Wow! RI Tawarkan 180 Kawasan Industri kepada Investor Rusia di INNOPROM 2026 Internasional
Internasional
Kemarin

Wow! RI Tawarkan 180 Kawasan Industri kepada Investor Rusia di INNOPROM 2026

Rusia, katakabar.com - Indonesia terus memperkuat promosi kawasan industri sebagai destinasi investasi global. Dalam ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menawarkan potensi kawasan industri nasional kepada pemerintah dan pelaku usaha Rusia sebagai pintu masuk pengembangan klaster industri internasional yang saling menguntungkan. “Pengembangan kawasan industri merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat pemerataan industrialisasi sekaligus memperkuat daya saing manufaktur nasional. Kawasan industri memainkan peranan penting dalam mempercepat transformasi industri nasional, ekosistem terintegrasi yang mendukung hilirisasi, peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, hingga daya saing industri nasional di tingkat global” ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita pada sesi Business Talk - Panel Discussion Dialogue between Russian and Indonesian SEZs/Industrial Estate: Regulatory Harmonization and The Development of International Industrial Clusters di Ekaterinburg, Rusia, di pekan kedua Juli 2026 lalu. Optimisme tersebut didukung oleh kinerja kawasan industri yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, kawasan industri berhasil menarik investasi sebesar Rp6.744,58 triliun atau tumbuh 9,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menyerap sekitar 2,35 juta tenaga kerja. Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin RI, Tri Supondy menegaskan bahwa harmonisasi regulasi menjadi fondasi penting untuk menciptakan iklim investasi kawasan industri yang semakin kondusif antara Indonesia dan Rusia. "Harmonisasi regulasi antara Indonesia dan Rusia menjadi kunci untuk memastikan setiap investasi kawasan industri berjalan efisien, transparan, dan saling menguntungkan bagi kedua negara. Kami berharap dialog ini dapat menjadi landasan bagi kemitraan jangka panjang, tidak hanya dalam hal investasi, tetapi juga transfer pengetahuan dan pengembangan kapasitas kawasan industri kedua negara," ucap Tri. Diskusi tersebut mempertemukan perwakilan pemerintah, asosiasi kawasan industri, serta pengelola kawasan industri dari Indonesia dan Rusia guna membahas peluang kerja sama investasi, pengembangan kawasan industri, serta pembentukan kawasan industri yang saling terhubung (klaster industri internasional). Hingga triwulan II 2026, Indonesia memiliki 180 kawasan industri yang menampung hampir 12 ribu perusahaan atau tenan. Pengembangan kawasan industri dilakukan melalui empat pendekatan utama, yakni kawasan berteknologi tinggi, kawasan berbasis hilirisasi sumber daya alam, kawasan hemat air di luar Pulau Jawa, serta kawasan padat karya di Pulau Jawa guna meningkatkan efisiensi sistem logistik nasional. Untuk memperkuat daya tarik investasi, pemerintah juga menyediakan berbagai insentif fiskal dan nonfiskal. Fasilitas tersebut meliputi kemudahan perizinan berusaha berbasis risiko, status kawasan industri sebagai Objek Vital Nasional yang memberikan kepastian keamanan investasi, pemberian Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri tertentu, program restrukturisasi mesin dan peralatan industri, serta berbagai insentif perpajakan seperti investment allowance, tax allowance, super tax deduction untuk kegiatan riset dan pelatihan vokasi, hingga pembebasan bea masuk mesin dan bahan baku melalui skema masterlist. Selain itu, Indonesia juga menawarkan tingkat upah yang kompetitif di sejumlah wilayah industri sebagai salah satu daya tarik bagi investor manufaktur. Sebagai contoh keberhasilan pengembangan kawasan industri, Kemenperin turut memaparkan Kendal Special Economic Zone (Kendal SEZ). Kawasan yang dikembangkan melalui kerja sama Jababeka & Co. dan Sembcorp Urban Development Singapura tersebut telah menjadi salah satu kawasan industri dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Hingga 2025, Kendal SEZ mencatatkan investasi kumulatif sebesar Rp187,05 triliun dan menyerap lebih dari 76 ribu tenaga kerja. Saat ini, Kendal SEZ telah menampung 142 badan usaha dari berbagai negara, dengan sektor fesyen, otomotif, energi terbarukan, dan elektronika sebagai sektor dominan. Tingginya tingkat okupansi kawasan mendorong pengembangan Ecosystem Hub seluas 1.200 hektar yang akan mencakup pusat riset dan inovasi, kawasan industri berkelanjutan, kawasan komersial, serta permukiman terpadu. Pengembangan tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 250 ribu tenaga kerja dengan tambahan investasi sekitar Rp370 triliun. Selain menawarkan infrastruktur industri yang lengkap, Kendal SEZ juga membuka peluang kolaborasi di bidang pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama dengan sejumlah politeknik vokasi serta pengembangan digitalisasi pengelolaan kawasan industri. Dialog mengenai harmonisasi regulasi ini melengkapi penandatanganan Nota Kesepahaman antara Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) dan Association of Clusters, Technology Parks and SEZs of Russia yang dilakukan sehari sebelumnya di Ekaterinburg. Kesepahaman tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat kemitraan Indonesia dan Rusia dalam pengembangan kawasan industri, peningkatan investasi, serta pembentukan klaster industri internasional yang berdaya saing.

Mengenal Peluang Menabung Saham AS bagi Investor Indonesia Internasional
Internasional
Minggu, 26 Juli 2026 | 10:14 WIB

Mengenal Peluang Menabung Saham AS bagi Investor Indonesia

Jakarta, katakabar.com - Minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi pada saham perusahaan global, khususnya saham di pasar Amerika Serikat, terus meningkat  beberapa tahun terakhir. Kemudahan akses melalui platform digital membuat banyak investor pemula mulai mempertimbangkan saham AS sebagai bagian dari portofolio mereka. Artikel ini merangkum peluang, cara akses, serta hal-hal yang perlu dipahami sebelum mulai menabung saham AS. Mengapa Saham AS Menarik Diperhatikan Pasar saham Amerika Serikat dikenal sebagai salah satu pasar terbesar dan paling likuid di dunia, dengan banyak perusahaan berskala global di sektor teknologi, kesehatan, hingga konsumsi. Bagi investor Indonesia, ada beberapa alasan mengapa saham AS menarik untuk dipertimbangkan sebagai pelengkap portofolio. Diversifikasi geografis, sehingga portofolio tidak hanya bergantung pada satu pasar. Diversifikasi mata uang, karena investasi dilakukan dalam denominasi dolar AS yang menambah variasi eksposur. Akses ke perusahaan global yang sebagian merupakan pemimpin di industrinya masing-masing. Potensi imbal hasil dari pergerakan harga dan pembagian dividen, dengan catatan keduanya tidak dijamin. Perlu ditegaskan bahwa semua potensi tersebut datang bersama risiko. Saham AS tetap berfluktuasi, dan eksposur terhadap mata uang asing dapat bekerja dua arah, yaitu menguntungkan maupun merugikan tergantung pergerakan nilai tukar. Membandingkan Karakteristik, Bukan Sekadar Imbal Hasil Sebuah kekeliruan yang umum adalah membandingkan instrumen hanya dari sisi imbal hasil tanpa mempertimbangkan risikonya. Tabungan atau deposito dan saham memiliki tujuan serta karakteristik yang berbeda, sehingga keduanya sebenarnya saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Cara Mengakses Saham AS dari Indonesia Investor di Indonesia kini dapat mengakses saham AS melalui platform investasi resmi yang diawasi regulator. Secara umum, terdapat dua bentuk akses yang umum ditemui. Pertama, kepemilikan saham secara langsung, termasuk melalui fitur saham pecahan atau fractional shares yang memungkinkan pembelian dengan modal kecil. Kedua, produk turunan seperti kontrak selisih (CFD) yang pergerakannya mengikuti harga saham acuan. Hal yang paling penting bukan sekadar memilih platform, melainkan memastikan bahwa platform tersebut resmi dan berada di bawah pengawasan otoritas berwenang yang relevan di Indonesia, seperti OJK maupun Bappebti sesuai jenis produknya. Memverifikasi legalitas adalah langkah awal yang tidak boleh dilewati. Langkah Umum Memulai Meski rincian tiap platform dapat berbeda, langkah-langkah umumnya relatif serupa. Memilih platform resmi yang diawasi regulator dan sesuai kebutuhan. Melakukan registrasi dan verifikasi identitas sesuai ketentuan yang berlaku. Menyetorkan dana, yang umumnya akan dikonversi ke dolar AS. Mencari saham berdasarkan kode (ticker), lalu menentukan jumlah pembelian. Memantau portofolio secara berkala, termasuk harga, dividen, dan informasi perusahaan. Dalam menempatkan order, investor umumnya akan menemui beberapa jenis instruksi pembelian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Prinsip Menabung Saham yang Sehat Bagi Pemula Menabung saham AS sebaiknya dipandang sebagai proses jangka panjang, bukan upaya mencari keuntungan cepat. Beberapa prinsip berikut umum dianjurkan. Memulai dengan modal kecil sambil belajar memahami cara kerja pasar. Melakukan diversifikasi lintas sektor, alih-alih berfokus pada satu saham saja. Memiliki horizon waktu yang memadai, mengingat pasar saham bergerak naik turun dalam jangka pendek. Menetapkan strategi keluar yang terukur, termasuk batas pengambilan keuntungan dan batas kerugian. Risiko dan Aspek yang Perlu Dipahami Sebelum mulai, investor perlu memahami sejumlah risiko yang melekat pada saham AS. Di antaranya adalah volatilitas harga, risiko nilai tukar antara dolar AS dan rupiah, risiko pasar secara umum seperti koreksi, serta aspek perpajakan yang berlaku atas dividen maupun keuntungan. Memahami hal-hal ini sejak awal membantu investor menyusun ekspektasi yang lebih realistis. Market Insight Menabung saham AS dapat menjadi salah satu cara bagi investor Indonesia untuk memperluas diversifikasi portofolio ke pasar global. Namun, peluang ini sebaiknya tidak dipahami sebagai jalan pintas untuk mendapatkan imbal hasil tinggi tanpa risiko. Potensi yang lebih besar selalu beriringan dengan risiko yang juga lebih besar. Yang sama pentingnya adalah memandang saham AS sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari instrumen lain dalam portofolio. Tabungan, instrumen domestik, dan aset global masing-masing memiliki peran yang berbeda dan dapat saling melengkapi. Menurut tim Research Valbury, informasi seperti ini sebaiknya dipahami sebagai bagian dari literasi keuangan, bukan sebagai rekomendasi untuk membeli instrumen tertentu. Hal yang ingin terus didorong adalah pemahaman investor terhadap karakteristik dan risiko setiap pilihan, serta kedisiplinan untuk selalu menggunakan platform resmi yang diawasi otoritas berwenang, agar keputusan dapat diambil secara lebih bijak sesuai dengan profil masing-masing.

Bitcoin ke US$65.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspada Risiko Inflasi dan Geopolitik Masih Bayangi Pasar Internasional
Internasional
Rabu, 22 Juli 2026 | 14:30 WIB

Bitcoin ke US$65.000, FLOQ Ingatkan Investor Waspada Risiko Inflasi dan Geopolitik Masih Bayangi Pasar

Jakarta, katakabar.com - Harga Bitcoin kembali menembus level psikologis US$65.000 setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Data Consumer Price Index (CPI) Juni tercatat turun menjadi 3,5% secara tahunan, dari 4,2% pada Mei, sementara Producer Price Index (PPI) juga melambat dari 6,0% menjadi 5,5%. Kondisi tersebut picu optimisme pasar terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat dan mendorong reli aset berisiko, termasuk Bitcoin. Pada 15 Juli 2026 lalu, Bitcoin berhasil kembali diperdagangkan di atas level US$65.000 setelah sempat berada di bawah area tersebut selama beberapa hari. Kenaikan ini turut memicu short squeeze dengan nilai likuidasi sekitar US$60–77 juta, di mana sekitar 90% berasal dari posisi short, menandakan banyak pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh harga Bitcoin akan melemah. Meski demikian, tim trading desk FLOQ menilai bahwa reli tersebut masih perlu dicermati karena belum sepenuhnya didukung oleh perubahan fundamental yang kuat. CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pelaku pasar sebaiknya tidak hanya melihat penurunan angka inflasi, tetapi juga memahami faktor yang menjadi penyebab di balik perlambatan tersebut. "Pasar merespons positif data inflasi Amerika Serikat karena dianggap membuka peluang kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun, yang perlu dipahami adalah penurunan inflasi Juni sebagian besar dipengaruhi oleh melemahnya harga energi selama periode gencatan senjata di Timur Tengah. Ketika faktor tersebut mulai berbalik arah, risiko inflasi juga berpotensi kembali meningkat," ujar Yudho. Menurut FLOQ, meningkatnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa pekan ke depan. Pada 14 Juli 2026 lalu, Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Iran serta mengenakan levy sebesar 20% terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari kebijakan keamanan. Selat Hormuz sendiri di antara jalur perdagangan minyak terpenting di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap distribusi energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. Yudho menjelaskan kenaikan harga energi dapat kembali memberikan tekanan terhadap inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed. "Kalau harga minyak kembali naik, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi, tetapi juga biaya logistik, transportasi, hingga harga berbagai kebutuhan pokok. Kondisi ini dapat membuat inflasi kembali meningkat sehingga ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya menjadi lebih terbatas. Investor perlu melihat hubungan antar faktor tersebut, bukan hanya bereaksi terhadap satu data ekonomi," jelasnya. FLOQ juga mencatat ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed masih relatif berhati-hati. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September memang turun ke kisaran 54–63%, dibandingkan 70–80% pada pekan sebelumnya. Namun di sisi lain, pasar masih memperkirakan sekitar 76% kemungkinan tidak akan terjadi pemangkasan suku bunga sepanjang 2026. Sentimen investor kripto pun belum sepenuhnya pulih. Crypto Fear & Greed Index masih berada di level 29 atau kategori Fear, meskipun Bitcoin telah rebound sekitar 29% dari titik terendahnya pada 5 Juli 2026 lalu. Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan bahwa reli Bitcoin saat ini lebih tepat dipandang sebagai pemulihan sentimen jangka pendek dibandingkan awal dari tren bullish yang telah terkonfirmasi. "Level US$65.000 menjadi area yang sangat penting untuk diperhatikan. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut dengan dukungan volume beli yang kuat, peluang melanjutkan tren kenaikan tetap terbuka. Namun apabila kembali turun di bawah US$62.000, investor perlu mengantisipasi potensi koreksi menuju kisaran US$58.000 hingga US$59.000," tambahnya. Selain faktor makroekonomi, FLOQ juga menyoroti bahwa arus dana investor institusi belum sepenuhnya mendukung reli Bitcoin. Pada 13 Juli, ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat outflow sebesar US$424,7 juta, menjadi arus keluar terbesar sepanjang Juli. Sehari kemudian, arus dana kembali berbalik dengan inflow sekitar US$181 juta, dipimpin oleh iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock sebesar US$138,9 juta. Menurut FLOQ, pergerakan yang sangat fluktuatif tersebut menunjukkan bahwa investor institusi masih menunggu kepastian arah pasar. Di sisi lain, data on-chain masih menunjukkan tren akumulasi Bitcoin yang berlanjut, sementara volume perdagangan di centralized exchange (CEX) meningkat sekitar 15,3%, menjadi kenaikan pertama dalam lima bulan terakhir. FLOQ juga menilai perkembangan regulasi di Jepang menjadi salah satu katalis positif jangka panjang yang patut diperhatikan. Persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang mengklasifikasikan aset kripto sebagai instrumen keuangan dinilai dapat membuka jalan bagi ETF Bitcoin spot domestik di Jepang dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, pembahasan CLARITY Act di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian pasar. Meskipun peluang lolosnya regulasi tersebut menurut pasar prediksi turun menjadi sekitar 43%, kepastian regulasi tetap menjadi faktor penting dalam mendorong partisipasi investor institusi di industri aset digital. Menutup analisanya, Yudho mengingatkan bahwa volatilitas pasar masih berpotensi tinggi dalam beberapa minggu ke depan, seiring pasar mencermati perkembangan inflasi, kebijakan The Fed, konflik geopolitik, hingga dinamika regulasi aset digital. "Volatilitas adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pasar aset digital. Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan satu headline atau satu indikator ekonomi. Memahami gambaran besar dan menerapkan manajemen risiko yang baik akan jauh lebih penting dalam menghadapi kondisi pasar seperti saat ini," ujar Yudho. Implikasi Bagi Investor Pemula 1. Jangan menganggap kenaikan harga sebagai sinyal "waktu terbaik untuk membeli" Bitcoin yang kembali menembus US$65.000 memang mencerminkan sentimen pasar yang lebih positif setelah data inflasi AS melandai. Namun, kenaikan tersebut masih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek. Investor pemula perlu memahami bahwa harga aset digital dapat berubah dengan cepat ketika muncul perkembangan baru, seperti data ekonomi, kebijakan bank sentral, atau kondisi geopolitik. 2. Belajar membaca faktor fundamental, bukan hanya grafik harga Banyak investor baru hanya memperhatikan apakah harga sedang naik atau turun. Padahal, memahami penyebab di balik pergerakan harga jauh lebih penting. Dalam kondisi saat ini, misalnya, inflasi AS, kebijakan suku bunga, konflik geopolitik, hingga perkembangan regulasi aset digital menjadi faktor yang sama-sama memengaruhi sentimen pasar. Dengan memahami konteks tersebut, investor dapat memiliki ekspektasi yang lebih realistis terhadap pergerakan pasar. 3. Volatilitas adalah karakteristik pasar aset digital Pergerakan harga yang tajam, baik naik maupun turun, merupakan bagian dari dinamika pasar aset digital. Oleh karena itu, investor pemula perlu membangun kesiapan menghadapi volatilitas dan menghindari keputusan yang didorong oleh rasa takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO) maupun kepanikan ketika harga mengalami koreksi. 4. Pentingnya memahami profil risiko pribadi Setiap investor memiliki tujuan keuangan dan toleransi risiko yang berbeda. Sebelum mulai berinvestasi, penting bagi investor pemula untuk memahami berapa besar risiko yang sanggup mereka hadapi, sehingga keputusan investasi lebih selaras dengan kondisi finansial dan tujuan jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren pasar. 5. Edukasi menjadi langkah pertama sebelum berinvestasi Meningkatnya akses terhadap aset digital perlu diimbangi dengan peningkatan literasi. Investor pemula sebaiknya membangun pemahaman mengenai dasar-dasar aset digital, cara kerja pasar, serta risiko yang menyertainya sebelum mengambil keputusan. Dengan bekal pengetahuan yang memadai, investor dapat lebih siap menghadapi dinamika pasar dan menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. "Bagi investor pemula, kenaikan harga sering kali memunculkan keinginan untuk segera ikut masuk ke pasar. Padahal, yang lebih penting adalah memahami alasan di balik pergerakan tersebut. Ketika seseorang mengerti bagaimana inflasi, kebijakan moneter, regulasi, dan kondisi global memengaruhi pasar, keputusan yang diambil akan lebih rasional dan tidak hanya didasarkan pada momentum sesaat," tutup Yudho. Disclaimer: Informasi dalam siaran pers ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 16 Juli 2026. Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi yang disampaikan dalam siaran pers ini bersifat umum dan hanya ditujukan untuk keperluan informasi. Informasi ini bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi untuk membeli, menjual, atau melakukan investasi pada aset kripto tertentu. FLOQ mengimbau masyarakat untuk selalu melakukan riset secara mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan mempertimbangkan setiap keputusan investasi secara matang sesuai dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kemampuan finansial masing-masing. Masyarakat juga diharapkan tidak menggunakan dana yang berada di luar batas kemampuan dalam melakukan transaksi aset kripto.

Inflasi Mendingin, Wall Street Reli: Saatnya Investor Bersiap? Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 21 Juli 2026 | 11:16 WIB

Inflasi Mendingin, Wall Street Reli: Saatnya Investor Bersiap?

Jakarta, katakabar.com - Wall Street kembali menunjukkan penguatan setelah data inflasi Amerika Serikat memberikan angin segar bagi pelaku pasar. Laporan terbaru menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda, meningkatkan optimisme investor terhadap kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Di saat yang sama, pasar masih dibayangi berbagai risiko global, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga dinamika kebijakan politik Amerika Serikat. Tetapi, awal musim laporan keuangan (earnings season) yang solid berhasil menjaga sentimen positif di pasar saham. Data terbaru menunjukkan bahwa Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat mencatat perlambatan yang lebih baik dari ekspektasi. Bahkan, inflasi bulanan sempat mencatatkan deflasi, sementara Core CPI, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang cenderung berfluktuasi, juga melambat. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan harga di ekonomi terbesar dunia tersebut mulai terkendali setelah sebelumnya berada di level yang tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Meredanya inflasi memberikan ruang yang lebih besar bagi Federal Reserve untuk mengambil sikap yang lebih dovish dalam menentukan arah suku bunga. Selama dua tahun terakhir, The Fed mempertahankan suku bunga tinggi sebagai upaya menekan inflasi. Kini, dengan inflasi yang menunjukkan tren penurunan, pasar mulai memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan semakin terbuka. Ekspektasi tersebut langsung direspons positif oleh pasar saham. Indeks-indeks utama Wall Street bergerak menguat dengan sektor teknologi menjadi salah satu motor penggerak utama. Saham-saham growth, khususnya perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kembali menarik minat investor. Perusahaan teknologi besar yang selama ini memimpin perkembangan AI dipandang sebagai pihak yang paling diuntungkan apabila biaya pendanaan menjadi lebih rendah. Suku bunga yang lebih bersahabat umumnya meningkatkan valuasi saham growth karena prospek pendapatan jangka panjang menjadi lebih menarik dibandingkan saat suku bunga berada di level tinggi. Optimisme pasar belum sepenuhnya lepas dari berbagai tantangan. Salah satu faktor yang masih menjadi perhatian investor adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia karena pasar mengantisipasi potensi gangguan terhadap pasokan energi global. Harga minyak yang lebih tinggi dapat kembali memicu tekanan inflasi apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, investor masih terus memantau perkembangan geopolitik sebagai salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter maupun kinerja pasar keuangan global. Selain itu, pasar juga memperhatikan berbagai perkembangan kebijakan politik di Amerika Serikat, termasuk sejumlah pernyataan dan agenda ekonomi yang dikaitkan dengan Donald Trump menjelang dinamika politik berikutnya. Ketidakpastian kebijakan perdagangan, tarif impor, hingga hubungan dagang internasional tetap menjadi variabel yang diperhitungkan investor dalam menyusun strategi investasi. Di tengah berbagai tantangan tersebut, musim laporan keuangan kuartalan memberikan dorongan positif bagi pasar. Beberapa bank terbesar Amerika Serikat berhasil membukukan kinerja yang lebih baik dibandingkan ekspektasi analis. JPMorgan Chase, Bank of America, serta sejumlah institusi keuangan besar lainnya melaporkan pendapatan dan laba yang solid, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan sektor perbankan masih berada dalam kondisi yang cukup sehat. Kinerja positif sektor perbankan memberikan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Amerika Serikat masih cukup kuat meski sebelumnya menghadapi tekanan akibat suku bunga tinggi. Hal ini juga menjadi indikator awal yang penting menjelang laporan keuangan perusahaan-perusahaan dari sektor teknologi, manufaktur, hingga konsumen dalam beberapa pekan mendatang. Bagi investor, kombinasi antara inflasi yang mulai melandai, potensi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, serta laporan keuangan perusahaan yang solid dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham. Namun demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tetap tinggi mengingat berbagai risiko eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Investor juga disarankan untuk tetap menerapkan strategi diversifikasi portofolio dan terus memantau perkembangan data ekonomi, keputusan Federal Reserve, serta dinamika geopolitik global sebelum mengambil keputusan investasi. Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan Emas Digital saat ini dapat dipantau melalui aplikasi Nanovest. Bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun mengeksplorasi berbagai aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya serta aman bagi investor di Indonesia. Bagi investor yang baru ingin memulai berinvestasi juga tidak perlu khawatir karena aset yang dimiliki di aplikasi Nanovest mendapatkan perlindungan terhadap risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Tidak hanya itu, Nanovest telah resmi terdaftar dan berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memberikan rasa aman dalam berinvestasi. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai layanan dan fitur yang tersedia, masyarakat dapat mengunjungi www.nanovest.io. Aplikasi Nanovest juga telah tersedia di Google Play Store maupun Apple App Store, sehingga investor dapat memantau pergerakan pasar dan mulai berinvestasi dengan lebih mudah kapan saja dan di mana saja.

Google Bangun Infrastruktur AI dari Energi Matahari, Apa Dampaknya bagi Investor? Tekno
Tekno
Senin, 20 Juli 2026 | 09:30 WIB

Google Bangun Infrastruktur AI dari Energi Matahari, Apa Dampaknya bagi Investor?

Jakarta, katakabar.com - Google kembali pertegas komitmen terhadap transisi energi bersih dengan mengumumkan kerja sama strategis bersama Cypress Creek Energy untuk mengembangkan Steel River Energy Center di negara bagian Arkansas, Amerika Serikat. Proyek ini digadang-gadang akan menjadi proyek tenaga surya terbesar yang pernah didukung Google di Amerika Serikat sekaligus menjadi salah satu investasi energi terbarukan paling signifikan yang dilakukan perusahaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Langkah tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan energi untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi salah satu prioritas utama perusahaan-perusahaan teknologi global. Seiring semakin masifnya pembangunan data center AI, kebutuhan terhadap pasokan listrik yang stabil sekaligus rendah emisi juga meningkat secara signifikan. Dalam proyek ini, Google menandatangani Virtual Power Purchase Agreement (VPPA) dengan Cypress Creek Energy. Melalui skema tersebut, Google akan menyerap 100% produksi listrik pada tahap awal proyek ketika mulai beroperasi pada tahun 2029. VPPA sendiri merupakan mekanisme pembelian listrik jangka panjang yang banyak digunakan perusahaan untuk mendukung pembangunan energi terbarukan tanpa harus membeli listrik secara langsung dari fasilitas pembangkit. Steel River Energy Center akan dikembangkan dalam dua tahap dengan kapasitas akhir mencapai 2,5 gigawatt (GW) tenaga surya serta didukung oleh 2,9 gigawatt-hour (GWh) sistem penyimpanan baterai. Dengan kapasitas sebesar itu, proyek ini diperkirakan mampu memasok kebutuhan listrik lebih dari 315.000 rumah setiap tahunnya. Keberadaan sistem penyimpanan baterai juga menjadi elemen penting dalam proyek ini. Energi surya bersifat intermiten karena hanya dapat menghasilkan listrik saat matahari bersinar. Dengan dukungan baterai berkapasitas besar, listrik yang dihasilkan pada siang hari dapat disimpan dan digunakan kembali ketika permintaan meningkat atau saat produksi tenaga surya menurun. Hal tersebut membuat pasokan energi menjadi lebih stabil bagi jaringan listrik maupun operasional data center. Bagi Google, proyek ini bukan hanya menjadi bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan, tetapi juga merupakan langkah penting dalam memenuhi kebutuhan energi untuk ekspansi layanan AI yang berkembang sangat pesat. Beberapa tahun terakhir, Google terus meningkatkan investasi pada infrastruktur AI, mulai dari pengembangan model kecerdasan buatan hingga pembangunan data center baru di berbagai wilayah Amerika Serikat dan negara lainnya. Data center AI membutuhkan konsumsi listrik yang jauh lebih besar dibandingkan pusat data konvensional. Proses pelatihan model AI skala besar, komputasi cloud, hingga layanan generative AI memerlukan ribuan unit prosesor yang beroperasi tanpa henti. Kondisi tersebut membuat perusahaan teknologi berlomba-lomba mengamankan sumber energi jangka panjang yang andal sekaligus ramah lingkungan. Google bukan satu-satunya perusahaan yang mengambil langkah serupa. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah hyperscalers seperti Microsoft, Amazon, dan Meta juga meningkatkan investasi pada pembangkit energi terbarukan maupun pembelian listrik melalui skema power purchase agreement (PPA). Persaingan di sektor AI secara tidak langsung telah mendorong peningkatan investasi pada proyek energi bersih berskala besar di Amerika Serikat. Fenomena ini juga menjadi sinyal penting bagi investor. Permintaan energi yang terus meningkat akibat perkembangan AI diperkirakan akan membuka peluang pertumbuhan bagi berbagai sektor, mulai dari perusahaan utilitas, pengembang energi terbarukan, produsen panel surya, produsen baterai, hingga perusahaan penyedia infrastruktur jaringan listrik. Selain mendukung target dekarbonisasi perusahaan, investasi seperti Steel River Energy Center turut memperkuat posisi energi terbarukan sebagai salah satu pilar utama ekonomi digital di masa depan. Seiring meningkatnya kebutuhan komputasi AI, keberhasilan perusahaan teknologi dalam mengamankan pasokan listrik bersih dapat menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi operasional sekaligus memenuhi target keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian investor global. Bagi pasar modal, langkah Google juga memberikan gambaran mengenai arah investasi jangka panjang perusahaan teknologi. Belanja modal (capital expenditure) tidak lagi hanya difokuskan pada pengembangan perangkat lunak atau infrastruktur digital, tetapi juga mulai merambah pembangunan aset fisik berupa pembangkit listrik dan fasilitas penyimpanan energi. Hal ini menunjukkan bahwa AI kini tidak hanya menjadi tema teknologi, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor energi, konstruksi, dan manufaktur. Di tengah transformasi tersebut, investor dapat memanfaatkan perkembangan pasar global sebagai bagian dari strategi diversifikasi investasi. Pergerakan saham perusahaan teknologi Amerika Serikat yang aktif mengembangkan AI maupun sektor energi bersih menjadi salah satu indikator yang banyak diperhatikan pelaku pasar. Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan Emas Digital saat ini dapat kamu pantau melalui aplikasi Nanovest. Bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun mengeksplorasi berbagai aset kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan aplikasi investasi yang terpercaya dan aman bagi investor di Indonesia. Investor pemula juga tidak perlu khawatir karena aset yang tersimpan di aplikasi Nanovest mendapatkan perlindungan terhadap risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Selain itu, Nanovest telah resmi terdaftar dan berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memberikan rasa aman bagi pengguna dalam melakukan aktivitas investasi.

Wall Street Melesat Berkat AI, Investor Kini Waspadai Tiga Katalis Besar Ekonomi
Ekonomi
Minggu, 19 Juli 2026 | 14:05 WIB

Wall Street Melesat Berkat AI, Investor Kini Waspadai Tiga Katalis Besar

Jakarta, katakabar.com - Pasar saham Amerika Serikat kembali menunjukkan performa impresif dengan indeks-indeks utama bergerak mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Optimisme investor masih didorong oleh pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang terus menjadi motor utama reli saham teknologi sepanjang tahun ini. Tetapi di balik sentimen positif tersebut, pasar juga mulai menghadapi sejumlah risiko baru yang berpotensi meningkatkan volatilitas dalam jangka pendek. Salah satu sorotan utama datang dari debut perdagangan SK Hynix yang mencatat kenaikan sekitar 13 perseb setelah berhasil menghimpun dana lebih dari US$26 miliar. Kinerja tersebut menjadi salah satu penawaran yang paling mendapat perhatian investor dan memperkuat keyakinan bahwa sektor AI masih menjadi destinasi utama aliran modal global. Keberhasilan SK Hynix juga mencerminkan tingginya permintaan terhadap perusahaan yang berada dalam rantai pasok semikonduktor AI. Produsen chip memori berperforma tinggi saat ini memainkan peran penting dalam mendukung kebutuhan komputasi untuk pusat data, model AI generatif, hingga layanan cloud computing. Tidak mengherankan jika investor terus memburu saham-saham yang memiliki eksposur terhadap tren AI global. Reli sektor teknologi turut mendorong S&P 500 bertahan di dekat level tertinggi sepanjang sejarah. Hingga saat ini, indeks acuan tersebut telah mencatat kenaikan sekitar 10 persen sejak awal tahun (year-to-date). Penguatan tersebut didorong oleh kinerja sejumlah perusahaan teknologi besar yang terus menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba di tengah tingginya permintaan terhadap solusi berbasis AI. Tetapi, sejumlah analis mengingatkan bahwa reli pasar saat ini memasuki fase yang semakin sensitif terhadap berbagai katalis baru. Setelah sebelumnya didominasi oleh optimisme terhadap AI, perhatian investor kini mulai bergeser ke faktor-faktor makroekonomi dan geopolitik yang dapat memengaruhi arah pasar dalam beberapa bulan ke depan. Salah satu risiko yang kembali menjadi perhatian adalah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global, terutama apabila terjadi gangguan pada jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia. Jika konflik terus meningkat, harga minyak berpotensi kembali mengalami lonjakan. Kenaikan harga energi tidak hanya berdampak pada sektor komoditas, tetapi juga dapat memicu tekanan inflasi yang lebih tinggi di Amerika Serikat maupun negara-negara lain. Kondisi tersebut menjadi perhatian utama investor karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral. Dalam situasi seperti ini, Federal Reserve diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait suku bunga. Jika inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi, peluang penurunan suku bunga dapat semakin tertunda. Skenario higher for longer, yaitu mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang, kembali menjadi salah satu ekspektasi yang diperhitungkan pasar. Selain perkembangan geopolitik, pasar juga akan memasuki periode penting musim laporan keuangan perusahaan atau earnings season. Sejumlah bank besar seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs dijadwalkan merilis laporan keuangan dalam waktu dekat. Hasil kinerja kedua institusi tersebut akan menjadi indikator awal mengenai kondisi sektor keuangan Amerika Serikat serta prospek aktivitas ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Selain itu, investor juga akan mencermati laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi yang selama ini menjadi penggerak utama reli Wall Street. Ekspektasi terhadap pertumbuhan pendapatan dan belanja AI masih sangat tinggi sehingga setiap indikasi perlambatan berpotensi memicu aksi ambil untung (profit taking) di sektor teknologi. Di sisi makroekonomi, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat. Kedua indikator inflasi tersebut akan memberikan gambaran mengenai arah tekanan harga di tingkat konsumen maupun produsen. Apabila data inflasi kembali menunjukkan kenaikan di atas ekspektasi pasar, investor kemungkinan akan merevisi proyeksi terhadap kebijakan The Fed. Sebaliknya, jika inflasi terus menunjukkan tren moderasi, peluang pelonggaran kebijakan moneter dapat kembali terbuka dan menjadi sentimen positif bagi pasar saham. Kombinasi antara perkembangan AI, kondisi geopolitik, musim laporan keuangan, serta data inflasi menjadikan beberapa pekan ke depan sebagai periode yang sangat menentukan bagi arah pasar global. Investor diperkirakan akan menghadapi volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga strategi pengelolaan risiko menjadi semakin penting. Bagi investor Indonesia yang ingin mengikuti dinamika pasar global, perkembangan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital dapat dipantau secara langsung melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memberikan akses bagi pengguna untuk memonitor berbagai instrumen investasi global dalam satu aplikasi yang mudah digunakan. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Saham AS, Nanovest dapat menjadi pilihan untuk memulai investasi sekaligus mengeksplorasi aset kripto lainnya. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman bagi investor Indonesia. Bagi investor yang baru memulai perjalanan investasinya, tidak perlu khawatir karena aset yang dimiliki mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Tidak cuma itu, Nanovest telah resmi terdaftar dan berlisensi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan dalam berinvestasi. Informasi lebih lanjut mengenai layanan Nanovest dapat diakses melalui www.nanovest.io, sementara aplikasinya telah tersedia di Google Play Store maupun Apple App Store. Di tengah kuatnya optimisme terhadap AI, investor tetap perlu memperhatikan berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi pasar. Kombinasi antara euforia teknologi, perkembangan geopolitik, musim laporan keuangan, dan data inflasi akan menjadi penentu utama arah Wall Street dalam beberapa waktu mendatang. Pendekatan investasi yang disiplin, berbasis fundamental, serta pemantauan pasar secara berkala akan menjadi kunci dalam menghadapi dinamika tersebut.

Investor Kripto Capai 22,4 Juta, Potensi Pasar Indonesia Makin Besar Ekonomi
Ekonomi
Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:11 WIB

Investor Kripto Capai 22,4 Juta, Potensi Pasar Indonesia Makin Besar

Jakarta, katakabar.com - Industri aset kripto Indonesia masih menunjukkan potensi pertumbuhan sepanjang 2026. Peningkatan nilai transaksi, bertambahnya jumlah konsumen, serta penguatan regulasi menjadi penopang perkembangan ekosistem aset digital nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto di pasar spot mencapai Rp122,02 triliun secara year-to-date hingga Mei 2026. Pada Mei saja, transaksi tercatat sebesar Rp23,01 triliun, naik tipis 0,11 persen dibandingkan April 2026 sebesar Rp22,98 triliun. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengatakan kepercayaan konsumen terhadap industri masih terjaga. “Di tengah fluktuasi nilai transaksi yang terjadi, kepercayaan konsumen terhadap ekosistem aset keuangan digital termasuk aset kripto Indonesia masih terjaga dengan baik,” ujar Adi dalam Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK hasil Rapat Dewan Komisioner Bulan Juni 2026, Selasa (7/7) lalu. OJK juga mencatat jumlah akun konsumen aset kripto telah mencapai 22,4 juta akun hingga Mei 2026. Jumlah itu tumbuh 3,17 persen secara month-to-date. Pasar Domestik Tetap Tumbuh Pertumbuhan industri di Indonesia berlangsung ketika pasar kripto global masih mengalami tekanan. Laporan CoinGecko Q1 2026 mencatat kapitalisasi pasar kripto global turun 20,4 persen secara kuartalan menjadi US$2,4 triliun. Volume perdagangan spot pada 10 bursa kripto terpusat terbesar dunia juga turun 39,1 persen menjadi US$2,7 triliun. Namun, kapitalisasi stablecoin tetap bertahan di sekitar US$309,9 miliar, menunjukkan likuiditas pasar masih terjaga. Kondisi tersebut menunjukkan pasar Indonesia masih memiliki daya tahan dan ruang ekspansi, terutama dengan basis pengguna yang terus bertambah.  BTSE Indonesia Siap Ramaikan Industri Melihat potensi pasar tersebut mendorong BTSE Group meluncurkan BTSE Indonesia melalui joint venture dengan PT Aset Kripto Internasional. Perusahaan ini merupakan hasil rebranding NVX dan telah memperoleh izin OJK sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital. Dalam kerja sama tersebut, BTSE Group menyediakan infrastruktur perdagangan, teknologi, dan likuiditas. Sementara itu, tim lokal akan berfokus pada akuisisi pengguna, pemasaran, penjualan, serta kemitraan strategis. Chief Strategy Officer BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, menilai perpaduan antara pemahaman pasar lokal dan dukungan teknologi global menjadi modal penting bagi perusahaan untuk menghadirkan layanan perdagangan aset digital yang aman, kompetitif, serta sesuai dengan regulasi di Indonesia. “Dengan keahlian lokal yang mendalam serta dukungan dari salah satu exchange global terkemuka, BTSE Indonesia berada pada posisi yang unik untuk menghadirkan platform perdagangan yang aman, kompetitif, dan sepenuhnya mematuhi regulasi lokal,” kata Stephanie. Dorong Kolaborasi dan Program Pengguna BTSE Indonesia juga akan berkolaborasi dengan regulator, komunitas, dan pelaku industri untuk memperkuat edukasi serta pengembangan ekosistem kripto nasional. Perusahaan menyiapkan biaya perdagangan yang lebih rendah di Indonesia, rewards pengguna baru dengan total nilai hingga US$330, program afiliasi yang cukup kompetitif di Industri dan referral tertinggi di industri. Selain itu, BTSE Indonesia juga mempunyai lebih dari 200+ aset (tersedia dalam pairings IDR dan USDT), serta layanan deposit seperti QRIS, OVO dan VA bank lainnya dan khusus pengguna baru, akan langsung mendapatkan $20 BTSE Cash in rewards. Pengguna juga bisa mendapatkan rewards melalui activity “First Trade Experience” cukup dengan memberikan pengalaman pertamanya menggunakan aplikasi BTSE Indonesia. BTSE Indonesia sudah tersedia di Apps Store dan Google Play Store.

Pasar Kripto Masih Stagnan, Data Bittime Ungkap Minat Investor pada Tokenisasi Saham AI Meningkat Internasional
Internasional
Selasa, 14 Juli 2026 | 10:03 WIB

Pasar Kripto Masih Stagnan, Data Bittime Ungkap Minat Investor pada Tokenisasi Saham AI Meningkat

Jakarta, katakabar.com - Data awal Bittime menunjukkan minat investor Indonesia terhadap Tokenized US Stocks terus meningkat, dengan mayoritas dana baru mengalir ke saham-saham AI seperti NVIDIA, Meta, dan Microsoft. Tren ini muncul di tengah pasar kripto yang masih bergerak stagnan dan sejalan dengan penguatan ekosistem inovasi keuangan digital oleh OJK. Minat investor Indonesia terhadap saham sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menunjukkan tren positif di tengah berkembangnya ekosistem tokenisasi aset di Indonesia. Sejalan dengan komitmen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam memperkuat inovasi teknologi sektor keuangan, data awal Bittime, Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin OJK, menunjukkan mayoritas dana investor pada layanan Tokenized US Stocks mengalir ke saham-saham AI. Di acara Simposium Nasional dan Forum Konsultasi Stakeholder Pengembangan dan Penguatan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD), pada 2 Juli 2026 lalu, OJK menegaskan perkembangan teknologi, mulai dari AI hingga tokenisasi aset, membuka peluang besar bagi pengembangan sektor keuangan.  OJK juga tengah menyusun Roadmap IAKD 2026–2031 yang mencakup pengembangan tokenisasi aset, stablecoin, keamanan siber, transaksi Over-the-Counter (OTC), hingga Single Investor Identifier (SID). Menanggapi hal tersebut, Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan penguatan regulasi akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri aset keuangan digital di Indonesia. "Komitmen OJK dalam penguatan IAKD,  memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk terus berinovasi. Kami melihat langkah ini akan mempercepat adopsi aset digital sekaligus memperluas akses masyarakat Indonesia terhadap peluang investasi global melalui platform yang teregulasi," ujar Ryan. Di sisi lain, kondisi pasar aset kripto global masih bergerak cenderung stagnan. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Rabu (8/7) pagi, harga Bitcoin berada di kisaran US$62.900, turun 0,59% dalam 24 jam terakhir, namun masih mencatat kenaikan 6,61% dalam sepekan.  Sementara, indeks Fear and Greed CoinMarketCap berada di level 27 atau fear, membaik dibandingkan pekan sebelumnya yang masih berada pada kategori extreme fear. Kondisi ini menunjukkan sebagian investor mulai mencari alternatif diversifikasi investasi yang memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan global, termasuk melalui tokenisasi saham.  Tokenisasi Saham AI Dominasi Minat Investor Dalam 48 jam setelah peluncuran flexible staking untuk Tokenized US Stocks, Bittime mencatat kepemilikan tokenized saham AS meningkat 106%. Sekitar 96% dana baru terkonsentrasi pada tokenized NVIDIA, Meta, dan Microsoft, sementara permintaan terhadap tokenized Apple, Google, Tesla, dan Amazon relatif lebih datar. Hampir 50% kepemilikan Tokenized US Stocks di Bittime juga langsung ditempatkan ke dalam fitur Earn untuk memperoleh reward hingga 7%, menunjukkan investor tidak hanya mencari eksposur ke saham global, tetapi juga peluang memperoleh imbal hasil dari aset digital. Melihat antusiasme tersebut, Bittime kembali menghadirkan kampanye Tokenized US Stocks pada pekan ini. Berdasarkan perilaku pengguna pada kampanye sebelumnya, SpaceX Token (SPCXX) dipilih sebagai insentif utama, sementara pengguna tetap dapat menikmati fitur Earn dengan reward hingga 7%. Ryan mengatakan tren tersebut menunjukkan investor Indonesia mulai lebih selektif dalam memilih sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. "Minat yang tinggi terhadap saham-saham bertema AI menunjukkan investor Indonesia mulai berinvestasi berdasarkan tema pertumbuhan global. Tokenisasi aset membuat akses terhadap peluang investasi global menjadi lebih mudah, efisien, dan inklusif," jelas Ryan. Sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD), Bittime terus memperluas akses masyarakat terhadap investasi global melalui Tokenized US Stocks. Sejalan dengan data OJK yang mencatat jumlah konsumen aset keuangan digital dan aset kripto telah mencapai 22,4 juta, data awal Bittime menunjukkan inovasi tokenisasi aset mulai mendapat respons positif dari investor Indonesia, khususnya untuk memperoleh eksposur pada perusahaan-perusahaan yang menjadi pemimpin perkembangan teknologi AI.

Minat Investor Indonesia pada Aset AI Global Meningkat, Bittime Luncurkan Fitur Earn Tokenized US Stocks Ekonomi
Ekonomi
Selasa, 07 Juli 2026 | 12:07 WIB

Minat Investor Indonesia pada Aset AI Global Meningkat, Bittime Luncurkan Fitur Earn Tokenized US Stocks

Jakarta, katakabar.com - Animo investor Indonesia pada aset global terus meningkat seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya diversifikasi portofolio di tengah dinamika ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik, pesatnya perkembangan teknologi, serta perubahan arah kebijakan moneter mendorong semakin banyak investor untuk melirik peluang investasi di luar pasar domestik, termasuk saham-saham perusahaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Amerika Serikat. Perusahaan seperti NVIDIA, Apple, Microsoft, Tesla, Amazon, Alphabet, dan Meta menjadi perhatian investor karena menjadi motor utama inovasi di industri AI. Namun, karakteristik investasi di pasar Amerika Serikat berbeda dengan yang selama ini dikenal oleh banyak investor Indonesia.  Kalau saham-saham di Indonesia umumnya menawarkan tingkat dividen tahunan sekitar 3%–7%, sebagian besar perusahaan AI di Amerika Serikat hanya membagikan dividen tahunan di bawah 1%, bahkan beberapa di antaranya tidak membagikan dividen sama sekali karena lebih memprioritaskan reinvestasi untuk mendorong pertumbuhan bisnis.  Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tingkat dividen perusahaan AI di Amerika Serikat dapat lebih dari 10 kali lebih rendah dibandingkan karakteristik dividen yang umum ditemui di pasar saham Indonesia. Melihat karakteristik tersebut, Bittime menghadirkan fitur Earn (Fleksibel Staking pada platform), pada Tokenized US Stocks, sekaligus menjadi exchange aset kripto berlisensi pertama di Indonesia yang menawarkan fitur tersebut. Melalui Tokenized US Stocks, pengguna dapat memperoleh eksposur terhadap saham-saham perusahaan AI global dalam bentuk aset digital.  Melalui fitur ini, pengguna dapat memperoleh reward hingga 7% APR sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. Berbeda dengan pembagian dividen saham yang umumnya dilakukan setiap kuartal atau tahunan, reward pada fitur Earn didistribusikan setiap hari. Fitur ini juga dirancang tanpa periode lock-up sehingga pengguna tetap memiliki fleksibilitas dalam mengelola asetnya. Menghubungkan Pertumbuhan AI Global Preferensi Investor Indonesia Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, mengatakan meningkatnya minat terhadap saham-saham AI global menunjukkan bahwa investor Indonesia kini semakin terbuka terhadap peluang investasi lintas negara. "Kami melihat semakin banyak investor Indonesia yang ingin memiliki eksposur terhadap saham-saham perusahaan AI global, khususnya yang tercatat di bursa Amerika Serikat. Namun, terdapat perbedaan karakteristik antara pasar Indonesia dan Amerika Serikat, terutama dari sisi pembagian dividen tahunan. Karena itu, kami menghadirkan Earn pada Tokenized US Stocks agar pengalaman berinvestasi di aset global menjadi lebih relevan dengan kebutuhan investor Indonesia," kata Ryan. Ryan menjelaskan tokenisasi membuka akses investasi global yang lebih fleksibel melalui perdagangan 24/7, nominal investasi yang lebih terjangkau, serta biaya transaksi yang kompetitif. Menurutnya, fitur Earn melengkapi pengalaman tersebut dengan tetap mempertahankan eksposur terhadap pertumbuhan perusahaan-perusahaan AI global. "Tujuan kami bukan hanya membuka akses terhadap perusahaan-perusahaan AI global, tetapi juga menghadirkan pengalaman investasi yang lebih relevan bagi investor Indonesia. Kami percaya tokenisasi akan menjadi salah satu inovasi penting yang memperluas akses masyarakat terhadap aset global melalui platform yang aman, transparan, dan telah berizin," jelas Ryan. Sebagai bagian dari peluncuran, Bittime juga menghadirkan program khusus bagi pengguna baru selama periode 1 hingga 31 Juli 2026. Pengguna baru yang melakukan transaksi pertama Tokenized US Stocks dengan minimum transaksi Rp500.000 berkesempatan memperoleh Tokenized NVIDIA (NVDAX) sebagai hadiah sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. Melalui inovasi ini, Bittime berharap semakin banyak masyarakat Indonesia dapat mengakses peluang investasi pada perusahaan-perusahaan AI global melalui teknologi blockchain. Kehadiran Tokenized US Stocks dengan fitur Earn diharapkan dapat menjadi jembatan bagi investor Indonesia untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan industri AI global melalui platform yang aman, transparan, dan teregulasi.

Saham AI Mulai Terkoreksi, Investor Uji Kekuatan Reli Teknologi AS Teknologi
Teknologi
Sabtu, 04 Juli 2026 | 17:10 WIB

Saham AI Mulai Terkoreksi, Investor Uji Kekuatan Reli Teknologi AS

Jakarta, katakabar.com - Pasar saham Amerika Serikat mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan tekanan di zona merah setelah mengalami reli panjang yang sebelumnya didorong oleh penguatan sektor teknologi dan semikonduktor. Pergerakan pasar kali ini mencerminkan perubahan sentimen investor yang mulai mengambil langkah hati-hati dengan melakukan aksi ambil untung (profit taking) terhadap sejumlah saham yang telah mencatatkan kenaikan signifikan. Tekanan terbesar terlihat pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor yang sebelumnya menjadi motor utama reli pasar berkat optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Investor mulai mengamankan keuntungan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai valuasi yang tinggi, tekanan inflasi, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sepanjang sesi perdagangan, indeks utama Wall Street bergerak fluktuatif sebelum akhirnya ditutup melemah. Sektor teknologi, industri, dan energi menjadi kontributor utama penurunan, sementara sektor defensif seperti kesehatan dan properti mencatatkan penguatan namun belum mampu mengimbangi tekanan pasar secara keseluruhan. Secara mingguan, kinerja indeks menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Dow Jones Industrial Average masih mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,60%, sementara S&P 500 terkoreksi 1,95%. Tekanan terbesar terjadi pada Nasdaq Composite yang turun hingga 4,60%, menunjukkan bahwa saham berbasis pertumbuhan dan teknologi menjadi sektor yang paling terdampak oleh aksi jual investor. Sektor semikonduktor menjadi pusat perhatian setelah saham-saham chip mengalami penurunan tajam. Indeks saham chip turun sekitar 5,3% dalam satu sesi perdagangan dan mencatat pelemahan mingguan hingga 7,7%, menjadi penurunan terbesar sejak Maret 2025. Koreksi tersebut menjadi sinyal valuasi perusahaan teknologi mulai kembali diuji setelah sebelumnya mengalami lonjakan akibat ekspektasi besar terhadap pertumbuhan industri AI. Kekhawatiran investor juga meningkat setelah langkah Apple menaikkan harga sejumlah produknya. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran mengenai potensi tekanan inflasi struktural, terutama di tengah meningkatnya biaya pengembangan teknologi AI dan keterbatasan pasokan komponen semikonduktor global. Dampak koreksi sektor teknologi tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi turut menyebar ke pasar global. Bursa saham Eropa mengalami penurunan sekitar 0,7%, dengan sektor teknologi menjadi salah satu sektor yang mengalami tekanan terbesar. Di Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga mengalami koreksi hampir 3%, sementara pasar Korea Selatan mengalami tekanan signifikan dengan indeks KOSPI turun hingga 5,8% akibat tingginya eksposur terhadap industri teknologi. Sedang, pasar komoditas memberikan pergerakan berbeda. Harga minyak dunia mengalami penurunan setelah kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi mulai mereda. Peningkatan aktivitas pengiriman kapal tanker dari kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu indikator bahwa distribusi energi global mulai kembali stabil. Selain itu, kembalinya aktivitas ekspor perusahaan energi besar Saudi Aramco dari terminal Ras Tanura turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak. Kondisi tersebut membuat harga minyak Brent turun sekitar 4,34% ke kisaran US$72 per barel dan ikut menekan kinerja saham sektor energi. Dari sisi ekonomi makro, investor masih mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat melalui indikator Personal Consumption Expenditures (PCE). Data terbaru menunjukkan kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,4%, sementara inflasi tahunan mencapai 4,1%. Selain itu, indikator inflasi inti atau supercore inflation tercatat sebesar 3,9%, menjadi salah satu perhatian utama bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga. Meski tekanan inflasi masih menjadi perhatian, penurunan harga minyak memberikan ruang bagi The Fed untuk mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terhadap kebijakan moneter. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga juga mulai menurun, dengan peluang kenaikan pada pertemuan Juli diperkirakan melemah. Investor kini lebih fokus mencermati arah kebijakan hingga akhir tahun dan potensi perubahan strategi bank sentral. Dengan kombinasi antara koreksi saham teknologi, tekanan inflasi, dan perubahan harga komoditas, pasar global saat ini berada dalam fase yang penuh tantangan. Investor perlu lebih selektif dalam menentukan strategi, terutama dengan meningkatnya volatilitas di berbagai kelas aset. Bagi investor Indonesia yang ingin memantau perkembangan pasar global, pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital dapat diakses melalui aplikasi Nanovest. Platform ini memungkinkan investor untuk mengikuti dinamika pasar dan mengeksplorasi berbagai instrumen investasi global dalam satu aplikasi. Nanovest merupakan aplikasi investasi saham dan kripto yang terpercaya dan aman bagi investor Indonesia. Aplikasi ini telah terdaftar dan berlisensi resmi sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Selain itu, aset pengguna juga mendapatkan perlindungan dari risiko cybercrime melalui Asuransi Sinarmas. Bagi investor yang ingin mulai berinvestasi di saham AS maupun aset kripto, Nanovest menyediakan akses yang praktis melalui aplikasi yang tersedia di Play Store dan App Store. Informasi lebih lanjut mengenai layanan Nanovest dapat diakses melalui www.nanovest.io. Di tengah kondisi pasar yang bergerak dinamis, kemampuan memahami perubahan sentimen global dan mengelola risiko menjadi faktor penting bagi investor dalam menghadapi peluang maupun tantangan investasi ke depan.