Bitcoin Makin Diminati di Indonesia, Investor Kripto Ramai Bertransaksi Lagi Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 26 September 2026 | 11:03 WIB

Bitcoin Makin Diminati di Indonesia, Investor Kripto Ramai Bertransaksi Lagi

Jakarta, katakabar.com  - Adopsi Bitcoin di Indonesia terus menunjukkan perkembangan seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aset digital. Momentum tersebut kembali terlihat ketika harga Bitcoin (BTC) mencatat kenaikan sekitar 13 persen dalam sepekan, yang turut mendorong peningkatan aktivitas transaksi investor kripto di dalam negeri.

OSL Indonesia Perkuat Fokus Kebutuhan Investor di Tengah Volatilitas Global dan Industri Kripto Kian Matang Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 22 September 2026 | 10:31 WIB

OSL Indonesia Perkuat Fokus Kebutuhan Investor di Tengah Volatilitas Global dan Industri Kripto Kian Matang

Jakarta, karakabar.com - Di tengah volatilitas pasar global, industri aset kripto justru menunjukkan tanda-tanda kematangan yang semakin kuat. Ketika wawancara dengan salah satu media nasional tanah air usung tema "Crypto Investment Trends Amid Global Volatility", Presiden Direktur OSL Indonesia, Ivan Arilito, menegaskan optimismenya terhadap arah baru industri yang lebih terstruktur, matang, dan berfokus pada kebutuhan investor. OSL Indonesia melihat pergeseran positif dalam perilaku investor, dari sekadar mengejar pergerakan harga, menuju pemahaman yang lebih matang soal profil risiko, diversifikasi aset, dan strategi jangka panjang. Infrastruktur yang semakin teratur dan partisipasi institusional yang terus tumbuh membawa industri ini menuju ekosistem yang jauh lebih terstruktur dan terpercaya. Menurut Ivan Arilito, dengan populasi masyarakat yang besar, adopsi aset kripto yang tinggi, serta kerangka regulasi yang terus menguat di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan aset digital. Selaras dengan arah regulasi dan industri yang semakin matang, pergerakan aset-aset yang memiliki karakteristik yang cenderung stabil seperti Bitcoin, USDGO, USDT, dan XAUT yang lebih terukur juga membuka peluang diversifikasi baru bagi portofolio investor Indonesia. Dengan ini, investor aset kripto Indonesia dapat memperluas strategi investasi dan diversifikasi aset pilihannya. “Berdasarkan hal tersebut, inilah yang menjadi pondasi kami untuk menghadirkan lebih dari sekedar platform trading tetapi juga wadah bagi masyarakat Indonesia bertumbuh bersama. Sesuai dengan slogan yang kami miliki yakni ‘Built on Your Feedback, Empowered by Global Compliance’,” terang Ivan. Ia juga menjelaskan pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan layanan pada platform yang berdasarkan pada kebutuhan investor, khususnya masyarakat Indonesia melalui layanan Voice of Customer (VoC). Dengan menggabungkan standar ekosistem global dan kepatuhan pada regulasi pasar aset kripto Indonesia, ia percaya  OSL Indonesia dapat menjadi platform finansial yang berfokus pada kebutuhan pengguna.  Selain, menghadirkan layanan VoC, OSL Indonesia juga menghadirkan dari sisi keamanan, Auth & Funding Upgrade. Yang menghadirkan peningkatan pada autentikasi serta keamanan proses deposit dan withdrawal. Pengembangan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya OSL Indonesia untuk memperkuat perlindungan pengguna sekaligus merespons kebutuhan yang disampaikan oleh pengguna. Tentu sejalan dengan laju pertumbuhan industri aset kripto dan keberagaman kebutuhan investor, edukasi dan literasi terkait industri aset dan manajemen risiko menjadi tugas besar bagi setiap pelaku industri. Apalagi, mayoritas investor aset kripto saat ini didominasi oleh minat investor muda, dan terus bertambah. Di mana ​​berdasarkan data dari Statistik Penyelenggara Perdagangan AKD AK Periode Juli 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor kripto RI bertambah menjadi 22,93 juta per 7M-2026. Melihat hal ini, OSL Indonesia akan menghadirkan layanan Market Buzz yang menyediakan informasi, data, dan perkembangan pasar secara real-time untuk membantu pengguna memahami sentimen dan pergerakan pasar tanpa hanya bergantung pada headline. Melalui pendekatan tersebut, OSL Indonesia ingin membangun platform yang tidak hanya membawa pengalaman dan standar global ke Indonesia, tetapi juga terus berkembang berdasarkan kebutuhan pengguna lokal. Namun, perlu dipahami bahwa perdagangan dan investasi aset digital memiliki risiko, termasuk fluktuasi harga, risiko kehilangan modal, likuiditas, teknologi, serta perubahan regulasi. Untuk itu, pengguna perlu memahami karakteristik dan risiko aset digital, melakukan riset secara mandiri, serta mempertimbangkan profil risiko dan kondisi masing-masing sebelum mengambil keputusan.

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi Teknologi
Teknologi
Rabu, 16 September 2026 | 09:34 WIB

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi

Jakarta, katakabar.com - Perkembangan industri kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi perhatian pasar setelah sejumlah pemimpin perusahaan AI terbesar di dunia mulai menyerukan agar laju pengembangan teknologi tersebut tidak dilakukan tanpa batas. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor dan menekan saham-saham yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pendorong utama reli sektor teknologi. CEO Anthropic Dario Amodei menjadi salah satu tokoh yang paling vokal. Ia menyerukan agar industri AI memperlambat pengembangan teknologi frontier untuk memberikan lebih banyak waktu bagi perusahaan, pemerintah, dan peneliti untuk memastikan sistem AI dapat dikembangkan dengan lebih aman. Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari CEO OpenAI, Sam Altman serta Elon Musk. Situasi ini menjadi perhatian pasar karena Anthropic dan OpenAI merupakan bagian penting dari ekosistem AI yang selama ini mendorong investasi besar-besaran pada chip, pusat data, cloud computing, dan infrastruktur teknologi. Kekhawatiran Terhadap Perkembangan AI Dalam pernyataannya, Amodei memperingatkan bahwa kemampuan model AI berkembang sangat cepat dan dapat menimbulkan risiko yang semakin sulit dikendalikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa sistem AI dapat memperoleh kemampuan untuk mengambil alih aktivitas internet dalam waktu relatif singkat apabila perkembangannya tidak dikelola dengan baik. Anthropic kemudian mendorong pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengembangkan teknologi AI. Salah satu gagasannya adalah meningkatkan pengawasan independen dan evaluasi keamanan terhadap model AI sebelum teknologi tersebut dikembangkan lebih jauh. Sam Altman juga menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut. CEO OpenAI itu mengatakan bahwa pengembangan AI perlu dilakukan dengan ritme yang lebih terukur dan menyambut ide penggunaan evaluator independen yang memiliki akses cukup untuk menilai keamanan model. Pernyataan dari dua perusahaan AI terkemuka ini menjadi penting karena selama beberapa tahun terakhir industri teknologi justru berlomba meningkatkan kemampuan model AI secepat mungkin. Saham AI Mulai Tertekan Kekhawatiran mengenai kemungkinan perlambatan perkembangan AI langsung berdampak terhadap sentimen pasar. Saham perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan AI dan infrastruktur pusat data mengalami tekanan di sejumlah pasar global. Di Asia, SoftBank menjadi salah satu saham yang mengalami penurunan tajam dengan koreksi sekitar 13,2%. Saham perusahaan semikonduktor seperti Kioxia dan SK Hynix juga ikut tertekan. Di Eropa, ASML turun sekitar 4%, sementara saham teknologi global secara umum mengalami pelemahan. Tekanan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya memperhatikan perusahaan pembuat model AI, tetapi juga seluruh rantai pasok yang mendapatkan manfaat dari meningkatnya investasi AI. Selama ini, perkembangan AI telah menjadi salah satu alasan perusahaan teknologi dan cloud meningkatkan belanja modal untuk membeli chip, membangun pusat data, serta memperluas kapasitas komputasi. Jika perkembangan AI melambat, investor mulai mempertanyakan apakah tingkat investasi tersebut masih dapat menghasilkan keuntungan sesuai ekspektasi. Ancaman bagi “AI Trade” Fenomena tersebut berpotensi mengubah apa yang selama ini dikenal sebagai AI trade di pasar saham. Investor sebelumnya banyak membeli saham perusahaan yang dianggap akan menjadi penerima manfaat dari ledakan AI. Nvidia menjadi salah satu contoh utama karena chip GPU perusahaan digunakan secara luas untuk menjalankan dan melatih model AI. Perusahaan cloud, pusat data, produsen memori, hingga pemasok energi juga ikut mendapatkan sentimen positif dari meningkatnya kebutuhan komputasi. Namun, apabila pengembangan AI mulai diperlambat karena alasan keamanan, regulasi, atau keterbatasan infrastruktur, asumsi pertumbuhan yang sangat agresif dapat kembali dipertanyakan. Investor kini perlu melihat apakah investasi AI yang sangat besar benar-benar dapat menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang sebanding. Kekhawatiran tersebut semakin relevan karena pembangunan infrastruktur AI membutuhkan modal dalam jumlah sangat besar. Bukan Berarti AI Akan Berhenti Meski demikian, seruan untuk memperlambat pengembangan AI tidak berarti industri tersebut akan berhenti berkembang. Justru, pendekatan yang lebih hati-hati dapat menjadi upaya untuk membuat pertumbuhan AI lebih berkelanjutan dalam jangka panjang. Anthropic sendiri masih memiliki prospek bisnis yang kuat dan tengah mempersiapkan rencana penawaran umum perdana atau IPO di Nasdaq. Perusahaan tersebut juga telah mencatat beberapa kuartal dengan profitabilitas yang meningkat. Di sisi lain, OpenAI terus mengembangkan berbagai produk dan layanan AI untuk konsumen maupun perusahaan. Dengan demikian, fokus pasar kemungkinan akan bergeser dari sekadar seberapa cepat kemampuan AI berkembang menjadi seberapa aman, efisien, dan menguntungkan teknologi tersebut dapat diterapkan. Apa Artinya bagi Investor? Perubahan sentimen ini menjadi pengingat bahwa tren besar di pasar saham tetap memiliki risiko. Perusahaan yang berada di pusat perkembangan AI memang memiliki potensi pertumbuhan besar, tetapi valuasi saham juga sangat bergantung pada ekspektasi investor terhadap pertumbuhan tersebut. Jika ekspektasi berubah, harga saham dapat ikut bergerak meskipun fundamental perusahaan belum mengalami perubahan besar. Karena itu, investor perlu memperhatikan tidak hanya perkembangan teknologi, tetapi juga regulasi, belanja modal perusahaan, permintaan chip, pembangunan data center, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi AI. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplorasi berbagai koin kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang dapat menjadi pilihan bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi, kamu juga tidak perlu khawatir karena Nanovest memiliki perlindungan dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website Nanovest. Aplikasi Nanovest juga sudah tersedia di Play Store maupun App Store. Dengan munculnya peringatan dari para pemimpin industri AI, investor kini memiliki alasan baru untuk melihat kembali prospek saham teknologi. Perlombaan AI kemungkinan masih akan berlanjut, tetapi pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang dapat mengembangkan AI paling cepat, melainkan siapa yang mampu melakukannya secara aman, efisien, dan menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

OJK Siapkan Era Baru Kripto: SID Investor, Stablecoin hingga Tokenisasi Aset Nasional
Nasional
Sabtu, 05 September 2026 | 11:31 WIB

OJK Siapkan Era Baru Kripto: SID Investor, Stablecoin hingga Tokenisasi Aset

Jakarta, katakabar.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai mendorong aset kripto terintegrasi lebih dalam dengan sistem keuangan Indonesia. Arah kebijakan ini mencakup penguatan status penyedia layanan aset kripto, penerapan Single Investor Identification (SID), pengaturan stablecoin, hingga pengembangan tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA). Arah tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, dalam Coinfest Asia 2026 yang berlangsung di Bali pada 20–21 Agustus 2026. “Hari ini, di forum Coinfest Asia, saya ingin menyatakan bahwa ekonomi on-chain Indonesia akan segera hadir,” ujar Adi. Langkah tersebut menjadi sinyal pengembangan industri aset digital nasional mulai bergerak dari sekadar aktivitas perdagangan kripto menuju integrasi yang lebih luas dengan infrastruktur keuangan. CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai arah tersebut dapat menjadi momentum penting bagi industri kripto Indonesia untuk memasuki tahap perkembangan yang lebih matang. “Integrasi aset kripto dengan sistem keuangan bukan hanya tentang memperluas penggunaan teknologi blockchain. Yang lebih penting adalah membangun fondasi industri yang memiliki tata kelola, transparansi, perlindungan konsumen, dan infrastruktur yang semakin setara dengan sektor jasa keuangan lainnya,” ujar Yudho. Industri Kripto Masuk Fase Baru Perkembangan regulasi tersebut berlangsung di tengah pertumbuhan jumlah konsumen aset kripto di Indonesia. Data OJK menunjukkan jumlah konsumen aset kripto mencapai 22,69 juta pada Juni 2026, meningkat dari 22,40 juta pada Mei. Nilai transaksi kripto pada periode yang sama mencapai Rp28,58 triliun, naik 24,2 persen dibandingkan Rp23,01 triliun pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut berlangsung seiring semakin luasnya minat masyarakat terhadap aset digital, termasuk Bitcoin sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar. Infrastruktur pasar aset kripto Indonesia juga terus berkembang dengan keberadaan 26 pedagang aset keuangan digital berizin, dua bursa, dua lembaga kliring, dan dua kustodian. Salah satu agenda yang tengah disiapkan OJK adalah memperkuat posisi penyedia layanan aset kripto sebagai bagian dari industri jasa keuangan, sejalan dengan perkembangan regulasi melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Menurut Adi, perubahan tersebut bukan hanya sebatas perubahan nomenklatur, melainkan mencerminkan peningkatan standar industri. “Ini bukan sekadar perubahan label, tetapi benar-benar menunjukkan peningkatan kelas industri,” ucapnya. Yudho melihat penguatan status tersebut dapat meningkatkan kepercayaan terhadap industri sekaligus mendorong pelaku usaha meningkatkan standar operasionalnya. “Ketika aset digital semakin terhubung dengan sistem keuangan nasional, ekspektasi terhadap pelaku industri juga akan semakin tinggi. Governance, manajemen risiko, keamanan aset, hingga transparansi harus ikut berkembang. Bagi industri, ini merupakan tantangan sekaligus peluang untuk membangun kepercayaan dalam jangka panjang,” terang Yudho. Investor Kripto Bakal Punya SID OJK juga berencana menerapkan Single Investor Identification bagi investor aset kripto. Mekanisme serupa selama ini digunakan di pasar modal untuk memberikan nomor identitas tunggal kepada investor. Menurut OJK, penerapan SID dapat membuat infrastruktur pasar aset digital semakin selaras dengan pasar modal sekaligus memperkuat transparansi aktivitas investor. “Hal ini akan menyelaraskan ekosistem kripto dengan pasar modal, meningkatkan kredibilitas serta mendorong transparansi dan efisiensi secara bersamaan,” imbuh Adi. Yudho menilai SID dapat menjadi salah satu fondasi penting jika Indonesia ingin membangun ekosistem aset digital yang lebih terintegrasi. “Identitas investor yang terintegrasi berpotensi membuat ekosistem lebih transparan sekaligus mempermudah pengembangan produk dan layanan keuangan digital di masa depan. Hal yang perlu dijaga adalah implementasinya tetap efisien, aman, dan tidak menciptakan hambatan yang berlebihan bagi masyarakat untuk mengakses layanan,” jelasnya. Stablecoin Mulai Masuk Agenda Regulasi Selain infrastruktur investor, stablecoin menjadi salah satu sektor yang mulai mendapatkan perhatian lebih besar dari regulator. OJK berencana menempatkan stablecoin sebagai instrumen transaksi, bukan sebagai alat pembayaran. Pengaturannya akan tetap dikoordinasikan dengan Bank Indonesia sesuai kewenangan masing-masing lembaga. “Stablecoin diposisikan sebagai instrumen transaksi, bukan sebagai alat pembayaran,” tutur Adi. Pembahasan mengenai stablecoin menjadi semakin relevan seiring peningkatan penggunaannya secara global. Berdasarkan data yang dipaparkan OJK, suplai stablecoin dunia meningkat dari sekitar US$200 miliar pada awal 2025 menjadi sekitar US$317 miliar–US$320 miliar pada awal 2026. Sejumlah model bisnis stablecoin di Indonesia juga telah melewati proses regulatory sandbox OJK dan bersiap memasuki tahap pengembangan berikutnya. Menurut Yudho, kejelasan regulasi menjadi faktor penting agar inovasi stablecoin dapat berkembang tanpa menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha maupun pengguna. “Stablecoin memiliki banyak potensi penggunaan, terutama untuk efisiensi transaksi dan penyelesaian berbasis blockchain. Tetapi, karena bersinggungan langsung dengan sistem keuangan dan pembayaran, batas kewenangan serta aturan mainnya harus jelas. Kepastian regulasi justru akan memberikan ruang yang lebih sehat bagi inovasi,” ujarnya. Tokenisasi Emas, SBN hingga Properti Agenda lain yang berpotensi membuka babak baru industri aset digital Indonesia adalah tokenisasi aset dunia nyata. OJK tengah menyusun kerangka regulasi yang lebih luas untuk pengembangan real-world assets. Sejumlah model tokenisasi yang telah dikembangkan melalui regulatory sandbox antara lain mencakup emas, Surat Berharga Negara (SBN), hingga hak ekonomi atas properti. “Kami sedang menyusun regulasi OJK yang komprehensif untuk memastikan skalabilitas dan keamanannya,” jelas Adi. Secara global, perkembangan RWA juga berlangsung cepat. Data yang dipaparkan OJK menunjukkan nilai pasar RWA meningkat sekitar 256,7 persen dari kuartal pertama 2025 hingga kuartal pertama 2026, dengan nilai mendekati US$33,5 miliar pada pertengahan 2026. Yudho melihat tokenisasi berpotensi menjadi salah satu titik pertemuan terbesar antara teknologi blockchain dan sistem keuangan tradisional. “RWA bisa menjadi salah satu use case blockchain yang paling relevan bagi sektor keuangan karena teknologi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi digunakan untuk merepresentasikan aset dan hak ekonomi yang nyata. Jika regulasi, kustodian, likuiditas, dan perlindungan investor dibangun dengan baik, tokenisasi dapat membuka akses investasi yang lebih luas sekaligus menciptakan model pembiayaan baru,” ulas Yudho. Dari Trading Menuju Ekonomi On-Chain Berbagai agenda tersebut menunjukkan arah kebijakan aset digital Indonesia mulai berkembang melampaui aktivitas jual beli kripto. Identitas investor, standardisasi penyedia layanan, stablecoin, dan tokenisasi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem keuangan berbasis teknologi yang lebih terintegrasi. OJK juga mengaitkan perkembangan aset digital dengan agenda ekonomi nasional, termasuk transformasi digital, pendalaman pasar keuangan, serta perluasan akses investasi dan pembiayaan. “Kami berkomitmen penuh menjadikan Indonesia sebagai pusat kripto Asia, pusat inovasi, investasi, dan transaksi kripto di kawasan ini,” sebut Adi. Menurut Yudho, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat perkembangan aset digital di kawasan apabila inovasi dan regulasi dapat bergerak secara seimbang. “Fase berikutnya dari industri aset digital tidak hanya akan berbicara tentang harga aset atau volume perdagangan. Kita akan semakin banyak melihat blockchain masuk ke infrastruktur investasi, tokenisasi aset, settlement, hingga berbagai layanan keuangan lainnya. Indonesia punya basis pengguna yang besar dan ekosistem yang terus berkembang. Jika regulasi mampu memberikan kepastian sekaligus ruang inovasi, peluang Indonesia untuk menjadi salah satu pusat ekonomi on-chain di Asia semakin terbuka,” tandas CEO FLOQ.

Kripto Makin Populer, OJK Ingatkan Investor Tak Sekadar Kejar Cuan Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 03 September 2026 | 11:00 WIB

Kripto Makin Populer, OJK Ingatkan Investor Tak Sekadar Kejar Cuan

Jakarta, katakabar.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus perkuat literasi masyarakat di tengah pesatnya perkembangan industri aset digital dan kripto di Indonesia, termasuk meningkatnya minat terhadap aset seperti Bitcoin. Terbaru, OJK menerbitkan Buku Saku Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto 2.0 sebagai panduan bagi masyarakat untuk memahami ekosistem, regulasi hingga berbagai risiko yang mengiringi perkembangan industri tersebut. Buku yang diterbitkan pada 26 Agustus 2026 tersebut merupakan pembaruan dari Buku Saku Pengaturan dan Pengawasan Aset Keuangan Digital Termasuk Aset Kripto yang sebelumnya diluncurkan pada 2025. Pembaruan dilakukan seiring semakin dinamisnya industri Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (AKD AK), termasuk perkembangan kerangka regulasi dan pengawasannya di Indonesia. Langkah tersebut menjadi semakin relevan melihat besarnya partisipasi masyarakat Indonesia di pasar aset digital. OJK mencatat, hingga Juli 2026 jumlah akun konsumen perdagangan aset keuangan digital telah mencapai 22,93 juta akun. Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto tercatat sebesar Rp20,52 triliun, sementara transaksi derivatif mencapai Rp3,41 triliun. Menurut CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai perkembangan jumlah investor perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas literasi. Menurutnya, semakin besar adopsi kripto di masyarakat, semakin penting pula kemampuan investor untuk memahami risiko sebelum mengambil keputusan investasi. “Pertumbuhan jumlah investor adalah sinyal positif bagi perkembangan industri, tetapi jumlah pengguna bukan satu-satunya ukuran kemajuan. Yang jauh lebih penting adalah apakah investor juga semakin memahami produk yang mereka beli, risikonya, dan bagaimana industri ini diregulasi. Literasi harus tumbuh sejalan dengan adopsi,” ujar Yudho. Dari Regulasi hingga Modus Kejahatan Kripto Buku Saku Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto 2.0 memuat pembahasan yang lebih komprehensif mengenai ekosistem industri. Tidak hanya menjelaskan mengenai aset keuangan digital dan aset kripto, OJK turut memasukkan informasi mengenai kerangka regulasi, benchmark internasional, hingga risiko dan modus kejahatan yang dapat terjadi di sektor tersebut. Selain itu, buku tersebut membahas kolaborasi dalam kerangka pengawasan, roadmap pengembangan industri, tata kelola dan pelindungan konsumen hingga berbagai inovasi terbaru di bidang aset keuangan digital. OJK berharap buku tersebut dapat menjadi rujukan bagi masyarakat, konsumen, pelaku industri, maupun pemangku kepentingan lainnya dalam memahami perkembangan industri aset digital secara lebih menyeluruh. Menurut Yudho, edukasi mengenai kripto ke depan juga perlu bergerak lebih jauh dari sekadar menjelaskan peluang keuntungan atau pergerakan harga aset. “Edukasi kripto seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan aset mana yang naik atau kapan waktu membeli. Investor perlu memahami bagaimana suatu aset bekerja, siapa yang mengawasi ekosistemnya, bagaimana perlindungan konsumennya, hingga risiko seperti penipuan dan manipulasi. Semakin matang industrinya, kualitas edukasinya juga harus semakin matang,” jelas Yudho. Literasi Jadi Fondasi Industri Kripto Indonesia Penguatan literasi menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan industri aset digital nasional, terutama setelah pengawasan aset keuangan digital dan aset kripto berada di bawah OJK. Dalam peluncurannya, OJK menyebut Buku Saku 2.0 disusun bersama industri sebagai panduan praktis untuk membantu masyarakat memahami karakteristik, manfaat serta risiko aset keuangan digital dan aset kripto. OJK juga menekankan pentingnya peningkatan kecerdasan finansial masyarakat dalam membangun kesejahteraan finansial. Seiring perkembangan industri, infrastruktur pasar kripto Indonesia juga semakin luas. Hingga Juli 2026, OJK mencatat terdapat 2 bursa aset keuangan digital, 2 lembaga kliring penjaminan dan penyelesaian, 2 pengelola tempat penyimpanan, serta 26 pedagang aset keuangan digital berizin. Yudho menilai kombinasi antara regulasi, pengawasan, inovasi dan literasi masyarakat akan menjadi faktor penting bagi industri kripto Indonesia untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya. “Indonesia punya basis pengguna yang sangat besar. Tantangannya sekarang adalah mengubah besarnya partisipasi tersebut menjadi ekosistem yang semakin berkualitas. Regulasi yang jelas, industri yang bertanggung jawab, dan investor yang semakin kritis harus berjalan bersama agar pertumbuhan kripto Indonesia bisa lebih sehat dan berkelanjutan,” ulas CEO FLOQ.

Bitcoin Menguat, Bittime Sebut Regulasi Kripto AS Jadi Perhatian Investor Internasional
Internasional
Senin, 31 Agustus 2026 | 08:21 WIB

Bitcoin Menguat, Bittime Sebut Regulasi Kripto AS Jadi Perhatian Investor

Jakarta, katakabar.com - Bittime soroti penguatan Bitcoin sepekan belakangan di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat, termasuk CLARITY Act. Di tengah pasar yang dinamis, Bittime Futures memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk mengambil posisi Long maupun Short sesuai dengan ekspektasi pergerakan pasar. Bittime juga mengingatkan pentingnya memahami risiko, leverage, dan manajemen risiko dalam perdagangan Futures. Bitcoin kembali menunjukkan penguatan dalam sepekan terakhir di tengah meningkatnya optimisme terhadap arah regulasi aset kripto di Amerika Serikat. Bittime, sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai perkembangan regulasi menjadi salah satu sentimen yang turut diperhatikan pelaku pasar. Berdasarkan data CoinMarketCap per Kamis (27/8), harga Bitcoin berada di kisaran US$80.000, menguat 2,13% dalam 24 jam dan mencapai kenaikan sekitar 11,76% dalam sepekan. Penguatan tersebut terjadi bersamaan dengan kembali menguatnya ekspektasi terhadap CLARITY Act di Amerika Serikat. Presiden Donald Trump sebelumnya mendorong Kongres untuk mengesahkan versi yang dinilainya adil dari rancangan regulasi tersebut.  CLARITY Act menjadi perhatian industri karena berpotensi memberikan kejelasan mengenai klasifikasi aset kripto sekaligus pembagian kewenangan antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan perkembangan regulasi dapat menjadi salah satu faktor yang membentuk sentimen pasar, tetapi investor tetap perlu memperhatikan dinamika makroekonomi dan perkembangan kebijakan yang dapat memengaruhi pergerakan aset kripto. “Penguatan Bitcoin menunjukkan bahwa sentimen pasar dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan positif terkait regulasi. Namun, investor tetap perlu melihat kondisi pasar secara menyeluruh karena volatilitas aset kripto masih cukup tinggi,” ujar Ryan. Suku Bunga dan Regulasi AS Jadi Sentimen Perlu Dicermati Meski Bitcoin mencatat penguatan signifikan dalam sepekan terakhir, investor masih perlu mencermati sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi arah pasar kripto pada semester II 2026.  Salah satunya adalah arah kebijakan suku bunga The Fed yang tetap menjadi perhatian karena perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS dapat memengaruhi likuiditas dan minat investor terhadap aset berisiko. Selain faktor moneter, kondisi geopolitik dan ekonomi global juga masih menjadi sumber volatilitas. Ketidakpastian terkait pertumbuhan ekonomi, inflasi, serta potensi perubahan kebijakan dapat mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio ketika sentimen pasar berubah. Di sisi regulasi, perkembangan CLARITY Act menjadi faktor penting yang saat ini mendapat perhatian pelaku pasar. Kejelasan mengenai klasifikasi aset kripto serta pembagian kewenangan antara SEC dan CFTC dinilai dapat memberikan kepastian yang lebih besar bagi industri.  Tetapi, proses legislasi yang masih berjalan membuat investor tetap perlu mencermati perkembangan kebijakan sebelum menjadikan sentimen regulasi sebagai dasar keputusan investasi. “Dalam kondisi seperti sekarang, investor perlu melihat penguatan Bitcoin bukan hanya dari pergerakan harga, tetapi juga dari faktor yang mendasarinya. Kebijakan moneter, kondisi ekonomi global, dan perkembangan regulasi masih dapat mengubah sentimen pasar dengan cepat,” ucap Ryan. Strategi Investor Hadapi Pergerakan Pasar Dinamis Pergerakan Bitcoin yang cukup signifikan menunjukkan bahwa pasar aset digital dapat berubah dengan cepat mengikuti perkembangan sentimen. Dalam kondisi tersebut, investor perlu menyesuaikan strategi dengan arah pasar sekaligus memahami risiko dari setiap instrumen yang digunakan. Salah satu fitur yang tersedia di Bittime adalah Bittime Futures, yang mendukung posisi Long dan Short. Fitur tersebut memungkinkan pengguna menyesuaikan posisi berdasarkan ekspektasi terhadap pergerakan harga, baik ketika pasar berpotensi menguat maupun melemah. Tetapi, perdagangan Futures memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan perdagangan spot, terutama karena penggunaan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan sekaligus kerugian. Lantaran itu, pemahaman terhadap mekanisme Futures, pengelolaan risiko, dan kondisi pasar tetap menjadi hal penting bagi pengguna. “Bittime menilai perkembangan Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan akan tetap dipengaruhi kombinasi antara sentimen regulasi, kebijakan moneter AS, serta kondisi ekonomi global. Investor pun perlu mencermati perkembangan tersebut secara menyeluruh, seiring pasar aset digital yang semakin terhubung dengan dinamika pasar keuangan global,” tandas Ryan.

Transaksi Kripto Turun 33 Persen, Tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan! Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 30 Agustus 2026 | 16:14 WIB

Transaksi Kripto Turun 33 Persen, Tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan!

Jakarta, katakabar.com - Pasar kripto Indonesia tengah menghadapi situasi yang cukup unik. Nilai transaksi mengalami penurunan tajam, tetapi jumlah investor justru terus bertambah di tengah tekanan daya beli masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto sepanjang semester I/2026 mencapai Rp150,60 triliun, turun 33,56% secara tahunan dari Rp226,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, jumlah investor aset kripto meningkat dari 20,19 juta orang pada Desember 2025 menjadi 22,69 juta orang pada Juni 2026. Artinya, ada tambahan sekitar 2,5 juta investor hanya dalam enam bulan. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap kripto belum hilang, tetapi pola investasinya mulai berubah akibat tekanan ekonomi. “Basis investor tetap tumbuh meski nilai transaksinya turun. Ini menunjukkan masyarakat masih masuk ke pasar kripto, hanya saja dengan nilai transaksi yang lebih kecil karena tekanan daya beli,” ujar Yudho. Menurutnya, pelemahan transaksi tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik. Kapitalisasi pasar kripto global juga sempat turun sekitar 45%, dari sekitar US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2026. Karena itu, penurunan transaksi di Indonesia dinilai lebih mencerminkan kombinasi tekanan ekonomi domestik dan pelemahan pasar global, bukan penurunan minat terhadap aset kripto secara struktural. Kelas Menengah Tertekan Pola Investasi Berubah Tekanan daya beli menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi aktivitas investasi. Jumlah kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah tercatat meningkat dari 137,5 juta orang pada 2024 menjadi 142 juta orang pada 2025, atau sekitar 50,4% dari total penduduk Indonesia. Yudho menjelaskan, ketika ketahanan finansial rumah tangga melemah, alokasi dana untuk instrumen berisiko seperti kripto cenderung ikut berkurang. “Kripto bukan kebutuhan primer. Ketika kondisi ekonomi rumah tangga tertekan, masyarakat secara alami akan menjadi lebih konservatif dalam berinvestasi,” ulasnya. Tetapi, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat meninggalkan pasar kripto. Sebaliknya, investor mulai bertransaksi dengan nominal lebih kecil, lebih selektif, dan lebih berhati-hati. Perubahan ini juga terjadi bersamaan dengan turunnya posisi Indonesia dalam peringkat adopsi kripto global, dari sebelumnya peringkat ketiga menjadi peringkat ketujuh berdasarkan laporan Chainalysis. Persaingan Industri Makin Ketat Di tengah tekanan transaksi, minat pelaku industri terhadap pasar Indonesia masih tinggi. Hingga pertengahan 2026, OJK telah mengizinkan 32 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, dengan lebih dari 1.200 aset kripto legal diperdagangkan. Masuknya pemain global ke Indonesia juga menunjukkan pasar domestik masih dinilai memiliki potensi pertumbuhan. Menurut Yudho, kondisi tersebut membuat perusahaan kripto perlu mengubah strategi. Fokus tidak lagi hanya pada akuisisi pengguna, tetapi juga memperdalam transaksi dan menghadirkan produk yang sesuai dengan perubahan karakter investor. Salah satu peluang datang dari tokenized stocks. Volume perdagangan tokenized stocks secara global melonjak dari US$831 juta pada Juli 2025 menjadi US$54 miliar pada Juni 2026. Produk ini dinilai menarik karena memberikan eksposur terhadap saham perusahaan global seperti Tesla atau Nvidia, sehingga dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan instrumen dengan karakter berbeda dari aset kripto murni. Selain itu, pasar derivatif atau futures juga masih memiliki ruang pertumbuhan besar. Volume perdagangan derivatif kripto global pada kuartal II/2026 mencapai US$12,7 triliun, jauh di atas volume spot sebesar US$1,95 triliun. Sementara itu, kontribusi derivatif terhadap transaksi kripto nasional baru sekitar 22%. “Strategi yang relevan adalah mengombinasikan tokenized stocks untuk menjangkau investor yang lebih konservatif dan produk derivatif untuk menangkap pertumbuhan aktivitas trader,” jelas Yudho. Literasi Jadi Kunci Yudho menambahkan, membesarnya kelompok calon kelas menengah juga dapat menjadi peluang jangka panjang bagi industri kripto. Namun, pertumbuhan investor harus dibarengi dengan peningkatan literasi keuangan. “Pertumbuhan jumlah investor jangan hanya berhenti pada angka partisipasi. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat memahami risiko dan mampu mengambil keputusan investasi secara lebih matang,” ucapnya. Menurutnya, tekanan ekonomi saat ini bukan berarti prospek industri kripto Indonesia hilang. Sebaliknya, kondisi ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk membangun basis investor yang lebih luas, teredukasi, dan berkelanjutan. “Pasar Indonesia masih prospektif. Tantangannya adalah bagaimana industri bisa menyesuaikan produk, memperluas edukasi, dan membangun kepercayaan investor untuk jangka panjang,” sebut CEO FLOQ.

Saham MPLX Mendadak Jadi Sorotan, Apa yang Bikin Investor Tertarik? Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 27 Agustus 2026 | 10:05 WIB

Saham MPLX Mendadak Jadi Sorotan, Apa yang Bikin Investor Tertarik?

Jakarta, katakabar.com - Saham MPLX (NYSE: MPLX) kembali jadi perhatian investor di pasar saham Amerika Serikat. Perusahaan infrastruktur energi tersebut menarik minat pasar setelah mencatatkan kinerja keuangan yang solid, mempertahankan distribusi tunai bagi pemegang unit, serta memberikan pandangan pertumbuhan yang cukup agresif untuk beberapa tahun ke depan. MPLX merupakan perusahaan midstream yang memiliki dan mengoperasikan berbagai aset infrastruktur energi di Amerika Serikat. Bisnisnya mencakup pengangkutan dan penyimpanan minyak mentah serta produk olahan, hingga layanan pengumpulan, pemrosesan, dan pengangkutan gas alam serta natural gas liquids (NGL). Berbeda dengan perusahaan energi yang pendapatannya sangat bergantung pada harga jual minyak atau gas, bisnis midstream seperti MPLX lebih banyak berfokus pada infrastruktur dan volume yang mengalir melalui aset-asetnya. Hal ini membuat investor melihat MPLX sebagai salah satu saham energi yang memiliki karakter pendapatan dan arus kas yang relatif stabil. Kinerja Kuartal II 2026 Jadi Salah Satu Pendorong Perhatian terhadap MPLX semakin meningkat setelah perusahaan merilis laporan keuangan kuartal II 2026 pada awal Agustus. MPLX mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada perusahaan sebesar $1,077 miliar, meningkat dibandingkan $1,048 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, adjusted EBITDA mencapai $1,775 miliar, naik dari $1,690 miliar pada kuartal II 2025. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kontribusi dari dua segmen utama MPLX, yaitu Crude Oil and Products Logistics serta Natural Gas and NGL Services. Dari sisi pendapatan, hasil MPLX juga melampaui ekspektasi pasar. Total pendapatan dan pendapatan lainnya meningkat sekitar 10,3% secara tahunan menjadi $3,31 miliar. Pertumbuhan aktivitas pengumpulan dan fraksinasi gas menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja perusahaan selama kuartal tersebut. Kinerja tersebut menjadi penting karena investor tengah memperhatikan kemampuan perusahaan energi untuk tetap menghasilkan arus kas di tengah perubahan harga komoditas dan dinamika permintaan energi. Dalam kasus MPLX, pertumbuhan volume bisnis gas alam dan NGL memberikan sinyal positif terhadap ekspansi bisnisnya. Distribusi Tinggi Masih Jadi Daya Tarik Utama Selain kinerja operasional, salah satu alasan MPLX banyak diperhatikan adalah kebijakan pengembalian modal kepada investor. Perusahaan menetapkan distribusi kuartal II 2026 sebesar $1,0765 per common unit. Secara tahunan, angka tersebut setara dengan sekitar $4,31 per unit apabila distribusi dipertahankan pada tingkat yang sama. MPLX juga mencatatkan distribution coverage ratio sebesar 1,3 kali pada kuartal II 2026, yang menunjukkan bahwa arus kas distributable perusahaan masih mampu menopang pembayaran kepada pemegang unit. Pada kuartal tersebut, MPLX menghasilkan distributable cash flow sebesar $1,45 miliar dan mengembalikan lebih dari $1,1 miliar kepada pemegang unit. Pengembalian tersebut tidak hanya berasal dari distribusi tunai, tetapi juga mencakup pembelian kembali unit. Bagi investor yang mencari saham dengan potensi pendapatan rutin, kombinasi antara distribusi dan arus kas yang kuat menjadi salah satu faktor utama yang membuat MPLX menarik perhatian. Berdasarkan data pasar terbaru yang tersedia, saham MPLX juga memiliki forward yield di kisaran 7%, meskipun tingkat imbal hasil dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham dan kebijakan distribusi perusahaan. Target Pertumbuhan Distribusi Jadi Katalis Baru Hal lain yang membuat pasar semakin memperhatikan MPLX adalah panduan pertumbuhan distribusinya. Dalam laporan kuartal II 2026, perusahaan menyatakan ekspektasi kenaikan distribusi sebesar 12,5% pada 2026 dan 2027. Jika target tersebut dapat direalisasikan, MPLX berpotensi semakin menarik bagi investor yang berorientasi pada pendapatan. Namun, rencana kenaikan distribusi tentu akan berjalan bersamaan dengan kebutuhan perusahaan untuk membiayai ekspansi dan menjaga struktur keuangan. MPLX sendiri terus mengembangkan bisnis Natural Gas dan NGL. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah dimulainya operasi fasilitas pemrosesan Harmon Creek III pada Agustus serta pengembangan kapasitas pengolahan sour gas di kawasan Permian. Ekspansi ini menunjukkan upaya perusahaan untuk menangkap pertumbuhan produksi energi di wilayah-wilayah strategis Amerika Serikat. Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati risiko yang ada. MPLX memiliki leverage ratio sebesar 3,7 kali pada akhir kuartal II 2026. Selain itu, ekspansi aset membutuhkan belanja modal yang besar sehingga perusahaan harus menjaga keseimbangan antara investasi pertumbuhan, pengelolaan utang, dan pengembalian modal kepada investor. Bagaimana Pergerakan Saham MPLX? Saham MPLX sempat bergerak mendekati level tertinggi dalam 52 minggu terakhir setelah laporan keuangan kuartal II dirilis. Data pasar menunjukkan saham ini sempat menyentuh $60,95 pada 5 Agustus 2026, sementara kisaran harga 52 minggu berada antara $47,80 hingga $60,95. Kenaikan perhatian terhadap MPLX mencerminkan bagaimana investor saat ini tidak hanya fokus pada saham teknologi atau perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan. Saham energi dengan arus kas kuat dan potensi pengembalian modal juga tetap menjadi bagian penting dalam strategi diversifikasi portofolio. Meski demikian, investor perlu memahami bahwa MPLX tetap memiliki risiko yang terkait dengan industri energi. Perubahan permintaan minyak dan gas dalam jangka panjang, kondisi ekonomi, regulasi, belanja modal, hingga potensi peningkatan utang dapat memengaruhi kinerja perusahaan di masa depan. Lantaran itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat tingginya distribusi atau pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Analisis terhadap kondisi keuangan, strategi ekspansi, kemampuan menghasilkan arus kas, serta risiko industri tetap penting dilakukan sebelum mengambil keputusan investasi. Pergerakan Saham Amerika Serikat, Aset Kripto, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk mulai berinvestasi sekaligus mengeksplor berbagai aset kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman, yang dapat menjadi pilihan bagi para investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai investasi juga tidak perlu khawatir. Di aplikasi ini, aset kamu terproteksi dari risiko cybercrime dengan Asuransi Sinarmas. Nanovest juga berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi lebih lanjut dapat kamu kunjungi melalui website resmi Nanovest. Bagi kamu yang ingin mulai menggunakan Nanovest, aplikasinya sudah tersedia di Play Store maupun App Store.

Krisis Selalu Ada, Menunggu Kondisi Ideal Justru Bisa Bikin Investor Kehilangan Peluang Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 15 Agustus 2026 | 16:27 WIB

Krisis Selalu Ada, Menunggu Kondisi Ideal Justru Bisa Bikin Investor Kehilangan Peluang

Jakarta, katakabar.com - Di tengah dinamika ekonomi global masih dibayangi berbagai ketidakpastian, banyak calon investor masih bertanya: apakah sekarang waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi? Ketika pasar bergerak fluktuatif, suku bunga berubah, dan sentimen geopolitik memengaruhi ekonomi dunia, tidak sedikit yang memilih menunggu hingga kondisi dianggap lebih aman sebelum mengambil keputusan investasi. Padahal, jika melihat perjalanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Mulai dari pandemi Covid-19 pada 2020, penyebaran varian Delta dan Omicron pada 2021, lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga global pada 2022, konflik Rusia-Ukraina pada 2023, kekhawatiran resesi serta perkembangan artificial intelligence yang memicu volatilitas pasar pada 2024, perang tarif Amerika Serikat pada 2025, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah sepanjang 2026. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa selalu ada faktor baru yang memengaruhi pasar dan membentuk sentimen investor. Bagi Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus menunda investasi. Menurutnya, ketidakpastian merupakan bagian dari siklus pasar yang akan selalu ada. Karena itu, keputusan investasi tidak seharusnya didasarkan pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada tujuan keuangan dan strategi investasi yang konsisten. "Kalau melihat perjalanan ekonomi global, hampir setiap tahun selalu ada peristiwa yang memicu kekhawatiran pasar. Artinya, krisis akan selalu ada dalam berbagai bentuk. Kalau kita terus menjadikan krisis sebagai alasan untuk menunda investasi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mulai. Ketakutan pasar akan selalu muncul, tetapi jika melihat sejarahnya, pasar selalu mampu pulih dan kembali bertumbuh. Yang berisiko bukan hanya menghadapi volatilitas, tetapi juga kehilangan peluang pertumbuhan karena terlalu lama menunggu," ujar Jovita. Mengubah Cara Pandang Terhadap Krisis Menurut Jovita, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi investor adalah belum memahami profil risiko masing-masing. Akibatnya, banyak investor mudah panik ketika pasar mengalami volatilitas dan mengambil keputusan berdasarkan emosi, seperti menjual aset saat harga sedang turun. Padahal, sebelum mulai berinvestasi, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan hanya memilih produk investasi, tetapi juga memahami diri sendiri dan mengenali tingkat risiko yang mampu dihadapi. Berbekal pengalaman lebih dari 14 tahun di industri investasi dan sekuritas, Jovita telah melewati berbagai siklus pasar, mulai dari periode pertumbuhan hingga berbagai krisis global yang memicu koreksi signifikan. "Selama 14 tahun terakhir saya bekerja di bidang ini, sudah banyak krisis yang terjadi. Namun tidak lama setelah krisis apapun itu, pasar kembali pulih bahkan mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dari penurunannya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa pertanyaannya bukan lagi if the market will rebound, melainkan when. Yang terpenting adalah memiliki strategi investasi dan tetap disiplin menjalaninya," jelasnya. Kata Jovita, volatilitas bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan investasi. Investor yang memahami profil risikonya akan lebih siap menghadapi fluktuasi pasar tanpa mudah terbawa kepanikan, karena mereka telah memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan dan tingkat toleransi risikonya. "Tidak ada yang bisa secara konsisten menentukan kapan pasar berada di titik terendah atau tertinggi. Karena itu, membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin jauh lebih realistis dibanding terus menunggu momentum yang dianggap sempurna. Ketika kita memahami profil risiko sendiri, kita juga akan lebih tenang menghadapi pergerakan pasar karena sudah mengetahui strategi investasi yang paling sesuai dengan diri kita," imbuhnya. Untuk mendukung kebutuhan investor dengan karakter yang berbeda-beda, Nanovest menyediakan berbagai pilihan produk investasi sesuai profil risiko masing-masing. Investor dengan profil yang lebih konservatif dapat memilih Earn Program Nanovest atau Digital Gold sebagai alternatif yang lebih stabil, sementara investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun aset kripto. Dengan memahami profil risiko sejak awal, investor dapat membangun portofolio yang lebih sesuai dengan kebutuhannya dan tetap konsisten menjalankan strategi investasi, meskipun pasar sedang bergejolak. Konsistensi Lebih Penting daripada Menunggu Momentum Meningkatnya jumlah investor Indonesia menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan perubahan kondisi ekonomi global, investor membutuhkan lebih dari sekadar akses transaksi. Mereka membutuhkan pemahaman yang tepat agar tidak mudah dipengaruhi ketakutan jangka pendek. Jovita menilai kepercayaan dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan, transparansi, serta kemampuan membantu masyarakat memahami bahwa fluktuasi pasar merupakan bagian alami dari perjalanan investasi. "Pada akhirnya, investasi bukan tentang menunggu waktu yang benar-benar sempurna untuk mulai, karena kondisi tersebut mungkin tidak akan pernah datang. Krisis akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pasar, tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa pasar memiliki kemampuan untuk pulih dan terus bertumbuh. Karena itu, yang paling penting bukan menghindari setiap gejolak, melainkan membangun kebiasaan berinvestasi yang konsisten agar tidak kehilangan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang," tambahnya.