemerintah. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengatakan sektor hilirisasi kini berkontribusi semakin besar terhadap investasi nasional. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp147,5 triliun atau setara 29,6 persen dari total investasi nasional sebesar Rp498,8 triliun. "Hal yang perlu kami soroti adalah sektor hilirisasi sumber daya alam yang kontribusinya meningkat menjadi 30 persen dari total realisasi investasi pada triwulan I 2026, yakni sebesar Rp147,5 triliun," jelae Rosan saat rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI. Kata Rosan, sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi nasional. Dari total Rp98,3 triliun investasi mineral, komoditas nikel menyumbang Rp41,5 triliun atau sekitar 42 persen. Di posisi berikutnya terdapat tembaga dengan investasi Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, bauksit Rp13,7 triliun, serta timah Rp2,5 triliun. Sementara sisanya berasal dari komoditas lain seperti emas, perak, kobalt, mangan, batubara, pasir silika, dan logam tanah jarang. Data tersebut menunjukkan investasi hilirisasi nasional masih bertumpu pada komoditas mineral yang menjadi kekuatan utama Indonesia di pasar global. Bagi MIND ID, capaian tersebut menjadi indikator kuat bahwa aset-aset strategis yang dikelola grup berperan besar dalam menarik investasi. ANTAM menjadi pemain utama pada rantai nilai nikel dan bauksit, PT Freeport Indonesia pada komoditas tembaga, serta PT Timah pada industri timah nasional. Investasi besar yang masuk ke sektor mineral juga berdampak langsung pada pertumbuhan kawasan industri berbasis sumber daya alam di berbagai daerah. Rosan mengungkapkan sekitar 75 persen investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa. Investasi tersebut terutama terkonsentrasi di wilayah penghasil mineral seperti Sulawesi Tengah dan Maluku Utara yang menjadi pusat pengembangan industri pengolahan nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik. Data BKPM menunjukkan Sulawesi Tengah menjadi tujuan investasi terbesar kelima nasional dengan nilai Rp32,1 triliun atau 6,4 persen dari total investasi triwulan I 2026. Sementara Maluku Utara menempati posisi keenam dengan investasi Rp25,2 triliun atau 5 persen. Kedua provinsi tersebut menjadi contoh bagaimana hilirisasi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus memperkuat pemerataan investasi di luar Pulau Jawa. Secara nasional, sektor industri logam dasar dan barang logam juga menjadi subsektor investasi terbesar dengan realisasi mencapai Rp69,4 triliun atau 14 persen dari total investasi nasional. Angka tersebut bahkan melampaui sektor pertambangan yang mencatat investasi Rp51,9 triliun. Menurut Rosan, pemerintah akan terus memperluas hilirisasi ke berbagai komoditas strategis agar nilai tambah ekonomi yang tercipta semakin besar. "Kami juga terus mendorong hilirisasi komoditas strategis lainnya yang menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut," ujarnya. Pemerintah menargetkan realisasi investasi pada 2027 mencapai Rp2.322 triliun, naik 13,8 persen dibandingkan target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Dalam mencapai target tersebut, hilirisasi mineral diperkirakan tetap menjadi salah satu motor utama investasi nasional. Besarnya investasi yang mengalir ke komoditas nikel, tembaga, timah, dan bauksit juga menunjukkan bahwa agenda hilirisasi tidak lagi sekadar kebijakan pengolahan bahan mentah, melainkan telah berkembang menjadi instrumen strategis untuk menarik modal, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.
Jalankan Peran Penggerak Hilirisasi, MIND ID Optimalkan Kontribusi Untuk Negara
Jakarta, katakabar.com - Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID konsisten menjalankan fungsi strategis sebagai penggerak hilirisasi nasional guna menciptakan nilai tambah yang berlipat ganda bagi ekonomi Indonesia. Perseroan terus mempertahankan kinerja bisnis positif sehingga mampu memberikan kontribusi serta manfaat yang berkelanjutan bagi Indonesia. Corporate Secretary MIND ID, Pria Utama, mengatakan perseroan konsisten menjalankan peran sebagai integrator yang mensinergikan rantai pasok hilirisasi mineral dan batu bara di Indonesia. Hal ini tercermin dari sinergi ANTAM dan Freeport Indonesia dalam rantai pasok hilirisasi emas Nasional, sinergi INALUM, ANTAM, dan PT Bukit Asam dalam rantai pasok hilirisasi bauksit-alumina-aluminium, serta berbagai program penguatan rantai pasok hilirisasi mineral strategis seperti nikel, tembaga, timah, hingga pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik Nasional. Dengan konsistensi tersebut, MIND ID mencatatkan pendapatan perusahaan Rp159,46 triliun, tumbuh 10% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp145,21 triliun, dan laba bersih Rp29,89 triliun, atau 16% di atas target perusahaan. Capaian ini disertai kontribusi yang didistribusikan kepada Pemegang Saham dan Pemangku Kepentingan, meliputi pajak dan PNBP, royalti, serta dividen yang mencapai Rp22,6 triliun. "Pencapaian ini merupakan bukti nyata komitmen manajemen MIND ID dalam menjamin pengelolaan perusahaan negara yang mampu memberi kontribusi optimal bagi Indonesia," ujarnya, selepas Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun Buku 2025? Kamis (11/6) lalu. Pria menjelaskan, pencapaian kinerja tahun buku 2025 merupakan cerminan dari kemampuan perseroan dalam menjaga ketahanan bisnis melalui strategi yang adaptif dan terintegrasi di seluruh anggota Grup MIND ID. Hal ini mampu dijalankan di tengah tantangan ekonomi global dan nasional, yang ikut memengaruhi sektor industri pertambangan di Indonesia. Perseroan tetap konsisten dalam menjalankan mandat sebagai penggerak hilirisasi, guna meningkatkan penciptaan nilai tambah ekonomi yang juga memperkuat keberlanjutan operasional bisnis Grup MIND ID di masa depan. Pria menekankan kontribusi terhadap penerimaan negara mencerminkan komitmen perseroan dalam menjalankan peran strategis sebagai perusahaan milik Negara yang terus memperkuat kinerja ekonomi nasional berlandaskan Asta Cita Presiden. "MIND ID konsisten menjalankan mandatnya sebagai penggerak hilirisasi mineral strategis memberi manfaat optimal bagi Indonesia, sekaligus mewujudkan visi MIND ID for Indonesia and the World," jelas Pria. Menurut Pria, perseroan menjalankan mandatnya dengan menjunjung tinggi good corporate governance (GCG). Laporan keuangan MIND ID memperoleh opini "Wajar Dalam Semua Hal yang Material" dari auditor independen Kantor Akuntan Publik Purwanto Susanti dan Surja (Anggota Ernst & Young Global Limited), dan opini ini mencerminkan komitmen manajemen terhadap transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola perusahaan yang sehat. "MIND ID akan terus melanjutkan pertumbuhan kinerja yang sehat dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan, karena di balik setiap ton mineral yang kami kelola, ada kewajiban untuk memberikan manfaat nyata bagi seluruh masyarakat Indonesia," tandasnya.
Dukung Hilirisasi Riset, Wamenko Pangan Luncurkan Inovasi Faspol 5.0 dan Kompetisi PFsains 2026
Kendal, katakabar.com - Pertamina lewat Pertamina Foundation berkomitmen mendukung pemerintah dalam menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat melalui hilirisasi riset. Di antaranya inovasi yang telah diimplementasikan ialah alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) yang diluncurkan untuk TPS3R Desa Mergorejo, Cempiring, Kendal. Inovasi ini diluncurkan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq sebagai solusi atas banyaknya timbunan sampah di Indonesia yang masih belum terkelola. “Pengelolaan sampah di Indonesia menjadi tantangan serius karena 74 persen pengelolaannya masih berada sawah-sawah, selokan, dan sungai-sungai sekitar masyarakat. Untuk itu, kita patut berbangga ada inovasi Faspol yang dihadirkan oleh BRIN dan Pertamina Foundation melalui program PFsains yang mampu mengolah sampah plastik low value menjadi bahan bakar minyak terbarukan," kata Hanif di acara Launching Alat Pirolisis Multikondensor Faspol 5.0 dan Kompetisi PFsains 2026, Kamis (11/6) lalu. Hanif berharap inovasi ini dapat mendukung operasional petani desa Mergorejo sehingga menekan biaya produksi dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat serta berpesan agar dikelola dengan baik. Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari aminkan Hanif. Ia menyambut baik Faspol 5.0 karena mendukung daerahnya untuk membangun pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi bagi masyarakat. Inovasi Faspol 5.0 di Kendal merupakan karya riset peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus pemenang program PFsains Pertamina Foundation tahun 2025, Tri Martini Patria. “Berkat program PFsains, kami mampu menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kemandirian energi lewat produksi minyak (Petasol) dari limbah dan menangani tumpukan sampah plastik low value agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah mengalami overload,” jelas Tri Martini. PFsains merupakan kompetisi inovasi teknologi dan energi dari Pertamina Foundation yang berfokus pada hilirisasi riset, implementasi teknologi tepat guna, serta pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan dan energi. Program ini hadir sebagai wadah bagi akademisi dan praktisi untuk melahirkan solusi inovatif yang berdampak nyata bagi masyarakat luas. Sejak 2020 hingga 2025, PFsains telah menjadi katalisator bagi 45 inovator. Fokus bidang inovasinya pun beragam, mencakup sektor perikanan, pertanian, pengelolaan limbah, fasilitas umum, peternakan, kendaraan listrik hingga fasilitas industri. Tahun 2026, PFsains secara resmi diluncurkan dengan tema "Masyarakat Berdikari berbasis Ketahanan Pangan dan Energi melalui Inovasi Teknologi Berkelanjutan”. “PFsains tidak hanya memberikan pendanaan, tetapi juga pendampingan proses agar inovasi teknologi yang dikembangkan dapat dikelola dengan efektif, berkelanjutan, dan betul-betul serius membantu masyarakat marginal agar bisa menjadi mandiri,” timpal Agus. Kompetisi ini terbuka untuk mahasiswa, peneliti, dan akademisi melalui dua kategori utama: Ideation (riset tahap awal dengan TKT 1-4) dan Implementation (riset yang siap diimplementasikan dengan TKT 5-9). Tujuan dari PFsains selaras dengan Asta Cita Presiden dalam upaya membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, serta mendorong hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Informasi selengkapnya mengenai kompetisi PFsains dapat diakses melalui media sosial dan laman resmi Pertamina Foundation pertaminafoundation.org.
Di Karawang BPDP BLU Kemenkeu Seru Gen Z Gunakan Produk Hilirisasi Sawit Bangun Bisnis UMKM
Karawang, katakabar.com - Awal Juni 2026 lalu, Karawang, Jawa Barat jadi tempat Workshop Gen-Z Preneur UMKM Sawit usung tema “Rintisan Wirausaha Perkebunan dan Oleofood”. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) BLU Kemenkeu dan majalah sawit, yang menggelar kegiatan selama dua hari. Hal ini selaras dengan potensi besar industri kelapa sawit sebagai sumber inovasi dan peluang usaha bagi generasi muda. Workshop diikuti pelajar, mahasiswa, pelaku UMKM, serta generasi muda yang ingin kembangkan usaha berbasis produk turunan sawit. Bupati Karawang yang diwakili Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Karawang, Dindin Rachmadhy, mengatakan pemerintah daerah sambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut karena sejalan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kewirausahaan dan UMKM. Meski bukan daerah penghasil sawit, Karawang memiliki keterkaitan erat dengan industri sawit melalui sektor pengolahan dan UMKM. Ia menyebut sekitar 70 persen pelaku usaha kuliner di Karawang menggunakan produk berbasis sawit dalam kegiatan usahanya. "Kami melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan dari produk turunan sawit. Tadi kami juga mendapat informasi sawit dapat dimanfaatkan untuk kriya dan fesyen. Karawang memiliki batik khas daerah, sehingga tidak menutup kemungkinan ke depan bahan turunan sawit seperti parafin dapat dimanfaatkan dalam proses produksinya," jelasnya. Dindin mengusulkan agar program beasiswa sawit yang dikelola BPDP dapat diperluas untuk menjangkau anak-anak pelaku UMKM yang memanfaatkan produk berbasis sawit. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menimpali BPDP terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia di sektor sawit, salah satunya melalui program beasiswa pendidikan. Selain pendidikan, BPDP juga mendorong hilirisasi dan inovasi produk sawit. Berbagai hasil riset yang dikembangkan saat ini telah menghasilkan beragam produk bernilai tambah, mulai dari material industri hingga produk UMKM. "Kami memiliki banyak hasil penelitian berbasis sawit, mulai dari bahan untuk rompi antipeluru, helm, hingga berbagai produk konsumen. Sejumlah hasil riset tersebut telah dikomersialisasikan oleh UMKM. Di website BPDP juga terdapat katalog100 UMKM berbasis produk turunan sawit yang dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda," sebut Helmi. Helmi mencontohkan keberhasilan seorang mahasiswa yang pernah jadi peserta Inkubasi Bisnis BPDP dan Universitas Andalas yang terinspirasi mengembangkan usaha berbasis lidi sawit hingga berhasil menjadi eksportir ke pasar Asia Selatan. "Kami berharap peserta workshop ini dapat terinspirasi dan dalam beberapa tahun ke depan muncul wirausaha muda baru dari Gen Z yang mampu mengembangkan produk UMKM sawit hingga menembus pasar ekspor," imbuhnya. Pimpinan Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri, menuturkan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai industri sawit kepada generasi muda. "Selama ini generasi Z lebih banyak menerima informasi negatif tentang sawit melalui media sosial. Padahal sawit memiliki banyak manfaat dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan oleh pelaku UMKM maupun wirausaha muda," terangnya.
BPDP Dorong Hilirisasi Kakao dan Pengembangan UMKM Berbasis Perkebunan
Jakarta, katakabar.com - Usung konsep edukatif dan interaktif menghadirkan pelaku usaha cokelat lokal Cokelatin Signature lewat sesi story sharing, chocolate tasting, hingga praktik langsung pembuatan minuman cokelat berbasis kakao Indonesia. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU Kementerian Keuangan terus perkuat promosi komoditas perkebunan sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis kakao melalui Workshop “Roemah Kreasi Nyokelat di Roemah” yang digelar di Roemah UMKM BPDP @ SMESCO Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5) lalu. Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan BPDP tidak hanya fokus pada pengelolaan dana perkebunan, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan UMKM. “Putra-putri Bapak Ibu yang sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program beasiswa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk uang saku bulanan,” terang Helmi. Menurutnya, penerima beasiswa bukan hanya dari keluarga pemilik kebun sawit, tetapi juga dapat berasal dari keluarga pekerja di sektor sawit seperti sopir perusahaan maupun profesi lain yang berkaitan dengan industri sawit. Selain program beasiswa, BPDP juga terus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis komoditas perkebunan guna meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru. “Kami ingin ini bukan sekadar omon-omon. Kami ingin menjadi sesuatu yang nyata. Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” ujarnya. Ia berharap kegiatan workshop tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda untuk membangun usaha berbasis komoditas perkebunan. Co-Founder Cokelatin Signature, Nugroho Surosoputra, menuturkan bisnis yang dijalankannya berangkat dari ketertarikan terhadap potensi besar kakao Indonesia. Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. Namun demikian, citra cokelat premium selama ini justru lebih melekat pada negara-negara Eropa yang tidak memiliki produksi kakao sebesar Indonesia. “Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” ucapnya. Pada sesi edukasi, Nugroho, menceritakan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa. Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario. Selain sesi edukasi, peserta workshop juga diajak mempraktikkan langsung pembuatan minuman berbasis kakao Indonesia bersama Founder Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, dan Shana yang memiliki keahlian di bidang mixology. Dua menu minuman yang diperkenalkan dalam workshop tersebut, yakni Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat. “Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” kata Shana. Di sesi berikutnya, peserta diajak membuat Pistachio Criollo Chocolate yang terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang tengah populer. Peserta mempraktikkan teknik menghias bibir gelas menggunakan pistachio paste dan cacao nibs, membuat tampilan minuman berlapis dengan teknik gradasi warna, hingga penggunaan edible flower sebagai garnish minuman. Suasana workshop berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Peserta tampak aktif bertanya, saling menunjukkan hasil kreasi minuman, hingga mendokumentasikan hasil karya mereka untuk diunggah ke media sosial. Pasalnya, dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada teknik penyajian dan plating minuman yang menjadi salah satu nilai tambah dalam industri makanan dan minuman. Selain praktik pengolahan kakao, workshop tersebut juga memperkenalkan penggunaan non-dairy creamer berbahan sawit sebagai bagian dari inovasi produk minuman berbasis perkebunan. Peserta mempraktikkan penggunaan creamer sawit dalam proses pembuatan minuman cokelat untuk menghasilkan tekstur minuman yang creamy dan seimbang. Penggunaan creamer berbahan sawit juga menjadi bentuk pengenalan produk turunan komoditas perkebunan Indonesia yang memiliki nilai tambah tinggi dan potensi besar dalam industri hilir pangan dan minuman. Melalui kegiatan “Roemah Kreasi Nyokelat di Roemah”, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional